Livia berdiri gelisah di ruang arsip, menunggu lima belas menit berlalu seperti yang diminta Gavin. Jemarinya merapikan jaket yang menutupi seragam cleaning service-nya, sambil sesekali melirik jam dinding. Setelah memastikan waktunya tepat, dia menghembuskan napas panjang dan mengambil tasnya."Kamu bisa melakukan ini," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati.Dengan langkah hati-hati, Livia keluar dari ruang arsip dan memilih menggunakan tangga darurat alih-alih lift untuk menghindari bertemu dengan karyawan lain. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu menuju basement, matanya awas menyapu area parkir yang remang-remang.Mobil hitam mengkilap terparkir di sudut tergelap basement, persis seperti yang diberitahukan Gavin. Livia celingukan memastikan tidak ada orang sebelum bergegas menghampiri mobil itu. Ketika sampai di samping mobil, jendela samping turun secara perlahan."Masuk," suara bariton Gavin terdengar dari dalam.Livia membuka pintu dengan cepat dan menyelinap mas
Livia hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Gavin. Ada kesedihan samar di matanya, menyadari bahwa status mereka yang tak jelas membuat masa depan anak mereka juga tak pasti."Tentu saja, masih perlu pemeriksaan lebih lanjut di trimester ketiga untuk memastikan jenis kelaminnya," tambah Dr. Amanda, mengembalikan Gavin ke realitas."Ah, ya, tentu," Gavin tersadar dari euforianya. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Livia dengan canggung, seolah baru menyadari apa yang telah dilakukannya.Dr. Amanda memberikan beberapa cetakan gambar USG kepada mereka, kemudian menuliskan resep vitamin dan suplemen tambahan untuk Livia. Setelah memberikan beberapa nasihat tentang nutrisi dan aktivitas yang aman, pemeriksaan pun selesai.Keluar dari ruangan dokter, kecanggungan kembali hadir di antara mereka. Gavin berjalan di samping Livia dengan langkah pelan, topinya kembali ditarik rendah dan masker menutupi sebagian wajahnya."Maafkan aku tadi," ucap Gavin tiba-tiba. "Aku terlalu bersemangat da
Bella berjalan keluar dari basement dengan langkah cepat dan kaku, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah. Maria setengah berlari untuk mengikutinya."Bella, tunggu!" panggil wanita yang sudah lama menjadi teman Bella, berusaha menyusul.Bella tidak menggubris, terus melangkah dengan kedua tangan terkepal. Tatapannya lurus ke depan, tapi matanya berkabut oleh air mata yang ditahan. Sesampainya di mobil, ia membanting pintu dengan keras setelah masuk."Kau mau kemana?" tanya Maria yang berhasil masuk ke kursi penumpang."Ke rumah mertuaku," jawab Bella pendek, menyalakan mesin mobilnya dengan kasar. "Keluarga terhormat Lysandros harus tahu kelakuan putra kesayangan mereka."Maria mengerutkan kening. "Apa itu ide yang bagus? Maksudku, ayah Gavin sedang sakit, kan?""Justru karena itu," Bella tersenyum sinis sambil melajukan mobilnya meninggalkan area parkir. "Mereka harus tahu monster macam apa yang mereka besarkan."©©©Dua puluh menit kemudian, mobil Bella berhenti di depan
Gavin menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak pucat, tatapannya kosong ke depan."Ada apa, Gavin?" tanya Livia setelah melihat perubahan ekspresi Gavin. "Siapa yang menelepon?""Mamaku," jawab Gavin dengan suara pelan. "Papaku ... dia pingsan. Mereka sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit.""Ya Tuhan," Livia menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa bisa?"Gavin menatap Livia dengan mata berkaca-kaca. "Bella. Dia pergi ke rumah orang tuaku dan memberitahu mereka tentang ... tentang kita."Livia tersentak, menyadari implikasi dari perkataan Gavin. "Papamu ... penyakit jantungnya kambuh karena berita itu?"Gavin tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Dengan gerakan cepat, dia memutar kemudi mobilnya, berbalik arah."Kita harus segera ke sana," gumamnya, mempercepat laju mobilnya.Livia duduk tegang di kursi samping, perasaan bersalah membuncah di dadanya. Tangannya bergerak secara otomatis ke perut, seolah melindungi bayi yang dikandungnya."Gavin," Livia berkata lemb
Livia menatap kosong ke dinding rumah sakit sementara Gavin masih terpekur di samping jenazah ayahnya. Tangan Livia gemetar ketika merogoh saku untuk mengambil ponsel. Dengan jari-jari yang terasa kaku, dia mencari kontak Elena, sahabatnya."Halo, Elena?" suaranya serak, nyaris tak terdengar."Livia? Ada apa? Kau terdengar aneh," suara Elena terdengar khawatir di seberang telepon."Bisakah kamu datang ke Rumah Sakit Medika sekarang? Lantai dua, Unit Gawat Darurat." Livia berusaha mengendalikan getaran dalam suaranya. "Ayah Gavin ... baru saja meninggal.""Ya Tuhan," Elena terkesiap. "Aku akan segera ke sana. Tunggu aku."Livia mematikan telepon dan kembali bersandar di dinding. Pipinya masih terasa panas bekas tamparan Bu Lina. Dia mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah menenangkan janin di dalamnya. Air matanya jatuh tanpa suara, memikirkan kekacauan yang terjadi.Dua puluh menit kemudian, Elena muncul di lorong rumah sakit, napasnya terengah. Matanya langsung mencari sosok
Seusai pemakaman, Bu Lina, Gavin, serta orang tua Bella kembali ke kediaman Lysandros. Para pelayat lain mulai berpamitan satu per satu, menyisakan keluarga inti yang masih dirundung duka."Sekarang, bisakah kalian jelaskan apa yang terjadi?" tanya Pak Sugeng setelah mereka duduk di ruang keluarga. "Kemana putri kami?"Bu Lina menatap Gavin sekilas sebelum menghela napas panjang. "Pak Sugeng, Bu Ami .... Sebenarnya, ada masalah antara Gavin dan Bella.""Masalah apa?" tuntut Bu Ami, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Kenapa sampai Bella tidak datang ke pemakaman?"Bu Lina mengusap air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya. "Bella ... dia kemari kemarin. Dia sangat marah. Dia memberitahu kami bahwa Gavin—""Sudah cukup, Ma," potong Gavin dengan suara tegas. "Biar aku yang jelaskan."Gavin menatap kedua mertuanya dengan pandangan lelah. "Pak, Bu, aku tahu ini akan sulit didengar. Tapi ini kenyataannya." Gavin menarik napas dalam-dalam. "Aku ... menghamili wanita lain."Pasanga
Daniel keluar dari apartemennya dengan perasaan kesal, meninggalkan Bella sendirian dengan tangisannya. Di lorong, ia mengacak rambutnya dengan frustrasi dan menggeram tertahan."Dasar bodoh!" umpatnya pada dirinya sendiri saat menekan tombol lift. "Bagaimana bisa dia melepaskan Gavin begitu saja?"Lift terbuka dan Daniel masuk, menekan tombol lantai dasar dengan kasar. "Padahal kalau dia mau sedikit berpikir," gerutunya lagi sambil menyandarkan punggung ke dinding lift, "dia bisa menguras semua harta keluarga Lysandros, bahkan menguasainya. Perceraian hanya bisa memberikan separuh harta Gavin saja."Daniel melangkah keluar dari gedung apartemen dan menghirup udara segar. Langit pagi bersinar terang, dan ia memutuskan untuk pergi ke taman kecil tak jauh dari sana. Pikirannya berkecamuk, sebagian kesal pada Bella, sebagian lagi khawatir tentang nasibnya sendiri jika Bella benar-benar bercerai dari Gavin.Taman itu tidak terlalu ramai. Beberapa anak bermain di area bermain, sementara
Mendengar keributan di depan kediaman gavin, beberapa pelayan keluar dari pintu utama. Wajah mereka tegang dan tidak nyaman."Kalian!" Bella menatap para pelayan dengan murka. "Kalian yang melakukan ini? Berani-beraninya kalian memperlakukan barang-barangku seperti ini!"Mbok Dharmi, kepala pelayan yang sudah bekerja di keluarga Lysandros sejak Gavin masih kecil, melangkah maju dengan tenang. "Bukan kami, Nyonya. Tuan Gavin sendiri yang melakukannya.""Bohong!" Bella meraih sebuah vas kecil dari meja teras dan melemparkannya ke lantai. Vas itu pecah berkeping-keping, membuat para pelayan terlonjak. "Gavin tidak mungkin melakukan ini!""Tapi memang benar, Nyonya," Mbok Dharmi tetap berbicara dengan tenang meski matanya memancarkan kesedihan. "Tuan Gavin sendiri yang mengosongkan lemari Anda dan melemparkan semua barang Anda ke sini."Suara ribut-ribut di teras depan menarik perhatian Gavin yang sedang berada di ruang kerjanya. Ia mendengar teriakan Bella yang nyaring, disusul dengan su
Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum
Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka
Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.
Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a
Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang
Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li
Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper
Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku
Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe