Beranda / Romansa / Duda Incaran Shana / 45. Akal Muslihat

Share

45. Akal Muslihat

Penulis: Viallynn
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-25 23:14:33

Tidak, jangan lagi.

Ndaru seketika menggeleng tegas. "Mas Juna tidur di kamar sendiri, ya? Nggak kasian sama Suster Nur ditinggal sendiri?"

Bibir Juna seketika maju. "Juna mau temenin Mama sama Papa biar nggak sendirian."

Bagus. Sebenarnya berapa umur Juna? Kadang ia terlalu pintar untuk anak seusianya.

"Oke, kalau gitu kita tunggu Mama Shana di kamar Mas Juna, ya? Nanti Papa minta Mama nyusul."

Mata Juna tampak berkedip lucu. Mencoba mencerna ucapan ayahnya yang terlalu panjang. Masih butuh waktu untuk Juna mencerna dan memahami kalimat itu.

"Mau Mama Shana." Pada akhinya Juna pun merengek, kembali memeluk kaki ayahnya dengan manja.

Ndaru menggeleng pelan. Tatapan mata anaknya sudah terlihat mengantuk. Namun ia tetap keras kepala menunggu Shana. Ndaru meraih ponselnya untuk melihat jam. Sudah jam delapan malam, tetapi belum ada tanda-tanda jika Shana akan kembali.

Keterlauan.

Baru tadi pagi ia memberi peringatan, tetapi langsung dilanggar begitu saja. Lalu apa jug
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Duda Incaran Shana   46. Acara Berdua

    Waktu telah berlalu. Seperti permintaan Ndaru, Shana akan meluangkan waktu. Ia kira hanya di hari Sabtu, ternyata juga sampai Minggu. Bukan hanya itu, tetapi Ndaru juga membawanya ke tempat yang baru. Untuk pertama kalinya Shana berlayar di atas yacht. Bukan sekedar kapal biasa melainkan superyacht yang dapat menampung sekitar 90 orang. Awalnya Shana tidak tahu undangan apa yang sebenarnya Ndaru datangi. Dia hanya menurut saat pria itu membawanya terbang ke Bali. Namun ternyata Shana dibuat terkejut berkali-kali. Dia memang bukan orang yang kekurangan, tetapi dia masih terkejut dengan gaya hidup orang yang berkecukupan. Untuk hari jadi pernikahan, acara yang diadakan rekan kerja Ndaru sangatlah mewah. Pasangan sejoli yang tak lagi muda tetapi masih terlihat cinta yang membara itu membawa tamu undangan yang terpilih untuk berlayar selama satu hari. Mereka memang tak mau acara yang biasa katanya. Benar-benar luar biasa. Di sini lah Shana sekarang, duduk di salah satu kursi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   47. Hampir Saja

    Benar-benar berat. Setelah mengikuti berbagai kegiatan yang cukup padat, harusnya Ndaru dan Shana bisa langsung jatuh terlelap. Namun nyatanya, hingga jam satu dini hari mata mereka masih kompak terbuka. Rasa kantuk itu terasa, tetapi rasa canggung yang menjadi juara. Di tengah cahaya remang, Shana berbaring membelakangi Ndaru dan begitu juga sebaliknya. "Pak?" panggil Shana pelan. Mencoba memastikan jika pria yang berbaring di sampingnya itu sudah tidur. "Hm." Ternyata belum. "Kok belum tidur?" Shana membalikkan tubuhnya. "Ini mau tidur." Ndaru masih membelakanginya. "Saya nggak bisa tidur." Shana bisa mendengar Ndaru menghela napas. Pria itu bergerak dan membenarkan posisi bantalnya. Membuat posisinya menjadi setengah berbaring sambil bersandar pada kepala tempat tidur. "Seharusnya kita nggak perlu datang ke sini." "Kenapa?" Shana mengikuti posisi Ndaru yang terlihat nyaman. Tanpa sadar lengan mereka saling bersentuhan. Tangan Ndaru juga bergerak dengan sen

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   48. Selamat Pagi Dunia

    Terjebak pada situasi yang tidak disukai memang menyebalkan. Bertarung dengan hati dan pikiran sudah menjadi kebiasaan. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menjalankan. Sampai akhirnya bisa terbebas dari yang namanya beban. Ya, Shana menyebutnya beban. Berbagai macam perasaan bak bertarung di dalam pikiran. Ada gelisah, canggung, resah, dan juga senang. Semua bercampur menjadi satu sampai isi perut meminta untuk dikeluarkan. Pagi sudah datang. Hal pertama yang Shana lihat setelah membuka mata adalah sosok pria yang semalam tidur bersamanya. Mereka tidak melakukan apa-apa, bahkan ada pembatas di antara mereka. Namun sepertinya yatch yang mereka naiki ini berhantu. Pembatas selimut yang semalam Shana tempatkan dengan rapi di tengah mereka mendadak menghilang entah ke mana. Lalu saat ini, Shana hanya membatu tanpa bisa bergerak. Jika ia bergerak maka ia akan membangunkan Ndaru. Sejak kapan lengan besar pria itu melingkar di pinggangnya? Bisa saja Shana membangunkan Ndaru dan m

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   49. Tamu Tak Diundang

    Akhir pekan begitu cepat berlalu. Rutinitas juga sudah melambai ingin bertemu. Kesibukan mulai meneror Ndaru. Tampak bersemangat untuk menyerbu. Ndaru melewatkan makan siangnya kali ini. Setelah menghadiri rapat penting dia harus menyelesaikan pekerjaan sisanya. Pantang baginya untuk menunda pekerjaan. Setidaknya dia tidak mau membawa pekerjaan ke rumah. Karena itu juga Ndaru sering pulang malam. Ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. "Masuk," ucapnya. "Permisi, Pak. Ada Pak Guna yang ingin bertemu," kata Fajar, sekretarisnya. "Mas Guna?" gumam Ndaru. "Minta kakak saya masuk," balasnya. Fajar mengangguk dan berlalu pergi. Tak lama Guna masuk bersama istrinya, Dayanti. "Ada apa, Mas?" tanya Ndaru berpindah ke sofa. "Bukannya kamu yang cari aku kemarin?" Guna merenggangkan tubuhnya di sofa. "Jadinya dari bandara langsung ke sini." Ternyata Guna baru saja tiba. Dari mana lagi jika bukan dari daerah pilihannya. Pria itu tampak begitu serius dala

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   50. Menjaga Jarak

    "Putri," gumam Shana lemas. "Dia di sini?" Bagas mengangguk. "Mbak Shana nggak mau ketemu dulu? Tadi saya liat Mbak Putri lagi pesen kopi." Shana menarik napas dalam dan mengangguk. "Gue keluar dulu. Lo siapin aja file-nya." Langkah Shana terasa berat. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Untuk pertama kalinya Putri datang menemuinya. Bukan percaya diri. Shana yakin tujuan Putri datang bukan hanya untuk sekedar memesan kopi. Apa lagi jika bukan untuk menemuinya? "Mbak Putri?" sapa Shana pada wanita yang tengah duduk santai di samping jendela. Tampak mengaduk kopi hangatnya dengan elegan. "Mbak di sini?" Senyum Putri mengembang. Senyum yang tak pernah Shana liat selama ia bergabung ke dalam keluarga Atmadjiwo. "Kopi di sini enak." "Terima kasih, Mbak." Shana tampak ragu. "Boleh saya duduk?" Putri lagi-lagi tertawa. "Kita cuma berdua, Shan. Nggak perlu pura-pura." Shana mendengkus pelan dan mulai duduk di hadapan Putri. "Biar gimana pun

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-28
  • Duda Incaran Shana   51. Makan Malam Keluarga

    Hari-hari Shana tak luput dari kejutan. Sepertinya hampir setiap hari akan ada hal menarik yang terjadi. Shana pikir hidupnya akan terus membosankan dan monoton. Namun siapa sangka, setelah sosok Handaru Atmadjiwo muncul, hidupnya banyak mengalami perubahan. Ternyata menjadi Nyonya Atmadjiwo tidaklah mudah. Apalagi hanya bersandiwara. Itu lebih terasa menyiksa. Senyum palsu harus selalu siap sedia. Seolah kehidupan pernikahannya berjalan luar biasa. Memang benar luar biasa, tetapi dalam konteks yang berbeda. Apa pun yang terjadi, Shana berusaha untuk menikmatinya. Waktunya hanya satu tahun saja. Sebisa mungkin tujuannya harus terlaksana. Baik karirnya, nama baiknya, dan juga yang lainnya. "Mama nggak ikut?" tanya Juna mendongak menatap Shana. Shana yang tengah merapikan rambut Juna menghentikan kegiatannya. Dari cermin, dia melirik Ndaru yang tengah bersandar di pintu kamar. Pria itu mengawasi Shana yang tengah mendampingi Juna yang mendadak rewel malam ini.

