All Chapters of Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan: Chapter 541 - Chapter 550

673 Chapters

Bab 541

Menjaga jarak, tidak mendekat. Itu baik untuk dirinya maupun untuk Reagan. Itulah yang terbaik untuk mereka.Nadine merapikan dokumen dan pena. Tiba-tiba, pria di depannya bergumam dengan pelan, "Tapi, aku masih menganggapmu sebagai teman ...."Nadine berbalik dan pergi. Reagan menatap punggungnya, lalu mengalihkan pandangannya dengan tenang.Dia mengangkat cangkir dan menyesap kopinya. Rasa pahit langsung menyebar di seluruh mulutnya.Namun, ekspresinya tetap tak berubah. Jarinya mengusap perlahan bibir cangkir, matanya tertuju pada cangkir di seberangnya, yang baru saja diminum Nadine.Seingatnya, Nadine selalu menyukai kopi dengan susu. Karena dengan begitu, rasa pahitnya akan berkurang.Reagan mengambil cangkir itu dan mencicipinya sedikit. Ternyata benar. Dia tidak salah menebak.Mereka telah hidup bersama selama 6 tahun, bukan 6 bulan, bukan 6 hari. Siapa bilang dia tidak mengenalnya? Dia mengenalnya lebih dari siapa pun. Jadi ....Reagan menyipitkan mata, menatap ke luar jendela
Read more

Bab 542

Meskipun sudah beberapa kali bertemu, hubungan mereka belum cukup dekat untuk mengobrol santai.Namun, jelas sekali Jinny tidak berpikir begitu. Dengan natural, dia memulai percakapan, "Kamu baik-baik saja, 'kan? Kemarin kamu duduk di depan gerbang kampus selama itu, nggak masuk angin?"Reagan tetap diam, tidak ada keinginan untuk berbicara. Jinny juga tidak keberatan. Dia melanjutkan sendiri, "Kamu juga datang untuk minum kopi? Kopi di kafe ini memang enak. Dibandingkan kafe lain di sekitar sini, rasanya lebih enak.""Aku sudah mencoba beberapa varian. Kalau nggak salah, yang kamu pegang itu adalah amerikano khas mereka, 'kan? Rasanya memang pekat dan harum, tapi sedikit pahit. Akan lebih enak kalau dipadukan dengan kue."Reagan mendengarkan suara lembut gadis itu. Tatapannya tiba-tiba menjadi agak nakal, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.Jinny sontak merinding melihat tatapan pria itu, tetapi dia tetap mempertahankan senyumannya. "Kamu ... kenapa menatapku seper
Read more

Bab 543

Jinny sangat sadar bahwa jika dia menerima tawaran itu, hubungan mereka hanya akan menjadi sebatas transaksi, jauh sekali dari apa yang sebenarnya dia inginkan.Namun, jika dia menolak, Reagan pasti akan langsung berdiri dan pergi begitu saja, tanpa peduli padanya. Selain itu, ini mungkin satu-satunya kesempatan yang dia miliki untuk mendekati Reagan!"Oke, aku setuju." Jinny tersenyum santai, seolah-olah ini bukan masalah besar. "Toh cuma pura-pura, 'kan? Kalau dipikir-pikir, aku malah untung."Sekarang memang pura-pura, tetapi di masa depan? Siapa yang tahu? Asalkan dia diberi waktu ....Reagan menunduk sedikit, ekspresinya tetap datar. "Oke, manti aku akan minta asistenku siapkan kontrak, kamu tinggal menandatanganinya."Hitam di atas putih, semuanya harus jelas agar tidak ada masalah. Itu adalah pelajaran yang dia dapatkan dari Eva.Jinny tersenyum dan mengangguk. "Oke." Namun, hatinya mendadak terasa berat. Ternyata, dia benar-benar tidak ingin ada keterikatan. Bahkan, dia sangat
Read more

Bab 544

"Tapi frekuensi larimu ini ...." Bukankah terlalu sering? Orang yang tidak tahu mungkin mengira dia sedang latihan untuk maraton ....Arnold hanya tersenyum. Jika diperhatikan baik-baik, ada sedikit rasa bersalah tersembunyi di balik senyumannya.Nadine bertanya lagi, "Akhir-akhir ini laboratorium nggak sibuk?""Hm, sebagian pekerjaan sudah kuserahkan ke Calvin."Sementara itu, Calvin yang bekerja keras di laboratorium dengan kesal tiba-tiba bersin. "Achoo! Achoo! Siapa yang membicarakanku?"Arnold bertanya, "Sudah sarapan?"Nadine mengangguk. "Sudah, kamu?""Sudah juga. Ada rencana apa hari ini?"Nadine berpikir sejenak. "Nggak ada, cuma membaca beberapa jurnal.""Kemarin temanku dari Provinsi Diro mengirimkan sekotak jamur liar, kamu ambil saja."Jamur liar? Itu barang langka!"Kenapa kasih aku? Kamu sendiri nggak mau?"Arnold tertawa ringan. "Aku jarang masak di rumah. Kalau disimpan terlalu lama, bisa rusak. Jadi, lebih baik kamu yang ambil.""Ya sudah, aku terima dengan senang hat
Read more

Bab 545

Mereka mencuci mangkuk bersama, juga merapikan dapur bersama. Terakhir, mereka keluar rumah bersama untuk membuang sampah.Nadine mengenakan jaket tebal, mengambil kantong sampah, lalu melangkah keluar. Arnold juga kembali ke rumahnya sebentar, lalu keluar lagi dengan dua kantong besar di tangannya."Sudah berapa lama kamu nggak buang sampah?""Setengah bulan ...?"Tak disangka, seorang profesor akan seperti ini. Untungnya, isinya hanya kotak dan kantong plastik, tidak ada sisa makanan atau kulit buah yang bisa membusuk."Ayo."Saat mereka turun, mereka berpapasan dengan pasangan lansia yang tinggal di gedung yang sama. Pasangan itu baru saja selesai membuang sampah dan berjalan pulang dengan bergandengan tangan. Mereka bertemu tepat di depan pintu."Oh, Arnold dan Nadine juga mau buang sampah?""Ya." Arnold mengangguk sopan.Si nenek tersenyum ramah pada Nadine. "Hari ini kamu masak apa? Dari bawah saja sudah tercium aromanya."Nadine membalas, "Hotpot jamur.""Oh! Pakai jamur yang Ar
Read more

Bab 546

Nadine selalu penasaran, apakah Arnold sebenarnya memakai parfum atau tidak. Hanya saja, pertanyaan seperti itu rasanya kurang pantas untuk ditanyakan. Jadi, untuk sementara, dia hanya bisa menyimpannya dalam hati.Nadine tersenyum canggung. "Terima kasih, aku lupa bawa syal waktu keluar tadi ...."Sebenarnya, bukan lupa. Lebih tepatnya, dia malas. Dia mengira akan langsung kembali setelah membuang sampah. Apa gunanya memakai syal?Apakah Arnold benar-benar tidak mengerti maksudnya? Atau dia hanya berpura-pura bodoh, lalu diam-diam menyerahkan syalnya tanpa banyak bicara?"Tadi kamu tanya kenapa mereka nggak punya anak, 'kan? Bukan karena mereka nggak mau, tapi kondisi kesehatan Bu Letti nggak memungkinkan."Pada zaman itu, seorang wanita yang tidak bisa melahirkan anak hampir seperti dijatuhi hukuman sosial. Keluarga Kuro tidak bisa menerima hal itu dan memaksa mereka bercerai.Letti merasa bersalah, juga tidak ingin terus mempertahankan hubungan mereka dengan beban tersebut. Akhirnya
Read more

Bab 547

Nadine bergegas merapikan dirinya, mengenakan jaket tebal, lalu berlari menuruni tangga sambil mengenakan syal.Begitu sampai di bawah, dia melihat sekelompok anak-anak sudah keluar dengan berbagai alat bermain salju. Salju pertama di musim dingin tahun ini tentu saja terasa istimewa.Di luar keramaian itu, Arnold berdiri di bawah pohon yang tertutup salju, tersenyum padanya.Mata Nadine berbinar. Dia segera berlari ke arahnya. Begitu mendekat, dia baru menyadari ada sebuah ember di dekat kaki Arnold. Di dalamnya terdapat penjepit bola salju, sekop kecil, garu plastik ....Bahkan, penjepit bola salju itu bukan hanya satu, tetapi ada banyak dengan berbagai bentuk!"Ini semua ...." Nadine menelan ludah.Arnold berkata dengan tenang, "Untuk kamu main."Apa? "Profesor, aku ini bukan anak kecil ...."Namun, dua menit kemudian, Nadine melambaikan tangan dengan penuh semangat, "Lihat bebek ini! Bentuknya mirip sekali, 'kan?" Dinosaurus kecil ini juga, lucu banget!""Profesor, pakai sekop keci
Read more

Bab 548

"Profesor, Profesor, jangan jalan begitu cepat ...!" Nadine buru-buru mengejar.Setelah Nadine susah payah menyusul, Arnold berbalik dengan ekspresi pasrah. "Seru sekali ya?"Nadine langsung mengangguk seperti anak ayam mematuk beras. "Banget!" Ini benar-benar menyenangkan!Arnold menghela napas. "Tapi, sarung tangan dan syalmu sudah basah.""Nggak apa-apa!" timpal Nadine langsung."Lima belas menit yang lalu, kamu juga bilang begitu. Katanya, main sebentar lagi lalu pulang."Eh! Nadine melongo, dia bilang begitu? Kenapa dia tidak ingat?Arnold berkata, "Ayo pulang. Kalau mau main lagi, harus ganti sarung tangan, syal, dan sepatu dulu."Nadine menunduk dan baru sadar kalau sepatu botnya sudah basah kuyup. Dia sendiri tidak merasa, tetapi Arnold justru lebih dulu menyadarinya."Baiklah." Akhirnya, Nadine menurut dan naik ke atas. Diam-diam, dia mengambil ember dari tangan Arnold yang berisikan semua alat bermain saljunya. "Biar aku saja yang bawa ini."Arnold hanya bisa terdiam. Nadine
Read more

Bab 549

"Aku cek di internet, ternyata standar kelayakan perusahaan konstruksi untuk membangun laboratorium sangat tinggi, beda dengan membangun rumah biasa.""Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan sistem keamanan setelah laboratorium selesai dibangun. Ini akan jadi tantangan besar bagi kebanyakan perusahaan konstruksi."Tiga sekawan sedang berkumpul di sebuah kafe.Nadine menyeruput kopinya, lalu membagikan informasi yang sudah dia kumpulkan kepada dua temannya.Di depan Mikha adalah dua porsi tiramisu. Dia makan dengan fokus, tetapi tetap memasang telinga."Ayahku kenal banyak mandor konstruksi, beberapa punya proyek di Kota Juanin. Tapi kemarin aku tanya, mereka cuma bisa bangun rumah biasa, nggak bisa bangun laboratorium."Nadine menghela napas. "Kalau urusan teknis, memang harus orang yang profesional."Darius menambahkan, "Selain itu, lebih baik kita juga menyewa desainer khusus yang bisa menjadi jembatan komunikasi antara kita dan perusahaan konstruksi. Kalau nggak, bisa terjadi
Read more

Bab 550

Nadine ikut senang mendengarnya. "Baiklah. Kalau begitu, aku pesan ya!""Tentu saja!" Meskipun begitu, Nadine hanya memesan dua lauk daging, satu sayuran, dan satu sup.Aditya terdiam sejenak. "Cuma ini?""Ya, sudah cukup.""Nggak bisa, harus tambah dua menu lagi.""Jangan! Dua orang saja nggak bakal habis! Kak, hari ini kamu benaran minta diporoti ya?"Aditya tertawa. "Sesekali diporoti adik sendiri nggak masalah.""Serius, nggak perlu. Jangan sampai mubazir nanti.""Ya sudah, terserah kamu saja."Aditya memesan dua kaleng bir. Tidak lama kemudian, makanan datang dan mereka mulai makan sambil mengobrol."Gimana kuliahmu? Sudah mulai terbiasa? Kamu sudah simpan nomor teleponku, 'kan? Kalau butuh bantuan, langsung hubungi aku."Mereka sama-sama jauh dari rumah. Sebagai kerabat, mereka tentu harus saling mendukung dan menjaga."Sejauh ini aman-aman saja. Ada beberapa masalah, tapi masih bisa aku atasi sendiri.""Baguslah, ayo makan." Aditya tersenyum sambil mengambilkan makanan untuk Nad
Read more
PREV
1
...
5354555657
...
68
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status