Share

44. Pengawal

Author: Viallynn
last update Last Updated: 2025-03-25 23:14:22

Ternyata Ndaru tidak main-main dengan ucapannya. Pria itu mengirim seorang wanita bernama Roro untuk bersama Shana. Bukan hanya untuk mengantar Juna sekolah, melainkan juga mengikutinya ke mana saja. Hingga saat ini, Roro masih berada di sampingnya. Tampak siaga jika Shana membutuhkan sesuatu sewaktu-waktu.

Shana tahu jika Roro bukan hanya sekedar supir, melainkan pengawal yang Ndaru pekerjakan untuk mengawasinya. Ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya, Dito tidak banyak membuat ulah. Negatifnya, pergerakan Shana menjadi terbatas.

Hari ini adalah awal dari semuanya. Awal di mana kesibukan Shana akan kembali menerpa. Sebagai penulis, dia memang tidak selalu datang ke lokasi syuting, tetapi sudut pandangnya sebagai penulis pasti akan dibutuhkan.

Malam ini, semua kru berkumpul menjadi satu. Melakukan doa bersama sebelum proses syuting dimulai besok. Tak lupa dengan tumpeng nasi kuning sebagai bentuk rasa terima kasih pada Tuhan. Mereka semua berdoa agar proses pembuatan film
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Duda Incaran Shana   45. Akal Muslihat

    Tidak, jangan lagi. Ndaru seketika menggeleng tegas. "Mas Juna tidur di kamar sendiri, ya? Nggak kasian sama Suster Nur ditinggal sendiri?" Bibir Juna seketika maju. "Juna mau temenin Mama sama Papa biar nggak sendirian." Bagus. Sebenarnya berapa umur Juna? Kadang ia terlalu pintar untuk anak seusianya. "Oke, kalau gitu kita tunggu Mama Shana di kamar Mas Juna, ya? Nanti Papa minta Mama nyusul." Mata Juna tampak berkedip lucu. Mencoba mencerna ucapan ayahnya yang terlalu panjang. Masih butuh waktu untuk Juna mencerna dan memahami kalimat itu. "Mau Mama Shana." Pada akhinya Juna pun merengek, kembali memeluk kaki ayahnya dengan manja. Ndaru menggeleng pelan. Tatapan mata anaknya sudah terlihat mengantuk. Namun ia tetap keras kepala menunggu Shana. Ndaru meraih ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam delapan malam, tetapi belum ada tanda-tanda jika Shana akan kembali. Keterlauan. Baru tadi pagi ia memberi peringatan, tetapi langsung dilanggar begitu saja. Lalu apa jug

    Last Updated : 2025-03-25
  • Duda Incaran Shana   46. Acara Berdua

    Waktu telah berlalu. Seperti permintaan Ndaru, Shana akan meluangkan waktu. Ia kira hanya di hari Sabtu, ternyata juga sampai Minggu. Bukan hanya itu, tetapi Ndaru juga membawanya ke tempat yang baru. Untuk pertama kalinya Shana berlayar di atas yacht. Bukan sekedar kapal biasa melainkan superyacht yang dapat menampung sekitar 90 orang. Awalnya Shana tidak tahu undangan apa yang sebenarnya Ndaru datangi. Dia hanya menurut saat pria itu membawanya terbang ke Bali. Namun ternyata Shana dibuat terkejut berkali-kali. Dia memang bukan orang yang kekurangan, tetapi dia masih terkejut dengan gaya hidup orang yang berkecukupan. Untuk hari jadi pernikahan, acara yang diadakan rekan kerja Ndaru sangatlah mewah. Pasangan sejoli yang tak lagi muda tetapi masih terlihat cinta yang membara itu membawa tamu undangan yang terpilih untuk berlayar selama satu hari. Mereka memang tak mau acara yang biasa katanya. Benar-benar luar biasa. Di sini lah Shana sekarang, duduk di salah satu kursi

    Last Updated : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   47. Hampir Saja

