Semua Bab Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya: Bab 41 - Bab 50

78 Bab

Bab 41

"Tidak, aku hanya ..." Gavin terdiam sejenak, menyadari betapa cerobohnya dirinya muncul di tengah malam begini. "Aku belum meminta nomor ponselmu. Kupikir aku perlu cara untuk menghubungimu, untuk ... memantau kondisimu dan bayi."Pipi Livia sedikit memerah. "Oh," gumamnya pelan, meraih ponselnya dari meja samping tempat tidur. "Berikan ponsel Bapak."Gavin menyerahkan ponselnya pada Livia, yang dengan cepat menyimpan nomornya. Ia mengembalikan ponsel itu pada Gavin, jari mereka bersentuhan sekilas, menimbulkan sensasi aneh di dada Gavin."Bagaimana perasaanmu? Sudah merasa lebih baik?" Gavin duduk di tepi tempat tidur, suaranya masih dalam bisikan.Livia mengangguk. "Aku sudah merasa lebih baik. Tadi, jam 07.00 malam, Dokter berkunjung dan memeriksa. Ia bilang besok aku sudah boleh pulang.""Aku senang kamu sudah lebih baik," bisik Gavin, suaranya lembut nyaris tak terdengar. "Besok setelah pulang, pastikan kamu beristirahat dengan cukup."Gavin mendekatkan tubuhnya sedikit, tatapan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-16
Baca selengkapnya

Bab 42

Di tempat acara amal, Bu Lina mengajak Bella pulang bersama, tapi Bella menolak dengan sopan, mengatakan mobilnya sudah diparkir di halaman hotel. Bu Lina mengangguk maklum, lalu sebelum masuk ke mobilnya, dia menepuk bahu Bella dengan lembut."Ingat, Mama dan Papa sangat mengharapkan cucu," ucap Bu Lina dengan wajah penuh harap. "Jangan terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kalian harus lebih sering menghabiskan waktu bersama. Berliburlah ke luar negri."Bella tersenyum tipis, tetapi hatinya lama-kelamaan menjadi kesal. "Kami akan terus berusaha, Ma," jawabnya lirih. "Doakan saja."Sesampainya di dalam mobil, Bella langsung mencoba menghubungi Gavin. Nada sambung terdengar beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, dan kali ini panggilan langsung dialihkan ke kotak suara. Gavin telah mematikan ponselnya."Sial!" Bella mengumpat pelan, melempar ponselnya ke kursi penumpang. Ada kemarahan yang mulai membakar dadanya. Berbagai prasangka muncul dalam pikirannya. Apa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 43

Mobil mereka akhirnya tiba di sebuah bangunan apartemen sederhana. Elena segera memarkirkan mobilnya di basement."Pelan-pelan saja," Elena mengingatkan saat Livia turun dari mobil, tangannya siap menopang wanita hamil itu jika diperlukan. "Ingat, ada calon miliarder kecil di perutmu. Jangan sampai dia terguncang."Livia tertawa kecil. "Kamu ini, selalu saja bercanda. Tapi terima kasih, El. Aku tidak tahu harus bagaimana tanpamu."Mereka akhirnya tiba di depan pintu unit apartemen. Ruangan kecil yang menjadi tempat tinggal Livia dan Elena setelah ayah Livia meninggal. Meskipun sempit, Livia selalu menjaga apartemennya tetap bersih dan rapi."Nah, sudah sampai," Elena membuka pintu dan membantu Livia masuk. "Kamu istirahat saja. Aku akan menyiapkan makanan untukmu."Livia baru saja hendak merebahkan diri di sofa ketika ponselnya berdering. Nama "Pak Gavin" muncul di layar, membuat jantungnya berdegup lebih kencang."Ha-halo," Livia menjawab dengan suara sedikit gugup."Livia? Ini Gavin
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 44

Bella mondar-mandir di kamarnya, pikirannya kacau. Di satu sisi, dia marah pada Daniel yang dicurigainya berselingkuh. Di sisi lain, dia juga sadar betapa ironisnya situasi ini—dia, yang berselingkuh dari suaminya, kini cemburu pada kekasih gelapnya yang mungkin juga berselingkuh darinya."Apa salahku sebenarnya?" Bella berbisik pada dirinya sendiri, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kebahagiaan yang utuh?"Bella duduk di tepi tempat tidur, menghapus air matanya dengan kasar. Hidupnya serasa berantakan. Pernikahannya dengan Gavin hanyalah formalitas, hubungannya dengan Daniel kini terancam, dan tekanan dari mertuanya untuk segera memiliki anak justru menambah beban pikirannya.Di tengah kekacauan hatinya, Bella teringat akan Gavin dan keberadaannya di rumah sakit semalam. Siapa yang dia jenguk? Mengapa dia berbohong? Apakah mungkin ... Gavin juga punya wanita lain?Bella menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, jemarinya menge
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 45

"Pertanyaan macam apa itu?" Gavin balik bertanya, matanya kini menatap Bella dengan dingin."Jawab saja.""Tidak, aku tidak sepertimu," jawab Gavin tajam, membuat wajah Bella memucat. "Ya, aku tahu hubunganmu dan sopir itu masih berlanjut. Tapi aku tidak peduli. Pernikahan kita sudah mati sejak lama, hanya saja kita berdua terlalu pengecut untuk mengakhirinya."Bella terdiam, terkejut dengan kejujuran Gavin yang tiba-tiba. "Kamu ... tahu?""Tentu saja. Kupikir kita berdua sama-sama tahu bahwa kita hidup dalam kebohongan," kata Gavin sambil bangkit dari kursinya. "Sekarang, bisakah kamu pergi? Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen penting."Bella merasa seperti ditampar. Bukan karena Gavin tahu tentang perselingkuhannya, tapi karena sikap dingin dan ketidakpedulian suaminya. Dia mengharapkan kemarahan, pertengkaran, atau setidaknya emosi apa pun. Tapi yang dia dapatkan hanyalah kekosongan, seolah Gavin memang sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya."Baiklah," kata Bella a
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Bab 46

Gavin merasakan jantungnya berdegup kencang saat aroma parfum Livia memenuhi ruangan kecil itu. Kenangan malam di hotel menyeruak kembali dalam pikirannya, sentuhan lembut, desahan tertahan, dan kehangatan tubuh mereka yang menyatu. Dengan gerakan tiba-tiba, Gavin berdiri dari sofa, mengagetkan Livia yang sedang menunduk."Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucapnya cepat, suaranya sedikit serak.Livia mendongak, matanya melebar karena terkejut. "Eh? Secepat ini? Bahkan Bapak belum menyentuh tehnya.""Ada ... ada meeting mendadak yang harus kuhadiri," Gavin berbohong, tidak ingin mengakui bahwa kedekatannya dengan Livia dalam ruangan kecil ini membangkitkan perasaan yang tidak seharusnya dia rasakan."Oh," Livia mengangguk pelan, kekecewaan tersirat dalam suaranya. "Baiklah, saya antar Bapak sampai pintu."Mereka berjalan dalam diam ke arah pintu. Livia membuka pintu perlahan, matanya tidak berani menatap Gavin secara langsung."Terima kasih sudah mau datang menjenguk," ucap L
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Bab 47

Sebulan berlalu dengan cepat. Kandungan Livia kini memasuki bulan keempat. Perutnya mulai terlihat membuncit, meski masih bisa disembunyikan dengan pakaian yang sedikit longgar. Dokter sudah memperbolehkannya beraktivitas seperti biasa, dan hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja di Lysandros Group.Livia bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan dirinya dengan hati-hati. Dia memilih seragam cleaning service yang sedikit lebih besar dari ukurannya untuk menyamarkan perutnya yang mulai membesar."Kamu yakin sudah siap kembali bekerja?" tanya Elena saat mereka sarapan bersama.Livia mengangguk. "Dokter bilang aku sudah boleh beraktivitas normal lagi. Lagipula, kita butuh uang, El. Biaya check-up dan vitamin tidak murah. Aku tidak mau terus-terusan digaji tapi tidak bekerja. Apa kata karyawan lain kalau sampai ketahuan?"Elena menghela napas. "Baiklah. Tapi kalau kamu merasa lelah, jangan dipaksakan. Langsung hubungi aku, mengerti?""Mengerti, Bu Perawat," Livia tersenyum, menghormat s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Bab 48

