Home / Romansa / Duda Incaran Shana / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of Duda Incaran Shana: Chapter 31 - Chapter 40

68 Chapters

31. Jaga Jarak Aman

Akhir pekan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh para pekerja. Hanya di akhir pekan mereka bisa beristirahat dengan tenang. Mencoba menenangkan pikiran sebelum Senin kembali datang. Hal itu juga yang dimanfaatkan oleh Ndaru. Boleh saja dia pulang malam setiap hari karena kesibukannya. Namun di akhir pekan, terutama hari Sabtu, Ndaru akan memberikan waktunya untuk Juna, anak semata wayangnya. Di tengah kesibukannya, dia masih ingin berperan dalam tumbuh kembang Juna. "Pelan-pelan, gerakin kakinya," ujar Ndaru. Kegiatan pagi ini adalah berenang. Ndaru bisa berolahraga sekaligus mengajari anaknya. Beruntung Juna tidak pernah takut dengan volume air yang banyak. Anak itu justru menyukainya. Sama seperti Ndaru kecil. "Iya, bagus. Pegang tangan Papa, jangan dilepas." Ndaru berjalan mundur dengan pelan. Masih mengajari Juna berenang dengan bantuan pelampung. Bukan ajaran yang serius. Setidaknya Ndaru sudah mengenalkan Juna akan kegiatan berenang. "Mama mana, Pa?" Juna mengusap
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

32. Akhir Pekan

Shana pikir, hari Sabtunya akan berjalan dengan baik. Setelah beberapa hari bersantai setelah menikah, Shana kembali memulai rutinitasnya. Mulai dari mengecek keadaan kafe, bertemu editor, hingga bertemu produser. Seharusnya semua bisa berjalan lancar. Namun nyatanya semua tidak sesuai harapan. Shana kembali dipertemukan dengan masa lalu. Dito Alamsyah, pria itu berada di hadapannya saat ini. Duduk berdampingan bersama Raja, produser film-nya. Awalnya, Shana bersemangat karena akan membicarakan sequel film-nya bersama Raja. Namun siapa sangka jika Dito juga ikut serta hadir. Niat Shana yang ingin menghempaskan Dito untuk keluar dari proyek film pun pupus. Menyerah? Tentu tidak. Shana sudah memantapkan diri untuk tidak berhubungan dengan Dito. Selain karena pria itu cukup gila, Shana tidak mau membuat resiko yang akan membuat namanya jelek. Ingat, sudah ada tanda tangan kontrak yang ia buat dengan Handaru Atmadjiwo. Jika ia melanggar, maka akan banyak uang denda yang harus
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

33. Keputusan Bulat

Langkah berat membawa Shana masuk ke dalam rumahnya. Malam minggu membuat jalanan cukup padat. Mengakibatkan Shana sampai di rumah pukul setengah 11 malam. Cukup larut karena lampu di beberapa ruangan sudah dipadamkan. Biasanya Shana akan aktif di malam hari, tetapi kali ini berbeda. Energinya seolah terkuras habis. Apa lagi setelah bertemu dengan mantan tersialnya. Saat akan menaiki tangga, Shana mencium aroma lezat dari dapur. Keningnya berkerut mencoba menebak siapa yang tengah memasak di malam hari seperti ini. Mencium aroma itu, seketika membuat perut Shana berbunyi. Salah satu faktor yang membuatnya lemas malam ini adalah makanan. Shana ingat jika dia belum memasukkan makanan berat ke dalam perutnya sejak siang. Akhirnya aroma itu membuatnya berbelok. Menghampiri dapur yang lampunya masih menyala dengan terang. Ternyata bukan Bibi Lasmi seperti yang Shana pikirkan. Punggung tegap pria yang justru ia lihat. Handaru Atmadjiwo ada di dapur, tengah memasak dengan membelakan
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

