Home / Urban / Sang PENEMBUS Batas / Chapter 191 - Chapter 200

All Chapters of Sang PENEMBUS Batas: Chapter 191 - Chapter 200

219 Chapters

Bab 191.

“Kalau begitu marilah kita duduk di sana, dan ceritakanlah masalah Mas Galang pada saya. Setidaknya itu bisa mengurangi sedikit beban Mas Galang,” Elang mengajak Galang duduk di tempat yang agak rindang. "Baiklah Mas Elang," ujar Galang.Karena matahari pagi menjelang siang cukup terik saat itu. Mereka pun akhirnya beranjak duduk di sana. Galang kemudian menceritakan masalah pelik, yang menimpanya dan kekasihnya dengan sangat jelas pada Elang. Elang menyimak baik-baik penjelasan Galang, bathinnya menangkap kejujuran dari kisah Galang itu dari awal hingga akhir. “Begitulah Mas Elang, kondisi ekonomi dan kemampuanku sangat jauh dari pinjaman itu. Aku hanya khawatir dengan kehidupan Trika setelah menikah dengan Danu. Semoga saja Danu bisa mengubah wataknya yang mata keranjang itu. Setelah dia menikah dengan Trika,” ujar Galang mengakhiri kisahnya. Elang ikut menghela nafasnya, setelah mendengar masalah yang dihadapi teman barunya ini. Dia sangat gemas dengan kebanyakkan sifat o
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

Bab 192.

‘Ka Galang datang..!’ seru kaget bathin Trika, hatinya bagai terlonjak saking senangnya. Sejak semalam dia sudah merasa putus harapan, dan merasa tak akan bisa bertemu dan menatap kekasihnya lagi. Karenanya pemberitahuan ayahnya itu sangat ‘surprise’ bagi dirinya. Dengan segera dia berdandan sekedarnya, menutupi sembab matanya yang kerap menangis pedih dan terisak dalam kamarnya. Trika sedikit memberi pulasan tipis bedak di wajahnya, agar tak nampak terlalu pucat akibat kurang tidur. Sungguh membuat iba memang kondisi kembang Nusa Penida ini. Akibat ‘pemaksaan’ yang dilakukan Danu. Setelah merasa cukup pantas, Trika bergegas menuju ke dapur. Untuk membuatkan dua gelas minuman teh hangat manis kesukaan Galang. Sang ibu yang juga sedang berada di dapur hendak menyiapkan makan malam agak kaget, melihat Trika masuk ke dapur. Sang ibu belum mengetahui kedatangan Galang dan Elang. Karena jarak dapur dan ruang tamu memang agak jauh. Terlebih si ibu sedang memasak dan menyalakan kran
last updateLast Updated : 2025-03-25
Read more

Bab 193.

"Ahh..!" Kabinawa terkejut bukan kepalang. Dia merasakan energi bathinnya bagai mengalir deras keluar terhisap, oleh suatu daya sedot yang luar biasa. Dengan susah payah, Kabinawa akhirnya bisa menggeser arah jempol kakinya ke arah lain. Dan menarik kembali energi serangannya. Keringat dingin terlihat mengalir dari dahinya. Setengah energinya telah tersedot, oleh daya hisap yang luar biasa ke tubuh Elang. Bagai sebuah bola yang masuk ke dalam pusaran laut, ambyar dan lenyap tanpa bekas. Dan dengan ‘terpaksa’ dia harus kembali mengisi energinya itu, dengan beberapa kali samadi. ‘Tunggulah besok malam pemuda bedebah..! Aku akan mendatangimu, dimana pun kamu berada..!!’ bathin Kabinawa murka. Dia bermaksud mengeluarkan pamungkasing ilmunya, untuk menyerang Elang besok malam. “Baik. Saya akan menunggu Pak,” Elang berkata menjawab bisikkan bathin Kabinawa, sambil tersenyum tenang. Danu seperti mengerti, kalau ‘dukun bayaran’nya ini sedang bertarung secara ghaib entah dengan siapa.
last updateLast Updated : 2025-03-26
Read more

Bab 194.

