Perubahan hidup memang tak bisa dihindarkan. Apa lagi setelah pernikahan. Namun pada kenyataan, tidak ada banyak perubahan. Pada kasus Ndaru dan Shana, semuanya berjalan sesuai kesepakatan. Hari ini Shana bangun jam 11 siang. Dia baru saja memejamkan matanya setelah subuh. Waktu tidurnya benar-benar buruk. Apa lagi setelah tinggal di rumah Ndaru. Kemewahan yang ada belum memberikan ketenangan yang ia damba. Baiklah, Shana akan sedikit meralatnya. Ternyata ada perubahan signifikan yang ia rasakan setelah berada di rumah ini. Dia tidak lagi perlu melakukan pekerjaan rumah seperti saat ia tinggal sendiri. Itu adalah salah satunya, karena sebenarnya masih banyak kebiasaan yang tak lagi ia lakukan. Sambil bersenandung, Shana menuruni anak tangga. Sesekali tangannya bergerak untuk membetulkan kacamata yang bertengger di wajahnya. Sebenarnya pandangan Shana tidak terlalu buruk, hanya saja matanya akan terasa panas tanpa kaca mata. Mungkin karena sudah terbiasa menatap layar laptop sel
Shana pikir dia akan berangkat sendiri malam ini. Namun ternyata Ndaru datang menjemputnya. Entah di mana pria itu bersiap, yang pasti Ndaru datang dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi. Harus Shana akui jika pria itu cukup memerhatikan penampilannya. Meski usia tidak bisa berbohong, tetapi Ndaru bisa bersaing dengan anak muda lainnya. Bedanya, pria itu benar nyata berwibawa. "Keluarga Bapak hadir semua?" tanya Shana memecah keheningan di dalam mobil. "Hm," jawab Ndaru dengan dehaman. Pria itu sedang tidak sibuk. Dia hanya duduk bersandar sambil memejamkan matanya. "Ada para media juga, Pak?" "Ada beberapa." Ndaru membuka matanya sambil memperbaiki posisi duduknya. "Saya nggak ngapa-ngapain di sana, kan, Pak?" Shana meringis tipis. Jujur, dia kurang percaya diri. "Bu Shana cukup tersenyum dan mendampingi Pak Ndaru," jawab Gilang yang duduk di samping sopir. Shana lega mendengarnya. Dia beralih pada Ndaru yang menatap jalanan. Wajahnya begitu datar, Shana sampai t
Rasa gugup Shana menguap. Setelah lima belas menit dia berhasil menguasai dirinya. Apa lagi saat dia berada di satu meja bersama keluarga Atmadjiwo. Tentu dia tidak boleh menunjukkan kegugupannya. Sialnya lagi, di samping kirinya duduk Harris Atmadjiwo, mertua yang membencinya. Namun jangan kira Shana akan terintimidasi. Justru dia tidak takut sedikit pun pada pria itu. "Lihat anak saya, pasti kamu senang bisa menikah dengan anak saya," bisik Harris pada Shana. Saat ini mereka semua memang tengah mendengarkan pidato Ndaru setelah menerima jabatan dari kakaknya. Shana menunduk dan memutar matanya jengah. Bagaimana bisa dia takut dengan Harris jika tingkah mertuanya itu sangat menggelikan? "Anak Bapak biasa aja. Apa hebatnya?" ejek Shana. Hal itu berhasil membuat Harris menoleh. "Seharusnya kamu bersyukur. Nggak mudah jadi keluarga Atmadjiwo," ucapnya diikuti dengan wajah galaknya. "Saya lebih suka jadi keluarga Elon Musk, sih, Pak. Nanggung banget cuma jadi keluarga Atma
