Home / Urban / Sang PENEMBUS Batas / Chapter 171 - Chapter 180

All Chapters of Sang PENEMBUS Batas: Chapter 171 - Chapter 180

219 Chapters

Bab 171.

“Devi, aku hanyalah seorang pengelana tanpa arah. Garisku berada dalam pencarian. Entah sampai kapan aku pun tak tahu Devi. Andai harus memilih. Aku pun menginginkan kehidupan normal, seperti layaknya pria lain Devi. Bekerja, berpenghasilan, menikah, menetap, punya anak, dan merawatnya. Namun ada hal yang mengharuskan aku harus terus berjalan. Hingga aku menemukan ‘sesuatu’, yang bisa menghentikan perjalanan tak pasti ini. Jadi mari kita berusaha menikmati saja perjalanan kita masing-masing. Tanpa rasa sedih, hanya menikmati dan bersyukur, bahwa kita pernah bertemu dalam persimpangan kehidupan kita Devi,” Elang berkata-kata dengan tenang, namun dalam. Dia bisa menyelami ‘suatu harapan’ di hati Devi padanya. Namun Elang juga sadar, jika dia tak bisa memenuhi harapan gadis jelita itu. "Aihh.. Mas Elang.." desah lirih Devi. Lama Devi terdiam setelah mendengar jawaban Elang. Bergulir dua garis air, dari kedua mata indahnya. Kesan mendalam masuk di hati Devi. Saat dia mendengar ka
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 172.

Splashh..! Sukma Elang terlontar di atas wilayah pantai Cemara Sewu. Kondisi pantai itu porak poranda, beberapa pohon cemara tanpa daun tercerabut dan tumbang di sana sini. Bangunan spot-spot poto di sana pun hilang tanpa bekas. Dan di sebuah pohon cemara yang tumbang, tampak tersangkut sosok seorang sepuh berambut putih panjang terurai. ‘Mbah Kromo..!’ sukma Elang berseru kaget. Dan saat sukmanya mendekat, maka jelaslah bagi Elang. Mbah Kromo Sagirat telah tewas dengan dada melesak, seperti terkena hantaman dahsyat. Sukma Elang diam sejenak, dia mendoakan kemudahan bagi Mbah Kromo di alam sana. ‘Selamat jalan Mbah Kromo, pergilah dengan tenang dan damai di sana.’ Sukma Elang segera melesat masuk kembali ke tabir dimensi menuju raganya. Splassh..! Slaph...! Sukma Elang terlontar kembali di atas atap kamarnya, dan langsung melesat menembus dinding kamarnya. Beberapa saat kemudian sukma Elang pun kembali menyatu dengan raganya. Pernafasan Elang perlahan kembali normal, kedua
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 173.

Untungnya Permadi telah membayar uang sewa losmen selama 3 malam. Hari itu adalah hari ke 2 nya. Jarak dari pantai Sadeng ke Purwosari sekitar dua jam lebih, dengan berkendara. Sementara kondisinya saat itu sedang kurang mendukung, untuk ‘memintas’ jalan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Beruntung juga uang merah berjumlah 2 juta lebih di dompetnya masih utuh. Walau dalam kondisi basah. Permadi kembali mengalirkan tenaga dalam berhawa hangat ke sekujur tubuhnya. Seperti yang dilakukannya selama dia tidur semalam di geladak kapal. Dia bergegas mencari sebuah rumah di sekitar situ. Dia berniat membeli pakaian bekas mereka, untuk berganti pakaiannya yang masih basah itu. Karena toko pakaian pastilah belum buka di waktu sepagi itu. Akhirnya Permadi masuk ke dalam sebuah rumah sederhana yang pintunya terbuka. Nampak seorang lelaki paruh baya, yang kebetulan tingginya hampir seukuran dirinya. Walau tubuhnya agak lebih gemuk, tengah bersiap untuk ke pantai. “Pagi Pak,” sapa Perm
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 174.

