Beranda / Romansa / Candu Cinta Bos Mafia / 159. Kekhawatiran Ann

Share

159. Kekhawatiran Ann

Penulis: Sayap Ikarus
last update Terakhir Diperbarui: 2024-08-27 20:20:21

Mendengar penuturan Irfan, Ben bergerak mendekati mejanya. Ia raih pedang pajangan di belakang kursi kerja itu, lantas dihunusnya langsung ke arah Irfan.

"Jangan nyoba-nyoba buat memprovokasi istriku!" ancam Ben bengis.

"Apanya yang memprovokasi? Aku sama Eriska udah beda kubu, Ben. Dia nggak bisa kukendalikan. Karena dia, bisnisku berhasil kalian hancurkan, dia biang kerok yang sangat mirip denganku," kata Irfan masih terlihat sangat santai.

"Kamu berusaha nyari info keberadaan Christ? Bener kan tebakanku?" Ben menyungging senyum miring. "Kalian berdua pasti udah gila, berani-beraninya dateng ke sarang musuh begini," gumamnya tanpa menurunkan hunusan pedangnya.

"Aku ambil resiko. Antagonis yang sebenarnya itu Eriska, Ben," sebut Irfan.

"Dan kamu jadiin anak perempuan kandungmu itu sebagai tameng?" sambar Benji lirih.

"Cinta itu ngerubah banyak hal, termasuk cintanya Eriska ke seorang Big Ben," desis Irfan. Ia beranjak sambil mengangkat tangan agara Ben tak menyerangnya. "Orang
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Isma Eni
nunggu ane-san terluka lagi kayaknya baru percaya deh si ben
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Candu Cinta Bos Mafia   160. Firasat Big Ben (21+)

    "Mas," Ann menengadah, sedikit mendesah karena sentuhan Ben bermuara di bawah tulang selangkanya. "Hem?" Masih asik mengecupi leher istrinya, Ben hanya menggumam. Ia sedang dalam mood yang sangat bagus untuk bercinta, jadi, ia tidak akan membiarkan apapun menggagalkan usahanya. "Mas Ben," lirih Ann mengerang, tubuhnya melengkung indah, menggelinjang kegelian."I want you, Ane-san," bisik Ben menggigiti daun telinga Ann, mengembuskan napasnya hingga membuat bulu kuduk Ann meremang. "Nggak pa-pa di kantor?" tanya Ann sengaja menahan dada suaminya yang sudah siap menindihnya di sofa panjang. "Sensasinya beda kan?" gumam Ben menyeringai. "Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?" "Emang ada yang berani? Benji juga nggak akan masuk lagi, Ann," ucap Ben dengan mata memerah yang sudah dikuasai gairah. "Ya udah," jawab Ann malu-malu. "Aku berisik dikit nggak pa-pa ya Mas?" desisnya seraya memainkan jemarinya di dada sang suami, menggoda sekali. "Nggak pa-pa, teriak juga boleh," ujar Be

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-28
  • Candu Cinta Bos Mafia   161. Tempat Bercerita

    "Mas Ben ngomong aneh dua hari yang lalu ke gue dan pas coba gue minta penjelasan, dia menghindar," sebut Ann dengan pandangan nanar ke arah kolam ikan di taman depan. "Dia cuma coba antisipasi. Kita nggak tau apa yang bakalan terjadi ke depannya juga," ucap Danisha mencoba memberi pengertian pada kakak iparnya. Danisha baru tiba pagi ini di Jakarta, rencananya selama dua minggu ia akan menemani Ann mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliahnya karena Benji sibuk menangani pekerjaan. Jadi, untuk sementara, Ben memintanya secara khusus untuk terbang ke Indonesia dan memasrahkan penjagaan Christ di Jepang sana pada Bastian dan kerabat perkumpulan termasuk sang kakek. "Dengan minta lo balik Indo secara tiba-tiba gini, gue jadi makin curiga ada yang lagi ketua kita sembunyiin, Sha," ucap Ann yakin. "Dia tipe yang nggak mau asal bertindak dulu sebelom dapet kepastian. Lo tau sendiri Ben itu bukan orang yang gampang percaya sama orang laen. Menurut gue, dia coba ngeyakinin

