Home / Romansa / Duda Incaran Shana / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Duda Incaran Shana: Chapter 21 - Chapter 30

66 Chapters

21. SAH

Shana memang tidak banyak ikut andil dalam persiapan pernikahan. Dia hanya memilih kebaya dan kartu undangan. Selebihnya pihak Ndaru yang menjalankan. Namun ia tidak menyangka jika akan banyak hal yang telah dipersiapkan. Bagaimana tidak? Saksi pernikahan mereka adalah orang nomor satu di negeri ini. Seketika Shana bergidik ngeri. Apa perlu seheboh ini hanya untuk pernikahan kontrak? Entah berapa banyak dosa yang akan Shana tanggung. Rasanya begitu berat dan menyesakkan dada. Sebelumnya, Shana sudah menekankan dirinya sendiri jika hidupnya tak akan sama lagi setelah menikah. Namun begitu mengalaminya sendiri, dia tetap terkejut dengan perubahan yang ada. Bahkan perubahannya sampai 180 derajat. "SAH!" ucap para saksi. Mata Shana terpejam. Bukan karena haru, melainkan penyesalan. Mulai sekarang dia tak akan bisa lagi melarikan diri. Meski hanya satu tahun tetapi tetap berat untuk dijalani. Tangan kanan Ndaru tiba-tiba terulur. Dengan bergetar, Shana menerima tangan itu dan me
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

22. Kehidupan Baru

Pernikahan memang suci. Bisa ada karena rasa cinta yang memiliki. Mengikat dua manusia yang saling mencintai. Berharap akan masa depan yang saling melengkapi. Namun, kadang kala permasalahan hidup tak bisa dihindari. Datang tanpa diminta silih berganti. Membuat manusia hanya bisa menyerahkan diri. Mencari jalan keluar tanpa berpikir dengan jernih. Termasuk dengan mempermainkan pernikahan. Shana tahu jika apa yang ia lakukan adalah perbuatan yang tidak baik. Namun hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan semuanya. Mengatasi semua masalah-masalah yang datang karena aksi nekatnya. Bahkan Shana harus menunda proses produksi sequel film-nya karena berita menghebohkan itu. Tentu kerugian harus dihindari. Apa lagi hubungannya dengan sutradara Dito Alamsyah sangat tidak baik. Ingatkan Shana untuk meminta pergantian sutradara nanti. "Selamat datang, Bu." Lamunan Shana buyar ketika Gilang berbicara. Pria itu membuka lebar pintu rumah yang baru pertama kali Shana kunjungi.
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

23. Rahasia Mengejutkan

Tidur Shana kali ini benar-benar nyenyak. Hanya dua jam tetapi mampu membuat tubuhnya kembali segar. Setelah bangun, dia mulai membereskan semua barang-barangnya. Shana membongkar kopernya sendiri tanpa menunggu bantuan asisten rumah tangga seperti kata Gilang. Hanya beberapa koper. Shana bisa mengatasinya sendiri. Dia bukan tipe orang yang harus dibantu untuk melakukan hal yang bisa ia lakukan. Entah berapa jam Shana berkutat. Tanpa terasa langit sudah mulai gelap. Seharian dia mengunci diri di kamar. Memindah beberapa perabotan yang tidak cocok di pandangan. Meski hanya satu tahun, Shana akan membuat kamarnya menjadi tempat ternyaman. Hanya di kamar ini dia bebas melakukan apa pun yang ia inginkan. Dering ponsel berbunyi. Shana meraih ponselnya dan melihat nama kakaknya di sana. Mendadak dia mendengkus kesal. Ini sudah ke-7 kalinya Erina menghubunginya. Sepertinya gadis itu masih khawatir dengan dirinya yang tinggal bersama Handaru Atmadjiwo. "Ada apa lagi, Mbak?" "Kenapa
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