Perubahan suasana hati benar terasa. Setelah kembali dengan membawa minumannya, ekspresi wajah Shana tak lagi sama. Lirikan dingin sang mertua pun seolah tak berarti apa-apa. Karena pada nyatanya ada sesuatu yang tengah mengusik hatinya. Setelah bertahun-tahun lamanya akhirnya mereka kembali bertemu dan saling menyapa. Kali ini dengan situasi yang berbeda. Shana tak lagi menjadi anak ingusan seperti sebelumnya. Dia sudah jauh lebih dewasa. Sampai bisa mengambil langkah besar dalam hidupnya. Orang itu masih sama. Sangat angkuh dari balik topeng ramahnya. Orang itu juga masih sama. Menjadi tersangka utama dalam pandangan Shana. Orang itu yang harus bertanggung jawab akan kesedihan dan kekacauan yang terjadi pada keluarganya. "Mama, mau kue," ucap Juna membuyarkan lamunan Shana. Tidak seperti sebelumnya yang sigap, Shana menjawab dengan senyum paksa. "Minta Papa, ya, Mas." Bukan bermaksud melibatkan anak kecil. Namun perasaan Shana sangat kacau hari ini. Setelah bertemu dengan
Akhir pekan menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh para pekerja. Hanya di akhir pekan mereka bisa beristirahat dengan tenang. Mencoba menenangkan pikiran sebelum Senin kembali datang. Hal itu juga yang dimanfaatkan oleh Ndaru. Boleh saja dia pulang malam setiap hari karena kesibukannya. Namun di akhir pekan, terutama hari Sabtu, Ndaru akan memberikan waktunya untuk Juna, anak semata wayangnya. Di tengah kesibukannya, dia masih ingin berperan dalam tumbuh kembang Juna. "Pelan-pelan, gerakin kakinya," ujar Ndaru. Kegiatan pagi ini adalah berenang. Ndaru bisa berolahraga sekaligus mengajari anaknya. Beruntung Juna tidak pernah takut dengan volume air yang banyak. Anak itu justru menyukainya. Sama seperti Ndaru kecil. "Iya, bagus. Pegang tangan Papa, jangan dilepas." Ndaru berjalan mundur dengan pelan. Masih mengajari Juna berenang dengan bantuan pelampung. Bukan ajaran yang serius. Setidaknya Ndaru sudah mengenalkan Juna akan kegiatan berenang. "Mama mana, Pa?" Juna mengusap
Shana pikir, hari Sabtunya akan berjalan dengan baik. Setelah beberapa hari bersantai setelah menikah, Shana kembali memulai rutinitasnya. Mulai dari mengecek keadaan kafe, bertemu editor, hingga bertemu produser. Seharusnya semua bisa berjalan lancar. Namun nyatanya semua tidak sesuai harapan. Shana kembali dipertemukan dengan masa lalu. Dito Alamsyah, pria itu berada di hadapannya saat ini. Duduk berdampingan bersama Raja, produser film-nya. Awalnya, Shana bersemangat karena akan membicarakan sequel film-nya bersama Raja. Namun siapa sangka jika Dito juga ikut serta hadir. Niat Shana yang ingin menghempaskan Dito untuk keluar dari proyek film pun pupus. Menyerah? Tentu tidak. Shana sudah memantapkan diri untuk tidak berhubungan dengan Dito. Selain karena pria itu cukup gila, Shana tidak mau membuat resiko yang akan membuat namanya jelek. Ingat, sudah ada tanda tangan kontrak yang ia buat dengan Handaru Atmadjiwo. Jika ia melanggar, maka akan banyak uang denda yang harus
Langkah berat membawa Shana masuk ke dalam rumahnya. Malam minggu membuat jalanan cukup padat. Mengakibatkan Shana sampai di rumah pukul setengah 11 malam. Cukup larut karena lampu di beberapa ruangan sudah dipadamkan. Biasanya Shana akan aktif di malam hari, tetapi kali ini berbeda. Energinya seolah terkuras habis. Apa lagi setelah bertemu dengan mantan tersialnya. Saat akan menaiki tangga, Shana mencium aroma lezat dari dapur. Keningnya berkerut mencoba menebak siapa yang tengah memasak di malam hari seperti ini. Mencium aroma itu, seketika membuat perut Shana berbunyi. Salah satu faktor yang membuatnya lemas malam ini adalah makanan. Shana ingat jika dia belum memasukkan makanan berat ke dalam perutnya sejak siang. Akhirnya aroma itu membuatnya berbelok. Menghampiri dapur yang lampunya masih menyala dengan terang. Ternyata bukan Bibi Lasmi seperti yang Shana pikirkan. Punggung tegap pria yang justru ia lihat. Handaru Atmadjiwo ada di dapur, tengah memasak dengan membelakan
