Home / Romansa / Duda Incaran Shana / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Duda Incaran Shana: Chapter 41 - Chapter 50

66 Chapters

41. Ibu Dadakan

Awalnya, Shana kira dia akan berpura-pura. Memberikan senyum terbaiknya pada semua orang yang menyapa. Awalnya juga, Shana pikir hari ini akan terasa berat. Namun ternyata kenyamanan datang lebih cepat. Menjadi ibu dadakan adalah hal yang tak pernah Shana duga sebelumnya. Seperti sudah resiko karena ia menikahi seorang duda. Namun entah kenapa dia menikmatinya. Apa lagi melihat senyum Juna yang tak pernah sirna. "Kayaknya Mas Juna aja yang bahagia kalau pergi sekolah. Dulu saya malah sering nangis karena harus bangun pagi," bisik Shana pada Suster Nur. Suster Nur tertawa mendengar kata majikannya. "Mas Juna itu pinter, Bu. Dia seneng bisa ditemenin sama ibunya. Umur memang baru dua tahun, tapi Mas Juna sudah bisa mengerti keadaan." Shana membenarkan. Dia kembali melihat Juna dari kejauhan. Tampak berkumpul bersama anak-anak lain dan bermain bersama. Dari jauh, Juna terlihat mencolok karena senyum lepasnya. Berbeda dengan teman-temannya yang masih malu atau bahkan juga menangi
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

42. Penyelidikan

Beberapa hari terakhir, hidup seorang Dito Alamsyah dibuat tidak tenang. Berpisah dengan Shana membuatnya kehilangan. Apa lagi tak lama setelah itu sang mantan melaksanakan pernikahan. Patah hati tentu ia rasakan. Namun sayang, semua ini terjadi karena dirinya seorang. Untuk yang kesekian kalinya, Dito sibuk mengaktifkan nomor baru untuk kembali meneror sang mantan. Dia tidak akan menyerah. Ancaman dari Handaru Atmadjiwo seolah bukan apa-apa. Tidak peduli jika sang mantan sudah menikah dan bahagia, Dito tetap ingin merebut kembali Shana. "Gue laper, Dito." "Pesen makan sana," jawab Dito masih fokus pada ponselnya. Wanita yang sedari tadi bersamanya itu mendengkus. Matanya berputar karena rasa jengah. Dia benci ketika semua orang terdekatnya menjadi tergila-gila dengan Shana Arkadewi. Namun dia juga tidak bisa menahan Dito. Dengan pria itu mengusik Shana, maka rumah tangga Ndaru dan Shana juga akan terguncang. Shella Clarissa masih menaruh dendam pada Shana Arkadewi. Bukan
last updateLast Updated : 2025-03-24
Read more

43. Teka-Teki Arya

Rencana pertemuan dengan Darma tidak jadi dilakukan. Ndaru baru mendapat kabar jika Darma tidak ada di kantor. Pria itu berada di Kalimantan bersama Guna saat ini. Sebagai pengusaha asli Kalimantan Timur, tentu namanya sangat berpengaruh untuk keberhasilan kakaknya di sana. Akhirnya, Ndaru memilih untuk putar balik kembali ke kantornya. Namun sebelum itu, dari jauh dia melihat Putri yang berjalan mendekat ke arah mobilnya. Dengan segera, Ndaru meminta supirnya untuk berhenti melaju. Ada apa? Sebelum Putri mengetuk jendela mobil, Ndaru lebih dulu membukanya. Dia menatap Putri yang sudah dekat dengan kerutan di dahi. "Mbak di sini?" tanya Ndaru. Putri mengangguk. "Wakilin Papa rapat. Kamu ngapain mau ketemu Papa?" Ah, ternyata niat Ndaru didengar oleh Putri. Jika sudah begini apa harus Ndaru mengungkapkan niatnya? Apa itu hal yang bijak membicarakan kematian kakaknya yang mencurigakan? "Masuk, Mbak. Kita bicara di dalam." Ndaru membuka mobilnya, meminta Putri untuk dud
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