34. Kasus

Tidak semua orang bisa mengutarakan isi hati. Apa lagi mengenai hal yang sensitif. Sudah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Membuat Putri lebih memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Untuk yang kesekian kalinya, Putri kembali membaca berkas yang ayahnya berikan. Berkas yang berisi mengenai perkembangan kasus korupsi Proyek Benasaka. Bukan hal sulit untuk Darma mendapatkan akses tersebut. Dengan uang, semuanya akan menjadi mudah. "Kasus Benasaka sudah mendekati titik terang. Kamu yakin ada hubungannya dengan kematian Arya?" tanya Darma. Putri terdiam, mencoba mencari celah yang mencurigakan. Namun seperti yang televisi beritakan. Akhir sudah bisa ditebak, pemimpin Proyek Benasaka pasti berakhir tidak bersalah. Berbeda dengan ucapan suaminya sebelum meninggal. "Cuma ini yang Papa dapatkan?" tanya Putri. Darma mengangguk. "Kalau kamu masih belum puas, Papa bisa cari informasi lebih dalam, tapi kamu harus sabar. Kamu tau Benasaka itu punya siapa. Jangan sampai Pak
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

35. Suara Hati Istri

Shana masih tidak menyerah. Di hari Senin, dia kembali membuat janji dengan Raja. Dia datang ke rumah produksi pria itu untuk membicarakan hal yang penting, yaitu mengenyahkan Dito dari proyek film mereka. "Shana Arkadewi, ada apa?" Raja masuk ke ruangannya di mana Shana menunggu. Di tangannya terdapat beberapa kertas, mungkin hasil dari rapat yang ia lakukan sebelumnya. "Tentang sebelumnya." Shana menunjukkan kegelisahannya. "Aku beneran nggak bisa kerja lagi sama Dito, Mas." Seperti yang sudah ia duga, Raja pasti lelah membahas hal yang sama setiap bertemu. "Aku tanya dulu. Kalau bukan Dito, kamu mau siapa?" "Arif Lukman?" "Arif lagi ngerjain filmnya sendiri sekarang." Raja mengangkat tangannya saat Shana akan membantah. "Kita nggak bisa nunggu Arif. Sponsor bisa kabur kalau kita lama. Harusnya kita udah mulai produksi minggu lalu, tapi karena berita tentang kamu, Dito, dan suami kamu. Jadi kita harus nunda semuanya." Raja seperti tengah mengingatkan Shana, jika semua
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

37. Negoisasi

Di mana foto sang ibu? Shana baru sadar jika tidak ada foto Farah Marissa, almarhum istri Ndaru di sini. Aneh. Pintu yang terbuka secara tiba-tiba mengejutkan Shana. Dia berdecak begitu Ndaru masuk dengan santainya, mengabaikan rasa terkejutnya. "Kenapa nggak ketuk pintu dulu, sih?" gerutu Shana. Ndaru mendekat dengan alis terangkat. "Kenapa saya harus ketuk pintu ruangan saya sendiri?" "Ah, iya juga," gumam Shana dan mulai berdiri. Kembali duduk di sofa tepat di hadapan Ndaru. "Kenapa Bapak panggil saya ke sini?" Ndaru berdeham sambil menggaruk pelipisnya. "Saya mau minta tolong," ucapnya pelan. "Apa, Pak? Saya nggak denger?" Shana membungkukkan tubuhnya untuk lebih dekat. "Saya mau minta tolong." Ndaru berbicara lebih jelas sambil mendorong kepala Shana menjauh dengan jari telunjuknya. "Tumben?" Shana tersenyum mengejek. Dengan angkuh dia melipat kedua tangannya di dada. "Mau minta tolong apa?" "Saya sudah daftarkan Mas Juna untuk preschool." Shana mengang
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

36. Kejanggalan

Selama ini, Shana berusaha untuk menghindari masa lalu. Memilih untuk fokus ke depan tanpa rasa ragu. Namun takdir memang sangat lucu. Shana malah terjebak pada dunia baru yang begitu pilu. Selama 10 menit, Shana masih duduk di dalam mobil. Menatap gedung tinggi di hadapannya dengan perasaan resah. Untuk pertama kalinya dia datang ke tempat ini, ke kantor suami yang hanya akan menemaninya selama satu tahun. Jari-jarinya bergerak mengetuk setir bundar dengan berirama. Menenangkan perasaan yang sedang tak karuan. Gadis itu sedang menerka-nerka. Apa tujuan Ndaru memintanya datang? Shana menggelengkan kepalanya cepat. Dengan segera dia keluar dari mobil dengan membawa satu kotak yang berisi beberapa minuman kopi. Bukan untuknya melainkan untuk orang-orang ramah yang ia temui. Entah kenapa dia berinisiatif membeli kopi itu sebelum tiba di kantor. Aneh rasanya jika ia datang tanpa membawa apa pun. "Selamat siang, Ibu Shana," sapa tiga pria yang Shana yakini sebagai pihak keamanan
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

38. Skenario Licik

Malam ini masih sama seperti malam sebelumnya. Mata Shana masih terjaga. Menatap layar laptop yang menyala. Konsentrasi penuh ia cipta, untuk berfantasi ria. Baru saja mengetik paragraf baru dan menghasilkan beberapa kalimat, kepala Shana sontak menggeleng. Dia kembali membaca ulang tulisannya dengan kening berkerut. "Jelek banget," gumamnya yang kemudian menekan tombol hapus. Dengan lemas, Shana mendorong laptopnya dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mencoba berpikir rangkaian kalimat apa yang akan ia tuangkan dalam tulisan. Biasanya di jam seperti ini, otaknya bisa berjalan dengan lancar. Namun sayangnya malam ini tidak. Ada hal lain yang mengusik Shana. Yaitu tentang proyek filmnya. Hingga saat ini Shana belum menemukan jalan keluar. Dalam hati yang paling terdalam, dia menginginkan pembuatan film dari adaptasi novelnya terus berlanjut. Ini semua demi karir dan para penggemarnya. Namun Shana seperti terjebak di tengah-tengah jembatan yang diapit dua jurang. Jika dia
last updateLast Updated : 2025-03-22
Read more

39. Berubah Pikiran

"Perselingkuhan." Sialan! Shana mengumpat dalam hati. Handaru Atmadjiwo benar-benar bajingan. Pria itu tahu akan semua masalah yang ia hadapi tetapi memilih untuk menutup mata. Jika Dito membuat ulah maka Ndaru akan menggerakan media dengan menyebarkan berita perselingkuhannya dengan Dito. Artinya Ndaru yang tersakiti dan nama Atmadjiwo tetap bersih. Lalu dirinya akan menjadi manusia paling hina di mata para netizen. "Ini nggak adil." Shana menolak menerima map itu. "Hanya ini satu-satunya cara. Jadi pastikan Dito tidak membuat ulah. Saya izinkan proyek film kamu berjalan dan kamu juga akan menemani Mas Juna di sekolah. Hanya tiga kali satu minggu." Shana tertawa tidak percaya. "Saya pikir Pak Ndaru berbeda dengan Atmadjiwo yang lain, ternyata sama aja." "Apa maksud kamu?" Shana tidak menjawab. Dia meraih map itu dengan kasar dan menandatanganinya, tanpa membaca isinya terlebih dahulu. "Selesai." Shana menutup map itu. "Ada lagi?" tanyanya melipat tangannya di da
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more

40. Serangan Fajar

Pada dasarnya manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Kadang ucapan akan berbeda dengan isi kepala. Penyesalan tentu ada. Namun sekali lagi apa daya, manusia tetaplah manusia. Jika bukan karena permintaan Juna, tentu Ndaru akan menolak keras untuk tidur di kamar Shana. Masih ada dinding besar yang harus ia jaga. Kesepakatan harus berjalan sesuai dengan perjanjian kontrak. Namun lihat sekarang, ada saja hal yang ingin merusaknya. Awalnya Ndaru hanya akan bertahan sampai Juna jatuh terlelap. Mungkin tiga puluh menit. Namun siapa sangka jika pada akhirnya dia juga ikut jatuh terlelap. Di kamar seorang gadis yang pada awalnya sangat ia hindari. Sepertinya rasa lelah tak bisa lagi Ndaru tahan. Tubuhnya benar-benar membutuhkan istirahat. Beberapa menit sebelum memasuki waktu Subuh, mata Ndaru sudah terbuka. Sudah menjadi kebiasaan sedari dulu. Seperti ada alarm kecil di kepalanya. Begitu membuka mata, keadaan gelap langsung menyapanya. Detik itu juga Ndaru tersadar. Jika ia masih bera
last updateLast Updated : 2025-03-23
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status