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-29
  • Duda Incaran Shana   52. Aura Permusuhan

    Ternyata acara ulang tahun Kumala Atmadjiwo, cucu pertama dari Harris Atmadjiwo benar diselenggarakan di panti asuhan. Bukan hanya satu, melainkan lima sekaligus. Lebih tepatnya yayasan kasih yang dikelola oleh keluarga Atmadjiwo sendiri. Sebenarnya berbagi kebahagiaan adalah hal yang baik, apalagi ditujukan untuk orang-orang yang membutuhkan. Hanya saja kebaikan itu seolah dimanfaatkan untuk hal yang lain, yaitu menarik simpati masyarakat. Banyaknya kamera wartawan seolah menjadi bukti. Semua keluarga Atmadjiwo mulai unjuk gigi. Memberikan senyum terbaik disaat tengah berbagi. Hal yang membuat Shana Arkadewi muak setengah mati. Menjadi anggota keluarga Atmadjiwo membuatnya harus banyak bersabar. Pandangannya dengan keluarga Atmadjiwo jelas berbeda. Shana tidak suka dengan kebohongan publik ini. Apalagi berkaitan dengan politik yang mulai memanas. Namun sayangnya dia harus tetap hadir untuk mendampingi suaminya. Adhiguna Amir Atmadjiwo yang merupakan seorang ayah sekaligus t

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-30
  • Duda Incaran Shana   53. Melarikan Diri

    Shana menggeleng. "Ayah saya nggak bersalah, saya yakin Mbak Putri tau itu. Jangan menutup mata, kematian Arya jelas karena ulahnya sendiri. Pada akhirnya dia mendapatkan karmanya." "Jaga ucapan kamu!" "Mbak yang harus jaga—" "Putri, kamu di sini. Satria cari kamu, Nak." Suara berat mendekat ke arah mereka. Seorang pria paruh baya yang Shana kenal sebagai Darma Baktiar, Ayah Putri. Digendongannya terdapat Satria yang terlihat mengantuk. Melihat kondisi yang sudah tidak memungkinkan, Shana memilih untuk pergi. "Permisi," ucapnya tak acuh dengan berlalu. "Ada apa?" tanya Darma pada Putri begitu Shana telah pergi. Dia merasakan aura tak enak di sekitarnya. Putri menggeleng. Dia meraih anaknya dan menepuk punggungnya pelan. "Aku mau tidurin Satria dulu." *** Kembali ke tempat duduknya adalah pilihan yang buruk. Shana tidak mau bertemu dengan para wartawan yang hingga saat ini masih berbincang dengan Ndaru. Ini melelahkan. Di halaman belakang, Shana menghampiri N

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-30

Bab terbaru

  • Duda Incaran Shana   66. Aksi Handaru

    "Ibu Nancy Isabel, 3 miliar rupiah," ucap pemandu lelang menunjuk seseorang yang Shana yakini merupakan wanita sosialita. "Bapak Vincent Wiranto, 3,3 miliar rupiah!" Jantung Shana seketika berdetak cepat saat mendengar nominal itu. "Ibu Nancy, 3,7 miliar rupiah!" "Kembali ke Bapak Vincent, 4 miliar rupiah. Wah-wah persaingan yang ketat antara Bu Nancy dan Pak Vincent," ucap pemandu dengan diiringi tawa puas. "Tidak terduga, ada Bapak Nendra Hasan di sana dengan angka 5 miliar rupiah!" "Nendra?" Shana menegakkan duduknya. Dia menoleh ke arah di mana pemandu lelang menunjuk dan melihat seorang pria yang sudah lama tak ia lihat. "Mas Nendra?" gumam Shana yang kali ini diiringi dengan senyuman. Mendengar nama yang tak asing di telinga, Ndaru pun ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pria yang duduk bersama anggota keluarganya, bersama Nurdin Hasan. "Jadi dia yang namanya Nendra?" gumam Ndaru pelan. "Pak Ndaru kenal?" Shana menatap Ndaru cepat. Dia mendengar gumamam p