24. Hidup Bersama

Seperti biasa, Shana kembali terbangun malam ini. Kebiasaan yang cukup membuatnya lelah. Kebiasaan yang mengingatkannya akan masa remajanya yang kelam. Kebiasaan yang mengingatkannya akan rasa kehilangan yang begitu menyesakkan. Yaitu ketika ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. "Mama," gumam Shana memeluk gulingnya erat. Jika ada Erina, mungkin kakaknya yang akan ia peluk. Namun saat ini, di rumah ini, Shana tidak memiliki siapa pun. "Ma," gumam Shana lagi berusaha untuk menutup mata. Biasanya Shana bisa melewati malamnya dengan baik. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Mungkin karena banyaknya masalah yang ia hadapi dan malam ini adalah puncaknya. Lalu yang ada air mata mulai jatuh dengan sukarela. Berusaha kembali tidur hanya akan menyiksa diri. Shana harus sibuk dengan sesuatu agar pikirannya teralihkan. Akhirnya dia memutuskan untuk bangkit. Ternyata jam masih menunjukkan pukul satu dini hari. "Oke, Shana. Lo nggak boleh cengeng," ucapnya memberi sem
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

25. Privasi

Sejak kemarin, Ndaru sudah menempati ruangan kerja Guna di kantor utama. Meski belum resmi menggantikan posisinya, tetapi dia sudah mulai bekerja di sana. Selagi menunggu waktu Guna kosong untuk serah terima jabatan, Ndaru akan belajar beradaptasi. Menjadi pemimpin tidak serta-merta membuatnya bersikap arogan. Biar bagaimana pun Ndaru tetaplah orang baru yang harus menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang ada. Seperti saat ini, Ndaru tidak hanya memiliki Gilang yang membantunya. Melainkan ada sekretaris Guna di kantor yang akan bekerja untuknya. Namanya Fajar, sudah bekerja cukup lama untuk kakaknya. Mendengar bagaimana kinerja Fajar dari mulut Guna, Ndaru memutuskan untuk tetap mempekerjakan pria itu. "Ini laporan keuangan yang Bapak minta untuk dua bulan terakhir," ujar Fajar. "Terima kasih." Ndaru mulai membacanya. Kemampuan analisisnya cukup bagus, membuatnya bisa mencari titik lemah yang harus diperhatikan. "Ada keluhan dari para pemilik saham? Saya lihat grafik saham
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

26. Fakta Berbicara

"Saya butuh privasi untuk keluarga saya." Ndaru mengungkapkan alasannya. "Jika ada kepentingan untuk masuk ke dalam rumah, pastikan hubungi Bibi Lasmi terlebih dulu." "Siap, Pak!" jawab mereka kompak. Toh selama ini untuk tempat tinggal satpam dan sopir memang berada di sisi lain rumah. Berbeda dengan bangunan rumah utama. "Kalian boleh kembali." Setelah para satpam dan sopir berlalu, Gilang berjalan mendekat. "Sebelum pulang, ada yang Pak Ndaru butuhkan?" Ndaru menggeleng. "Saya mau istirahat. Kamu boleh pulang." "Baik, Pak. Saya permisi." Tanpa menunggu Gilang, Ndaru langsung masuk ke dalam rumah. Kakinya tidak langsung melangkah. Dia justru menatap keadaan ruang tamu yang sudah gelap dengan pandangan hampa. Rasanya bukan seperti rumah. Ada sesuatu yang kurang. Namun Ndaru tidak tahu apa itu. Saat akan menaiki tangga menuju lantai dua, Ndaru mendengar suara berisik dari dapur. Tidak ada rasa khawatir atau pun takut. Dia sudah tahu siapa pelakunya. Benar dugaannya, d
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

27. Nyonya Atmadjiwo

Perubahan hidup memang tak bisa dihindarkan. Apa lagi setelah pernikahan. Namun pada kenyataan, tidak ada banyak perubahan. Pada kasus Ndaru dan Shana, semuanya berjalan sesuai kesepakatan. Hari ini Shana bangun jam 11 siang. Dia baru saja memejamkan matanya setelah subuh. Waktu tidurnya benar-benar buruk. Apa lagi setelah tinggal di rumah Ndaru. Kemewahan yang ada belum memberikan ketenangan yang ia damba. Baiklah, Shana akan sedikit meralatnya. Ternyata ada perubahan signifikan yang ia rasakan setelah berada di rumah ini. Dia tidak lagi perlu melakukan pekerjaan rumah seperti saat ia tinggal sendiri. Itu adalah salah satunya, karena sebenarnya masih banyak kebiasaan yang tak lagi ia lakukan. Sambil bersenandung, Shana menuruni anak tangga. Sesekali tangannya bergerak untuk membetulkan kacamata yang bertengger di wajahnya. Sebenarnya pandangan Shana tidak terlalu buruk, hanya saja matanya akan terasa panas tanpa kaca mata. Mungkin karena sudah terbiasa menatap layar laptop sel
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