    Benar-benar berat. Setelah mengikuti berbagai kegiatan yang cukup padat, harusnya Ndaru dan Shana bisa langsung jatuh terlelap. Namun nyatanya, hingga jam satu dini hari mata mereka masih kompak terbuka. Rasa kantuk itu terasa, tetapi rasa canggung yang menjadi juara. Di tengah cahaya remang, Shana berbaring membelakangi Ndaru dan begitu juga sebaliknya. "Pak?" panggil Shana pelan. Mencoba memastikan jika pria yang berbaring di sampingnya itu sudah tidur. "Hm." Ternyata belum. "Kok belum tidur?" Shana membalikkan tubuhnya. "Ini mau tidur." Ndaru masih membelakanginya. "Saya nggak bisa tidur." Shana bisa mendengar Ndaru menghela napas. Pria itu bergerak dan membenarkan posisi bantalnya. Membuat posisinya menjadi setengah berbaring sambil bersandar pada kepala tempat tidur. "Seharusnya kita nggak perlu datang ke sini." "Kenapa?" Shana mengikuti posisi Ndaru yang terlihat nyaman. Tanpa sadar lengan mereka saling bersentuhan. Tangan Ndaru juga bergerak dengan sen

    Last Updated : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   48. Selamat Pagi Dunia

    Terjebak pada situasi yang tidak disukai memang menyebalkan. Bertarung dengan hati dan pikiran sudah menjadi kebiasaan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menjalankan. Sampai akhirnya bisa terbebas dari yang namanya beban. Ya, Shana menyebutnya beban. Berbagai macam perasaan bak bertarung di dalam pikiran. Ada gelisah, canggung, resah, dan juga senang. Semua bercampur menjadi satu sampai isi perut meminta untuk dikeluarkan. Pagi sudah datang. Hal pertama yang Shana lihat setelah membuka mata adalah sosok pria yang semalam tidur bersamanya. Mereka tidak melakukan apa-apa, bahkan ada pembatas di antara mereka. Namun sepertinya yatch yang mereka naiki ini berhantu. Pembatas selimut yang semalam Shana tempatkan dengan rapi di tengah mereka mendadak menghilang entah ke mana. Lalu saat ini, Shana hanya membatu tanpa bisa bergerak. Jika ia bergerak maka ia akan membangunkan Ndaru. Sejak kapan lengan besar pria itu melingkar di pinggangnya? Bisa saja Shana membangunkan Ndaru dan m

    Last Updated : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   49. Tamu Tak Diundang

    Akhir pekan begitu cepat berlalu. Rutinitas juga sudah melambai ingin bertemu. Kesibukan mulai meneror Ndaru. Tampak bersemangat untuk menyerbu. Ndaru melewatkan makan siangnya kali ini. Setelah menghadiri rapat penting dia harus menyelesaikan pekerjaan sisanya. Pantang baginya untuk menunda pekerjaan. Setidaknya dia tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Karena itu juga Ndaru sering pulang malam. Ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. "Masuk," ucapnya. "Permisi, Pak. Ada Pak Guna yang ingin bertemu," kata Fajar, sekretarisnya. "Mas Guna?" gumam Ndaru. "Minta kakak saya masuk," balasnya. Fajar mengangguk dan berlalu pergi. Tak lama Guna masuk bersama istrinya, Dayanti. "Ada apa, Mas?" tanya Ndaru berpindah ke sofa. "Bukannya kamu yang cari aku kemarin?" Guna merenggangkan tubuhnya di sofa. "Jadinya dari bandara langsung ke sini." Ternyata Guna baru saja tiba. Dari mana lagi jika bukan dari daerah pilihannya. Pria itu tampak begitu serius dala

    Last Updated : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   50. Menjaga Jarak

    "Putri," gumam Shana lemas. "Dia di sini?" Bagas mengangguk. "Mbak Shana nggak mau ketemu dulu? Tadi saya liat Mbak Putri lagi pesen kopi." Shana menarik napas dalam dan mengangguk. "Gue keluar dulu. Lo siapin aja file-nya." Langkah Shana terasa berat. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Untuk pertama kalinya Putri datang menemuinya. Bukan percaya diri. Shana yakin tujuan Putri datang bukan hanya untuk sekedar memesan kopi. Apa lagi jika bukan untuk menemuinya? "Mbak Putri?" sapa Shana pada wanita yang tengah duduk santai di samping jendela. Tampak mengaduk kopi hangatnya dengan elegan. "Mbak di sini?" Senyum Putri mengembang. Senyum yang tak pernah Shana liat selama ia bergabung ke dalam keluarga Atmadjiwo. "Kopi di sini enak." "Terima kasih, Mbak." Shana tampak ragu. "Boleh saya duduk?" Putri lagi-lagi tertawa. "Kita cuma berdua, Shan. Nggak perlu pura-pura." Shana mendengkus pelan dan mulai duduk di hadapan Putri. "Biar gimana pun

    Last Updated : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   51. Makan Malam Keluarga

    Hari-hari Shana tak luput dari kejutan. Sepertinya hampir setiap hari akan ada hal menarik yang terjadi. Shana pikir hidupnya akan terus membosankan dan monoton. Namun siapa sangka, setelah sosok Handaru Atmadjiwo muncul, hidupnya banyak mengalami perubahan. Ternyata menjadi Nyonya Atmadjiwo tidaklah mudah. Apalagi hanya bersandiwara. Itu lebih terasa menyiksa. Senyum palsu harus selalu siap sedia. Seolah kehidupan pernikahannya berjalan luar biasa. Memang benar luar biasa, tetapi dalam konteks yang berbeda. Apa pun yang terjadi, Shana berusaha untuk menikmatinya. Waktunya hanya satu tahun saja. Sebisa mungkin tujuannya harus terlaksana. Baik karirnya, nama baiknya, dan juga yang lainnya. "Mama nggak ikut?" tanya Juna mendongak menatap Shana. Shana yang tengah merapikan rambut Juna menghentikan kegiatannya. Dari cermin, dia melirik Ndaru yang tengah bersandar di pintu kamar. Pria itu mengawasi Shana yang tengah mendampingi Juna yang mendadak rewel malam ini.

    Last Updated : 2025-03-29
  • Duda Incaran Shana   52. Aura Permusuhan

    Ternyata acara ulang tahun Kumala Atmadjiwo, cucu pertama dari Harris Atmadjiwo benar diselenggarakan di panti asuhan. Bukan hanya satu, melainkan lima sekaligus. Lebih tepatnya yayasan kasih yang dikelola oleh keluarga Atmadjiwo sendiri. Sebenarnya berbagi kebahagiaan adalah hal yang baik, apalagi ditujukan untuk orang-orang yang membutuhkan. Hanya saja kebaikan itu seolah dimanfaatkan untuk hal yang lain, yaitu menarik simpati masyarakat. Banyaknya kamera wartawan seolah menjadi bukti. Semua keluarga Atmadjiwo mulai unjuk gigi. Memberikan senyum terbaik disaat tengah berbagi. Hal yang membuat Shana Arkadewi muak setengah mati. Menjadi anggota keluarga Atmadjiwo membuatnya harus banyak bersabar. Pandangannya dengan keluarga Atmadjiwo jelas berbeda. Shana tidak suka dengan kebohongan publik ini. Apalagi berkaitan dengan politik yang mulai memanas. Namun sayangnya dia harus tetap hadir untuk mendampingi suaminya. Adhiguna Amir Atmadjiwo yang merupakan seorang ayah sekaligus t

    Last Updated : 2025-03-30

Latest chapter

  • Duda Incaran Shana   70. Rasa Gelisah 2

    Guna tampak terkejut. "Dia tau?" Hela napas kasar lolos dari mulut Ndaru. "Dia punya informan. Kita harus hati-hati." "Informan? Sialan, siapa dia?" Ndaru menggeleng. "Nanti aku cari tau." "Apa lagi yang kamu dapat dari acara semalam?" "Batu berlian," jawab Ndaru bodoh. "Bukan itu!" dengkus Guna kesal. "Kalau yang itu semua orang juga tau. Kata Maya kamu jadi trendic topic lagi." Guna menggelengkan kepalanya. "Hobi banget kamu jadi omongan banyak orang, tapi nggak masalah, karena itu juga aku minta kamu ke sini. Lihat ibu-ibu di luar sana, pada gemes sama kamu yang akhirnya daftarin anak mereka ke akademi kita." Guna tertawa terbahak. Berbanding dengan Ndaru, pria itu hanya bisa pasrah. Toh, dia juga sudah terbiasa. Dengan tampangnya yang lebih tampan dari saudara-saudaranya, Ndaru sering diperalat untuk mengeluarkan karisma kuatnya. "Satu lagi." Ndaru terlihat ragu untuk mengatakannya. "Shana, dia akrab dengan keluarga Nurdin." Kening Guna berkerut. "Kok bisa?" N