'Tenanglah Devi. Aku tak akan merusak pagar ayumu’, bathin Elang. “Mas Elang, Devi ma..mau menyerahkan ini buat Mas Elang sebagai kenang-kenangan,” Devi masih berusaha menahan kesadarannya, dengan susah payah. Dia berkata dengan bibir bergetar, sambil menyerahkan sebuah kotak kecil yang dibawanya. “Terimakasih Devi. Apa ini Devi?” tanya Elang, maka dia pun paham maksud Devi sepagi ini datang ke kamarnya. “Mas boleh melihatnya nan..nanti di..di ja..jalan. Aduhh, kenapa Devi merasa dingin se..kali Mass..hh.?” sepertinya daya tahan Devi sudah sampai pada batasnya. ‘Gadis yang baik, sayang sekali kutukkan biadab ini tak kenal orang’, keluh Elang. “Mas..Elanng, Devi ke..napahh jadi be..gini..?” tanpa disadari dan bisa ditahan lagi oleh Devi. Dia telah memeluk erat tubuh Elang. Sebuah kehangatan dan aroma harum rambut Devi pun terasakan, segar terhirup oleh Elang. Secara manusiawi dan normal, ‘kelelakian’ Elang pun berdiri tegak tanpa permisi. Namun Elang bertekad menahan hasratnya
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 175.

"“Ohhksghh..! A..wass Massh..! De..vi pip..pishh.! Uhhgsh..!" Devi mendesah keras dengan nafas tertahan, tubuhnya mengejang hebat. Pinggul indahnya pun terangkat mengejang. Mata Devi terpejam namun mulutnya ternganga. Ya, sungguh ekspresi terindah dari seorang wanita, yang tengah dilanda orgasmenya. Devi merasakan sesuatu memancar dari bagian dalam dirinya, sukmanya bagai melayang tinggi di angkasa tak bertepi. Agak lama Devi merasakan kenikmatan tertinggi, dari sebuah ‘hasrat’ yang terlampiaskan itu. Brugh..! Hingga akhirnya tubuh Devi kembali terhempas di atas ranjang, dengan nafas tersengal-sengal. Wajahnya nampak pucat dan lelah, namun senyum kepuasan terlihat membekas di sana. "Makasih. Mas Elang..” Devi berucap pelan, namun wajahnya tak berani menatap Elang. Sungguh dia merasa sangat malu dan kaget sendiri, dengan apa yang baru saja dialaminya. Karena Devi sangat sadar, dialah yang mendatangi dan memeluk Elang terlebih dahulu. Namun dia sendiri tak mengerti dan tak akan
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 176.

Permadi membuka pintu kamar losmennya, dia bergegas masuk kedalam dan langsung ke kamar mandi. Pakaian dari si bapak tadi langsung dibukanya. Karena pakaian itu agak longgar, dan celananya pun terpaksa dilipat dan dislip di bagian pinggang dengan gespernya. Sungguh tak nyaman di rasanya.! Permadi memutuskan untuk segera keluar dari Jogjakarta. Dia merasa keberadaannya di kota itu, telah di endus dengan jelas oleh aparat. Terbukti bahkan kakek tua (Mbah Kromo) itu saja, bisa langsung mengetahui identitasnya dengan tepat. Setelah selesai mandi dia langsung berganti pakaian, sambil memeriksa isi ranselnya. Dan Permadi tersenyum, saat melihat isi ranselnya masih utuh. Tak ada satu pun yang hilang di sana. Karena uang tunai dan batangan emas miliknya masih aman di sana. Permadi berniat memberi tips pada sang penjaga losmen, saat dia keluar dari losmen nanti. Dan itu berarti malam nanti dia harus mencari motor baru. Dipastikan seorang pengendara motor di kota itu akan mengalami nasib
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 177.

Setthh.! Plashh..! Wajah si lelaki nampak tersentak ke belakang. Dia seperti merasakan sesuatu yang sejuk menerpa dahinya. Sesuatu daya kejut mengalir dan menyengat di syaraf-syaraf kepalanya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu dia menatap sang istri dan si pelakor bergantian. Seolah baru sadar dari mimpi. “Kau..?! Kenapa aku bisa berada di sini bersamamu...?!” ucap si lelaki terkaget heran. Dia memandang si pelakor lalu menjauh darinya. “Mas Jito..! Apakah kau lupa telah berjanji menikahi Nia..?!” seru si pelakor panik. Dia merasa sangat cemas, kalau ‘pelet’ dari dukunnya telah luntur. “Menikah..?! Aku menikah denganmu..?! Yang benar saja..! Ayo Mah, kita pulang..!!” Jito berseru jijik pada Nia, lalu menarik tangan istrinya untuk pulang. “Enak saja kamu Mas..! Jelaskan dulu apa arti semua ini..?! Jangan bilang kau tak mengenal ‘pelakor’ itu..!” seru sang istri, yang jadi agak bingung, dengan perubahan sikap suaminya secara tiba-tiba pada ‘pelakor’ itu. “Di
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 178.

“Mas Elang, bolehkah Devi bertanya sesuatu yang pribadi..?” Devi bertanya sambil tetap mengemudikan mobilnya. “Katakan saja Devi, tak usah sungkan padaku,” sahut Elang tenang. “Apakah Mas Elang sudah memiliki seorang wanita di hati Mas?” pertanyaan itu meluncur begitu saja, dari bibir merah merekah Devi. Elang agak terhenyak dengan pertanyaan Devi yang tak disangka-sangkanya itu. Namun selintas bayangan Nadya hadir di benak dan hatinya, oleh karenanya Elang pun menjawab dengan apa adanya, “Sudah Devi, namun garis dan karma seolah tak berpihak pada kami. Sehingga kamipun masih terpisah hingga saat ini,” Elang berkata pelan. “Apakah wanita itu juga menyimpan rasa yang sama terhadap Mas..?” tanya Devi lagi serak, segores luka menoreh hati lembutnya. Sesungguhnya dia tak heran dengan jawaban dari Elang. Devi bahkan sangat yakin ,bahwa tak hanya dia yang memiliki rasa mendalam pada Elang. Karena Elang memang memiliki ‘kharisma dan daya tarik’ luar biasa, bagi gadis manapun yang sem
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 179.

Taphh..!Elang mendarat di tepi pantai, dekat teman si wanita yang nyaris tak sadarkan diri itu. Elang menyerahkan pertolongan pertama pada guard pantai, yang berada di situ. Beruntunglah suasana di tepi pantai saat itu tak begitu ramai. Sehingga aksi Elang tak sempat terekam oleh kamera ponsel siapapun. Ya, kejadian yang begitu cepat itu telah luput dari kamera ponsel mereka semua. Namun mulut dan mata beberapa orang di sekitar area itu, nampak ternganga dan terbelalak. Mereka bahkan hampir saja lupa, pada wanita yang nyaris menjadi korban tenggelam itu. Sorot mata kaget bercampur kekaguman tersirat, pada tatapan mereka ke arah Elang. Pemuda yang nampak biasa saja dan nampak acuh dengan pandangan mereka. Barulah setelah terdengar suara... “Hoekss..! Hoekss..!!” Si wanita cantik yang nyaris tenggelam itu memuntahkan agak banyak air laut dari mulutnya, semua mata pun kembali menatap ke arah wanita itu. “Milaa..! Kau tak apa-apa kan..?!” seru temannya, yang tadi berteriak-teria
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 180.

"Tak masalah Elang. Tinggalkan saja jika kau sudah ingin pergi nanti. Kami sendiri besok malam sudah harus pulang ke Rusia Elang,” ucap Mila. “Ahh, secepat itu ya Mila, Vinka. Saya pikir kalian masih lama disini.” “Visa kami berakhir lusa Elang. Sebenarnya kami juga betah di sini Elang,” Mila berkata seolah menyesali. “Sudahlah lebih baik kita ke kamar sekarang. Aku sudah sangat lelah, dan tak sabar ingin rebahan. Hahaa,” Vinka berkata sambil tertawa lepas. “Dasar kau Vinka. Hahaa. Ayo kita ke kamar sekarang Elang. Mila juga rasanya ingin istirahat, kejadian tadi benar-benar membuat kepala Mila sedikit pusing,” ucap Mila. “Baik Mila, kau memang butuh istirahat sepertinya,” kata Elang membenarkan. Mereka akhirnya naik lift ke lantai 2, dan memang kamar mereka bersebelahan seperti kata Mila. Setelah berjanji untuk berjalan-jalan lagi ke pantai sore nanti, mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Klek.! Elang masuk kekamarnya dan mendapati suasana yang lux dan asri di kamarnya.
last updateLast Updated : 2025-03-21
Read more
PREV
1
...
1617181920
...
22
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status