28. Handaru Atmadjiwo

Shana pikir dia akan berangkat sendiri malam ini. Namun ternyata Ndaru datang menjemputnya. Entah di mana pria itu bersiap, yang pasti Ndaru datang dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi. Harus Shana akui jika pria itu cukup memerhatikan penampilannya. Meski usia tidak bisa berbohong, tetapi Ndaru bisa bersaing dengan anak muda lainnya. Bedanya, pria itu benar nyata berwibawa. "Keluarga Bapak hadir semua?" tanya Shana memecah keheningan di dalam mobil. "Hm," jawab Ndaru dengan dehaman. Pria itu sedang tidak sibuk. Dia hanya duduk bersandar sambil memejamkan matanya. "Ada para media juga, Pak?" "Ada beberapa." Ndaru membuka matanya sambil memperbaiki posisi duduknya. "Saya nggak ngapa-ngapain di sana, kan, Pak?" Shana meringis tipis. Jujur, dia kurang percaya diri. "Bu Shana cukup tersenyum dan mendampingi Pak Ndaru," jawab Gilang yang duduk di samping sopir. Shana lega mendengarnya. Dia beralih pada Ndaru yang menatap jalanan. Wajahnya begitu datar, Shana sampai t
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

29. Kembali Bertemu

Rasa gugup Shana menguap. Setelah lima belas menit dia berhasil menguasai dirinya. Apa lagi saat dia berada di satu meja bersama keluarga Atmadjiwo. Tentu dia tidak boleh menunjukkan kegugupannya. Sialnya lagi, di samping kirinya duduk Harris Atmadjiwo, mertua yang membencinya. Namun jangan kira Shana akan terintimidasi. Justru dia tidak takut sedikit pun pada pria itu. "Lihat anak saya, pasti kamu senang bisa menikah dengan anak saya," bisik Harris pada Shana. Saat ini mereka semua memang tengah mendengarkan pidato Ndaru setelah menerima jabatan dari kakaknya. Shana menunduk dan memutar matanya jengah. Bagaimana bisa dia takut dengan Harris jika tingkah mertuanya itu sangat menggelikan? "Anak Bapak biasa aja. Apa hebatnya?" ejek Shana. Hal itu berhasil membuat Harris menoleh. "Seharusnya kamu bersyukur. Nggak mudah jadi keluarga Atmadjiwo," ucapnya diikuti dengan wajah galaknya. "Saya lebih suka jadi keluarga Elon Musk, sih, Pak. Nanggung banget cuma jadi keluarga Atma
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

30. Perubahan Dalam Semalam

Perubahan suasana hati benar terasa. Setelah kembali dengan membawa minumannya, ekspresi wajah Shana tak lagi sama. Lirikan dingin sang mertua pun seolah tak berarti apa-apa. Karena pada nyatanya ada sesuatu yang tengah mengusik hatinya. Setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya mereka kembali bertemu dan saling menyapa. Kali ini dengan situasi yang berbeda. Shana tak lagi menjadi anak ingusan seperti sebelumnya. Dia sudah jauh lebih dewasa. Sampai bisa mengambil langkah besar dalam hidupnya. Orang itu masih sama. Sangat angkuh dari balik topeng ramahnya. Orang itu juga masih sama. Menjadi tersangka utama dalam pandangan Shana. Orang itu yang harus bertanggung jawab akan kesedihan dan kekacauan yang terjadi pada keluarganya. "Mama, mau kue," ucap Juna membuyarkan lamunan Shana. Tidak seperti sebelumnya yang sigap, Shana menjawab dengan senyum paksa. "Minta Papa, ya, Mas." Bukan bermaksud melibatkan anak kecil. Namun perasaan Shana sangat kacau hari ini. Setelah bertemu dengan
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more
PREV
1234567
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status