Share

Bab 50

Author: Merisa storia
last update Last Updated: 2025-03-19 13:04:56

Livia hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Gavin. Ada kesedihan samar di matanya, menyadari bahwa status mereka yang tak jelas membuat masa depan anak mereka juga tak pasti.

"Tentu saja, masih perlu pemeriksaan lebih lanjut di trimester ketiga untuk memastikan jenis kelaminnya," tambah Dr. Amanda, mengembalikan Gavin ke realitas.

"Ah, ya, tentu," Gavin tersadar dari euforianya. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Livia dengan canggung, seolah baru menyadari apa yang telah dilakukannya.

Dr. Amanda memberikan beberapa cetakan gambar USG kepada mereka, kemudian menuliskan resep vitamin dan suplemen tambahan untuk Livia. Setelah memberikan beberapa nasihat tentang nutrisi dan aktivitas yang aman, pemeriksaan pun selesai.

Keluar dari ruangan dokter, kecanggungan kembali hadir di antara mereka. Gavin berjalan di samping Livia dengan langkah pelan, topinya kembali ditarik rendah dan masker menutupi sebagian wajahnya.

"Maafkan aku tadi," ucap Gavin tiba-tiba. "Aku terlalu bersemangat da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Defi Andriani
lanjut lagi kak. semangat. di tunggu selalu
goodnovel comment avatar
Max Win
nah gtu dong buat nyesel Bella thur wanita kontol si bela
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 51

    Bella berjalan keluar dari basement dengan langkah cepat dan kaku, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah. Maria setengah berlari untuk mengikutinya."Bella, tunggu!" panggil wanita yang sudah lama menjadi teman Bella, berusaha menyusul.Bella tidak menggubris, terus melangkah dengan kedua tangan terkepal. Tatapannya lurus ke depan, tapi matanya berkabut oleh air mata yang ditahan. Sesampainya di mobil, ia membanting pintu dengan keras setelah masuk."Kau mau kemana?" tanya Maria yang berhasil masuk ke kursi penumpang."Ke rumah mertuaku," jawab Bella pendek, menyalakan mesin mobilnya dengan kasar. "Keluarga terhormat Lysandros harus tahu kelakuan putra kesayangan mereka."Maria mengerutkan kening. "Apa itu ide yang bagus? Maksudku, ayah Gavin sedang sakit, kan?""Justru karena itu," Bella tersenyum sinis sambil melajukan mobilnya meninggalkan area parkir. "Mereka harus tahu monster macam apa yang mereka besarkan."©©©Dua puluh menit kemudian, mobil Bella berhenti di depan

    Last Updated : 2025-03-20
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 52

    Gavin menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak pucat, tatapannya kosong ke depan."Ada apa, Gavin?" tanya Livia setelah melihat perubahan ekspresi Gavin. "Siapa yang menelepon?""Mamaku," jawab Gavin dengan suara pelan. "Papaku ... dia pingsan. Mereka sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit.""Ya Tuhan," Livia menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa bisa?"Gavin menatap Livia dengan mata berkaca-kaca. "Bella. Dia pergi ke rumah orang tuaku dan memberitahu mereka tentang ... tentang kita."Livia tersentak, menyadari implikasi dari perkataan Gavin. "Papamu ... penyakit jantungnya kambuh karena berita itu?"Gavin tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Dengan gerakan cepat, dia memutar kemudi mobilnya, berbalik arah."Kita harus segera ke sana," gumamnya, mempercepat laju mobilnya.Livia duduk tegang di kursi samping, perasaan bersalah membuncah di dadanya. Tangannya bergerak secara otomatis ke perut, seolah melindungi bayi yang dikandungnya."Gavin," Livia berkata lemb

    Last Updated : 2025-03-20
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 53

    Livia menatap kosong ke dinding rumah sakit sementara Gavin masih terpekur di samping jenazah ayahnya. Tangan Livia gemetar ketika merogoh saku untuk mengambil ponsel. Dengan jari-jari yang terasa kaku, dia mencari kontak Elena, sahabatnya."Halo, Elena?" suaranya serak, nyaris tak terdengar."Livia? Ada apa? Kau terdengar aneh," suara Elena terdengar khawatir di seberang telepon."Bisakah kamu datang ke Rumah Sakit Medika sekarang? Lantai dua, Unit Gawat Darurat." Livia berusaha mengendalikan getaran dalam suaranya. "Ayah Gavin ... baru saja meninggal.""Ya Tuhan," Elena terkesiap. "Aku akan segera ke sana. Tunggu aku."Livia mematikan telepon dan kembali bersandar di dinding. Pipinya masih terasa panas bekas tamparan Bu Lina. Dia mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah menenangkan janin di dalamnya. Air matanya jatuh tanpa suara, memikirkan kekacauan yang terjadi.Dua puluh menit kemudian, Elena muncul di lorong rumah sakit, napasnya terengah. Matanya langsung mencari sosok