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-29
  • Candu Cinta Bos Mafia   162. Janji Tidak Terluka

    "Jadi?" Ann membuat Ben menghentikan kunyahannya. Ia tatap suaminya sangat tajam, bahkan tak rela melepaskan bayangan Ben sekalipun dari pandangannya. "Kamu pengin aku cerita soal apa? Danisha bahas apa sama kamu?" tanya Ben sabar. "Seberapa parah yang kejadian di wilayah timur? Kamu harus turun tangan sendiri?" tembak Ann tak mau berbasa-basi. Ben meletakkan sumpitnya, ia sandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Lalu diangkatnya gelas air putih yang tadi sempat disiapkan Ann untuknya. Sejenak ia dan Ann hanya saling tatap dalam diam, yang satu menunggu penjelasan, satunya lagi mencari kalimat paling ringan untuk memulai penjelasan. "Masih bisa diatasi," ucap Ben kemudian, ia membasahi bibirnya pertanda ini bukan jawaban terjujur yang pernah ia katakan pada sang istri. "Eriska?" tebak Ann langsung. Ben menggeleng, "Aku belom tau. Beberapa bantuan dari Jogja sama Bandung lagi nyoba nyari tau siapa dalang pengkhianat yang ngabisin orang-orang loyal dari pihak kita," desisnya. "Ja

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-30
  • Candu Cinta Bos Mafia   163. Kelemahan Yang Tak Terhindarkan

    Ben melepaskan sarung pedangnya begitu ia turun dari mobil. Dilihatnya di kejauhan, Logan sudah berhasil menumbangkan orang-orang dari pihak Ben. Di seberang Logan, Benji menghunus pedangnya, bersiap menghadapi serangan. "Bang!" panggil Ben hingga membuat Benji menolehnya. "Ketua datang juga," sambut Logan berkelakar senang. "Luar biasa keluarga Takahashi ini ya. Setelah membuang calon ketua, sekarang jadi anjing setia si terbuang," kekehnya menghina. "Lo ngomongin gue?" Ben tersenyum miring. "Punya kekuatan sebesar apa lo? Berani banget dateng ke sini cuma buat keributan, ngebunuh orang-orang yang harusnya lo anggep sodara sendiri," desisnya. "Cih!" Logan meludah sembarangan. "Kita nggak akan bisa jadi sodara, Ben. Lo seharusnya tau soal itu sejak awal. Sodara macam apa yang ngerampas hak sodara lain?" "Hak? Kekuasaan atas klan dan perkumpulan selalu ditentuin dengan cara yang sama. Ben menang dengan cara yang sangat adil!" sergah Benji tersinggung. "Kalau dia nggak kalian pung

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-30
  • Candu Cinta Bos Mafia   164. Ketakutan Terbesar

    Tiba-tiba, Logan ambruk. Pegangannya pada pedang yang tengah ia gunakan untuk menusuk dada Ben, terlepas. Darah mengalir cepat dari pundaknya, seseorang menembaknya dari kejauhan. Sayup, Ben bisa mendengar suara langkah berlari mendekat. Sosok itu bersimpuh di samping Ben, meneliti sekujur tubuh Ben dengan begitu panik. Jemari lembutny gemetaran, ditangkupnya wajah Ben agar membuat lelaki ini tetap tersadar. "Ben, tetep sadar, kumohon.""Eriska," desah Ben timbul tenggelam. "Gue udah bilang jangan pernah lo berani nyentuh Ben!" teriak Eriska berdiri tertatih. "Gue nggak main-main soal ancaman gue!" jeritnya. "Apa?" Logan berusaha bangun. "Gue juga bisa bunuh lo sekalian kalau lo berdua mau jadi versi Romeo-Juliet!" teriaknya tak terkendali dan ia menyerang Eriska dengan sisa tenaganya. Tak sempat menghindar, Eriska terkena goresan pedang di wajah ayunya. Pun ia berusaha menahan Logan agar tidak menyasar Ben, Eriska pasang badan hingga ia tertusuk tepat di pundaknya. Perlawanan te