Sementara itu di ruangannya, Gavin sedang memeriksa beberapa dokumen penting ketika Nadia masuk setelah mengetuk pintu."Permisi, Pak. Saya sudah bicara dengan Bu Ratna tentang Livia," lapor Nadia.Gavin mengangkat wajahnya dari dokumen. "Bagaimana?""Bu Ratna akan memberikan tugas yang lebih ringan untuknya," jawab Nadia. "Tapi ...," Dia ragu-ragu melanjutkan."Tapi apa?" desak Gavin."Bu Ratna terlihat ... curiga, Pak. Saya rasa dia mulai bertanya-tanya mengapa Bapak begitu peduli pada kesejahteraan seorang cleaning service."Gavin menghela napas berat dan meletakkan pulpen yang dipegangnya. Jemarinya memijat pelipis, tanda kekhawatiran mulai menghinggapinya. "Selama dia melakukan apa yang kita minta, itu sudah cukup."Nadia mengangguk. "Baik, Pak.""Ada lagi yang perlu disampaikan?" tanya Gavin."Tidak ada, Pak.""Baiklah, kamu boleh keluar."Setelah Nadia keluar, Gavin berdiri dan berjalan menuju jendela besar di ruangannya. Dari sana, dia bisa melihat kesibukan kota di bawah. Pik
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 49

Livia berdiri gelisah di ruang arsip, menunggu lima belas menit berlalu seperti yang diminta Gavin. Jemarinya merapikan jaket yang menutupi seragam cleaning service-nya, sambil sesekali melirik jam dinding. Setelah memastikan waktunya tepat, dia menghembuskan napas panjang dan mengambil tasnya."Kamu bisa melakukan ini," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati.Dengan langkah hati-hati, Livia keluar dari ruang arsip dan memilih menggunakan tangga darurat alih-alih lift untuk menghindari bertemu dengan karyawan lain. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu menuju basement, matanya awas menyapu area parkir yang remang-remang.Mobil hitam mengkilap terparkir di sudut tergelap basement, persis seperti yang diberitahukan Gavin. Livia celingukan memastikan tidak ada orang sebelum bergegas menghampiri mobil itu. Ketika sampai di samping mobil, jendela samping turun secara perlahan."Masuk," suara bariton Gavin terdengar dari dalam.Livia membuka pintu dengan cepat dan menyelinap mas
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 50

Livia hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Gavin. Ada kesedihan samar di matanya, menyadari bahwa status mereka yang tak jelas membuat masa depan anak mereka juga tak pasti."Tentu saja, masih perlu pemeriksaan lebih lanjut di trimester ketiga untuk memastikan jenis kelaminnya," tambah Dr. Amanda, mengembalikan Gavin ke realitas."Ah, ya, tentu," Gavin tersadar dari euforianya. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Livia dengan canggung, seolah baru menyadari apa yang telah dilakukannya.Dr. Amanda memberikan beberapa cetakan gambar USG kepada mereka, kemudian menuliskan resep vitamin dan suplemen tambahan untuk Livia. Setelah memberikan beberapa nasihat tentang nutrisi dan aktivitas yang aman, pemeriksaan pun selesai.Keluar dari ruangan dokter, kecanggungan kembali hadir di antara mereka. Gavin berjalan di samping Livia dengan langkah pelan, topinya kembali ditarik rendah dan masker menutupi sebagian wajahnya."Maafkan aku tadi," ucap Gavin tiba-tiba. "Aku terlalu bersemangat da
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status