44. Pengawal

Ternyata Ndaru tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu mengirim seorang wanita bernama Roro untuk bersama Shana. Bukan hanya untuk mengantar Juna sekolah, melainkan juga mengikutinya ke mana saja. Hingga saat ini, Roro masih berada di sampingnya. Tampak siaga jika Shana membutuhkan sesuatu sewaktu-waktu. Shana tahu jika Roro bukan hanya sekedar supir, melainkan pengawal yang Ndaru pekerjakan untuk mengawasinya. Ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya, Dito tidak banyak membuat ulah. Negatifnya, pergerakan Shana menjadi terbatas. Hari ini adalah awal dari semuanya. Awal di mana kesibukan Shana akan kembali menerpa. Sebagai penulis, dia memang tidak selalu datang ke lokasi syuting, tetapi sudut pandangnya sebagai penulis pasti akan dibutuhkan. Malam ini, semua kru berkumpul menjadi satu. Melakukan doa bersama sebelum proses syuting dimulai besok. Tak lupa dengan tumpeng nasi kuning sebagai bentuk rasa terima kasih pada Tuhan. Mereka semua berdoa agar proses pembuatan film
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

45. Akal Muslihat

Tidak, jangan lagi. Ndaru seketika menggeleng tegas. "Mas Juna tidur di kamar sendiri, ya? Nggak kasian sama Suster Nur ditinggal sendiri?" Bibir Juna seketika maju. "Juna mau temenin Mama sama Papa biar nggak sendirian." Bagus. Sebenarnya berapa umur Juna? Kadang ia terlalu pintar untuk anak seusianya. "Oke, kalau gitu kita tunggu Mama Shana di kamar Mas Juna, ya? Nanti Papa minta Mama nyusul." Mata Juna tampak berkedip lucu. Mencoba mencerna ucapan ayahnya yang terlalu panjang. Masih butuh waktu untuk Juna mencerna dan memahami kalimat itu. "Mau Mama Shana." Pada akhinya Juna pun merengek, kembali memeluk kaki ayahnya dengan manja. Ndaru menggeleng pelan. Tatapan mata anaknya sudah terlihat mengantuk. Namun ia tetap keras kepala menunggu Shana. Ndaru meraih ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam delapan malam, tetapi belum ada tanda-tanda jika Shana akan kembali. Keterlauan. Baru tadi pagi ia memberi peringatan, tetapi langsung dilanggar begitu saja. Lalu apa jug
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

46. Acara Berdua

Waktu telah berlalu. Seperti permintaan Ndaru, Shana akan meluangkan waktu. Ia kira hanya di hari Sabtu, ternyata juga sampai Minggu. Bukan hanya itu, tetapi Ndaru juga membawanya ke tempat yang baru. Untuk pertama kalinya Shana berlayar di atas yacht. Bukan sekedar kapal biasa melainkan superyacht yang dapat menampung sekitar 90 orang. Awalnya Shana tidak tahu undangan apa yang sebenarnya Ndaru datangi. Dia hanya menurut saat pria itu membawanya terbang ke Bali. Namun ternyata Shana dibuat terkejut berkali-kali. Dia memang bukan orang yang kekurangan, tetapi dia masih terkejut dengan gaya hidup orang yang berkecukupan. Untuk hari jadi pernikahan, acara yang diadakan rekan kerja Ndaru sangatlah mewah. Pasangan sejoli yang tak lagi muda tetapi masih terlihat cinta yang membara itu membawa tamu undangan yang terpilih untuk berlayar selama satu hari. Mereka memang tak mau acara yang biasa katanya. Benar-benar luar biasa. Di sini lah Shana sekarang, duduk di salah satu kursi
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more

47. Hampir Saja

Benar-benar berat. Setelah mengikuti berbagai kegiatan yang cukup padat, harusnya Ndaru dan Shana bisa langsung jatuh terlelap. Namun nyatanya, hingga jam satu dini hari mata mereka masih kompak terbuka. Rasa kantuk itu terasa, tetapi rasa canggung yang menjadi juara. Di tengah cahaya remang, Shana berbaring membelakangi Ndaru dan begitu juga sebaliknya. "Pak?" panggil Shana pelan. Mencoba memastikan jika pria yang berbaring di sampingnya itu sudah tidur. "Hm." Ternyata belum. "Kok belum tidur?" Shana membalikkan tubuhnya. "Ini mau tidur." Ndaru masih membelakanginya. "Saya nggak bisa tidur." Shana bisa mendengar Ndaru menghela napas. Pria itu bergerak dan membenarkan posisi bantalnya. Membuat posisinya menjadi setengah berbaring sambil bersandar pada kepala tempat tidur. "Seharusnya kita nggak perlu datang ke sini." "Kenapa?" Shana mengikuti posisi Ndaru yang terlihat nyaman. Tanpa sadar lengan mereka saling bersentuhan. Tangan Ndaru juga bergerak dengan sen
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more

