Semua Bab Suami Baruku Ternyata Paman Mantan Suamiku: Bab 191 - Bab 200

310 Bab

Bab 191

Ivory melirik lawan bicaranya sekilas. Setelah ragu sejenak, dia menelan kembali kata-kata yang sudah sampai di ujung lidahnya itu.Kala itu, saat orang tersebut menerjang ke arah Arieson, sebelum dia bisa bereaksi, Rhea sudah menerjang ke arah Arieson dan melindunginya dari tusukan pisau tersebut.Samar-samar, dia bisa merasakan perlakuan Rhea terhadap Arieson berbeda. Namun, saat bertemu di perusahaan, kedua orang itu hanya saling menyapa, tidak pernah melakukan pergerakan yang terkesan intim.Jadi, dia juga tidak mengerti sebenarnya hubungan apa yang terjalin antara kedua orang tersebut.Saat dia tengah melamun, suara serius Rhea terdengar di telinganya. "Apa kamu nggak sadar bagian bawah kertas saring yang kamu gunakan untuk menyaring sudah bocor?"Ivory tersadar kembali. Dia buru-buru menundukkan kepalanya dan melihat sekilas. Benar saja, ada sebuah lubang di bagian bawah kertas saring, semua larutan itu sudah bocor ke bawah, bercampur dengan larutan yang sudah selesai disaring se
Baca selengkapnya

Bab 192

Kilatan terkejut melintasi mata Rhea. "Kejutan apa?""Kalau aku memberitahumu sekarang, apa masih bisa disebut dengan kejutan?""Baiklah."Setelah mereka berdua selesai membeli pakaian dan hendak pergi, siapa sangka mereka malah bertemu dengan Stella dan Siska.Kelihatannya mereka juga datang untuk membeli barang, tangan kedua wanita itu dipenuhi dengan bungkusan besar dan kecil."Kenapa kamu di sini? Malam-malam begini bukannya di rumah, kamu malah keluar untuk jalan-jalan. Selain itu gaun dalam genggamanmu itu, bekerja satu tahun pun kamu nggak akan mampu membelinya, 'kan? Putraku bekerja sangat keras untuk menghasilkan uang. Alih-alih membantunya, kamu hanya tahu menghambur-hamburkan uang."Siska menatap Rhea dengan tatapan penuh api amarah. Kalau bukan karena keberadaan Weni, hanya karena Rhea menggoda Arieson saja, malam ini dia juga tidak akan melepaskan Rhea.Weni tidak menyangka ternyata diam-diam Siska memperlakukan Rhea dengan begitu kejam. Dia mencibir. Saat dia hendak berbi
Baca selengkapnya

Bab 193

Namun, belakangan ini terlalu banyak kejadian yang menimpa Grup Thamnin. Sebagai manajer umum perusahaan, dia harus memprioritaskan urusan perusahaan.Rhea sama sekali tidak merasa kecewa, dia mengalihkan pandangannya ke bawah dan berkata, "Nggak ada yang kuinginkan, nggak beri hadiah pun nggak masalah."Jerico mengerutkan keningnya dan berkata, "Kalau begitu, aku akan menyiapkan hadiah sesuai ideku sebelumnya, ya?""Oke."Suasana di antara kedua orang itu berubah menjadi hening. Jerico menundukkan kepalanya, menatap wajah cantik wanita itu. Dia berharap Rhea akan berpesan padanya untuk berhati-hati sebelum dia berangkat dinas, sama seperti dulu. Namun, wanita itu hanya mengalihkan pandangan ke bawah tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berbicara.Pada akhirnya, dia sendiri juga tidak berharap lagi."Masih ada sedikit pekerjaan yang perlu kuselesaikan, kamu beristirahatlah lebih awal."Selesai berbicara, dia langsung berbalik dan pergi.Sekembalinya ke ruang baca, saat baru saja duduk, d
Baca selengkapnya

