Home / Urban / Sang PENEMBUS Batas / Chapter 161 - Chapter 170

All Chapters of Sang PENEMBUS Batas: Chapter 161 - Chapter 170

219 Chapters

Bab 161.

“Elang.! Entah apa yang bisa mengungkapkan rasa terima kasih bapak. Atas kebaikkanmu yang bagaikan air mengalir ini. Terimakasih Elang..! Terimakasih atas uluran tanganmu pada kami,” begitu tulus dan dalam sekali, ungkapan terimakasih Aditya pada Elang. “Sudahlah Pak Aditya, sudah sewajarnya kita saling menolong sebatas yang kita mampu. Pak Aditya orang baik, walau Pak Aditya tak bertemu saya. Pasti akan ada saja orang lain yang membantu keluarga Bapak. Ini hanya kebetulan saja Pak,” Elang berkata pelan. “Minuman dan kuenya Mas Elang, Ayah,” ucap Devi datang tersenyum, namun matanya nampak agak sembab. Dia sebenarnya sudah agak lama berada di balik teras rumah. Devi ikut mendengarkan pembicaraan Elang dengan pak Bambang, dan Devi pun menjadi paham. Ya, sekali lagi Elang telah membantu sang ayah dalam bisnisnya. Dan Devi ikut menangis, saat ayahnya menangis berterimakasih pada Elang. “Terimakasih Devi,” Elang tersenyum. “Silahkan Mas Elang, Ayah,” Devi segera beranjak kembali
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 162.

“Serahkan tasmu atau kau mati disini..!!” hardik seorang berpakaian ala preman kampung. Pada seorang ibu muda cantik berkacamata hitam. Wanita itu sedang hendak naik ke mercusuar bersama putranya, yang masih berusia 5 tahun lebih. Dan di belakang si preman kampung itu, ikut serta dua orang temannya. Seorang berbadan cukup kekar, seorang lagi beranting sebelah. Ketiga preman itu memakai kaos buntung, seolah memamerkan tato di lengan kiri mereka masing-masing. Yang sedang mengeksekusi si ibu muda bertato Kalajengking. Sementara dua temannya bertato ‘ular kobra’ dan ‘jarum suntik’. Ketiganya berambut gondrong. “T-tidak..! Jangann..! Toll.... mmphhf..!” ibu muda berseru gugup ketakutan. Namun belum sempat dia berteriak minta tolong, sebuah tangan kasar dan bau rokok telah membekap mulutnya. Rupanya si ‘Jarum suntik’ cepat tanggap, akan apa yang akan di teriakkan si ibu muda. Dia segera maju dan membekap ibu muda itu. Sedangkan si bocah yang mulai ikut berteriak menangis, langsung
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Bab 163.

"Tubuhmu indah sekali Wanti,” Permadi berkata tenang memuji. “Hahh..! Mas Permadi..! Tolonglah segera keluar dari kamar Wanti..!” Wanti langsung menoleh ke arah pintu dan terkejut, saat mendapati Permadi telah berada di dalam kamarnya. Tentu saja Wanti merasa malu dengan kondisinya, yang nyaris polos itu. Permadi berjalan perlahan mendekati Wanti, sambil membuka pakaiannya sendiri. Dia tersenyum dingin, saat melihat Wanti berusaha menutupi dada dan bagian bawah tubuhnya dengan wajah panik. Wanti mau berteriak tapi takut namanya malah akan buruk dan tercemar. Karena memang dialah yang mengundang Permadi ke rumahnya. “Mas, tolong jangan lakukan ini padaku..!” seru Wanti tertahan. “Saya akan melakukannya dengan lembut Wanti,” ujar Permadi tersenyum, sambil melepaskan celana dalamnya. Degh..! Jantung dan hati Wanti berdebar keras, matanya terbelalak ngeri, saat melihat sesuatu yang tegak mengarah ke atas dari pangkal paha Permadi. ‘Ohh..! Be..besar dan keras sekali nampaknya’, ba
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 164.