48. Selamat Pagi Dunia

Terjebak pada situasi yang tidak disukai memang menyebalkan. Bertarung dengan hati dan pikiran sudah menjadi kebiasaan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menjalankan. Sampai akhirnya bisa terbebas dari yang namanya beban. Ya, Shana menyebutnya beban. Berbagai macam perasaan bak bertarung di dalam pikiran. Ada gelisah, canggung, resah, dan juga senang. Semua bercampur menjadi satu sampai isi perut meminta untuk dikeluarkan. Pagi sudah datang. Hal pertama yang Shana lihat setelah membuka mata adalah sosok pria yang semalam tidur bersamanya. Mereka tidak melakukan apa-apa, bahkan ada pembatas di antara mereka. Namun sepertinya yatch yang mereka naiki ini berhantu. Pembatas selimut yang semalam Shana tempatkan dengan rapi di tengah mereka mendadak menghilang entah ke mana. Lalu saat ini, Shana hanya membatu tanpa bisa bergerak. Jika ia bergerak maka ia akan membangunkan Ndaru. Sejak kapan lengan besar pria itu melingkar di pinggangnya? Bisa saja Shana membangunkan Ndaru dan m
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more

49. Tamu Tak Diundang

Akhir pekan begitu cepat berlalu. Rutinitas juga sudah melambai ingin bertemu. Kesibukan mulai meneror Ndaru. Tampak bersemangat untuk menyerbu. Ndaru melewatkan makan siangnya kali ini. Setelah menghadiri rapat penting dia harus menyelesaikan pekerjaan sisanya. Pantang baginya untuk menunda pekerjaan. Setidaknya dia tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Karena itu juga Ndaru sering pulang malam. Ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. "Masuk," ucapnya. "Permisi, Pak. Ada Pak Guna yang ingin bertemu," kata Fajar, sekretarisnya. "Mas Guna?" gumam Ndaru. "Minta kakak saya masuk," balasnya. Fajar mengangguk dan berlalu pergi. Tak lama Guna masuk bersama istrinya, Dayanti. "Ada apa, Mas?" tanya Ndaru berpindah ke sofa. "Bukannya kamu yang cari aku kemarin?" Guna merenggangkan tubuhnya di sofa. "Jadinya dari bandara langsung ke sini." Ternyata Guna baru saja tiba. Dari mana lagi jika bukan dari daerah pilihannya. Pria itu tampak begitu serius dala
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more

50. Menjaga Jarak

"Putri," gumam Shana lemas. "Dia di sini?" Bagas mengangguk. "Mbak Shana nggak mau ketemu dulu? Tadi saya liat Mbak Putri lagi pesen kopi." Shana menarik napas dalam dan mengangguk. "Gue keluar dulu. Lo siapin aja file-nya." Langkah Shana terasa berat. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Untuk pertama kalinya Putri datang menemuinya. Bukan percaya diri. Shana yakin tujuan Putri datang bukan hanya untuk sekedar memesan kopi. Apa lagi jika bukan untuk menemuinya? "Mbak Putri?" sapa Shana pada wanita yang tengah duduk santai di samping jendela. Tampak mengaduk kopi hangatnya dengan elegan. "Mbak di sini?" Senyum Putri mengembang. Senyum yang tak pernah Shana liat selama ia bergabung ke dalam keluarga Atmadjiwo. "Kopi di sini enak." "Terima kasih, Mbak." Shana tampak ragu. "Boleh saya duduk?" Putri lagi-lagi tertawa. "Kita cuma berdua, Shan. Nggak perlu pura-pura." Shana mendengkus pelan dan mulai duduk di hadapan Putri. "Biar gimana pun
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status