Akhir pekan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh para pekerja. Hanya di akhir pekan mereka bisa beristirahat dengan tenang. Mencoba menenangkan pikiran sebelum Senin kembali datang. Hal itu juga yang dimanfaatkan oleh Ndaru. Boleh saja dia pulang malam setiap hari karena kesibukannya. Namun di akhir pekan, terutama hari Sabtu, Ndaru akan memberikan waktunya untuk Juna, anak semata wayangnya. Di tengah kesibukannya, dia masih ingin berperan dalam tumbuh kembang Juna. "Pelan-pelan, gerakin kakinya," ujar Ndaru. Kegiatan pagi ini adalah berenang. Ndaru bisa berolahraga sekaligus mengajari anaknya. Beruntung Juna tidak pernah takut dengan volume air yang banyak. Anak itu justru menyukainya. Sama seperti Ndaru kecil. "Iya, bagus. Pegang tangan Papa, jangan dilepas." Ndaru berjalan mundur dengan pelan. Masih mengajari Juna berenang dengan bantuan pelampung. Bukan ajaran yang serius. Setidaknya Ndaru sudah mengenalkan Juna akan kegiatan berenang. "Mama mana, Pa?" Juna mengusap
Shana pikir, hari Sabtunya akan berjalan dengan baik. Setelah beberapa hari bersantai setelah menikah, Shana kembali memulai rutinitasnya. Mulai dari mengecek keadaan kafe, bertemu editor, hingga bertemu produser. Seharusnya semua bisa berjalan lancar. Namun nyatanya semua tidak sesuai harapan. Shana kembali dipertemukan dengan masa lalu. Dito Alamsyah, pria itu berada di hadapannya saat ini. Duduk berdampingan bersama Raja, produser film-nya. Awalnya, Shana bersemangat karena akan membicarakan sequel film-nya bersama Raja. Namun siapa sangka jika Dito juga ikut serta hadir. Niat Shana yang ingin menghempaskan Dito untuk keluar dari proyek film pun pupus. Menyerah? Tentu tidak. Shana sudah memantapkan diri untuk tidak berhubungan dengan Dito. Selain karena pria itu cukup gila, Shana tidak mau membuat resiko yang akan membuat namanya jelek. Ingat, sudah ada tanda tangan kontrak yang ia buat dengan Handaru Atmadjiwo. Jika ia melanggar, maka akan banyak uang denda yang harus
Langkah berat membawa Shana masuk ke dalam rumahnya. Malam minggu membuat jalanan cukup padat. Mengakibatkan Shana sampai di rumah pukul setengah 11 malam. Cukup larut karena lampu di beberapa ruangan sudah dipadamkan. Biasanya Shana akan aktif di malam hari, tetapi kali ini berbeda. Energinya seolah terkuras habis. Apa lagi setelah bertemu dengan mantan tersialnya. Saat akan menaiki tangga, Shana mencium aroma lezat dari dapur. Keningnya berkerut mencoba menebak siapa yang tengah memasak di malam hari seperti ini. Mencium aroma itu, seketika membuat perut Shana berbunyi. Salah satu faktor yang membuatnya lemas malam ini adalah makanan. Shana ingat jika dia belum memasukkan makanan berat ke dalam perutnya sejak siang. Akhirnya aroma itu membuatnya berbelok. Menghampiri dapur yang lampunya masih menyala dengan terang. Ternyata bukan Bibi Lasmi seperti yang Shana pikirkan. Punggung tegap pria yang justru ia lihat. Handaru Atmadjiwo ada di dapur, tengah memasak dengan membelakan
Tidak semua orang bisa mengutarakan isi hati. Apa lagi mengenai hal yang sensitif. Sudah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Membuat Putri lebih memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Untuk yang kesekian kalinya, Putri kembali membaca berkas yang ayahnya berikan. Berkas yang berisi mengenai perkembangan kasus korupsi Proyek Benasaka. Bukan hal sulit untuk Darma mendapatkan akses tersebut. Dengan uang, semuanya akan menjadi mudah. "Kasus Benasaka sudah mendekati titik terang. Kamu yakin ada hubungannya dengan kematian Arya?" tanya Darma. Putri terdiam, mencoba mencari celah yang mencurigakan. Namun seperti yang televisi beritakan. Akhir sudah bisa ditebak, pemimpin Proyek Benasaka pasti berakhir tidak bersalah. Berbeda dengan ucapan suaminya sebelum meninggal. "Cuma ini yang Papa dapatkan?" tanya Putri. Darma mengangguk. "Kalau kamu masih belum puas, Papa bisa cari informasi lebih dalam, tapi kamu harus sabar. Kamu tau Benasaka itu punya siapa. Jangan sampai Pak