    Last Updated : 2025-03-20
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 54

    Seusai pemakaman, Bu Lina, Gavin, serta orang tua Bella kembali ke kediaman Lysandros. Para pelayat lain mulai berpamitan satu per satu, menyisakan keluarga inti yang masih dirundung duka."Sekarang, bisakah kalian jelaskan apa yang terjadi?" tanya Pak Sugeng setelah mereka duduk di ruang keluarga. "Kemana putri kami?"Bu Lina menatap Gavin sekilas sebelum menghela napas panjang. "Pak Sugeng, Bu Ami .... Sebenarnya, ada masalah antara Gavin dan Bella.""Masalah apa?" tuntut Bu Ami, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. "Kenapa sampai Bella tidak datang ke pemakaman?"Bu Lina mengusap air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya. "Bella ... dia kemari kemarin. Dia sangat marah. Dia memberitahu kami bahwa Gavin—""Sudah cukup, Ma," potong Gavin dengan suara tegas. "Biar aku yang jelaskan."Gavin menatap kedua mertuanya dengan pandangan lelah. "Pak, Bu, aku tahu ini akan sulit didengar. Tapi ini kenyataannya." Gavin menarik napas dalam-dalam. "Aku ... menghamili wanita lain."Pasanga

    Last Updated : 2025-03-21
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 55

    Daniel keluar dari apartemennya dengan perasaan kesal, meninggalkan Bella sendirian dengan tangisannya. Di lorong, ia mengacak rambutnya dengan frustrasi dan menggeram tertahan."Dasar bodoh!" umpatnya pada dirinya sendiri saat menekan tombol lift. "Bagaimana bisa dia melepaskan Gavin begitu saja?"Lift terbuka dan Daniel masuk, menekan tombol lantai dasar dengan kasar. "Padahal kalau dia mau sedikit berpikir," gerutunya lagi sambil menyandarkan punggung ke dinding lift, "dia bisa menguras semua harta keluarga Lysandros, bahkan menguasainya. Perceraian hanya bisa memberikan separuh harta Gavin saja."Daniel melangkah keluar dari gedung apartemen dan menghirup udara segar. Langit pagi bersinar terang, dan ia memutuskan untuk pergi ke taman kecil tak jauh dari sana. Pikirannya berkecamuk, sebagian kesal pada Bella, sebagian lagi khawatir tentang nasibnya sendiri jika Bella benar-benar bercerai dari Gavin.Taman itu tidak terlalu ramai. Beberapa anak bermain di area bermain, sementara

    Last Updated : 2025-03-21
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 56

    Mendengar keributan di depan kediaman gavin, beberapa pelayan keluar dari pintu utama. Wajah mereka tegang dan tidak nyaman."Kalian!" Bella menatap para pelayan dengan murka. "Kalian yang melakukan ini? Berani-beraninya kalian memperlakukan barang-barangku seperti ini!"Mbok Dharmi, kepala pelayan yang sudah bekerja di keluarga Lysandros sejak Gavin masih kecil, melangkah maju dengan tenang. "Bukan kami, Nyonya. Tuan Gavin sendiri yang melakukannya.""Bohong!" Bella meraih sebuah vas kecil dari meja teras dan melemparkannya ke lantai. Vas itu pecah berkeping-keping, membuat para pelayan terlonjak. "Gavin tidak mungkin melakukan ini!""Tapi memang benar, Nyonya," Mbok Dharmi tetap berbicara dengan tenang meski matanya memancarkan kesedihan. "Tuan Gavin sendiri yang mengosongkan lemari Anda dan melemparkan semua barang Anda ke sini."Suara ribut-ribut di teras depan menarik perhatian Gavin yang sedang berada di ruang kerjanya. Ia mendengar teriakan Bella yang nyaring, disusul dengan su

    Last Updated : 2025-03-22
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 57