Bab 194

"Baik!"Tio menoleh menghadapnya, tampak agak ragu untuk bicara."Ada urusan apa lagi?""Bukan hal besar ... hanya saja ... ulang tahun Nona Rhea sudah hampir tiba, perlukah aku menyiapkan hadiah untuknya?"Arieson mengerutkan keningnya, menatap sekretarisnya itu dengan tatapan tidak senang."Apa hubungannya ulang tahunnya denganku?"Tio buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak ada ....""Kelak hal-hal yang berkaitan dengannya, nggak perlu laporkan lagi padaku. Dalam urusan bisnis, dia hanyalah seorang karyawan yang dikirim oleh Perusahaan Farmasi Yagin kemari. Dalam urusan pribadi, dia adalah istri keponakanku. Kami harus menjaga jarak."Tio menundukkan kepalanya dan berkata, "Baik, Pak Arieson. Aku sudah mengerti."Maudi pulang ke rumah dengan diliputi amarah menggebu-gebu. Setelah Gilbert Tessa, ayah Maudi tahu Rhea tidak setuju untuk membantu, dia langsung memarahi Maudi dan meminta putrinya untuk menemui Rhea lagi hingga Rhea setuju untuk membantu.Hati Maudi diliputi
Baca selengkapnya

Bab 195

Dia bergegas berlari menghampiri Weni. Karena terlalu panik, dia langsung terjatuh tepat di samping sabahatnya itu.Mata Weni tertutup rapat, pakaiannya terlihat compang-camping seperti dirobek orang, bahkan ada bekas tamparan di wajahnya.Melihat darah segar yang merembes dari bawah tubuh Weni, akhirnya Rhea baru tersadar untuk memanggil ambulans. Dengan tangan gemetaran, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Setelah mencoba untuk menekan nomor di ponselnya beberapa kali, akhirnya dia baru berhasil menekan tombol yang benar.Begitu panggilan telepon terhubung, dengan nada bicara panik, dia mengatakan ada orang yang terjatuh dari gedung. Hingga orang di ujung telepon menanyakan di mana dirinya saat ini, dia baru menyebutkan alamatnya dengan nada bicara terisak.Setelah mengakhiri panggilan telepon itu, Rhea tidak berani menyentuh Weni lagi. Sekujur tubuhnya gemetaran, bulir-bulir air mata terus bercucuran membasahi pipinya.Weni datang ke sini demi merayakan ulang tahunnya. Kal
Baca selengkapnya

Bab 196

Sorot mata Arieson langsung berubah menjadi muram. Dia berkata dengan dingin, "Kalau begitu, periksalah rekaman kamera pengawas di sekitar hotel.""Baik, aku mengerti."Setelah mengakhiri panggilan telepon, begitu Arieson berjalan kembali ke sisi Rhea, Rhea sudah berkata dengan suara serak, "Bagaimana? Apa sudah jelas apa yang terjadi?""Untuk sementara ini masih belum, tapi seharusnya nggak akan memakan waktu lama."Rhea mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke bawah dan berkata, "Paman, hari ini terima kasih banyak. Sekarang juga sudah larut, kamu pulang saja dulu, aku akan berjaga di sini sendiri."Arieson menundukkan kepalanya, melirik wanita itu sekilas. Wanita itu tampak sedang menundukkan kepala, kedua tangannya terkepal erat, tubuhnya masih gemetaran.Setelah terdiam sejenak, dia memutuskan untuk duduk di samping Rhea."Aku akan menemanimu."Rhea tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, dia hanya menundukkan kepalanya, berdoa agar Weni baik-baik saja.Tak lama kemudian, set
Baca selengkapnya

Bab 197

Sorot mata Arieson berubah menjadi luar biasa dingin. Dia menatap Citra dengan tatapan seperti ingin membunuh orang.Ditatap seperti itu oleh Arieson, Citra diliputi perasaan bersalah. Namun, mengingat putrinya masih berbaring di dalam ruang ICU sekarang, bahkan belum bisa dipastikan masih bisa sadar kembali atau tidak, amarah langsung menyelimuti hatinya."Pak Arieson, biarpun kamu akan menyerangku, aku juga nggak takut. Lagi pula, putriku sudah menjadi seperti ini. Aku hidup juga nggak ada artinya lagi!"Rhea segera melangkah keluar dari belakang Arieson. Dia mendongak menatap pria itu dan berkata, "Paman, Bibi Citra adalah ibu Weni. Weni mengalami kejadian seperti ini, wajar saja dia sangat marah. Aku baik-baik saja."Handoko menatapnya, lalu mendesah dan berkata, "Nona Rhea, sebaiknya kamu pulang dulu. Kalau kondisi Weni sudah membaik, aku akan memberitahumu."Walaupun Rhea ingin tetap berada di sini, tetapi dia juga tahu kalau dia tetap berada di hadapan Handoko dan Citra, hanya a
Baca selengkapnya

Bab 198

Sorot mata Arieson berbuah menjadi muram. "Belum, kamera pengawas hotel sudah dirusak. Aku sudah meminta Tio untuk memeriksa rekaman kamera pengawas di sekeliling hotel. Malam ini yang paling penting adalah beristirahatlah dengan baik. Adapun mengenai hal-hal lainnya, besok pagi baru kita bicarakan lagi.""Aku mengerti, terima kasih, Paman.""Nggak perlu berterima kasih. Walau mungkin sekarang kurang cocok untuk mengatakan kalimat ini, selamat ulang tahun, ya."Rhea tertegun sejenak, lalu berkata dengan suara rendah, "Terima kasih."Kalau Weni tidak bisa bangun lagi, mungkin hari ulang tahunnya di masa mendatang, dia tidak akan merasa bahagia lagi."Pergi istirahatlah.""Hmm."Rhea masuk ke dalam kamar tidur. Dekorasi di dalam kamar tidur juga tidak ada bedanya dengan ruang tamu, hanya ada tiga warna, yaitu hitam, putih dan abu-abu.Aroma samar menyelimuti kamar tidur tersebut. Rhea tidak bisa membedakan aroma apa itu, dia hanya merasa cukup wangi.Selesai mandi, dia berbaring di atas
Baca selengkapnya

Bab 199

Rhea menggigit bibir bawahnya dengan kuat, hingga aroma darah mulai menguar dalam mulutnya, dia juga masih enggan melepaskannya.Beberapa saat kemudian, dia baru berkata dengan dingin, "Jerico, apa hanya ini trik yang kamu punya?!""Kamu yang memaksaku. Aku hanya ingin tahu kamu pergi ke mana tadi malam, hanya itu saja. Kamu nggak bersedia memberitahuku, itu hanya akan membuatku merasa kamu merasa bersalah."Rhea menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan penuh penekanan, "Tadi malam aku menginap di rumah pamanmu."Sontak saja ucapannya ini langsung membuat orang di ujung telepon terdiam, suasana menjadi sangat hening dan menyesakkan.Rhea bisa merasakan dengan jelas napas Jerico menjadi berat. Dia berkata dengan perlahan, "Tadi malam terjadi sesuatu pada Weni. Saat itu suasana hatiku sedang nggak stabil, seharusnya dia khawatir aku pulang ke rumah dan berpikiran macam-macam, jadi ...."Jerico mencibir dan berkata, "Jadi dia membawamu ke rumahnya? Rhea, jangan bilang padaku, di saa
Baca selengkapnya

Bab 200

Di sisi lain, di rumah sakit, tak lama kemudian, Stella sudah menerima panggilan telepon dari Yurik. Setelah mengetahui Jerico memberikan donor ginjal itu pada ayahnya, dia sangat senang.Awalnya dia mengira masih butuh waktu sebelum Jerico menyetujui hal ini. Dia tidak menyangka pria itu setuju begitu cepat!Selanjutnya, dia hanya perlu mencari kesempatan untuk memberi tahu Rhea hal ini.Dia menundukkan kepalanya, mengusap-usap perutnya yang masih belum membuncit. Sorot mata penuh perhitungan tampak jelas di matanya.Sepanjang hari, Rhea sudah mencoba untuk menghubungi Jerico belasan kali, tetapi pria itu tetap tidak menjawab panggilan teleponnya.Sepertinya dia hanya bisa menunggu pria itu pulang dinas, baru menjelaskannya perlahan-lahan pada pria tersebut.Di dalam ruangan presdir.Sambil membawa dokumen, Tio mengetuk pintu dan berjalan memasuki ruangan. "Pak Arieson, kejadian tadi malam sudah ada sedikit petunjuk."Arieson meletakkan dokumennya, lalu mendongak menatap sekretarisnya
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1819202122
...
31
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status