Share

Bab 542

Author: Patricia
Meskipun sudah beberapa kali bertemu, hubungan mereka belum cukup dekat untuk mengobrol santai.

Namun, jelas sekali Jinny tidak berpikir begitu. Dengan natural, dia memulai percakapan, "Kamu baik-baik saja, 'kan? Kemarin kamu duduk di depan gerbang kampus selama itu, nggak masuk angin?"

Reagan tetap diam, tidak ada keinginan untuk berbicara. Jinny juga tidak keberatan. Dia melanjutkan sendiri, "Kamu juga datang untuk minum kopi? Kopi di kafe ini memang enak. Dibandingkan kafe lain di sekitar sini, rasanya lebih enak."

"Aku sudah mencoba beberapa varian. Kalau nggak salah, yang kamu pegang itu adalah amerikano khas mereka, 'kan? Rasanya memang pekat dan harum, tapi sedikit pahit. Akan lebih enak kalau dipadukan dengan kue."

Reagan mendengarkan suara lembut gadis itu. Tatapannya tiba-tiba menjadi agak nakal, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

Jinny sontak merinding melihat tatapan pria itu, tetapi dia tetap mempertahankan senyumannya. "Kamu ... kenapa menatapku seper
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Aprilia
Reagan mau masuk ke lobang yg sama
goodnovel comment avatar
Zidan Kasan
Reagan caramu salah, dengan cara ini justru Nadin akan kembali ilfeel sama kamu dan mencap kamu hidung belang yg demen Gonta ganti pasangan, dan Nadin justru makin menjauh darimu
Tignan lahat ng Komento

Kaugnay na kabanata

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 543

    Jinny sangat sadar bahwa jika dia menerima tawaran itu, hubungan mereka hanya akan menjadi sebatas transaksi, jauh sekali dari apa yang sebenarnya dia inginkan.Namun, jika dia menolak, Reagan pasti akan langsung berdiri dan pergi begitu saja, tanpa peduli padanya. Selain itu, ini mungkin satu-satunya kesempatan yang dia miliki untuk mendekati Reagan!"Oke, aku setuju." Jinny tersenyum santai, seolah-olah ini bukan masalah besar. "Toh cuma pura-pura, 'kan? Kalau dipikir-pikir, aku malah untung."Sekarang memang pura-pura, tetapi di masa depan? Siapa yang tahu? Asalkan dia diberi waktu ....Reagan menunduk sedikit, ekspresinya tetap datar. "Oke, manti aku akan minta asistenku siapkan kontrak, kamu tinggal menandatanganinya."Hitam di atas putih, semuanya harus jelas agar tidak ada masalah. Itu adalah pelajaran yang dia dapatkan dari Eva.Jinny tersenyum dan mengangguk. "Oke." Namun, hatinya mendadak terasa berat. Ternyata, dia benar-benar tidak ingin ada keterikatan. Bahkan, dia sangat

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 544

    "Tapi frekuensi larimu ini ...." Bukankah terlalu sering? Orang yang tidak tahu mungkin mengira dia sedang latihan untuk maraton ....Arnold hanya tersenyum. Jika diperhatikan baik-baik, ada sedikit rasa bersalah tersembunyi di balik senyumannya.Nadine bertanya lagi, "Akhir-akhir ini laboratorium nggak sibuk?""Hm, sebagian pekerjaan sudah kuserahkan ke Calvin."Sementara itu, Calvin yang bekerja keras di laboratorium dengan kesal tiba-tiba bersin. "Achoo! Achoo! Siapa yang membicarakanku?"Arnold bertanya, "Sudah sarapan?"Nadine mengangguk. "Sudah, kamu?""Sudah juga. Ada rencana apa hari ini?"Nadine berpikir sejenak. "Nggak ada, cuma membaca beberapa jurnal.""Kemarin temanku dari Provinsi Diro mengirimkan sekotak jamur liar, kamu ambil saja."Jamur liar? Itu barang langka!"Kenapa kasih aku? Kamu sendiri nggak mau?"Arnold tertawa ringan. "Aku jarang masak di rumah. Kalau disimpan terlalu lama, bisa rusak. Jadi, lebih baik kamu yang ambil.""Ya sudah, aku terima dengan senang hat