Shana masih tidak menyerah. Di hari Senin, dia kembali membuat janji dengan Raja. Dia datang ke rumah produksi pria itu untuk membicarakan hal yang penting, yaitu mengenyahkan Dito dari proyek film mereka. "Shana Arkadewi, ada apa?" Raja masuk ke ruangannya di mana Shana menunggu. Di tangannya terdapat beberapa kertas, mungkin hasil dari rapat yang ia lakukan sebelumnya. "Tentang sebelumnya." Shana menunjukkan kegelisahannya. "Aku beneran nggak bisa kerja lagi sama Dito, Mas." Seperti yang sudah ia duga, Raja pasti lelah membahas hal yang sama setiap bertemu. "Aku tanya dulu. Kalau bukan Dito, kamu mau siapa?" "Arif Lukman?" "Arif lagi ngerjain filmnya sendiri sekarang." Raja mengangkat tangannya saat Shana akan membantah. "Kita nggak bisa nunggu Arif. Sponsor bisa kabur kalau kita lama. Harusnya kita udah mulai produksi minggu lalu, tapi karena berita tentang kamu, Dito, dan suami kamu. Jadi kita harus nunda semuanya." Raja seperti tengah mengingatkan Shana, jika semua
Di mana foto sang ibu? Shana baru sadar jika tidak ada foto Farah Marissa, almarhum istri Ndaru di sini. Aneh. Pintu yang terbuka secara tiba-tiba mengejutkan Shana. Dia berdecak begitu Ndaru masuk dengan santainya, mengabaikan rasa terkejutnya. "Kenapa nggak ketuk pintu dulu, sih?" gerutu Shana. Ndaru mendekat dengan alis terangkat. "Kenapa saya harus ketuk pintu ruangan saya sendiri?" "Ah, iya juga," gumam Shana dan mulai berdiri. Kembali duduk di sofa tepat di hadapan Ndaru. "Kenapa Bapak panggil saya ke sini?" Ndaru berdeham sambil menggaruk pelipisnya. "Saya mau minta tolong," ucapnya pelan. "Apa, Pak? Saya nggak denger?" Shana membungkukkan tubuhnya untuk lebih dekat. "Saya mau minta tolong." Ndaru berbicara lebih jelas sambil mendorong kepala Shana menjauh dengan jari telunjuknya. "Tumben?" Shana tersenyum mengejek. Dengan angkuh dia melipat kedua tangannya di dada. "Mau minta tolong apa?" "Saya sudah daftarkan Mas Juna untuk preschool." Shana mengang
Selama ini, Shana berusaha untuk menghindari masa lalu. Memilih untuk fokus ke depan tanpa rasa ragu. Namun takdir memang sangat lucu. Shana malah terjebak pada dunia baru yang begitu pilu. Selama 10 menit, Shana masih duduk di dalam mobil. Menatap gedung tinggi di hadapannya dengan perasaan resah. Untuk pertama kalinya dia datang ke tempat ini, ke kantor suami yang hanya akan menemaninya selama satu tahun. Jari-jarinya bergerak mengetuk setir bundar dengan berirama. Menenangkan perasaan yang sedang tak karuan. Gadis itu sedang menerka-nerka. Apa tujuan Ndaru memintanya datang? Shana menggelengkan kepalanya cepat. Dengan segera dia keluar dari mobil dengan membawa satu kotak yang berisi beberapa minuman kopi. Bukan untuknya melainkan untuk orang-orang ramah yang ia temui. Entah kenapa dia berinisiatif membeli kopi itu sebelum tiba di kantor. Aneh rasanya jika ia datang tanpa membawa apa pun. "Selamat siang, Ibu Shana," sapa tiga pria yang Shana yakini sebagai pihak keamanan
Malam ini masih sama seperti malam sebelumnya. Mata Shana masih terjaga. Menatap layar laptop yang menyala. Konsentrasi penuh ia cipta, untuk berfantasi ria. Baru saja mengetik paragraf baru dan menghasilkan beberapa kalimat, kepala Shana sontak menggeleng. Dia kembali membaca ulang tulisannya dengan kening berkerut. "Jelek banget," gumamnya yang kemudian menekan tombol hapus. Dengan lemas, Shana mendorong laptopnya dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. Mencoba berpikir rangkaian kalimat apa yang akan ia tuangkan dalam tulisan. Biasanya di jam seperti ini, otaknya bisa berjalan dengan lancar. Namun sayangnya malam ini tidak. Ada hal lain yang mengusik Shana. Yaitu tentang proyek filmnya. Hingga saat ini Shana belum menemukan jalan keluar. Dalam hati yang paling terdalam, dia menginginkan pembuatan film dari adaptasi novelnya terus berlanjut. Ini semua demi karir dan para penggemarnya. Namun Shana seperti terjebak di tengah-tengah jembatan yang diapit dua jurang. Jika dia