  • Duda Incaran Shana   69. Rasa Gelisah

    Hari Minggu yang tenang tak lagi bisa dibayang. Di pagi buta Ndaru sudah berada di atas awan. Menyusul kakaknya yang berada di Kalimantan. Rasa terpaksa tentu ia rasakan. Namun ada hal penting yang harus ia sampaikan. Dalam hati terdalam, Ndaru lebih suka jika Guna yang datang. Namun ia teringat pada Arya, di mana kakak keduanya itu meninggal karena ingin menemuinya. Ndaru tak mau hal yang sama terulang. Dia sudah kehilangan banyak orang dan itu semua karena dirinya. Dia tak ingin lagi. Di dalam pesawat pribadinya, Ndaru memilih untuk memejamkan mata. Rasa sesal karena tak mengajak Juna mulai terbayang-bayang. Namun ia sedang tergesa. Guna sudah menunggunya untuk hadir dalam acaranya. "Pak, pihak lelang amal semalam menghubungi. Untuk batu permata yang Bapak beli mau dikirim ke mana?" tanya Gilang. Ah, Ndaru lupa akan hal itu. Seketika dia meringis mengingat aksi tak terduganya. Hanya karena beberapa kalimat yang Shana ucapkan, mampu membuatnya terprovokasi dan membeli ba

  • Duda Incaran Shana   68. Ceroboh

    Ke mana perginya semua orang? "Shan, aku beneran cinta mati sama kamu. Aku janji, kalau kamu mau balik sama aku, aku akan berubah." "Omong kosong!" Shana mulai berdiri. Dito tidak mau mengalah. Pria itu ikut berdiri dan terus memohon pada Shana. Namun wajah memelas itu justru membuat Shana ketakutan. Dia tidak lagi bodoh seperti dulu. Dito adalah manusia manipulatif dan Shana tidak akan tertipu lagi. "Shan—" Dito kali ini berhasil meraih tangan Shana. Saat Shana akan berteriak, pria itu membungkam mulut Shana dengan tangannya. "Jangan teriak, Shan. Kamu tau apa yang akan terjadi kalau orang-orang tau kita cuma berdua di ruangan ini." "Sialan! Lepasin gue!" Shana berusaha memberontak. "Aku cuma mau kamu maafin aku. Kita mulai semuanya dari awal, ya?" "Orang gila!" Belum sempat Shana mendorong Dito, pria itu lebih dulu terdorong menjauh. Sepertinya doa Shana di dengar oleh Tuhan. Secara tiba-tiba Roro berada di hadapannya dan berusaha untuk melindunginya. "Janga

  • Duda Incaran Shana   67. Kembali Terulang

    Pagi ini Shana bangun lebih pagi. Tidak lagi bermalas-malasan seperti hari sebelumnya. Hari ini ia akan melakukan kunjungan rutin ke lokasi syuting. Kebetulan lokasi syuting juga tidak dilakukan di luar kota sehingga Shana bisa datang untuk sekedar melihat mahakaryanya. Ada rasa enggan sebenarnya. Tentu saja karena Dito, mantan kekasih gilanya. Namun setelah Ndaru meminta Shana mengganti nomor ponsel, Dito tak lagi berulah. Namun justru itu membuat Shana takut. Entah apa lagi yang akan pria itu lakukan saat mereka bertemu nanti. "Pagi, Bi," sapa Shana memasuki ruang makan. "Selamat pagi, Bu," balas Bibi Lasmi yang tengah menyiapkan makanan. Shana menatap ke sekitar dengan bingung. Keheningan yang ada membuatnya bertanya-tanya. Ke mana perginya semua penghuni rumah? "Kok sepi, Bi? Mas Juna belum bangun?" "Kayaknya belum, Bu. Semalem agak rewel mau nunggu Bapak sama Ibu pulang tapi akhirnya ketiduran juga meskipun udah malem banget." Shana meringis. Meski pulang lebih

  • Duda Incaran Shana   66. Aksi Handaru

    "Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p

  • Duda Incaran Shana   65. Acara Lelang

    Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka

  • Duda Incaran Shana   64. Nurdin Hasan

    Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara

  • Duda Incaran Shana   63. Musuh Mendekat

    Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.

  • Duda Incaran Shana   62. Mertua VS Menantu 2

    "Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status