Все главы Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya: Глава 61 - Глава 70

76

Bab 61

Siang itu, di tempat lain, Livia duduk melamun di pinggir jendela ruang arsip. Sudah satu minggu ia ditugaskan untuk membersihkan dan menata ulang ruang arsip ini—pekerjaan yang membosankan. Namun, memberikannya waktu untuk menyendiri di tengah gosip-gosip yang mulai bermunculan di kantor.Sudah satu minggu pula ia tidak melihat Gavin. Semenjak kejadian di rumah sakit waktu itu, CEO perusahaan itu belum menampakkan batang hidungnya di kantor. Livia menghela napas panjang, jemarinya memainkan ujung kemeja seragam cleaning service yang dikenakannya. Pikirannya melayang pada malam itu, ketika ia melihat Gavin terisak di samping tubuh ayahnya yang terbaring kaku.Livia masih ingat bagaimana ia berdiri kaku di ambang pintu, tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin mendekati Gavin, memeluknya, memberikan kekuatan—tapi siapa dia? Hanya seorang cleaning service yang kebetulan mengandung anak dari pria itu. Seorang wanita yang mungkin dianggap sebagai bagian dari masalah oleh keluarga besar Lysa
last updateПоследнее обновление : 2025-03-24
Читайте больше

Bab 62

Setelah makan siang selesai, Livia dan Elena berpisah. Elena kembali ke ruang administrasi, sementara Livia melanjutkan tugasnya di ruang arsip. Sepanjang sore, Livia bekerja dalam diam, menyortir dokumen-dokumen lama dan menyusunnya dalam map-map baru. Pekerjaan yang monoton tapi membuatnya tetap sibuk, setidaknya cukup untuk mengalihkan pikirannya dari Gavin untuk sementara.Saat jam menunjukkan pukul 5 sore, ponsel Livia berdering. Nama Elena kembali muncul di layar."Halo, El?" jawab Livia."Liv, sepertinya aku harus lembur malam ini," suara Elena terdengar lelah. "Ada beberapa laporan yang harus kuselesaikan sebelum besok. Kamu pulang duluan saja, ya?"Livia terdiam sejenak. Pikiran kembali ke apartemen kecilnya yang sunyi membuatnya ngeri. Ia tidak ingin sendirian malam ini, tidak dengan semua pikiran tentang Gavin yang pasti akan menghantui benaknya."Boleh aku menemanimu?" tanya Livia akhirnya. "Aku ... tidak ingin sendirian di apartemen.""Liv, kamu sedang hamil. Kamu butuh i
last updateПоследнее обновление : 2025-03-24
Читайте больше

Bab 63

Gavin tersenyum getir. "Justru kematian ayah yang membuat keputusanku semakin bulat." Ia menarik napas dalam, seolah mengumpulkan kekuatan untuk bercerita. "Pernikahanku dengan Bella sudah hancur sejak lama, Livia. Bahkan sebelum aku bertemu denganmu."Livia terdiam, mendengarkan dengan seksama. Ada sebagian dari dirinya yang ingin meraih tangan Gavin, meremasnya lembut untuk memberikan kekuatan. Tapi ia menahan diri, sadar akan posisinya."Bella berselingkuh lebih dulu, dengan sopirnya sendiri—Daniel," Gavin melanjutkan, matanya menatap kosong ke arah kota yang berkilauan di bawah sana. "Aku sudah mencurigainya sejak lama, tapi mencoba menghempaskan pikiran-pikiran buruk itu. Hingga, tiba saatnya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, Bella tengah bergumul mesra bersama pria itu di ranjang kami. Aku ingin menceraikannya, tapi aku terlalu pengecut, takut akan kesehatan Papaku. Tapi sekarang ... sudah tidak ada yang bisa menahanku lagi untuk mengakhiri semuanya.""Oh ...," bisik
last updateПоследнее обновление : 2025-03-25
Читайте больше

Bab 64

Sesampainya di apartemen, Livia langsung membaringkan tubuhnya di kasur, masih mengenakan pakaian kerjanya. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya masih berlarian liar.Bayangan wajah Gavin terus menghantuinya. Livia teringat bagaimana Gavin bercerita tentang perceraiannya, tentang pengkhianatan Bella, tentang beban yang selama ini ia tanggung sendiri. Di balik penampilannya dingin dan berwibawa, ternyata Gavin menyimpan begitu banyak luka dan kesedihan.Sesuatu dalam diri Livia tergerak. Rasa iba? Simpati? Atau mungkin ... sesuatu yang lebih?"Tidak, tidak," Livia menggelengkan kepalanya keras-keras. "Kenapa aku jadi peduli padanya? Dia hanya ... ayah dari bayiku. Tidak lebih."©©©Satu minggu berlalu dengan cepat. Sementara kehidupan Livia kembali ke rutinitas normal—bekerja, pulang, beristirahat—di tempat lain, badai baru saja akan dimulai.Bella duduk di ruang tamu kediamannya yang mewah, ditemani kedua orangtuanya—Pak Sugeng dan Bu Ami—saat bel pintu berbunyi. Pelayan membuka pintu, dan
last updateПоследнее обновление : 2025-03-25
Читайте больше