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-31
  • Candu Cinta Bos Mafia   165. Kata Pertama

    Telaten, Ann menyeka wajah dan lengan Ben menggunakan kompres hangat, setia menunggui sang suami. Sejak semalam, Ben bergeming, angkuh dalam ketidaksadarannya. Sebelumnya, Ben tidak pernah begini, terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit. Ben adalah sosok tangguh yang tidak pernah tumbang di mata Ann, itulah yang membuat Ann begitu cemas dan khawatir karena kondisi sang ketua saat ini. "Belom bangun?" tegur Bastian yang datang baru saja, sengaja terbang langsung dari Jepang bersama Taka. Ann menoleh, ia menggeleng lemah. Disambutnya kedatangan Bastian dengan membungkukkan badan, khas tradisi penghormatan di dalam perkumpulan. Bastian mendekat setelah balas membungkukkan badan pada Ann, ia tepuk pundak adik iparnya itu pelan. "Harusnya efek biusnya habis bentar lagi kata dokter," ucap Ann lirih. "Ben nggak akan mati, Ane-san. Lo tenang aja," ucap Bastian berusaha menenangkan. "Gue tau, kalau dia berani ninggalin gue di situasi kayak gini, gue bakalan kejar dia, ke neraka sek

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-01
  • Candu Cinta Bos Mafia   166. Luka Dari Sebuah Nama

    Bastian menatap Ann tegang, sementara Ann masih mematung di tempatnya. Di ranjang, Ben mengumpulkan kesadaran, mengerang lirih di antara panggilannya pada Eriska."Gue panggil dokter dulu," pamit Ann bergegas keluar tapi ia bertemu dengan Benji di ambang pintu."Gue aja yang panggil, lo tetep di sini," kata Benji segera berbalik pergi tanpa memberi kesempatan pada Ann untuk membantah. Ann membeku lagi, ia tak bergerak mendekat, hanya melihat Bastian yang mengamati Ben di sebelah ranjangnya. Hatinya tercabik menyadari kenyataan bahwa Ben lebih mencari Eriska ketimbang dirinya ketika membuka mata. Segenap rasa percaya dirinya runtuh, Ann kehilangan keyakinannya terhadap sang suami. "Brengsek mulut lo!" sergah Bastian tak sabar menunggu Ben mendapat kesadaran sepenuhnya. "Bisa-bisanya malah nyari Eriska," dumalnya serasa ingin menoyor kepala sang adik saking gemasnya. Ben yang masih bingung antara sadar dan tidak hanya sesekali mengerutkan dahinya. Ia juga masih belum kuat untuk bicar

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-01
  • Candu Cinta Bos Mafia   167. Pilihan Meninggalkan

    "Ann," Danisha tergagap di ambang pintu saat melihat Ann buru-buru menyeka air matanya. "Ya?" Ann tampak memaksakan senyum di wajahnya. "Kenapa, Sha?" tanyanya menghampiri Danisha. "Gue mau pulang," balas Danisha masih menatap Ann dan Ben bergantian. "Lo mau nitip dibawain apa nanti sama Bas?" tanyanya. "Baju ganti aja Sha, lo ambil di kamar atas," kata Ann. "Luka lo gimana? Udah aman?" tanyanya balik seraya meneliti sekujur tubuh Danisha. "Udah baikan, udah boleh pulang berarti udah aman kan," ucap Danisha mengusap pundak Ann dengan sengaja, ia tahu kakak iparnya ini tengah tak enak hati entah karena apa. "Ben," ia menyapa sang kakak tampan, "gue balik duluan," pamitnya. Ben mengangguk pelan tanpa menjawab. Ia berusaha mengangkat tangannya untuk memberi lambaian pada Danisha. Ann mengantar Danisha hingga ke pintu, memeluknya sebentar lalu melambai ringan. Langkahnya memaku sejenak, ia takut berhadapan dengan Ben, khawatir ia akan menangis lagi. "Ane-san," panggil Ben. "Sini, pu