Guna tampak terkejut. "Dia tau?" Hela napas kasar lolos dari mulut Ndaru. "Dia punya informan. Kita harus hati-hati." "Informan? Sialan, siapa dia?" Ndaru menggeleng. "Nanti aku cari tau." "Apa lagi yang kamu dapat dari acara semalam?" "Batu berlian," jawab Ndaru bodoh. "Bukan itu!" dengkus Guna kesal. "Kalau yang itu semua orang juga tau. Kata Maya kamu jadi trendic topic lagi." Guna menggelengkan kepalanya. "Hobi banget kamu jadi omongan banyak orang, tapi nggak masalah, karena itu juga aku minta kamu ke sini. Lihat ibu-ibu di luar sana, pada gemes sama kamu yang akhirnya daftarin anak mereka ke akademi kita." Guna tertawa terbahak. Berbanding dengan Ndaru, pria itu hanya bisa pasrah. Toh, dia juga sudah terbiasa. Dengan tampangnya yang lebih tampan dari saudara-saudaranya, Ndaru sering diperalat untuk mengeluarkan karisma kuatnya. "Satu lagi." Ndaru terlihat ragu untuk mengatakannya. "Shana, dia akrab dengan keluarga Nurdin." Kening Guna berkerut. "Kok bisa?" N
Hari Minggu yang tenang tak lagi bisa dibayang. Di pagi buta Ndaru sudah berada di atas awan. Menyusul kakaknya yang berada di Kalimantan. Rasa terpaksa tentu ia rasakan. Namun ada hal penting yang harus ia sampaikan. Dalam hati terdalam, Ndaru lebih suka jika Guna yang datang. Namun ia teringat pada Arya, di mana kakak keduanya itu meninggal karena ingin menemuinya. Ndaru tak mau hal yang sama terulang. Dia sudah kehilangan banyak orang dan itu semua karena dirinya. Dia tak ingin lagi. Di dalam pesawat pribadinya, Ndaru memilih untuk memejamkan mata. Rasa sesal karena tak mengajak Juna mulai terbayang-bayang. Namun ia sedang tergesa. Guna sudah menunggunya untuk hadir dalam acaranya. "Pak, pihak lelang amal semalam menghubungi. Untuk batu permata yang Bapak beli mau dikirim ke mana?" tanya Gilang. Ah, Ndaru lupa akan hal itu. Seketika dia meringis mengingat aksi tak terduganya. Hanya karena beberapa kalimat yang Shana ucapkan, mampu membuatnya terprovokasi dan membeli ba
Ke mana perginya semua orang? "Shan, aku beneran cinta mati sama kamu. Aku janji, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan berubah." "Omong kosong!" Shana mulai berdiri. Dito tidak mau mengalah. Pria itu ikut berdiri dan terus memohon pada Shana. Namun wajah memelas itu justru membuat Shana ketakutan. Dia tidak lagi bodoh seperti dulu. Dito adalah manusia manipulatif dan Shana tidak akan tertipu lagi. "Shan—" Dito kali ini berhasil meraih tangan Shana. Saat Shana akan berteriak, pria itu membungkam mulut Shana dengan tangannya. "Jangan teriak, Shan. Kamu tau apa yang akan terjadi kalau orang-orang tau kita cuma berdua di ruangan ini." "Sialan! Lepasin gue!" Shana berusaha memberontak. "Aku cuma mau kamu maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?" "Orang gila!" Belum sempat Shana mendorong Dito, pria itu lebih dulu terdorong menjauh. Sepertinya doa Shana di dengar oleh Tuhan. Secara tiba-tiba Roro berada di hadapannya dan berusaha untuk melindunginya. "Janga
Pagi ini Shana bangun lebih pagi. Tidak lagi bermalas-malasan seperti hari sebelumnya. Hari ini ia akan melakukan kunjungan rutin ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi syuting juga tidak dilakukan di luar kota sehingga Shana bisa datang untuk sekedar melihat mahakaryanya. Ada rasa enggan sebenarnya. Tentu saja karena Dito, mantan kekasih gilanya. Namun setelah Ndaru meminta Shana mengganti nomor ponsel, Dito tak lagi berulah. Namun justru itu membuat Shana takut. Entah apa lagi yang akan pria itu lakukan saat mereka bertemu nanti. "Pagi, Bi," sapa Shana memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Bu," balas Bibi Lasmi yang tengah menyiapkan makanan. Shana menatap ke sekitar dengan bingung. Keheningan yang ada membuatnya bertanya-tanya. Ke mana perginya semua penghuni rumah? "Kok sepi, Bi? Mas Juna belum bangun?" "Kayaknya belum, Bu. Semalem agak rewel mau nunggu Bapak sama Ibu pulang tapi akhirnya ketiduran juga meskipun udah malem banget." Shana meringis. Meski pulang lebih
"Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p
Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka
Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara
Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri