Mendengar keributan di depan kediaman gavin, beberapa pelayan keluar dari pintu utama. Wajah mereka tegang dan tidak nyaman."Kalian!" Bella menatap para pelayan dengan murka. "Kalian yang melakukan ini? Berani-beraninya kalian memperlakukan barang-barangku seperti ini!"Mbok Dharmi, kepala pelayan yang sudah bekerja di keluarga Lysandros sejak Gavin masih kecil, melangkah maju dengan tenang. "Bukan kami, Nyonya. Tuan Gavin sendiri yang melakukannya.""Bohong!" Bella meraih sebuah vas kecil dari meja teras dan melemparkannya ke lantai. Vas itu pecah berkeping-keping, membuat para pelayan terlonjak. "Gavin tidak mungkin melakukan ini!""Tapi memang benar, Nyonya," Mbok Dharmi tetap berbicara dengan tenang meski matanya memancarkan kesedihan. "Tuan Gavin sendiri yang mengosongkan lemari Anda dan melemparkan semua barang Anda ke sini."Suara ribut-ribut di teras depan menarik perhatian Gavin yang sedang berada di ruang kerjanya. Ia mendengar teriakan Bella yang nyaring, disusul dengan su
Bella memarkirkan mobilnya dengan kasar di depan apartemen Daniel, nyaris menabrak pembatas parkir. Dengan langkah menghentak, ia menyeret kopernya menuju lift, mengabaikan tatapan penasaran dari penghuni lain.Setibanya di apartemen, ia membanting pintu hingga tertutup, membuat Daniel yang sedang menonton televisi terlonjak kaget."Hei, hati-hati dengan pintunya!" protes Daniel, matanya melebar melihat koper dan tas yang dibawa Bella. "Apa yang terjadi?""Gavin mengusirku!" Bella melemparkan tasnya ke sofa. "Dia membuang semua barangku ke teras seperti sampah! Dia bilang akan menceraikanku!"Daniel bangkit dari sofanya, wajahnya menunjukkan kekesalan yang tidak disembunyikan. "Apa? Dia menceraikanmu?! Bagaimana bisa kamu membiarkan itu terjadi?!""Membiarkan?!" Bella menatap Daniel tidak percaya. "Menurutmu aku mau diceraikan?! Aku sudah mencoba berbicara baik-baik, tapi dia tidak mau mendengar!""Kamu pasti tidak melakukannya dengan benar," Daniel mengacak rambutnya frustrasi. "Asta
Keesokan harinya, langit Jakarta tampak cerah. Sinar matahari merambat masuk melalui celah tirai apartemen Daniel yang tidak tertutup rapat. Bella yang masih terbaring lelap di ranjang terbangun oleh dering ponselnya yang nyaring. Dengan enggan, ia meraba-raba nakas di samping tempat tidur, mencari sumber suara tersebut.Nama "Ayah" muncul di layar ponselnya. Jantung Bella seketika berdebar kencang. Ia tidak menyangka ayahnya akan menelepon sepagi ini. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau di layar."Halo, Papa," sapa Bella, berusaha terdengar seceria mungkin."Bella, kamu di mana sekarang? Mengapa baru menjawab panggilan Papa?!" suara Pak Sugeng terdengar tegas dan sedikit kesal di seberang telepon.Bella melirik ke arah Daniel yang masih tertidur di sampingnya. Otaknya berputar cepat mencari alasan. "Aku ... aku sedang di rumah Maria, Pa. Ada apa?""Jangan bohong!" bentak Pak Sugeng. "Ibunya Maria baru saja menelepon Mamamu, menanyakan kabarmu. Jadi, di mana kamu sebenarnya?"Bella
Malam hari tiba dengan cepat. Bella bersiap-siap untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia memilih gaun sederhana namun elegan, mencoba terlihat sebaik mungkin untuk menghadapi amarah ayahnya yang sudah bisa ia prediksi.Saat ia selesai berdandan, Daniel baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang atletis masih basah, air menetes dari rambutnya yang belum kering. Bella tidak bisa mengalihkan pandangannya."Sudah mau berangkat?" tanya Daniel, berjalan mendekati Bella dengan senyum menggoda."Ya," jawab Bella, merasakan desiran di tubuhnya saat Daniel semakin mendekat. "Aku sebaiknya tidak membuat mereka menunggu lebih lama."Daniel meraih pinggang Bella, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. "Kamu yakin tidak ingin tinggal sebentar lagi?" bisiknya di telinga Bella.Bella merasakan kehangatan tubuh Daniel yang setengah telanjang, aroma sabun yang maskulin, dan napas hangat yang menerpa lehernya. Godaan itu terlalu kuat untuk dit
"Bukan seperti itu, Pa, Ma," Bella mulai terisak, berusaha terlihat menyedihkan untuk mendapatkan simpati. "Gavin yang berselingkuh duluan. Aku melihatnya bersama wanita lain di rumah sakit. Mereka terlihat sangat dekat, dan Gavin bahkan tidak membantah saat kutanyakan.""Bohong!" Pak Sugeng menggeram. "Gavin mengaku mempunyai bukti perselingkuhanmu berupa rekaman CCTV!"Wajah Bella memucat. Tapi ia tidak yakin Gavin memiliki bukti-bukti rekaman CCTV tersebut karena ia sudah memutus semua CCTV saat dulu Daniel seringkali masuk ke kamarnya."Kenapa, Bella?" tanya Bu Ami lirih, air mata juga mengalir di pipinya. "Kenapa kamu melakukan ini pada Gavin? Pada keluarga Lysandros yang selalu baik kepada kita?""Aku ... aku kesepian, Bu," akhirnya Bella berkata jujur. "Gavin selalu sibuk bekerja. Aku butuh perhatian, butuh kasih sayang.""Jadi itu alasanmu berselingkuh?!" Pak Sugeng mendengus tidak percaya. "Demi Tuhan, Bella! Gavin memberikan segalanya untukmu! Rumah mewah, mobil, perhiasan,
Siang itu, di tempat lain, Livia duduk melamun di pinggir jendela ruang arsip. Sudah satu minggu ia ditugaskan untuk membersihkan dan menata ulang ruang arsip ini—pekerjaan yang membosankan. Namun, memberikannya waktu untuk menyendiri di tengah gosip-gosip yang mulai bermunculan di kantor.Sudah satu minggu pula ia tidak melihat Gavin. Semenjak kejadian di rumah sakit waktu itu, CEO perusahaan itu belum menampakkan batang hidungnya di kantor. Livia menghela napas panjang, jemarinya memainkan ujung kemeja seragam cleaning service yang dikenakannya. Pikirannya melayang pada malam itu, ketika ia melihat Gavin terisak di samping tubuh ayahnya yang terbaring kaku.Livia masih ingat bagaimana ia berdiri kaku di ambang pintu, tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin mendekati Gavin, memeluknya, memberikan kekuatan—tapi siapa dia? Hanya seorang cleaning service yang kebetulan mengandung anak dari pria itu. Seorang wanita yang mungkin dianggap sebagai bagian dari masalah oleh keluarga besar Lysa
Setelah makan siang selesai, Livia dan Elena berpisah. Elena kembali ke ruang administrasi, sementara Livia melanjutkan tugasnya di ruang arsip. Sepanjang sore, Livia bekerja dalam diam, menyortir dokumen-dokumen lama dan menyusunnya dalam map-map baru. Pekerjaan yang monoton tapi membuatnya tetap sibuk, setidaknya cukup untuk mengalihkan pikirannya dari Gavin untuk sementara.Saat jam menunjukkan pukul 5 sore, ponsel Livia berdering. Nama Elena kembali muncul di layar."Halo, El?" jawab Livia."Liv, sepertinya aku harus lembur malam ini," suara Elena terdengar lelah. "Ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan sebelum besok. Kamu pulang duluan saja, ya?"Livia terdiam sejenak. Pikiran kembali ke apartemen kecilnya yang sunyi membuatnya ngeri. Ia tidak ingin sendirian malam ini, tidak dengan semua pikiran tentang Gavin yang pasti akan menghantui benaknya."Boleh aku menemanimu?" tanya Livia akhirnya. "Aku ... tidak ingin sendirian di apartemen.""Liv, kamu sedang hamil. Kamu butuh i
Gavin tersenyum getir. "Justru kematian ayah yang membuat keputusanku semakin bulat." Ia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan kekuatan untuk bercerita. "Pernikahanku dengan Bella sudah hancur sejak lama, Livia. Bahkan sebelum aku bertemu denganmu."Livia terdiam, mendengarkan dengan seksama. Ada sebagian dari dirinya yang ingin meraih tangan Gavin, meremasnya lembut untuk memberikan kekuatan. Tapi ia menahan diri, sadar akan posisinya."Bella berselingkuh lebih dulu, dengan sopirnya sendiri—Daniel," Gavin melanjutkan, matanya menatap kosong ke arah kota yang berkilauan di bawah sana. "Aku sudah mencurigainya sejak lama, tapi mencoba menghempaskan pikiran-pikiran buruk itu. Hingga, tiba saatnya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, Bella tengah bergumul mesra bersama pria itu di ranjang kami. Aku ingin menceraikannya, tapi aku terlalu pengecut, takut akan kesehatan Papaku. Tapi sekarang ... sudah tidak ada yang bisa menahanku lagi untuk mengakhiri semuanya.""Oh ...," bisik
Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum
Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka
Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.
Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a
Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang
Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li
Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper
Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku
Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe