Semua Bab Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya: Bab 21 - Bab 30

76 Bab

Bab 21

"Permisi, Bu. Saya Livia, cleaning service baru yang mulai bekerja hari ini," Livia memperkenalkan diri dengan sopan.Bu Ratna mendongak, mengamati Livia dari atas ke bawah. "Ah, Livia. Iya, HRD sudah memberitahu saya. Tepat waktu, bagus," ia mengangguk puas. "Saya Bu Ratna, kepala cleaning service di gedung ini.""Senang bertemu dengan Ibu," Livia tersenyum sopan."Duduklah," Bu Ratna menunjuk kursi di depan mejanya. "Saya akan menjelaskan beberapa hal penting tentang pekerjaan dan peraturan di sini."Selama lima belas menit berikutnya, Bu Ratna menjelaskan dengan rinci tentang jadwal kerja, area yang menjadi tanggung jawab Livia, standar kebersihan yang diterapkan, dan berbagai peraturan yang harus dipatuhi. Livia mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat poin-poin penting di buku kecil yang selalu dibawanya."PT Lysandros bukan perusahaan biasa," Bu Ratna menekankan. "Klien kami adalah orang-orang penting. Jadi kebersihan dan kerapian adalah hal mutlak yang tidak bisa ditawar.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

Bab 22

Gavin menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam seketika melebar saat mengenali sosok Livia. Ia terlihat begitu terkejut, seolah melihat hantu. Mulutnya sedikit terbuka, nyaris mengucapkan sesuatu, tapi kemudian tertutup kembali.Livia menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk membereskan kekacauan yang dibuatnya. Tangannya bergerak cepat mengambil kain pel dan mengelap air yang tumpah, tapi pikirannya benar-benar kosong. Ia bisa merasakan tatapan Gavin yang tertuju padanya, rasanya menusuk hingga ke tulang sumsum.Jangan lihat ke atas. Jangan lihat ke atas. Berpura-puralah tidak mengenalinya. "Maafkan saya," Livia bergumam kepada lantai dengan suara bergetar. "Saya akan segera membereskan ini."Dari sudut matanya, Livia bisa melihat sepatu hitam mengkilap Gavin yang kini berdiri diam tidak jauh dari tempatnya berlutut. Sepatu itu tidak bergerak, seolah pemiliknya sedang mempertimbangkan sesuatu.Suara langkah kaki terdengar mendekat dengan cepat. Ternyata Bu Ratna yang sedari tadi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

Bab 23

Lift mendesing naik menuju lantai 25, membawa Livia yang berdiri kaku dengan satu tangan mencengkeram pegangan di dinding lift dan satunya lagi tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih rata. Angka digital pada layar lift bergerak naik perlahan, menghitung setiap lantai yang terlewati. 22 ... 23 ... 24 ...Livia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak karuan.25 ...Pintu lift akhirnya terbuka. Livia melangkah keluar dengan kaki gemetar, memasuki area resepsionis yang mewah. Berbeda dengan lantai-lantai lain, lantai 25 dirancang dengan gaya yang jauh lebih elegan.Di balik meja resepsionis, seorang wanita cantik dengan rambut disanggul rapi tersenyum profesional padanya."Permisi," Livia menyapa dengan suara kecil. "Saya Livia. Saya dipanggil untuk bertemu dengan Pak Gavin."Mata resepsionis itu melebar sejenak, seolah terkejut melihat siapa yang dipanggil bos besarnya. "Ah, Anda Livia. Pak Gavin sudah menunggu. Silakan lewat sini."Resepsi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

Bab 24

"Maaf, saya bukan wanita seperti itu lagi," Livia menggeleng pelan. "Malam itu ... hanya malam itu saja. Saya bekerja di sini sebagai cleaning service, tidak ada hubungannya dengan masa lalu." Gavin terdiam sejenak, memperhatikan Livia dengan seksama. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis di hadapannya dibandingkan dengan gadis yang ia temui dua bulan lalu. Sebuah perubahan halus yang sulit ia jelaskan. "Kenapa kau memilih bekerja di sini?" tanya Gavin tiba-tiba. "Dari semua tempat di Jakarta, kenapa kau memilih perusahaanku?" "Saya tidak tahu ini perusahaan Anda," Livia menegaskan sekali lagi. "Teman saya yang mencarikan pekerjaan ini. Saya hanya tahu ini adalah PT Lysandros, saya tidak tahu Anda pemiliknya." Gavin mengangguk pelan, tampak mempercayai jawaban Livia. Kemudian, ia mencondongkan tubuhnya ke depan, sikunya bertumpu pada meja, tatapannya semakin intens. "Ada satu hal yang membuatku penasaran, Livia," suaranya kini lebih tenang namun penuh tekanan. "Apakah kau hamil
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Bab 25

Suara yang sangat tidak asing melegakan hatinya seketika. Elena berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kekhawatiran dan rasa ingin tahu."Elena ...," Livia mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya mampu bergetar lemah.Elena cepat-cepat masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Ya ampun, Liv! Semua orang membicarakanmu!" bisiknya dengan nada urgent. "Apa yang terjadi? Apa benar kamu dipanggil ke ruangan Pak Gavin? Apa dia memarahimu?"Livia melirik ke sekitar ruangan. Ada dua petugas kebersihan lain yang sedang beristirahat di sudut, sibuk mengobrol namun sesekali mencuri pandang ke arah mereka."Nanti akan kuceritakan," jawab Livia pelan, "tapi tidak di sini."Elena mengangguk paham. "Ini jam makan siang. Kita ke warung nasi dekat kantor saja? Aku lapar, dan kamu juga pasti butuh makan."Livia mengangguk lemah. "Tunggu sebentar, aku bereskan ini dulu."****Warung nasi kecil tak jauh dari gedung Lysandros Group selalu ramai di jam makan siang. Aroma rempah yang menggugah selera menguar
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

Bab 26

Di ruangannya yang luas, Gavin Lysandros menatap layar komputer dengan dahi berkerut. Sejak Livia meninggalkan ruangannya, pikirannya tak bisa lepas dari gadis itu. Ada sesuatu yang mengusiknya, sebuah intuisi yang selama ini jarang keliru. Tangannya meraih telepon di meja. "Nadia, bisa ke ruangan saya sebentar?" Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk. Sekretarisnya, wanita berusia tiga puluhan dengan penampilan selalu rapi dan profesional, masuk dengan notes di tangan. "Ya, Pak Gavin?" "Tolong carikan saya data lengkap dan CV Livia, cleaning service baru di lantai dasar," pinta Gavin langsung. "Saya ingin tahu latar belakangnya, pendidikan, keluarga, alamat, semuanya." Nadia terlihat sedikit terkejut, namun dengan cepat kembali ke ekspresi profesionalnya. "Baik, Pak. Ada hal lain yang Bapak butuhkan?" "Tidak, itu saja untuk sekarang. Terima kasih." Setelah Nadia keluar, Gavin bersandar di kursinya, memutar-mutar pena di tangannya. Pikirannya melayang kembali ke mala
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

Bab 27

Malam telah menyelimuti Jakarta ketika mobil Mercedes hitam Gavin memasuki pelataran rumah megahnya di kawasan elite Menteng. Rumah bergaya mediterania itu berdiri angkuh dengan taman luas yang tertata apik, lampu-lampu taman menyala lembut menerangi jalan setapak menuju pintu utama.Begitu mobil berhenti, seorang pelayan bergegas membukakan pintu. Gavin melangkah keluar dengan wajah lelah. Jas mahalnya sedikit kusut setelah seharian bekerja. Deru mesin mobil perlahan menghilang saat sopir pribadinya mengarahkan kendaraan itu menuju garasi belakang."Selamat malam, Pak," sapa pelayan itu sopan.Gavin hanya mengangguk singkat sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah penat seharian, yang dia inginkan hanyalah ketenangan. Namun, begitu pintu utama terbuka, suara wanita yang sudah tidak asing menyambutnya dengan nada yang dibuat-buat riang."Sayang, kau sudah pulang!"Bella, dengan gaun rumahan yang tetap terlihat elegan, berjalan anggun menghampiri suaminya. Rambut pirang panjangn
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

Bab 28

Namun alih-alih tergoda, tatapan Gavin justru semakin dingin dan menusuk. Ekspresi jijik tergambar jelas di wajahnya. Bayangan istrinya bersama pria lain di ranjang kamar utama, kembali berputar di kepalanya seperti film horor yang tak bisa dihentikan."Pakai kembali pakaianmu dan keluar dari kamarku," ucap Gavin dengan suara rendah penuh ancaman. "Atau aku akan memastikan pengacaraku mengirimkan surat cerai besok pagi."Bella tersentak, wajahnya pucat pasi. Dengan tangan gemetar, ia menarik kembali gaun tidurnya, menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Air mata buaya mengalir semakin deras."Kamu tidak bisa selamanya seperti ini, Gavin," bisiknya sebelum berbalik menuju pintu. "Suatu hari kamu akan sadar bahwa kamu juga membutuhkanku."Begitu Bella keluar, Gavin membanting pintu dan menguncinya rapat. Nafasnya memburu, amarah dan rasa muak bercampur menjadi satu. Ia berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menenangkan diri.Di cermin, ia menatap re
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Bab 29

Siang itu, di gedung pencakar langit tempat Livia bekerja, udara dingin AC tidak mengurangi perasaan lelah yang dirasakannya. Sudah lima jam ia mondar-mandir membersihkan toilet, menyeka kaca, dan menyapu lantai tanpa henti. Keringat dingin membasahi keningnya meski ruangan terasa sejuk.Bu Ratna, supervisor cleaning service terus mengikutinya sejak pagi. Mata wanita paruh baya itu tak lepas memperhatikan setiap gerakan Livia, sesekali berdecak saat menemukan area yang menurutnya belum cukup bersih."Livia, ini masih kotor! Pel ulang!" bentak Bu Ratna sambil menunjuk sudut lantai yang menurut Livia sudah cukup bersih. "Saya tidak mau ya kamu teledor seperti hari pertama bekerja!" "Baik, Bu," jawab Livia lirih, menahan rasa pusing yang mulai menyerang. Ia membungkuk untuk mengambil kembali alat pel, merasakan nyeri tajam di perutnya. Refleks, tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.Bu Ratna memperhatikan dengan mata menyipit. "Kenapa? Sakit?""Tidak, Bu. Saya baik-baik saja," Li
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Bab 30

Suara pintu terbuka dengan keras terdengar dari ujung lorong. Gavin Lysandros keluar dari ruangannya dengan wajah kesal, jelas terganggu oleh keributan."Ada apa ini?" tanyanya dengan suara dingin dan tegas.Namun, begitu mata Gavin menangkap sosok Livia yang meringkuk kesakitan dengan darah di celana kerjanya, ekspresinya berubah drastis. Wajahnya yang biasanya tegas dan terkontrol kini dipenuhi keterkejutan dan kekhawatiran."Livia?" Suaranya terdengar tidak percaya.Tanpa pikir panjang, Gavin bergegas menghampiri, berlutut di sisi Livia yang kini semakin pucat. "Apa yang terjadi?""Sa-sakit ...," Livia hanya mampu berbisik di antara isak tangisnya.Gavin tampak terguncang. Matanya menatap darah yang merembes di celana Livia, lalu beralih ke wajah gadis itu yang pucat dan ketakutan. "Nadia, telepon ambulans sekarang!" perintahnya tegas. "Dan kamu," ia menunjuk resepsionis, "ambilkan selimut atau jaket, apapun untuk menutupinya!"Livia menatap Gavin dengan mata berkabut, sakit dan t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234568
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status