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-02

Bab terbaru

  • Candu Cinta Bos Mafia   195. Candu Cinta (Ending)

    "Baru pertama kali ini aku liburan ke Eropa. Mimpi apa aku bisa ke sini sama orang yang paling berarti di hidupku," desis Ann lirih. Matanya mengitar takjub, masih tidak percaya pada apa yang kini tengah dialaminya. London tengah ada di awal musim gugur saat ini. Suhu udara cukup dingin untuk kulit Ann yang terbiasa dengan suhu tropis khatulistiwa. Ia sampai memeluk tubuhnya sendiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menghangatkan tubuhnya. Liburan musim panas di Inggris Raya baru akan selesai dan Westminster cukup sepi dari wisatawan di bulan-bulan ini. "Pilihan yang tepat kita keluar malam hari, untungnya Christ udah akrab sama Lala, jadi kita bisa keluar malem-malem gini, biar Christ istirahat," ujar Ben sengaja merangkul leher istrinya mesra. "Lala udah kenal Danisha lama, jadi kayaknya Christ sering diajak jalan bareng juga sama Lala, makanya mereka cepet akrab," gumam Ann. "Mas, indah banget Inggris Raya," ujarnya tak hentinya berdecak. Meninggalkan

  • Candu Cinta Bos Mafia   194. Rencana Kejutan

    Ann menyesap teh melati buatan Ben sambil memejamkan mata. Sungguh pagi yang begitu damai dan menenangkan baginya, tanpa beban. Christ sedang sarapan pagi bersama Ben di ruang makan, sedangkan Ann sendiri duduk di halaman belakang, sesekali mengusap punggung Chester yang kini memang sengaja diboyong ke rumah baru demi memulihkan kesehatannya. Minggu depan kuliah Ann sebagai Maba akan dimulai, jadi, ia sengaja menikmati momen-momen emas ini tanpa gangguan. "Ane-san, berangkat seolah dulu," kata Christ mendatangi Ann sambil membungkukkan badannya. "Oke, hati-hati ya, semangat sekolahnya!" balas Ann melambaikan tangannya ceria, menatap punggung kecil nan kokoh Christ yang berlalu menjauh. Untuk kegiatan sekolah dan les privat yang harus dijalani Christ, Ann menyiagakan seorang sopir antar-jemput. Ben juga meminta Sony untuk menjadi penjaga Christ selama berkegiatan di luar rumah. "Kamu nggak ada agenda ke mana-mana hari ini, Ann?" tegur Ben yang menyusul duduk di seberang Ann, menent

  • Candu Cinta Bos Mafia   193. Pilihan Christ

    "Hai, Christoper!" sapa Eriska yang sudah datang lebih dulu di sebuah coutage tempat mereka dijadwalkan bertemu. Seperti rencana, Ann dan Ben mengantar Christ bertemu dengan Eriska. Satu titik balik kehidupan Christ akan ditentukan hari ini. Ann tidak tahu apa yang tengah dirancang oleh Eriska untuk mengusiknya lagi, tapi ia percaya Ben bisa mengatasi gangguan Eriska lebih baik ketimbang sebelumnya."Mami Eris," balas Christ melambaikan tangan sekenanya, juga memberi senyum simpul yang asing. "Kamu tambah tinggi ya," puji Eriska. "Makanmu pasti enak-enak pas ikut Ben," katanya. "Makasih udah menuhin permintaanku," tambahnya ke arah Ben sambil memeluk Christ yang tampak canggung. "Gue pengin urusan kita segera selesai," balas Ben. "Biar Christ mesen makanan dulu ya," tandas Eriska. "Aku udah makan sama Ann dan Ben sebelum ke sini," ucap Christ sangat fasih. "Kata Ann, Mami kangen sama aku," gumamnya. "Iya," jawab Eriska mengangguk. "Mami nggak bawa makanan kesukaanku?" tembak Ch

  • Candu Cinta Bos Mafia   192. Daya Juang

    Setelah sekian lama tidak beraktivitas di ranjang karena kondisi kesehatannya, Ben cukup berhati-hati bergerak. Ann lebih banyak memimpin permainan, sang istri berbalik memegang posisi dominan. "Joanna," Ben mengerang lirih, menikmati pemandangan sang istri yang meliuk-liuk di atasnya. "Berasa liat aku di Queen's Diary lagi ya Mas," goda Ann masih sempat bercanda. "Ini lebih juara sensasinya," balas Ben merem-melek, terbakar gairah. Ann terkikik, ia bergerak makin cepat, tapi tetap berhati-hati. Ben yang tengah berbaring di bawahnya itu masih belum sembuh total, jadi mereka tidak boleh bermain liar. "Ane-san!" Ben mengeja panggilan istrinya, ia tiba di puncak dengan senyuman lepas yang puas. "Wah," deru napas Ann masih terengah, "lega, Big Ben? 250 juta transfer ke rekeningku ya," candanya lucu. Ia bangkit dan duduk di sebelah suaminya, membiarkan Ben meriah selimut untuk menutupi tubuh mereka. "Nggak 300 juta sekalian?" tawar Ben. Ann mengangguk, "Boleh. Dikasih 500 juta lebi

  • Candu Cinta Bos Mafia   191. Memenangkan Pikiran

    Setitik air mata Ann jatuh, ia berpaling agar tak ketahuan tengah bersedih. Sesak di dadanya berusaha ia sembunyikan sebisa mungkin, hatinya telah jatuh teramat banyak pada Christ. "Kenapa aku harus milih? Aku udah tinggal di sini kan?" gumam Christ lugu. "Kamu bukan anggota keluarga, Eriska minta kamu kembali ke keluarga kamu," ungkap Ben gamblang, terdengar sangat tega. "Ane-san," Christ menoleh Ann, "apa aku harus milih? Aku aku harus ikut Mami Eris?" tanyanya hampir menangis. "Kamu boleh tetep tinggal di sini kalau kamu mau, Christ," jawab Ann. "Asal kamu memilih tinggal bersama kami, kamu boleh tinggal selamanya di sini," sambar Ben. Christ terdiam, ia tampak bingung dan hanya memainkan kancing bajunya sebagai bentuk pelarian. Anak sekecil Christ tentu mempunyai banyak perspektif pada setiap orang yang pernah merawatnya. Ann meski galak dan tegas, tidak pernah memukul atau menggunakan kekerasan. Begitu pula dengan Ben, meski ia keras dan kejam, selalu menekan Christ dengan

  • Candu Cinta Bos Mafia   190. Memberinya Pilihan

    "Marah, Ane-san?" tegur Ben yang menyadari perubahan sikap istrinya semenjak pulang dari rumah makan tadi siang. "Hem?" Ann melirik suaminya sekejap, lantas fokus lagi memainkan ponselnya. "Kamu marah sama aku, Ann?" ulang Ben sabar. "Marah? Emangnya kamu kenapa?" tanya Ann balik. Ben mendecak, ia tahu Ann sedang tidak mau diajak mengobrol. Istrinya ini tengah marah, enggan ditanya-tanya tapi jika Ben tak acuh, kemarahan itu akan semakin membesar. "Coba bilang, salahku di mana?" pancing Ben. "Wah," Ann tertawa dalam tatapan piasnya yang tak menyangka. "Nggak sadar salahnya?" "Oke, aku salah ngambil keputusan setuju sama Eriska? Bener?" "Terus?" "Aku mengabaikan kamu," desis Ben meringis, takut salah. "Bukan cuma mengabaikan, Mas. Aku nggak kamu anggep ada di tempat itu. Seharusnya kamu tanya dulu keputusanku, kan?" sergah Ann bagai siap memuntahkan lahar panas dari mulutnya. "Iya, aku minta maaf," ungkap Ben tak mau memperpanjang masalah. Salah atau tidak salah, ia tetap ha