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 545

    Mereka mencuci mangkuk bersama, juga merapikan dapur bersama. Terakhir, mereka keluar rumah bersama untuk membuang sampah.Nadine mengenakan jaket tebal, mengambil kantong sampah, lalu melangkah keluar. Arnold juga kembali ke rumahnya sebentar, lalu keluar lagi dengan dua kantong besar di tangannya."Sudah berapa lama kamu nggak buang sampah?""Setengah bulan ...?"Tak disangka, seorang profesor akan seperti ini. Untungnya, isinya hanya kotak dan kantong plastik, tidak ada sisa makanan atau kulit buah yang bisa membusuk."Ayo."Saat mereka turun, mereka berpapasan dengan pasangan lansia yang tinggal di gedung yang sama. Pasangan itu baru saja selesai membuang sampah dan berjalan pulang dengan bergandengan tangan. Mereka bertemu tepat di depan pintu."Oh, Arnold dan Nadine juga mau buang sampah?""Ya." Arnold mengangguk sopan.Si nenek tersenyum ramah pada Nadine. "Hari ini kamu masak apa? Dari bawah saja sudah tercium aromanya."Nadine membalas, "Hotpot jamur.""Oh! Pakai jamur yang Ar

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 546

    Nadine selalu penasaran, apakah Arnold sebenarnya memakai parfum atau tidak. Hanya saja, pertanyaan seperti itu rasanya kurang pantas untuk ditanyakan. Jadi, untuk sementara, dia hanya bisa menyimpannya dalam hati.Nadine tersenyum canggung. "Terima kasih, aku lupa bawa syal waktu keluar tadi ...."Sebenarnya, bukan lupa. Lebih tepatnya, dia malas. Dia mengira akan langsung kembali setelah membuang sampah. Apa gunanya memakai syal?Apakah Arnold benar-benar tidak mengerti maksudnya? Atau dia hanya berpura-pura bodoh, lalu diam-diam menyerahkan syalnya tanpa banyak bicara?"Tadi kamu tanya kenapa mereka nggak punya anak, 'kan? Bukan karena mereka nggak mau, tapi kondisi kesehatan Bu Letti nggak memungkinkan."Pada zaman itu, seorang wanita yang tidak bisa melahirkan anak hampir seperti dijatuhi hukuman sosial. Keluarga Kuro tidak bisa menerima hal itu dan memaksa mereka bercerai.Letti merasa bersalah, juga tidak ingin terus mempertahankan hubungan mereka dengan beban tersebut. Akhirnya

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 547

    Nadine bergegas merapikan dirinya, mengenakan jaket tebal, lalu berlari menuruni tangga sambil mengenakan syal.Begitu sampai di bawah, dia melihat sekelompok anak-anak sudah keluar dengan berbagai alat bermain salju. Salju pertama di musim dingin tahun ini tentu saja terasa istimewa.Di luar keramaian itu, Arnold berdiri di bawah pohon yang tertutup salju, tersenyum padanya.Mata Nadine berbinar. Dia segera berlari ke arahnya. Begitu mendekat, dia baru menyadari ada sebuah ember di dekat kaki Arnold. Di dalamnya terdapat penjepit bola salju, sekop kecil, garu plastik ....Bahkan, penjepit bola salju itu bukan hanya satu, tetapi ada banyak dengan berbagai bentuk!"Ini semua ...." Nadine menelan ludah.Arnold berkata dengan tenang, "Untuk kamu main."Apa? "Profesor, aku ini bukan anak kecil ...."Namun, dua menit kemudian, Nadine melambaikan tangan dengan penuh semangat, "Lihat bebek ini! Bentuknya mirip sekali, 'kan?" Dinosaurus kecil ini juga, lucu banget!""Profesor, pakai sekop keci

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 548

    "Profesor, Profesor, jangan jalan begitu cepat ...!" Nadine buru-buru mengejar.Setelah Nadine susah payah menyusul, Arnold berbalik dengan ekspresi pasrah. "Seru sekali ya?"Nadine langsung mengangguk seperti anak ayam mematuk beras. "Banget!" Ini benar-benar menyenangkan!Arnold menghela napas. "Tapi, sarung tangan dan syalmu sudah basah.""Nggak apa-apa!" timpal Nadine langsung."Lima belas menit yang lalu, kamu juga bilang begitu. Katanya, main sebentar lagi lalu pulang."Eh! Nadine melongo, dia bilang begitu? Kenapa dia tidak ingat?Arnold berkata, "Ayo pulang. Kalau mau main lagi, harus ganti sarung tangan, syal, dan sepatu dulu."Nadine menunduk dan baru sadar kalau sepatu botnya sudah basah kuyup. Dia sendiri tidak merasa, tetapi Arnold justru lebih dulu menyadarinya."Baiklah." Akhirnya, Nadine menurut dan naik ke atas. Diam-diam, dia mengambil ember dari tangan Arnold yang berisikan semua alat bermain saljunya. "Biar aku saja yang bawa ini."Arnold hanya bisa terdiam. Nadine

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 549

    "Aku cek di internet, ternyata standar kelayakan perusahaan konstruksi untuk membangun laboratorium sangat tinggi, beda dengan membangun rumah biasa.""Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan sistem keamanan setelah laboratorium selesai dibangun. Ini akan jadi tantangan besar bagi kebanyakan perusahaan konstruksi."Tiga sekawan sedang berkumpul di sebuah kafe.Nadine menyeruput kopinya, lalu membagikan informasi yang sudah dia kumpulkan kepada dua temannya.Di depan Mikha adalah dua porsi tiramisu. Dia makan dengan fokus, tetapi tetap memasang telinga."Ayahku kenal banyak mandor konstruksi, beberapa punya proyek di Kota Juanin. Tapi kemarin aku tanya, mereka cuma bisa bangun rumah biasa, nggak bisa bangun laboratorium."Nadine menghela napas. "Kalau urusan teknis, memang harus orang yang profesional."Darius menambahkan, "Selain itu, lebih baik kita juga menyewa desainer khusus yang bisa menjadi jembatan komunikasi antara kita dan perusahaan konstruksi. Kalau nggak, bisa terjadi

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 550

    Nadine ikut senang mendengarnya. "Baiklah. Kalau begitu, aku pesan ya!""Tentu saja!" Meskipun begitu, Nadine hanya memesan dua lauk daging, satu sayuran, dan satu sup.Aditya terdiam sejenak. "Cuma ini?""Ya, sudah cukup.""Nggak bisa, harus tambah dua menu lagi.""Jangan! Dua orang saja nggak bakal habis! Kak, hari ini kamu benaran minta diporoti ya?"Aditya tertawa. "Sesekali diporoti adik sendiri nggak masalah.""Serius, nggak perlu. Jangan sampai mubazir nanti.""Ya sudah, terserah kamu saja."Aditya memesan dua kaleng bir. Tidak lama kemudian, makanan datang dan mereka mulai makan sambil mengobrol."Gimana kuliahmu? Sudah mulai terbiasa? Kamu sudah simpan nomor teleponku, 'kan? Kalau butuh bantuan, langsung hubungi aku."Mereka sama-sama jauh dari rumah. Sebagai kerabat, mereka tentu harus saling mendukung dan menjaga."Sejauh ini aman-aman saja. Ada beberapa masalah, tapi masih bisa aku atasi sendiri.""Baguslah, ayo makan." Aditya tersenyum sambil mengambilkan makanan untuk Nad

Pinakabagong kabanata

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 675

    "Cepat sekali?" tanya Nadine dengan terkejut.Arnold mengangguk pelan, lalu kembali mengeluarkan sebuah termos dari ranselnya. "Kamu kehujanan, bajumu juga basah. Minum sedikit air hangat dulu, biar tubuhmu lebih hangat."Ternyata dia membawa termos berisi air hangat.Air dengan suhu sekitar 50 derajat itu langsung memberikan rasa hangat sejak menyentuh lidah. Begitu masuk ke perut, bagian atas tubuhnya pun mulai terasa lebih nyaman.Nadine tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Pak Arnold bahkan bawa air hangat juga?"Arnold tidak menjawab. Saat dia tak sengaja mengangkat kepala, matanya bertemu dengan tatapan menyelidik dari Stendy."Pak Arnold bawaannya lengkap banget, ya?" tanya Stendy.Arnold menjawab tenang, "Aku terbiasa mempersiapkan semuanya dulu baru berangkat. Kalau cedera Nadine tadi lebih serius dan aku nggak bawa perlengkapan, akibatnya bisa fatal."Stendy terdiam. Dia merasa agak tersindir.Nadine buru-buru mengalihkan topik. "Oh iya, Pak Arnold hafal jalan pulang n

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 674

    "Stendy, aku di sini!" teriak Nadine sekuat tenaga untuk merespons.Zona hutan tropis di kawasan tanaman itu sangat rimbun. Karena pepohonan menjulang lebat, jarak pandang pun terbatas. Siapa pun yang belum familier dengan area ini, sangat mudah untuk tersesat.Saat Stendy memasuki area itu, dia memang sempat bertanya pada Mikha. Namun, yang dia dapatkan hanya perkiraan arah secara umum. Semakin dalam dia melangkah, cahaya semakin redup. Hingga akhirnya, sama sekali tidak ada penerangan yang bisa menembus masuk.Gelap total.Meskipun membawa senter, dengan luas area sebesar ini, cahaya kecil itu hanya bisa menerangi sebagian kecil jalan. Demi keamanan dan mempercepat pencarian, dia terus berjalan sambil memanggil nama Nadine.Untungnya, malam itu peruntungannya cukup baik.Setelah berjalan selama kurang lebih setengah jam dan menyusuri jalan yang dipenuhi genangan air, saat dia hendak mengubah arah pencarian, tiba-tiba terdengar suara jawaban dari kejauhan. Itu Nadine!"Jangan bergerak

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 673

    Saat Clarine kembali ke kamarnya, dia tidak sengaja mendengar dua staf yang berbicara. Katanya, pihak atasan sedang memberi tekanan pada mereka. Bahkan ada tokoh penting yang langsung turun tangan dan mengeluarkan ultimatum."Kalau orang itu nggak ditemukan, kalian semua siap-siap angkat kaki!"Siapa yang punya pengaruh sebesar itu? Latar belakang sehebat itu? Siapa yang bisa punya dukungan sekuat itu?Clarine hanya merasa darahnya mendidih. Rasanya ingin langsung keluar dan membentak kedua staf itu. "Dia punya pengaruh apaan? Latar belakang apaan? Cewek itu cuma barang bekas yang sudah dipermainkan habis-habisan sama kakakku!"Jadi, saat Reagan menelepon, insting pertamanya adalah "ini pasti karena Nadine"."Tadi kamu bilang Nadine hilang? Kenapa bisa? Sekarang kamu di mana?" Suara Reagan langsung meninggi. Dia langsung duduk tegak fan tangan yang menggenggam gelas hampir menghancurkan kaca itu.Clarine tertegun. "Eh ... jadi Kakak bukan nelepon karena kabar Nadine?"Mata Reagan memer

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 672

    Cahaya bulan bersinar terang, angin malam berembus kencang dan menusuk. Namun di dalam bar, suasananya hangat seperti musim panas .... Philip mengadakan acara minum-minum dan sekelompok orang sedang seru-serunya bermain kartu."Pair dua! Menang! Hahaha, Ferrari-mu jadi milikku sekarang!""Curang! Curang! Ayo ulang satu ronde lagi!""Eh, kalah sedikit saja langsung teriak curang? Ya sudah deh, kasih kamu satu ronde. Tapi kalau ronde selanjutnya aku menang lagi, rumahmu yang di Bayview Residence juga masuk taruhan!""Oke!"Hanya sebuah rumah dan satu mobil, bukannya tidak mampu!Philip sendiri tidak ikut bertaruh. Dia hanya duduk di samping menikmati keramaian. Saat satu ronde kartu selesai, dia menoleh dan melihat Reagan duduk sendirian di sofa sambil menenggak minuman dengan wajah muram."Kak, baru datang kenapa langsung minum? Tuh, yang lain lagi main gede-gedean. Nggak mau ikutan satu ronde?"Reagan tidak terlalu berminat. "Kalian saja yang main."Sambil bicara, dia kembali menuang a

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 671

    Langit telah gelap sepenuhnya. Jarum jam hampir menunjukkan pukul tujuh dan konferensi akademik itu pun sampai pada penghujung acara. Saat pembawa acara menyebutkan nama Arnold, semua mata tertuju padanya. Dia melangkah ke atas panggung, bersiap menyampaikan pidato penutup.Di tengah pidatonya, ponselnya bergetar dua kali. Namun, dia tidak punya kesempatan untuk menjawab.Entah mengapa, sebuah firasat buruk tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya. Kelopak matanya juga berkedut tanpa henti. Arnold buru-buru merangkum beberapa topik utama konferensi. Gaya penyampaiannya tetap mantap, pandangannya luas, dan isi pidatonya berbobot.Para hadirin mendengarkan dengan antusias dan terus mengangguk.Namun, bagi mereka yang sudah terbiasa mendengarkan laporan-laporannya, jelas merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Arnold. Biasanya, Arnold memaparkan materi dengan runtut dan terperinci. Namun hari ini, dia seperti ingin buru-buru menyelesaikan semuanya.Setelah mengakhiri pidatonya dengan s

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 670

    Rasanya Kaeso ingin melompat untuk memberikannya tamparan. "Kamu bodoh ya? Sudah jam segini, staf kebun pasti sudah pulang! Kamu kira bisa ketemu mereka?"Marvin menggaruk kepala, ragu sejenak. Dia akhirnya memutuskan, "Entah bisa atau nggak, tetap harus dicoba. Kita nggak bisa cuma diam saja!"Tanpa menunggu tanggapan dari Kaeso, dia langsung berbalik dan berlari ke tempat staf biasanya berada.Menyadari tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka harapkan dari Kaeso, Darius dan Mikha memutuskan untuk terus melanjutkan pencarian mereka.Namun, ini aneh. Sepanjang perjalanan, mereka sudah melintasi hampir seluruh zona A, tetapi tak menemukan satu orang pun.Mikha hampir menangis. "Gimana ini? Kak Nadine hilang hampir 2 jam dan kita masih mutar-mutar tanpa solusi!"Melihat air mata Mikha mulai berlinang, Darius yang awalnya masih bisa tenang, akhirnya benar-benar panik juga."Kamu ... kamu jangan nangis, kita 'kan sedang berusaha ....""Tapi, sudah ada solusinya belum? Belum! Hiks .... A

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 669

    "Oke!"Tanpa membuang waktu, Mikha dan Darius langsung berlari ke arah zona A, area terdekat yang kemungkinan masih ramai.Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Kaeso dan rombongannya. Melihat wajah keduanya yang panik, Kaeso segera menebak ada sesuatu yang terjadi. Akan tetapi, mengingat hubungan mereka selama ini tidak akur, dia sengaja menghalangi jalan mereka."Eh, kenapa buru-buru begitu? Mau ke mana sih? Cerita dong," ucapnya dengan nada mengejek.Mikha sudah malas berurusan dengannya. Kalau ini situasi biasa, dia pasti akan membalas dengan beberapa sindiran tajam. Namun, sekarang yang ada di kepalanya hanya keselamatan Nadine.Namun, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Kaeso ini sangat pintar cari muka. Di perjalanan tadi, Kaeso terus mengobrol dengan dosen pembimbing. Mungkin dia punya nomor kontaknya?"Kaeso, kamu tahu nomor dosen pembimbing nggak? Kita butuh bantuan mereka, ini benar-benar darurat!"Kaeso mengangkat alis dan memutar bola matanya. Darurat ya .... "Kebetulan ba

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 668

    Nadine hanya bisa mencari tempat untuk berteduh. Semua orang tahu bahwa pohon dapat menarik petir, jadi berlindung di bawahnya bukan pilihan.Dalam kilatan cahaya saat petir menyambar, langit sesaat menjadi terang. Nadine melihat tidak jauh dari sana ada sebuah batu besar setinggi pinggang, dengan bagian tengahnya cekung membentuk celah alami. Meskipun sempit, jika dipaksakan, mungkin cukup untuk satu orang berteduh.Hujan semakin deras. Rintikannya menghantam tubuh Nadine hingga terasa agak menyakitkan. Dia mempercepat langkahnya, berusaha berjalan menuju batu itu sesuai perkiraan arah.Namun, tepat saat hampir sampai, dia malah terpeleset. Dia kehilangan keseimbangan, tubuhnya terjatuh ke depan.Tempat ini adalah lereng yang cukup curam. Begitu jatuh, tubuhnya langsung terguling ke bawah tanpa bisa dihentikan. Dia refleks menutup kepala dan wajah dengan tangan, mencoba melindungi diri.Satu-satunya hal yang sedikit melegakan adalah lereng ini ditumbuhi tanaman sehingga terasa cukup e

  • Tak Sudi Merajut Cinta Dengan Mantan   Bab 667

    Itu adalah hutan entada yang sangat besar!"Ayo cepat ke sini! Di depan ada hutan entada yang sangat besar!" seru Nadine dengan gembira. Mendengar itu, Mikha dan Darius segera berlari mendekat.Entada adalah tanaman kacang yang sangat terkenal. Asalnya dari Provinsi Walo, Florasia, lalu diperkenalkan ke daratan utama. Biasanya, entada tumbuh di lereng gunung atau di hutan campuran, merambat di pohon-pohon besar.Darius mendongak, menatap pohon-pohon entada yang menjulang. Batangnya yang tebal saling melilit, akarnya menjulur hingga 50 meter ke sumber air, membentang di antara pepohonan seperti raksasa yang sedang bersembunyi.Awalnya Darius hanya terkagum, tetapi sekarang dia merasa sangat senang. "Entada bisa tumbuh hingga satu meter panjangnya. Bisa digunakan sebagai obat atau koleksi, dan harganya di pasaran sangat mahal. Ini jelas bisa dihitung sebagai tanaman langka."Nadine mengangguk. "Tapi, hutan entada ini cukup luas. Menemukan entada mungkin nggak mudah. Matahari juga hampir

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status