Semua Bab Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan: Bab 561 - Bab 570

671 Bab

Bab 561

Menunggunya? Untuk apa?"Ada masalah penting?" tanya Nadine dengan ekspresi yang berubah."Ada. Mungkin bagimu ... termasuk kabar baik?""Masalah apa sebenarnya?" Kedua mata Nadine berbinar. Semakin Arnold bersikap misterius, Nadine semakin penasaran."Begini ...."Kemarin, Arnold pergi ke Universitas Bisnis di sebelah untuk bertemu teman lamanya. Sekaligus, dia juga menyampaikan sebuah "permintaan kecil"."Pak Moesda sudah setuju untuk mengosongkan satu laboratorium biologi untuk kalian. Aku sudah lihat tempatnya, semua peralatan yang kalian butuhkan ada di sana, termasuk CPRT.""Serius?! Luar biasa!" Nadine hampir melompat kegirangan. Ini benar-benar sebuah kebetulan yang luar biasa.Baru saja dia kebingungan mencari tempat untuk laboratorium baru, ternyata Arnold sudah menyiapkannya lebih dulu!Ini rasanya seperti .... Seorang anak malang yang baru saja diusir dari rumah, tiba-tiba menemukan tempat berlindung. Bukan hanya itu, tempatnya juga sudah siap untuk ditinggali!Tanpa sadar,
Baca selengkapnya

Bab 562

Saat Nadine masih ragu bagaimana cara memasangkan celemek, Arnold tiba-tiba menundukkan kepala. "Begini cukup?""Mungkin agak lebih rendah sedikit lagi."Arnold membungkuk sedikit lebih jauh. "Sekarang?""Ya, sudah pas."Nadine segera mengaitkan tali celemek di lehernya.Arnold kembali tegak, menunggu beberapa detik, lalu tersenyum kecil dan berkata, "Mungkin bagian pinggangnya juga perlu diikat?""Oh! Benar!" Nadine baru sadar, buru-buru mengambil dua tali celemek dan mengikatkannya di punggung Arnold."Uhuk uhuk ...." Arnold tiba-tiba batuk pelan."Ada apa?""Sedikit terlalu kencang ....""Astaga! Maaf! Aku longgarkan lagi .... Sekarang sudah pas?""Sudah."Setelah selesai merapikan dapur, mereka berdua pindah ke ruang tamu. Nadine memotong beberapa buah dan meletakkannya di meja. "Pak Arnold, makan buah dulu.""Terima kasih."Sambil mengambil sepotong apel, Nadine duduk di ujung lain sofa. "Aku dengar CBS bakal menyiarkan konferensi akademik antara Universitas Brata dan Caltech?"Ar
Baca selengkapnya

Bab 563

"Nggak usah!" Nadine langsung duduk di atas karpet dan menyilangkan kakinya. "Begini saja udah cukup."Saat tubuhnya menyentuh permukaan karpet, dia langsung tahu ini bukan barang murah. Nadine bahkan merasa tidak pantas duduk di atasnya. Di belakangnya bahkan bisa langsung bersandar di ranjang.Seandainya saja ....Kalau saja ada camilan dan minuman, pasti lebih sempurna.Saat sedang memikirkan hal itu, Arnold muncul kembali dengan membawa setumpuk kacang, keripik, dan dua botol jus lemon dari luar.Nadine hampir terperanjat. Arnold benar-benar mengerti dirinya!Arnold meletakkan camilan di antara mereka, lalu ikut duduk di atas karpet. Dia menambahkan bantal di belakang punggung mereka berdua, supaya lebih nyaman.Begitulah, mereka menonton sambil makan, mengobrol santai, dan sesekali berkomentar tentang acara.Sampai akhirnya ....Siaran langsung berakhir.Begitu melihat jam, ternyata sudah hampir pukul sebelas malam. Nadine terkejut. Dia buru-buru bangkit dan pamit pulang.Arnold m
Baca selengkapnya

Bab 564

Ini tidak sesuai sama hukum genetika, kan?!Melihat cara Nadine mengajukan pertanyaan tajam, Aditya tiba-tiba melihat bayangan ayahnya, Jonny. Entah bagaimana kehidupan Nadine selama ini di ibu kota sendirian. Anak yang hidupnya selalu mulus tidak akan memiliki keberanian untuk membangun laboratorium dengan uangnya sendiri.Anak biasa tidak akan memiliki koneksi dan kemampuan untuk mendapatkan sebidang tanah sebesar itu dan bisa lolos perizinan tanpa hambatan.Adiknya ini penuh dengan misteri. Namun, Aditya memilih untuk tidak bertanya. Mungkin, tidak mengungkitnya adalah bentuk penghiburan terbaik yang bisa dia berikan.Ekspresi Aditya terlihat serius saat berkata, "Ya, progress proyek ini lebih lambat dari yang aku perkirakan.""Apa penyebabnya? Sudah kamu temukan?"Aditya tersenyum pahit. "Kurangnya tenaga kerja."Nadine sedikit terkejut. Dia mengira ada masalah besar dalam perencanaan atau anggaran, tetapi ternyata cuma soal tenaga kerja?Perusahaan Aditya memang sudah meninggalka
Baca selengkapnya

Bab 565

Stendy mengerutkan alis dan memotongnya dengan tidak sabaran, "Ikut perintahku atau kamu?" Pria yang tadi protes langsung mengecilkan suara sambil mundur teratur dan tidak berani membantah lagi.Sementara itu, suara yang tidak asing itu membuat Nadine menoleh ke arah sana tanpa sadar. Tepat pada saat yang sama, Aditya memanggilnya, "Nadine, ayo duduk sini!"Stendy seketika menoleh.Mata mereka bertemu dan keduanya tertegun sesaat. Namun, Stendy lebih dulu bereaksi. Dia tersenyum, lalu bangkit dan langsung berjalan mendekat. Tatapannya penuh kejutan dan kegembiraan."Kenapa kamu di sini?""Lihat proyek.""Proyek apa yang kamu lihat?"Nadine menyipitkan mata. "Memangnya aku nggak boleh lihat proyek?""Bukan begitu .... Ini bukan bidangmu, juga bukan sumber penghasilanmu. Apa yang mau kamu lihat? Cuma iseng atau ada alasan lain?"Nadine berdeham pelan. "Aku punya sebidang tanah di sini dan mau bangun sesuatu. Kenapa? Nggak boleh?""Di sini? Ada tanah?"Stendy tiba-tiba mengingat sesuatu.
Baca selengkapnya

Bab 566

Nadine membiarkannya menariknya begitu saja? Bahkan, dia mengangguk patuh dan mengiakan? Dia sama sekali tidak menghindar?Stendy melihatnya dengan mata memerah. Sebenarnya siapa pria itu? Biasanya, kalau dirinya tidak sengaja menyentuh Nadine, Nadine pasti langsung mundur. Namun, kenapa orang ini ....Jelas, tadi saat Aditya mengobrol dengan pemilik restoran, Stendy sama sekali tidak mendengar apa pun!"Pak ... Pak Stendy?" Manajer proyek yang menemani Stendy dalam inspeksi sudah memanggil dua kali, tetapi tidak mendapat jawaban. Terpaksa, dia menaikkan volumenya dan memanggil lagi."Ada apa?" Tatapan dingin dilontarkan ke arahnya, membuat manajer proyek itu langsung menegang dan sesak napas."Pon ... ponselmu bunyi." Manajer itu menelan ludah dengan gugup, lalu mengusap keringat di dahi.Stendy mengeluarkan ponselnya. Tanpa ekspresi, dia langsung menolak panggilan tersebut. Manajer proyek itu langsung merasa semakin ketakutan dan panik.....Di sisi lain, dua bersaudara itu sudah mul
Baca selengkapnya

Bab 567

"Nad, kalian saling kenal?" tanya Aditya dengan nada datar.Nadine mengangguk. "Kenal."Stendy langsung menyambung, "Tentu saja!"Mereka berdua bicara di saat yang bersamaan.Aditya mengangkat alis, mengamati pria di depannya dari atas ke bawah. Semakin dilihat, semakin dia tidak suka.Namun, Stendy sama sekali tidak takut dilihat. Dengan santai, dia menarik kursi di sebelah Nadine dan duduk 'Lihat baik-baik, lihat seberapa kuat pesaingmu. Kalau tahu diri, cepat mundur.'Aditya tersenyum sinis dalam hati. Pria berambut pirang ini memang sombong!"Nad, nggak dikenalin dulu?" Aditya mengangkat dagunya ke arah Stendy. "Pria ini ... kelihatannya bukan tipe yang bakal kamu kenal?"Apa maksudnya? Memangnya dia kelihatan seperti apa? Begitu mendengarnya, Stendy langsung paham bahwa Aditya sedang menyindirnya.Yang lebih membuatnya kesal adalah Nadine tampak sangat memanjakan pria ini. Dia benar-benar berniat memperkenalkan Stendy."Iya, Nadine, orang ini juga kelihatannya bukan tipe yang baka
Baca selengkapnya

Bab 568

"Kira-kira seperti itu.""Tsk." Stendy menyipitkan matanya, nada suaranya terdengar berbahaya. "Konan ini benar-benar nggak kapok ya ...."Nadine mengernyit. "Apa?""Nggak ada." Stendy mengalihkan topik. "Gimana perkembangan pembangunan laboratoriumnya?"Nadine menggigit bibirnya pelan.Stendy langsung menyadari sesuatu. "Ada kesulitan? Coba bilang, siapa tahu aku bisa bantu."Inilah yang Nadine tunggu!"Ada!" Memang ada! Bahkan, ada banyak sekali!Dua menit kemudian ...."Jadi, masalahmu itu kurang tenaga kerja? Kamu mau pinjam orang dariku?" Yang dibutuhkan hanya pekerja konstruksi biasa?Nadine mengangguk serius. "Ada masalah?"Stendy menggeleng. "Nggak ada.""Tapi, ekspresimu barusan ...."Stendy tersenyum tipis. "Pisau buat menyembelih sapi dipakai buat memotong ayam. Menurutmu, pisau itu bakal bereaksi gimana?"Nadine tidak bisa berkata-kata."Butuh tenaga kerja, 'kan? Aku pinjamin 30 orang cukup nggak? Atau ... 40?"Nadine dan Aditya berpandangan. Jadi, begini ya dunia para sult
Baca selengkapnya

Bab 569

Nadine tidak menanggapi ucapan itu. Keduanya terdiam sampai mobil berhenti di ujung gang.Stendy berkata, "Sudah sampai."Nadine mengangguk. "Terima kasih sudah meminjamkan tenaga kerja. Untuk biaya, nanti kakakku yang akan mengurusnya denganmu.""Oke." Stendy juga tidak bilang akan menggratiskannya. Sikapnya yang jelas soal urusan uang membuat Nadine tanpa sadar merasa lega."Sampai jumpa.""Sampai jumpa, Nad."....Aditya bekerja dengan cepat. Keesokan harinya, dia sudah mengambil alih dua tim proyek yang diberikan oleh Stendy.Harga sudah disepakati, kontrak sudah ditandatangani. Di hari ketiga, proyek berjalan seperti biasa.Aditya berkata, "Jadi, hasil diskusi saat ini adalah aku, kamu, dan dia akan meluangkan waktu satu hari setiap minggu untuk mengevaluasi perkembangan proyek."Nadine mengernyit. "Kita berdua saja sudah cukup. Nggak perlu melibatkan Stendy, 'kan?"Mereka tidak mungkin menjadikannya kepala proyek .... Stendy pasti sibuk. Tidak mungkin punya waktu untuk hal-hal ke
Baca selengkapnya

Bab 570

Makanan baru saja disajikan sehingga uap panas masih mengepul.Saat Nadine melihat lagi, semuanya adalah makanan favoritnya. Dia menarik kursi dan duduk. "Sudah lama menunggu?"Aditya menggeleng. "Aku juga baru sampai. Pak Stendy yang paling duluan."Jadi, jelas bahwa semua hidangan ini juga dipesan olehnya.Benar, hari ini adalah pertemuan pertama dari "satu minggu sekali" mereka bertiga.Stendy mengambil tas Nadine dan menggantungkannya di rak, lalu kembali duduk. "Kalau begitu ... kita makan sambil bahas saja? Supaya makanannya nggak keburu dingin.""Oke."Mereka mulai makan. Nadine dan Aditya sudah terbiasa dengan tempat ini, jadi mereka makan dengan santai. Namun, ternyata Stendy juga tampak cukup terbiasa.Jika dipikir lagi, dia bahkan bisa makan nasi campur di restoran kecil dekat proyek. Jadi, restoran seperti ini jelas bukan masalah baginya.Aditya diam-diam mengaguminya."Ehem." Setelah menghabiskan dua potong iga, Aditya meletakkan sendoknya dan berdeham, lalu berkata, "Aku
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
5556575859
...
68
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status