  • Candu Cinta Bos Mafia   189. Biarkan Memilih

    "How's life, Ann? Kamu bahagia?" tanya Eriska yang ditemui oleh Ann di sebuah rumah makan besar. Ann melirik sang suami yang duduk di sebelahnya. Ben tampak tak acuh, ia itarkan pandangan ke sekeliling, enggak bertemu tatap dengan Eriska. Dari sorot matanya, tampak Eriska masih begitu mendamba suami Ann itu. "Gue nggak punya alasan buat nggak bahagia setelah suami masih hidup di sisi gue," jawab Ann jumawa. "Asal nggak ada orang yang mengusik kami lagi, gue yakin bahagia selamanya," gumamnya. "Ben," Eriska tersenyum, mencoba mengambil perhatian mantan pacarnya itu. "Aku nggak akan ngusik kalian lagi. Cuma satu penginku, aku diijinin buat ketemu sama Christ. Sekarang udah nggak ada Papa yang bakalan nyakitin dia, boleh nggak Christ disuruh milih, mau ikut aku atau kalian? Aku janji, setelah Christ milih, aku nggak akan pernah muncul dalam kehidupan kalian lagi," ujarnya. Ben yang semula tak peduli akhirnya memfokuskan pandangannya pada Eriska. Keduanya bertemu tatap, diam dan tak a

  • Candu Cinta Bos Mafia   188. Segalanya Bagiku

    Proses recovery Ben memakan banyak waktu dan perjuangan yang cukup panjang. Selama itu, Ann setia mendampingi, membantu sang suami mendapatkan tubuh bugarnya lagi. "Dua tusukan yang nggak akan pernah bisa dilupain," desis Ann sambil menunjuk bekas luka di dada dan perut Ben yang kancing kemejanya sengaja tidak dikancingkan. "Nggak kamu bikin tato, Mas?" tanyanya. Ben menggeleng, "Luka tembak ini sengaja kutato karena pengin kuhilangkan. Kalau luka tusuk beda cerita, ini award perasaanku atas kamu Ann. Aku terluka buat ngelindungin kamu, itu kebanggaan tersendiri," ujarnya. "Tapi aku jadi ngerasa bersalah kalau liat bekas luka ini. Kamu ada di ambang kematian selama 5 bulan, gimana aku nggak sedih.""Apa mau kutato aja biar kamu nggak sedih?" tawar Ben. Gelengan Ann berikan, "Kalau kamu nggak ngeliat aku sebagai bentuk kesalahan, sedihku bisa ganti jadi kebahagiaan kok Mas," ucapnya lembut, plin-plan. Senyuman Ben terkembang, ia kibaskan lagi pedangnya untuk kembali memulai latiha

  • Candu Cinta Bos Mafia   187. Obrolan Berdua

    Dua puluh empat jam pasca hidup kembali, Ben dinyatakan dalam kondisi yang sangat bagus oleh dokter. Tubuhnya sudah melewati pemeriksaan dan pengecekan dan tidak ada organ tubuhnya yang malfungsi. Ben hanya memerlukan banyak latihan bergerak dan berjalan untuk menormalkan kembali sendi-sendi dan tulangnya. "Dia minta pindah sekolah di sini, pengin jagain Ketua tapi dia ngeluh bosan nunggu kamu bangun, tiap hari begitu," ucap Ann tertawa. "Dia jagain kamu dengan baik ya," kekeh Ben sudah mulai lancar berkomunikasi. Ann mengangguk, "Kadang dia ngomel, kenapa Ketua nggak bangun-bangun padahal dia mau cerita gimana dia ngelawan anak-anak lain yang nyoba ngerundung dia," ceritanya. "Udah ya Mas, biar dia stay di Indo aja, Christ pasti nggak mau kalau disuruh balik ke Jepang lagi. Nanti aja kalau dia udah bisa milih mau lanjut studi di Jepang atau di negara mana pun, kita bisa atur lagi," urainya. "Aku ikut kebijakan kamu, Ane-san," kata Ben lembut. "Ah, Adyaksa sekarang dipegang sama

DMCA.com Protection Status