Bab 65

Di perjalanan pulang, mobil mewah keluarga Sugeng diselimuti keheningan mencekam. Pak Sugeng mengemudi dengan kasar, sesekali mengumpat pelan. Bu Ami menatap keluar jendela, wajahnya menunjukkan kekhawatiran. Sementara Bella duduk di kursi belakang, pikirannya berputar liar."Ini tidak bisa dibiarkan," gumam Bella pada dirinya sendiri. "Aku harus bicara langsung dengan Gavin."Sesampainya di depan rumah mereka, Pak Sugeng dan Bu Ami turun dari mobil. Tapi Bella tetap di kursinya."Bella, ayo masuk," ajak Bu Ami.Bella menggeleng. "Ma, Pa, aku harus bertemu Gavin. Aku akan ke kantornya sekarang.""Tapi, Bella—""Aku harus melakukan ini, Ma," potong Bella, matanya menunjukkan tekad yang kuat. "Aku tidak akan menyerah semudah ini."Sebelum kedua orangtuanya sempat mencegah, Bella sudah mengambil alih kemudi dan melesat pergi, meninggalkan Pak Sugeng dan Bu Ami yang hanya bisa menatap mobil mereka menjauh dengan wajah cemas.Gedung Lysandros Group terlihat aktif. Beberapa karyawan terliha
last updateПоследнее обновление : 2025-03-25
Читайте больше

Bab 66

Sepeninggal Bella, Livia melepaskan diri dari rangkulan Gavin, menatapnya dengan bingung."Apa yang baru saja terjadi?" tanyanya lirih. "Kenapa kamu mengatakan hal-hal itu padanya?"Gavin menghela napas panjang, tangannya mengusap wajahnya yang tampak lelah. Ia melangkah menjauhi Livia, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap ke kota."Maafkan aku," ucapnya pelan, tanpa menoleh ke arah Livia. "Aku hanya ... menggertak Bella. Dia tidak akan berhenti jika aku tidak melakukan sesuatu yang ekstrem."Livia menunduk, merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—seperti rasa kecewa yang tidak seharusnya ada. Tentu saja, pikirnya. Mana mungkin seorang Gavin Lysandros benar-benar mencintainya, apalagi berniat menikahinya. Itu hanya mimpi di siang bolong."Aku mengerti," jawab Livia tenang, menyembunyikan perasaannya dengan baik. "Jadi ... ada apa memanggilku kemari? Sepertinya ada sesuatu yang penting?"Gavin berbalik, kembali menatap Livia. "Aku harus pergi ke Singapura," ujarnya akhirnya. "S
last updateПоследнее обновление : 2025-03-26
Читайте больше

Bab 67

"Apa?!" Bella menarik ponselnya, menatap Daniel tidak percaya. "Kau mengenalnya? Dari mana?""Dia adik tiri Sandra, tetanggaku di kontrakan dulu," jelas Daniel. "Livia dulu tinggal bersama Sandra sebelum akhirnya pindah entah ke mana.""Dan kamu tidak pernah menceritakan ini padaku?" Bella menatapnya curiga."Aku tidak tahu dia jadi selingkuhan suamimu dan bekerja di Lysndros Group." Daniel mengangkat bahunya. "Lagi pula, untuk apa aku cerita? Aku bahkan tidak ingat dia sampai kamu menyebutkan ciri-cirinya."Bella menggigit bibirnya, berpikir keras. "Kamu tahu apa lagi tentang dia?"Daniel menatap Bella sejenak, seolah menimbang sesuatu. "Menurut pengakuan Sandra, Livia ... menjual diri.""Apa?!" Bella terlonjak dari sofa, matanya membulat sempurna. "Dia PSK?""Itu kata Sandra," Daniel mengangguk. "Livia sering pulang larut malam, kadang dengan pakaian bagus dan parfum mahal yang jelas bukan dari gajinya sebagai cleaning service."Bella tertawa kecil, tawa yang dingin dan penuh kemena
last updateПоследнее обновление : 2025-03-26
Читайте больше

Bab 68

Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe
last updateПоследнее обновление : 2025-03-26
Читайте больше

Bab 69

Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku
last updateПоследнее обновление : 2025-03-27
Читайте больше

Bab 70

Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper
last updateПоследнее обновление : 2025-03-27
Читайте больше
Предыдущий
1
...
345678
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status