“Aihh..! Mas Permadi..! K-kenapa dilepas..?” protes Wanti dengan nafas tersengal. 'Ihhh..! Padahal aku sudah mau melayang tadi’, bahin Wanti kesal dan gemas. “Sabar Wanti,” Permadi berucap tenang, sambil membuka kembali paha Wanti dan menempatkan ‘milik’nya di mulut ‘belahan surga’ milik Wanti. ‘Ahh..Rupanya dia hendak memasukiku sekarang’, bathin Wanti berdebar. Wanti memejamkan kedua matanya. Dia ingin meresapi saat-saat bersejarah dalam permainan ranjangnya, bersama lelaki yang bukan suaminya itu. Permadi memulai dengan menggesekkan lebih dulu kepala ‘miliknya’, di sekitar ‘belahan surga’ Wanti. Sambil memejamkan mata, pinggang Wanti berputar agak terangkat, memburu ‘milik’ Permadi yang menggoda di sekitar ‘belahan’ miliknya agar segera masuk. Ya, hasrat Wanti sudah melenting tinggi bukan main, di permainkan oleh gesekkan ‘milik’ Permadi di sekitar ‘belahannya. Akhirnya..."Ahgshs..!” Diiringi desahan tersentak. Akhirnya seluruh batang milik Permadi pun amblas, ke dalam bel
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 165.

"Bagus..! Mari kita laporkan pada pos-pos di depan ke arah Jogja..!” sahut rekannya. Mereka pun sibuk menginfokan data tersebut ke pos rekan-rekan mereka. Ngguuenngg.....!! Permadi makin menggila dan menggaspoll motornya, melesat dan meliuk gesit melewati mobil atau pun motor di depannya. Melewati jalan raya Wates, Permadi menoleh ke belakang dan melihat sudah ada 3 orang polisi yang mengejarnya. Satu dengan motor trail dan dua dengan motor KLX 150L, ketiganya juga gesit dan lincah berusaha mengejarnya. ‘Hhh..! Sepertinya sudah saatnya ku lepaskan motor ini’, bathin Permadi memutuskan. Dia terus melihat spion motornya, untuk memastikan posisi ketiga motor polisi yang mengejarnya. Melintasi jalan raya Sedayu, Permadi agak mengurangi kecepatannya. Hingga jarak dengan ketiga motor polisi yang mengejarnya semakin dekat, hanya sekitar 300 meteran saja. Cittt.tt.!! Ngungg.....!! Permadi berbalik arah dan langsung menggaspoll motornya. "Gila..! Dia nekat..!" seru terkejut seorang
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 166.

“A-apa Elang..?! Kau hendak pergi besok..?!” seru Aditya terkejut, dia sama sekali tak menduga Elang akan pergi secepat itu. Wajahnya nampak langsung muram, dia sudah menganggap Elang sebagai bagian dari keluarganya sendiri. Tentu saja dia merasa kehilangan jika Elang pergi. “Benar Pak Aditya, Elang masih harus melanjutkan perjalanan panjang ini. Mungkin ada yang sedikit bisa Elang lakukan untuk orang lain, dan juga pelajaran untuk diri Elang sendiri di luar sana pak,” sahut Elang tersenyum, meminta pemakluman Aditya. “Ahh..! Baiklah Elang, jika itu sudah jadi keputusanmu. Tidak ada sama sekali sikapmu yang kurang berkenan di hati kami sekeluarga. Justru sikap kamilah yang mungkin kurang pantas, dalam menyenangkan hatimu selama di sini Elang. Kami mohon maaf untuk itu Elang,” Aditya berkata dengan pelan dan sepenuh hati. “Pak Aditya dan keluarga sudah menerima Elang dengan sangat baik. Elang senang berada di rumah ini. Jika suatu saat Elang lewat daerah ini, Elang pasti mampir
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 167.

Ya, sudah 5 hari sejak pergumulannya dengan Wanti, Permadi belum lagi berolah asmara. Oleh karenanya begitu melihat sosok Nadya yang cantik memikat. Maka sepasang mata Permadi pun langsung hijau seketika. Namun sebenarnya bukan sekedar kecantikkan Nadya saja, yang menarik perhatian Permadi. Ada suatu aura terang cerah kehijauan, yang dilihat Permadi pada diri Nadya. Dan hal itu sungguh menambah pesona Nadya di matanya. Hasrat dalam dirinya yang tertidur selama 5 hari itu pun bangkit secara tiba-tiba. Begitu menggelegak dan berkobar, saat melihat ‘gadis istimewa’ bernama Nadya itu. Ya, cincin mustika Nagandini memang memancarkan aura terang, laksana kharisma seorang ratu. Wajar saja jika Permadi terpesona pada pandang pertamanya pada Nadya. Saat dilihatnya Nadya kembali masuk ke mobilnya, dan meluncur ke arah kota Jogja. Maka Permadi bergegas membayar makanannya. Permadi berjalan cepat menjauhi warung, lalu melesat lenyap ke arah meluncurnya mobil Nadya. Slaph..! Taph..! Sosok
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 168.

‘Babo..babo.! Uedaann.! Menilik namanya sepertinya memang ada ‘garis’ antara dia dan Ki Bogananta..! Aku harus menghalanginya membuat ‘kerusakkan parah’ dengan ilmunya itu’, bathin Mbah Kromo bergetar agak jerih. Mbah Kromo pernah mendengar trntang pamungkas ‘Tombak Samudera’, yang dikatakan oleh pemuda itu Dan dia sangat tahu kedahsyatan dan kerusakkan, yang bisa ditimbulkan ajian ‘Tombak Samudera’ itu. Tak ada jalan lain lagi, dia harus memastikannya sendiri. Dan menjadikan nyawanya sebagai pertaruhan atas pembuktian itu. “Baiklah kuluph..! Kita buktikan saja omong besarmu sekarang..! Ikuti aku..! Kita bertarung di pantai Parang Tritis..!" Slaphh..! Mbah Kromo langsung melesat lenyap , saat selesai mengucapkan tantangannya pada Permadi. Dia mengerahkan kemampuan penuh dari ilmu meringankan tubuhnya ‘Jagad Kelana’. Permadi juga agak terkejut, melihat kecepatan sang kakek tua, yang setara dengan kemampuan ringan tubuhnya. Segera dikerahkannya kecepatan puncak dari ilmu merin
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 169.

Sementara permukaan laut di sekitar area Parang Tritis pun bergolak, bak air mendidih. Menimbulkan buih-buih besar menggelembung dan meletup-letup di permukaan laut. Beberapa pengunjung yang berada di pantai Parang Tritis dan sekitarnya pun sudah bubar. Mereka lari tunggang langgang, disertai teriakkan-teriakkan panik ketakutan, meninggalkan lokasi itu. Akibat getaran dan guncangan bak gempa, di awal penerapan aji pamungkas Mbah Kromo tadi. Sementara sejak pusaran bumi raksasa di bawah tubuh Mbah Kromo terbentuk tadi. Permadi sudah melesat secepat kilat ke tengah laut. Dia langsung menerapkan ajian pamungkasnya ‘Pusaran Samudera’ level ke 5 nya, yaitu ‘Tombak Samudera’..! Glaaghh..! Glaghh..! ... Sraaapphh..! Suara gelegak air bagai bertabrakan dan berpusar terdengar mengerikkan. Hal yang diiringi dengan suara bagai hisapan raksasa. Pusaran laut besar terbentuk secara tiba-tiba, bagaikan lubang ‘black hole’ berdiameter sekitar 15 meter. Slaph..! Tubuh Permadi melesat tinggi k
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 170.

Dia melihat dan merasakan nyata, betapa para nelayan di sekitarnya begitu tulus menolongnya tanpa pikir panjang. Sejenak hatinya ‘tergigit’ oleh rasa bersalah, karena dirinyalah penyebab bencana bagi sesama nelayan yang lainnya. Bahkan mungkin juga bagi keluarga mereka di pesisir pantai, yang terhantam gelombang pasang, akibat senjata pamungkasnya. Dan kata-kata Mbah Kromo kembali terngiang di benaknya, ‘Moyangmu Ki Bogananta pastilah sangat sedih di sana Permadi. Mengetahui ilmu kitabnya di salah gunakan, oleh anak keturunannya. Insyaflah Permadi, gunakanlah ilmu moyangmu itu untuk kebaikkan’. ‘Benarkah aku masih keturunan Ki Bogananta..? Pencipta kitab Jagad Samudera yang kupelajari', bathin Permadi, dengan rasa galau. Ya, selama tinggal bersama ayah angkatnya, dirinya memang sama sekali tak mendapat ajaran etika dan moral, dari ayahnya itu. Semuanya adalah terserah dirinya, baik dalam bersikap dan bertindak. Bahkan teman-teman sekolahnya dulu, menganggap dirinya adalah ‘mons
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more
PREV
1
...
1516171819
...
22
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status