Share

Bab 45

Author: Merisa storia
last update Last Updated: 2025-03-18 16:07:14

"Pertanyaan macam apa itu?" Gavin balik bertanya, matanya kini menatap Bella dengan dingin.

"Jawab saja."

"Tidak, aku tidak sepertimu," jawab Gavin tajam, membuat wajah Bella memucat. "Ya, aku tahu hubunganmu dan sopir itu masih berlanjut. Tapi aku tidak peduli. Pernikahan kita sudah mati sejak lama, hanya saja kita berdua terlalu pengecut untuk mengakhirinya."

Bella terdiam, terkejut dengan kejujuran Gavin yang tiba-tiba. "Kamu ... tahu?"

"Tentu saja. Kupikir kita berdua sama-sama tahu bahwa kita hidup dalam kebohongan," kata Gavin sambil bangkit dari kursinya. "Sekarang, bisakah kamu pergi? Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen penting."

Bella merasa seperti ditampar. Bukan karena Gavin tahu tentang perselingkuhannya, tapi karena sikap dingin dan ketidakpedulian suaminya. Dia mengharapkan kemarahan, pertengkaran, atau setidaknya emosi apa pun. Tapi yang dia dapatkan hanyalah kekosongan, seolah Gavin memang sudah tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya.

"Baiklah," kata Bella a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Max Win
ayo jangan lama thur masa bela enak gda karma parah
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 46

    Gavin merasakan jantungnya berdegup kencang saat aroma parfum Livia memenuhi ruangan kecil itu. Kenangan malam di hotel menyeruak kembali dalam pikirannya, sentuhan lembut, desahan tertahan, dan kehangatan tubuh mereka yang menyatu. Dengan gerakan tiba-tiba, Gavin berdiri dari sofa, mengagetkan Livia yang sedang menunduk."Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang," ucapnya cepat, suaranya sedikit serak.Livia mendongak, matanya melebar karena terkejut. "Eh? Secepat ini? Bahkan Bapak belum menyentuh tehnya.""Ada ... ada meeting mendadak yang harus kuhadiri," Gavin berbohong, tidak ingin mengakui bahwa kedekatannya dengan Livia dalam ruangan kecil ini membangkitkan perasaan yang tidak seharusnya dia rasakan."Oh," Livia mengangguk pelan, kekecewaan tersirat dalam suaranya. "Baiklah, saya antar Bapak sampai pintu."Mereka berjalan dalam diam ke arah pintu. Livia membuka pintu perlahan, matanya tidak berani menatap Gavin secara langsung."Terima kasih sudah mau datang menjenguk," ucap L

    Last Updated : 2025-03-18
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 47

    Sebulan berlalu dengan cepat. Kandungan Livia kini memasuki bulan keempat. Perutnya mulai terlihat membuncit, meski masih bisa disembunyikan dengan pakaian yang sedikit longgar. Dokter sudah memperbolehkannya beraktivitas seperti biasa, dan hari ini adalah hari pertamanya kembali bekerja di Lysandros Group.Livia bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan dirinya dengan hati-hati. Dia memilih seragam cleaning service yang sedikit lebih besar dari ukurannya untuk menyamarkan perutnya yang mulai membesar."Kamu yakin sudah siap kembali bekerja?" tanya Elena saat mereka sarapan bersama.Livia mengangguk. "Dokter bilang aku sudah boleh beraktivitas normal lagi. Lagipula, kita butuh uang, El. Biaya check-up dan vitamin tidak murah. Aku tidak mau terus-terusan digaji tapi tidak bekerja. Apa kata karyawan lain kalau sampai ketahuan?"Elena menghela napas. "Baiklah. Tapi kalau kamu merasa lelah, jangan dipaksakan. Langsung hubungi aku, mengerti?""Mengerti, Bu Perawat," Livia tersenyum, menghormat s

    Last Updated : 2025-03-18
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 48

    Sementara itu di ruangannya, Gavin sedang memeriksa beberapa dokumen penting ketika Nadia masuk setelah mengetuk pintu."Permisi, Pak. Saya sudah bicara dengan Bu Ratna tentang Livia," lapor Nadia.Gavin mengangkat wajahnya dari dokumen. "Bagaimana?""Bu Ratna akan memberikan tugas yang lebih ringan untuknya," jawab Nadia. "Tapi ...," Dia ragu-ragu melanjutkan."Tapi apa?" desak Gavin."Bu Ratna terlihat ... curiga, Pak. Saya rasa dia mulai bertanya-tanya mengapa Bapak begitu peduli pada kesejahteraan seorang cleaning service."Gavin menghela napas berat dan meletakkan pulpen yang dipegangnya. Jemarinya memijat pelipis, tanda kekhawatiran mulai menghinggapinya. "Selama dia melakukan apa yang kita minta, itu sudah cukup."Nadia mengangguk. "Baik, Pak.""Ada lagi yang perlu disampaikan?" tanya Gavin."Tidak ada, Pak.""Baiklah, kamu boleh keluar."Setelah Nadia keluar, Gavin berdiri dan berjalan menuju jendela besar di ruangannya. Dari sana, dia bisa melihat kesibukan kota di bawah. Pik

    Last Updated : 2025-03-19
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 49

    Livia berdiri gelisah di ruang arsip, menunggu lima belas menit berlalu seperti yang diminta Gavin. Jemarinya merapikan jaket yang menutupi seragam cleaning service-nya, sambil sesekali melirik jam dinding. Setelah memastikan waktunya tepat, dia menghembuskan napas panjang dan mengambil tasnya."Kamu bisa melakukan ini," bisiknya pada diri sendiri, menguatkan hati.Dengan langkah hati-hati, Livia keluar dari ruang arsip dan memilih menggunakan tangga darurat alih-alih lift untuk menghindari bertemu dengan karyawan lain. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu menuju basement, matanya awas menyapu area parkir yang remang-remang.Mobil hitam mengkilap terparkir di sudut tergelap basement, persis seperti yang diberitahukan Gavin. Livia celingukan memastikan tidak ada orang sebelum bergegas menghampiri mobil itu. Ketika sampai di samping mobil, jendela samping turun secara perlahan."Masuk," suara bariton Gavin terdengar dari dalam.Livia membuka pintu dengan cepat dan menyelinap mas

    Last Updated : 2025-03-19
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 50

    Livia hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Gavin. Ada kesedihan samar di matanya, menyadari bahwa status mereka yang tak jelas membuat masa depan anak mereka juga tak pasti."Tentu saja, masih perlu pemeriksaan lebih lanjut di trimester ketiga untuk memastikan jenis kelaminnya," tambah Dr. Amanda, mengembalikan Gavin ke realitas."Ah, ya, tentu," Gavin tersadar dari euforianya. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Livia dengan canggung, seolah baru menyadari apa yang telah dilakukannya.Dr. Amanda memberikan beberapa cetakan gambar USG kepada mereka, kemudian menuliskan resep vitamin dan suplemen tambahan untuk Livia. Setelah memberikan beberapa nasihat tentang nutrisi dan aktivitas yang aman, pemeriksaan pun selesai.Keluar dari ruangan dokter, kecanggungan kembali hadir di antara mereka. Gavin berjalan di samping Livia dengan langkah pelan, topinya kembali ditarik rendah dan masker menutupi sebagian wajahnya."Maafkan aku tadi," ucap Gavin tiba-tiba. "Aku terlalu bersemangat da

    Last Updated : 2025-03-19
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 51

    Bella berjalan keluar dari basement dengan langkah cepat dan kaku, rahangnya mengeras menahan amarah yang membuncah. Maria setengah berlari untuk mengikutinya."Bella, tunggu!" panggil wanita yang sudah lama menjadi teman Bella, berusaha menyusul.Bella tidak menggubris, terus melangkah dengan kedua tangan terkepal. Tatapannya lurus ke depan, tapi matanya berkabut oleh air mata yang ditahan. Sesampainya di mobil, ia membanting pintu dengan keras setelah masuk."Kau mau kemana?" tanya Maria yang berhasil masuk ke kursi penumpang."Ke rumah mertuaku," jawab Bella pendek, menyalakan mesin mobilnya dengan kasar. "Keluarga terhormat Lysandros harus tahu kelakuan putra kesayangan mereka."Maria mengerutkan kening. "Apa itu ide yang bagus? Maksudku, ayah Gavin sedang sakit, kan?""Justru karena itu," Bella tersenyum sinis sambil melajukan mobilnya meninggalkan area parkir. "Mereka harus tahu monster macam apa yang mereka besarkan."©©©Dua puluh menit kemudian, mobil Bella berhenti di depan

    Last Updated : 2025-03-20
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 52

    Gavin menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak pucat, tatapannya kosong ke depan."Ada apa, Gavin?" tanya Livia setelah melihat perubahan ekspresi Gavin. "Siapa yang menelepon?""Mamaku," jawab Gavin dengan suara pelan. "Papaku ... dia pingsan. Mereka sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit.""Ya Tuhan," Livia menutup mulutnya dengan tangan. "Kenapa bisa?"Gavin menatap Livia dengan mata berkaca-kaca. "Bella. Dia pergi ke rumah orang tuaku dan memberitahu mereka tentang ... tentang kita."Livia tersentak, menyadari implikasi dari perkataan Gavin. "Papamu ... penyakit jantungnya kambuh karena berita itu?"Gavin tidak menjawab, hanya mengangguk lemah. Dengan gerakan cepat, dia memutar kemudi mobilnya, berbalik arah."Kita harus segera ke sana," gumamnya, mempercepat laju mobilnya.Livia duduk tegang di kursi samping, perasaan bersalah membuncah di dadanya. Tangannya bergerak secara otomatis ke perut, seolah melindungi bayi yang dikandungnya."Gavin," Livia berkata lemb

    Last Updated : 2025-03-20
  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 53

    Livia menatap kosong ke dinding rumah sakit sementara Gavin masih terpekur di samping jenazah ayahnya. Tangan Livia gemetar ketika merogoh saku untuk mengambil ponsel. Dengan jari-jari yang terasa kaku, dia mencari kontak Elena, sahabatnya."Halo, Elena?" suaranya serak, nyaris tak terdengar."Livia? Ada apa? Kau terdengar aneh," suara Elena terdengar khawatir di seberang telepon."Bisakah kamu datang ke Rumah Sakit Medika sekarang? Lantai dua, Unit Gawat Darurat." Livia berusaha mengendalikan getaran dalam suaranya. "Ayah Gavin ... baru saja meninggal.""Ya Tuhan," Elena terkesiap. "Aku akan segera ke sana. Tunggu aku."Livia mematikan telepon dan kembali bersandar di dinding. Pipinya masih terasa panas bekas tamparan Bu Lina. Dia mengusap perutnya yang mulai membuncit, seolah menenangkan janin di dalamnya. Air matanya jatuh tanpa suara, memikirkan kekacauan yang terjadi.Dua puluh menit kemudian, Elena muncul di lorong rumah sakit, napasnya terengah. Matanya langsung mencari sosok

    Last Updated : 2025-03-20

Latest chapter

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 76

    Setelah menutup telepon, Livia masih duduk termenung di tepi tempat tidur. Perubahan hidupnya begitu drastis dan tiba-tiba, membuatnya kadang merasa seperti sedang bermimpi.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Liv? Boleh aku masuk?" suara Elena terdengar dari balik pintu."Tentu, El. Masuklah."Elena masuk dengan menenteng dua cangkir teh hangat. "Barusan Mbak Amina membuatkan kita ini." Ia menyodorkan salah satu cangkir kepada Livia."Terima kasih," Livia menerima cangkir itu, menghirup aromanya yang menenangkan. "Sudah mencoba kasurmu? Empuk sekali, kan?"Elena terkekeh, duduk di sebelah Livia. "Seperti tidur di atas awan," jawabnya sambil menyeruput tehnya perlahan. "Tadi kamu menelepon Gavin?"Livia mengangguk. "Dia menyarankan agar aku berhenti bekerja, tapi aku bilang aku ingin tetap bekerja sampai kandunganku berusia enam bulan.""Dan dia setuju?""Iya, meski tampak sedikit khawatir."Elena menatap sekeliling kamar mewah itu, lalu kembali menatap Livia dengan senyum

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 75

    Belum sempat Livia dan Elena menjelajahi rumah baru mereka, sebuah suara lembut mengalihkan perhatian keduanya."Selamat malam, Nona."Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah berdiri di ambang pintu ruang tengah. Ia mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu dengan celemek putih bersih. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi ke belakang."Tuan Gavin sudah memberitahu kedatangan Nona-nona malam ini," wanita itu membungkuk sopan. "Mari, saya tunjukkan kamar yang sudah saya persiapkan untuk Nona-nona."Elena melirik Livia, alisnya terangkat takjub. "Kita bahkan punya pelayan pribadi?" bisiknya.Amina menuntun mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Koridor dengan dinding putih bersih dan beberapa lukisan pemandangan terbentang di hadapan mereka. "Ada empat kamar tidur di lantai ini," jelas Amina sembari berjalan. "Dua kamar menghadap ke depan dengan pemandangan taman depan dan samping, dua lainnya menghadap ke belakang dengan pemandangan taman belakang. Semua kamar memiliki ka

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 74

    Jemari Livia sedikit bergetar saat mencari kontak Gavin. Haruskah ia menceritakan tentang Bella yang melabraknya? Tapi itu hanya akan menambah beban pikiran Gavin yang sedang sibuk dengan perusahaannya di Singapura."Halo?" suara Gavin terdengar dari seberang. "Livia?""Hai, Gavin," Livia berusaha terdengar normal, meski hatinya masih berdebar kencang mengingat kejadian tadi. "Maaf mengganggumu. Apa kamu sedang sibuk?""Tidak, aku baru selesai makan malam. Ada apa?"Livia menarik napas dalam-dalam. "Aku ... aku sudah memutuskan untuk menerima tawaranmu. Aku dan Elena akan menempati rumah itu, kalau masih boleh."Ada jeda sejenak, kemudian Livia bisa mendengar senyum dalam suara Gavin."Tentu saja boleh," jawab Gavin, nada suaranya terdengar lega dan gembira. "Kapan kalian akan pindah?""Mungkin malam ini juga, kalau tidak keberatan.""Malam ini?" Gavin terdengar terkejut. "Keputusan yang sangat mendadak?"Livia melirik Elena yang mengangguk memberi dukungan. "Tidak ada alasan khusus.

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 73

    Jam kerja berakhir, lampu-lampu ruangan satu per satu dimatikan. Livia membereskan pekerjaannya dengan gerakan lambat, masih memikirkan gosip yang ia dengar siang tadi. Sementara Elena menunggunya di pintu, seperti biasa."Siap pulang?" tanya Elena sembari tersenyum hangat.Livia mengangguk, menyelempangkan tasnya. "Ayo kita pulang tuan putri," Elena tertawa kecil, mengaitkan lengannya pada lengan Livia. Mereka melangkah meninggalkan gedung perkantoran. Langit sore mulai memerah, memberikan nuansa hangat pada jalanan kota yang mulai padat dengan kendaraan jam pulang kerja. Livia dan Elena berjalan berdampingan, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan, berusaha melupakan gosip yang menggelisahkan."Jadi, kamu sudah memikirkan tawaran dia soal rumah itu?" tanya Elena."Hmm, aku—""HEI, PELACUR!"Teriakan itu membekukan langkah Livia dan Elena. Keduanya menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang wanita cantik melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah merah padam penuh a

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 72

    Kantin kantor selalu ramai saat jam makan siang. Livia mengambil nampan, mengantri di belakang puluhan karyawan lainnya. Matanya mencari-cari sosok Elena, dan menemukan sahabatnya itu sudah duduk di meja pojok dekat jendela."Maaf, aku telat, keasyikan berbincang di telepon," kata Livia, meletakkan nampan berisi nasi, sayur asem, dan ayam goreng di meja.Elena mengibaskan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Memangnya telepon dari siapa? Kelihatannya penting sekali sampai kamu terlambat makan siang."Wajah Livia merona, ia menunduk, berpura-pura sibuk dengan makanannya. "Gavin," bisiknya pelan.Mata Elena melebar. "Wow! CEO kita yang sedang di Singapura itu menyempatkan diri meneleponmu di tengah kesibukannya? Manis sekali!""Ssst! Jangan keras-keras!" Livia menyikut lengan Elena, matanya waspada melirik ke sekitar. "Dia hanya menanyakan kabar dan mengingatkanku untuk makan dan minum vitamin.""Ya, ya, tentu saja," goda Elena, menyendokkan nasi ke mulutnya. "Kalian seperti pasangan yang

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 71

    Livia menekan tombol lift menuju lantai 25, tempat ruangan Gavin berada. Jam tangannya menunjukkan pukul 7:30—tiga puluh menit lebih awal dari jam masuk normal. Entah mengapa, pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, mungkin karena kegembiraan tentang rumah barunya masih menggelayuti pikirannya.Saat pintu lift terbuka, lorong masih sepi. Langkah kakinya bergema di lantai yang mengkilap. Livia berhenti sejenak di depan pintu kaca yang memisahkan area eksekutif—tempat ruangan Gavin berada—dengan area staff lainnya. Matanya secara otomatis mencari ke arah pintu berplakat "Direktur Utama" di ujung koridor."Apa dia sudah berangkat?" bisiknya pada diri sendiri, melangkah perlahan mendekati ruangan Gavin.Dengan hati-hati, Livia mengintip melalui jendela kaca yang sedikit tertutup tirai. Ruangan tampak gelap dan kosong, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Meja kerja yang biasanya dipenuhi dokumen kini tertata rapi, komputer dalam keadaan mati, dan kursi kerja Gavin kosong.Li

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 70

    Di dalam kamar, Livia mengganti dress putihnya dengan piyama bermotif bunga-bunga. Ia duduk di tepi ranjang, mata menerawang ke arah langit-langit kamar. Tangannya masih menggenggam kunci rumah pemberian Gavin, jemarinya mengelus permukaan logam itu dengan penuh kehati-hatian."Apakah ini mimpi?" gumamnya pada diri sendiri.Livia berbaring, menarik selimut tipis hingga sebatas dada. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—wajah Gavin yang tersenyum lembut padanya, tatapan matanya yang penuh perhatian, genggaman tangannya yang hangat. Jantungnya berdebar kencang hanya dengan mengingat semua itu."Ah, tapi aku harus sadar diri dan tidak boleh ke-ge-er-an," bisiknya, memperingatkan diri sendiri. "Gavin melakukan semua ini hanya karena aku mengandung anaknya, bukan karena dia menyukaiku."Livia memiringkan tubuhnya, memandang tembok kamar yang sudah menguning. Matanya mulai terasa berat."Tentu saja itu tidak mungkin terjadi," bisiknya lagi, suaranya semakin pelan. "Pria seper

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 69

    Setelah berbincang kesana kemari, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Livia memutuskan untuk pulang. Mereka masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Sesekali Livia melirik ke arah Gavin yang fokus menyetir, senyum tipis tersungging di bibirnya saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.Setelah 40 menit, mobil Gavin tiba di area basement. Gavin menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sepi. Lampu basement yang temaram menyinari wajah keduanya. Sebelum Livia turun, Gavin meraih tangannya dengan lembut."Livia," suaranya dalam dan penuh keyakinan, "kumohon pertimbangkan lagi untuk menempati rumah itu. Aku benar-benar ingin kamu dan bayi kita tinggal di tempat yang aman dan layak."Livia menghela napas panjang, mata hazelnya bertemu dengan mata cokelat Gavin. Jemarinya memainkan ujung dress putihnya dengan gugup."Terima kasih banyak, Gavin. Sungguh, ini terlalu berlebihan," ucapnya pelan. "Tapi kalau hanya untuk menempati ... kurasa aku

  • Dicampakkan Calon Suami, Dikejar Tuan Kaya Raya   Bab 68

    Begitu pintu utama terbuka, Livia disambut oleh interior yang elegan—perpaduan gaya klasik dan modern, dengan cat dinding cream yang hangat dan lantai marmer putih yang mengkilap."Ini rumah siapa?" tanya Livia sekali lagi, matanya berkeliling takjub melihat lukisan-lukisan mahal yang terpajang di dinding.Gavin hanya tersenyum misterius, tidak menjawab pertanyaan Livia. Ia menuntun Livia melalui lorong pendek menuju ruang makan. Dua orang pelayan berseragam rapi langsung membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka."Selamat malam, Tuan Lysandros," sapa salah satu pelayan. "Semua sudah disiapkan sesuai permintaan Anda.""Terima kasih, Amina," jawab Gavin singkat.Ruang makan itu tidak terlalu besar namun sangat mengesankan. Meja makan untuk dua orang terletak di tengah, dihiasi dengan lilin-lilin kecil dan rangkaian bunga lily putih—menciptakan suasana romantis yang sempurna. Jendela-jendela besar menghadap ke taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman."Silakan duduk," Pe

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status