    Bella memarkirkan mobilnya dengan kasar di depan apartemen Daniel, nyaris menabrak pembatas parkir. Dengan langkah menghentak, ia menyeret kopernya menuju lift, mengabaikan tatapan penasaran dari penghuni lain.Setibanya di apartemen, ia membanting pintu hingga tertutup, membuat Daniel yang sedang menonton televisi terlonjak kaget."Hei, hati-hati dengan pintunya!" protes Daniel, matanya melebar melihat koper dan tas yang dibawa Bella. "Apa yang terjadi?""Gavin mengusirku!" Bella melemparkan tasnya ke sofa. "Dia membuang semua barangku ke teras seperti sampah! Dia bilang akan menceraikanku!"Daniel bangkit dari sofanya, wajahnya menunjukkan kekesalan yang tidak disembunyikan. "Apa? Dia menceraikanmu?! Bagaimana bisa kamu membiarkan itu terjadi?!""Membiarkan?!" Bella menatap Daniel tidak percaya. "Menurutmu aku mau diceraikan?! Aku sudah mencoba berbicara baik-baik, tapi dia tidak mau mendengar!""Kamu pasti tidak melakukannya dengan benar," Daniel mengacak rambutnya frustrasi. "Asta

    Last Updated : 2025-03-22
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 58

    Keesokan harinya, langit Jakarta tampak cerah. Sinar matahari merambat masuk melalui celah tirai apartemen Daniel yang tidak tertutup rapat. Bella yang masih terbaring lelap di ranjang terbangun oleh dering ponselnya yang nyaring. Dengan enggan, ia meraba-raba nakas di samping tempat tidur, mencari sumber suara tersebut.Nama "Ayah" muncul di layar ponselnya. Jantung Bella seketika berdebar kencang. Ia tidak menyangka ayahnya akan menelepon sepagi ini. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau di layar."Halo, Papa," sapa Bella, berusaha terdengar seceria mungkin."Bella, kamu di mana sekarang? Mengapa baru menjawab panggilan Papa?!" suara Pak Sugeng terdengar tegas dan sedikit kesal di seberang telepon.Bella melirik ke arah Daniel yang masih tertidur di sampingnya. Otaknya berputar cepat mencari alasan. "Aku ... aku sedang di rumah Maria, Pa. Ada apa?""Jangan bohong!" bentak Pak Sugeng. "Ibunya Maria baru saja menelepon Mamamu, menanyakan kabarmu. Jadi, di mana kamu sebenarnya?"Bella

    Last Updated : 2025-03-22

Latest chapter

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 78

    Vanya tampak sedikit gugup, tidak menyangka pihak Gavin memiliki bukti sebanyak itu. "Yang Mulia, kami perlu waktu untuk memeriksa bukti-bukti ini sebelum memberikan tanggapan."Hakim mengangguk. "Baiklah, sidang akan ditunda selama 30 menit untuk memberikan kesempatan kepada kuasa hukum termohon memeriksa bukti yang diajukan pemohon."Setelah jeda, sidang kembali dilanjutkan. Vanya tampak lebih tenang, meski ada kekhawatiran di wajahnya."Yang Mulia, meskipun ada beberapa bukti yang diajukan pihak pemohon, klien kami tetap menolak perceraian ini dan mengusulkan untuk melakukan mediasi terlebih dahulu," ujar Vanya.Hakim beralih pada Gavin. "Tuan Lysandros, bagaimana tanggapan Anda terhadap usulan mediasi?"Gavin berdiri dengan ekspresi tegas. "Yang Mulia, dengan segala hormat, saya menolak mediasi. Pernikahan ini sudah tidak dapat diselamatkan. Kepercayaan sudah hancur, dan kami telah hidup terpisah selama lebih dari enam bulan." Bella mendengus keras, matanya menyala penuh kebencia

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 77

    Dua minggu berlalu dengan cepat. Pagi itu, cahaya matahari Jakarta menembus jendela kamar Livia, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Ia melirik jam di dinding—pukul 6 pagi. Hari ini adalah hari persidangan perceraian Gavin dan Bella.Livia bangkit perlahan, merasakan tendangan lembut dari perutnya yang kini semakin membesar. "Selamat pagi juga, sayang," bisiknya sambil mengelus perutnya.Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. "Nona Livia? Tuan Gavin sudah datang. Beliau menunggu di ruang makan," suara Amina terdengar dari balik pintu."Baik, Mbak. Terima kasih. Saya akan segera turun."Sebelum menghadapi persidangan yang pastinya akan rumit, Gavin mampir untuk menemui Livia pagi ini. Livia bergegas mandi dan bersiap, memilih gaun sederhana berwarna biru muda yang cukup longgar untuk menutupi perutnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar kamar.Di ruang makan, Gavin duduk sembari menikmati secangkir kopi. Pria tampan itu mengenakan setelan jas fo

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 76

    Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 75

    Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 74

    Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 73

    Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 72

    Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 71

    Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 70

    Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status