“Hahh..! I-ini..!” Danu ternganga tak percaya. Ya, dia sangat paham bahwa cek yang sedang dipegangnya adalah cek asli. Karena dalam profesinya, tentu dia tak asing bermain dengan yang namanya cek. “Tunggu apa lagi..! Cepatlah keluar dan uangkan cek itu kapan saja kau mau..!” sentak Elang muak. Elang menarik surat perjanjian pinjaman Astika yang di tandatangani di atas materai, dan langsung menyerahkannya pada Astika. “Sebaiknya sobek dan bakar saja surat perjanjian kadaluwarsa ini Pak Astika,” ucap Elang. “Ba..baik..! Urusan hutang Astika sudah selesai..! Tapi urusan kita belum selesai..!” Danu berseru geram, sambil menunjuk ke arah Elang. Lalu Danu pun beranjak keluar dari rumah Astika, di iringi Kabinawa yang saat itu hanya terdiam. ‘Hmm. Selain berilmu tinggi, rupanya kekayaan pemuda itu juga sukar di tebak. Tapi aku tak akan mundur. Kita lihat saja besok malam’, bathin Kabinawa penasaran. Namun jujur saja dia merasa jerih, jika harus berhadapan langsung dengan pemuda berna
last updateLast Updated : 2025-03-26
Read more

Bab 195.

Permadi langsung mencari penginapan di sana. Dan pilihannya jatuh di hotel Blue Sky, yang berada di pinggir jalan Raya Solo dan jalan A. Yani. Usai urusan dengan penerima tamu hotel, yang berakhir dengan pemberian tips dari Permadi. Maka Permadi pun rebah sejenak di kamarnya. Tak lama kemudian Permadi kembali keluar dari kamarnya. Dia berniat jalan-jalan sekaligus mencari makan siangnya di luar.Jam masih menunjukkan pukul 13:40, saat Permadi tiba di taman Balekambang. Dia baru saja selesai makan siang di warung nasi, yang tak jauh dari area taman. Suasana taman itu belum terlalu ramai saat itu. Permadi langsung memarkirkan motornya di area parkir taman. Permadi berjalan menyusuri ke dalam taman, terlihat sebuah danau dan ada juga kebun binatang mini di dalamnya. Mata Permadi tertumbuk pada sosok wanita berkerudung, yang berseragam PNS. Wanita itu tengah duduk di kursi yang berada di bawah pohon rindang taman. Wajahnya terlihat sedih, namun tetap tak bisa menyembunyikan kecantik
last updateLast Updated : 2025-03-26
Read more

Bab 196.

Klek.! Pintu kamar pun terbuka, Permadi langsung masuk ke dalam kamar yang di ikuti oleh Seruni di belakangnya. Permadi segera menutup dan mengunci kembali pintu kamarnya, setelah Seruni masuk. Permadi duduk di tepi ranjang sambil menatap Seruni, yang masih tertunduk menunggu perintahnya. Menuruti hasratnya, ingin sekali Permadi langsung melucuti pakaian gadis berkerudung itu. Namun dia masih bisa menahan hasratnya, yang bagai gunung yang hendak meletus itu. “Seruni, apakah kau masih perawan..?” tanya Permadi. “Aku belum pernah begituan Mas Permadi,” sahut Seruni, ada rona merah di pipinya namun tatapan matanya tetap terlihat kosong. “Ahh, masa sih Seruni. Sepertinya kamu sudah punya pacar,” Permadi berkata tak percaya, padahal hatinya senang bukan main menemukan gadis ‘bersegel’. “Kami sudah putus. Kami cuma pernah ‘petting’ beberapa kali, tapi tak sampai masuk Mas,” Seruni menjelaskan dengan jujur sekali. “Baiklah Seruni, aku percaya. Berapa usiamu sekarang..?” “Usia saya
last updateLast Updated : 2025-03-27
Read more

Bab 197.

“Ahhss.! Mas.! Masukkan saja sekaranghs..tapi pelan yahh..” desah Seruni gemas, merasakan gelitik nikmat di celah surganya. Namun tetap saja hatinya berdebar kencang. Ini adalah kali pertama ‘kewanitaannya’ akan di jebol oleh ‘keperkasaan’ Permadi. Dan harus diakuinya ‘burung’ Permadi jauh lebih kokoh dan panjang, dibanding milik mantan kekasihnya Irwan. “Akhsss.! S-sakit Mass..sh!” Seruni memekik keras, sambil memeluk erat punggung Permadi. Saat tiba-tiba Permadi menghunjamkan seluruh ‘kemaluannya’ dalam celah sempit miliknya. Rasa perih dan sesuatu yang sobek mendera bagian kewanitaannya. Permadi diam sejenak tak melakukan gerakkan apapun. Untuk memberi kesempatan ‘liang’ milik Seruni beradaptasi dengan ukuran ‘burung’nya. Tak lama kemudian Permadi mulai menggoyangkan perlahan ‘burung’nya di dalam kewanitaan Seruni, diliriknya bercak darah menodai sprei biru muda milik hotel. ‘Hmm. Dia benar-benar masih segel’, bathin Permadi puas, karena berhasil ‘belah duren’ siang itu. “Ohs
last updateLast Updated : 2025-03-27
Read more

Bab 198.

“Benar Seruni, itu untukmu. Jia kau hamil akibat permainan kita itu terserah padamu kau bisa mengaborsinya atau merawatnya,” Permadi berkata tenang. “Baiklah Mas, Aku akan menyimpannya di rumah,” ucap Seruni, kini dia memahami maksud Permadi. Ada rasa sedih di hatinya, mendengar kabar akan perginya Permadi besok. Sejujurnya mulai tumbuh rasa sayang di hatinya untuk Permadi. Orang yang telah merenggut kesuciannya dan memperkenalkan rasa ternikmat dalam olah asmara padanya. Karenanya nanti malam dia bertekad akan datang kembali ke kamar ini. Untuk menghabiskan waktu bersama Permadi, hingga esok hari. *** Malam itu di rumah Galang. Elang baru saja ikut makan malam bersama keluarga Galang. Mereka nampak berkumpul di ruang tengah, dan saling berbincang penuh kekeluargaan. Nampak wajah keceriaan terpancar dari ayah dan ibu Galang. Karena tak lama lagi mereka akan meminang Trika, untuk putra mereka itu. Mereka sudah mendengar soal pertolongan Elang, atas masalah yang melanda putranya
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more

Bab 199.

'Hhh.. ! Tak bisa dihindari lagi, mungkin ini sudah karmaku. Aku harus berhadapan dengan guru dan kakak seperguruanku sendiri’, keluh bathin Bagja, sambil menghela nafas berat. Dulu dia sering mendengar gurunya berbicara, soal kakak seperguruannya yang bernama Kabinawa itu dengan nada bangga. Namun pada akhirnya. Timbul kesadaran di hati Bagja, bahwa jalan yang ditempuh guru dan kakak perguruannya itu salah. Bagja lebih memilih aspek terakhir dalam ilmu leak yaitu ‘kamoksan’ atau ilmu kelepasan. Moksa dalam ajaran agama Hindu adalah tujuan hidup terakhir, yaitu kebebasan dari ikatan duniawi dan putaran reinkarnasi kehidupan. Ilmu leak terdiri dari ilmu kawisesan (penengen pengiwa untuk duniawi), dan ilmu kelepasan (untuk lepas dari duniawi). Sedangkan guru dan kakak seperguruannya itu, hanya memfokuskan pada tujuan ‘kawisesan pengiwa’. Untuk memenuhi hasrat duniawinya, tanpa peduli dengan cara apa mereka memperolehnya. Berangkat dari hal inilah, Bagja meninggalkan gurunya. Dia
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more

Bab 200.

“Hiahhhh...!!” Kabinawa melesatkan dirinya yang berwujud bola api membara, ke arah bola pusaran air milik Bagja. Seth..! Ki Badra yang di cekam rasa cemas, akan keselamatan murid kesayangannya itu. Dia pun ikut melesat, hendak menghajar Bagja dengan pukulan ‘Sirna Raga’nya. Slaph..!Tentu saja Elang tak tinggal diam, melihat Bagja yang hendak di bokong sepuh sesat Ki Badra. Dengan melambari tangannya dengan ajian ‘Lindu Sukma’ tingkat ke 4, Elang juga melesat menghadang sosok Ki Badra. Kepalan tangan Elang bagai berubah menjadi bola hijau terang. Sethh..! Melihat Elang menghadang jalur melesatnya, karuan Ki Badra menghantamkan pukulan ‘Sirna Raga’nya ke arah Elang. Wersh..! Wusshk..! Blaartzzhk..!! Dua pukulan hijau dan merah saling berbenturan dahsyat. Angin pukulan dari bentrokkan pukulan “Sirna Raga’ dan “Lindu Sukma’, meledak pecah dan buyar ke segala arah. Bola api merah Ki Badra dan sosok Elang sama-sama terpental ke arah berlawanan. ‘Hmm. Kekuatan bathin sepuh ini
last updateLast Updated : 2025-03-28
Read more
PREV
1
...
171819202122
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status