  • Duda Incaran Shana   65. Acara Lelang

    Ndaru tersenyum miring. "Begitu juga saya, Pak. Saya juga tidak akan diam jika ada seseorang yang mengusik keluarga saya." "Oke, sekarang apa yang kamu cari? Tanyakan langsung sama saya? Akan saya jawab." "Siapa yang jamin kalau jawaban jujur yang akan keluar dari mulut Bapak?" "Apa ini tentang proyek besar saya? Atau tentang kakak kamu? Oh, atau keduanya?" Tepat sasaran. Ndaru masih bungkam, bukan karena merasa terintimidasi. Melainkan ia tengah membaca ekspresi wajah Nurdin saat ini. "Kalau itu yang kamu cari, maka jawabannya adalah tidak." Nurdin kembali berbicara. "Saya nggak ada hubungannya dengan kematian Haryadi, kakak kamu." Ndaru mengangguk dengan senyuman tipis. Dia sudah menemukan jawabannya. Nurdin memang terlihat santai dan tak gentar. Namun justru itu yang membuat Ndaru yakin jika Nurdin Hasan memang terlibat. "Kalau begitu saya duluan, istri saya sendirian." Ndaru berlalu melewati Nurdin. "Ah, omong-omong tentang istri." Nurdin menghentikan langka

  • Duda Incaran Shana   64. Nurdin Hasan

    Acara lelang amal yang dibuat Nurdin Hasan berhasil menjadi trending topic di berbagai sosial media. Semua hal yang ada di dalam acara tersebut mencuri perhatian masyarakat. Mulai dari barang-barang mewah yang akan dilelang, megahnya acara, hingga sampai daftar tamu undangan yang datang. Lalu Handaru, menjadi salah satu tamu yang ramai diperbincangkan. Bak pangeran dari negeri dongeng, banyak kata-kata pujian ditujukan untuk Ndaru. Penampilan pria itu malam ini sangat memukau. Juga ditemani istri yang seperti bidadari, seolah melengkapi kesempurnaan Ndaru malam ini. Bagi para netizen, Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi malam ini adalah bintang utama. Jarang muncul di layar kaca dan sekali muncul mampu menggoyahkan iman di dada. Pasangan kontroversi yang lambat laun mulai disenangi oleh para pemuja sosial media. "Saya tau lukisan ini," ucap Shana berhenti di depan lukisan abstrak, salah satu barang mewah yang akan dilelang. Saat ini baik Ndaru dan Shana tengah melihat bara

  • Duda Incaran Shana   63. Musuh Mendekat

    Acara lelang amal yang dibuat oleh Nurdin Hasan bertema pesta topeng. Meski mendadak, Shana tak perlu kebingungan. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, koleksi butik Gadis Amora akan datang ke rumah beserta dua pegawainya. Satu untuk dirinya dan satu untuk Ndaru. Kali ini Shana memilih dengan tak lagi melihat harga. Toh, Ndaru yang akan mengeluarkan uang untuk pakaiannya. Shana pun memilih model pakaian yang ia suka. Tentunya juga sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Gaun berwarna hitam menjadi pilihan Shana. Panjang hingga mata kaki, tetapi ada belahan yang berhenti di atas lututnya. Menampilkan kaki jenjangnya yang selama ini ia tutupi rapat. Selain itu, gaun itu juga menampilkan lengan bersihnya. Warna gaun yang hitam begitu kontras dengan warna kulitnya. Untuk topeng, Shana memilih topeng bulu berwarna putih. Tema yang ia pilih malam ini adalah black swan. "Sudah selesai. Bu Shana cantik sekali malam ini," ucap pegawai yang juga membantu merias wajahnya. Setuju.

  • Duda Incaran Shana   62. Mertua VS Menantu 2

    "Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri

  • Duda Incaran Shana   61. Mertua VS Menantu

    Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal

  • Duda Incaran Shana   60. Tertangkap Basah

    Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa

  • Duda Incaran Shana   59. Undangan Asing

    Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa

  • Duda Incaran Shana   58. Suara Juna

    Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status