Tidak semua orang bisa mengutarakan isi hati. Apa lagi mengenai hal yang sensitif. Sudah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Membuat Putri lebih memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Untuk yang kesekian kalinya, Putri kembali membaca berkas yang ayahnya berikan. Berkas yang berisi mengenai perkembangan kasus korupsi Proyek Benasaka. Bukan hal sulit untuk Darma mendapatkan akses tersebut. Dengan uang, semuanya akan menjadi mudah. "Kasus Benasaka sudah mendekati titik terang. Kamu yakin ada hubungannya dengan kematian Arya?" tanya Darma. Putri terdiam, mencoba mencari celah yang mencurigakan. Namun seperti yang televisi beritakan. Akhir sudah bisa ditebak, pemimpin Proyek Benasaka pasti berakhir tidak bersalah. Berbeda dengan ucapan suaminya sebelum meninggal. "Cuma ini yang Papa dapatkan?" tanya Putri. Darma mengangguk. "Kalau kamu masih belum puas, Papa bisa cari informasi lebih dalam, tapi kamu harus sabar. Kamu tau Benasaka itu punya siapa. Jangan sampai Pak
Ke mana perginya semua orang? "Shan, aku beneran cinta mati sama kamu. Aku janji, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan berubah." "Omong kosong!" Shana mulai berdiri. Dito tidak mau mengalah. Pria itu ikut berdiri dan terus memohon pada Shana. Namun wajah memelas itu justru membuat Shana ketakutan. Dia tidak lagi bodoh seperti dulu. Dito adalah manusia manipulatif dan Shana tidak akan tertipu lagi. "Shan—" Dito kali ini berhasil meraih tangan Shana. Saat Shana akan berteriak, pria itu membungkam mulut Shana dengan tangannya. "Jangan teriak, Shan. Kamu tau apa yang akan terjadi kalau orang-orang tau kita cuma berdua di ruangan ini." "Sialan! Lepasin gue!" Shana berusaha memberontak. "Aku cuma mau kamu maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?" "Orang gila!" Belum sempat Shana mendorong Dito, pria itu lebih dulu terdorong menjauh. Sepertinya doa Shana di dengar oleh Tuhan. Secara tiba-tiba Roro berada di hadapannya dan berusaha untuk melindunginya. "Janga
Pagi ini Shana bangun lebih pagi. Tidak lagi bermalas-malasan seperti hari sebelumnya. Hari ini ia akan melakukan kunjungan rutin ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi syuting juga tidak dilakukan di luar kota sehingga Shana bisa datang untuk sekedar melihat mahakaryanya. Ada rasa enggan sebenarnya. Tentu saja karena Dito, mantan kekasih gilanya. Namun setelah Ndaru meminta Shana mengganti nomor ponsel, Dito tak lagi berulah. Namun justru itu membuat Shana takut. Entah apa lagi yang akan pria itu lakukan saat mereka bertemu nanti. "Pagi, Bi," sapa Shana memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Bu," balas Bibi Lasmi yang tengah menyiapkan makanan. Shana menatap ke sekitar dengan bingung. Keheningan yang ada membuatnya bertanya-tanya. Ke mana perginya semua penghuni rumah? "Kok sepi, Bi? Mas Juna belum bangun?" "Kayaknya belum, Bu. Semalem agak rewel mau nunggu Bapak sama Ibu pulang tapi akhirnya ketiduran juga meskipun udah malem banget." Shana meringis. Meski pulang lebih
"Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p
Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka
Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara
Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri
Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal
Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa