Keduanya berdiri di observatorium, menyaksikan matahari terbenam bersama.Matahari merah perlahan-lahan tenggelam, dari bentuknya yang bulat penuh, menjadi separuh, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya, hanya menyisakan semburat jingga yang belum sirna."Ayo pergi, sudah waktunya pulang," kata Nadine."Oke, aku antar kamu."Angin berembus pelan, tatapan mereka bertemu. Yang tampak di mata masing-masing hanyalah ketenangan.Di dalam mobil, setelah menerima telepon, Nadine menoleh ke arah Reagan. "Tolong antar aku ke kampus, profesorku mencariku.""Oke."Saat langit hampir sepenuhnya gelap, mobil berhenti di depan gerbang Universitas Brata. Reagan turun lebih dulu dari kursi pengemudi, berjalan ke sisi penumpang, lalu membukakan pintu untuknya.Nadine membungkuk keluar dari mobil, berdiri tegak, lalu menatapnya perlahan. "Aku sudah memenuhi janjiku padamu. Semoga kali ini kamu nggak mengingkari janjimu lagi."Reagan menatap wajah Nadine yang tetap tenang. Tanpa sadar, dia ingin menggeng
Magbasa pa