Home / Romansa / Jatuh Cinta Pada Adik Musuh / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Jatuh Cinta Pada Adik Musuh : Chapter 21 - Chapter 30

177 Chapters

21. 500 Juta

"Kar," Bella menepuk bahu Sekar yang sedang menelungkupkan wajahnya ke atas meja. "Ngapa, Bell?" tanya Sekar. Gadis itu mengangkat kepalanya sambil menguap. "Kantin yuk!" Ucap Bella. Dia menggoyang tangan Sekar. Barusan Shaka mengiriminya chat agar mengajak Sekar ke kantin. Sekar menggelengkan kepalanya. "Lo sendiri aja gapapa, ya. Gue masih ngantuk." Sekar menguap lagi. Pura-pura. Sebenarnya dia tidak ingin ke kantin karena merasa tidak nyaman dengan tatapan para murid yang tertuju padanya. Seperti tadi pagi saat dia baru datang. Dan yang utama, Sekar malas ke kantin karena tidak ingin melihat Shaka. Bella menghela nafas. "Yaudah lo mau nitip apa, nanti gue beliin." "Gak usah. Gue udah bawa bekal roti, kok." Sekar menepuk tasnya yang sedikit menggembung. Akhirnya Bella ke kantin sendirian. Dia duduk di meja yang sama dengan Shaka dan teman-temannya. "Dia gak masuk, ya?" tanya Shaka begitu Bella duduk. Bella menggeleng, "Masuk. Tapi Sekarnya gak mau ke kantin. Katanya ngant
last updateLast Updated : 2024-04-14
Read more

22. Pipis Di Celana

Dewo sebenarnya tidak puas dengan jumlah segitu tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Apalagi Sekar sudah bawa-bawa Omanya. "Omong-omong kakakmu bulan depan ulang tahun. Ada koleksi perhiasan keluaran baru kalau kamu mau kasih kado." "Hmm" Sekar mengangguk lemah. Adalah sebuah keharusan untuk Sekar melakukannya. Sekar melihat perban yang membalut tangan Dewo. "T-tangan ayah kenapa?" tanyanya. Dewo berdecak. "Ketumpahan kopi sama OB di kantor." Jawabnya. Dewo tak berlama-lama lagi. Setelah menyampaikan keperluannya, dia meninggalkan Sekar tanpa menyentuh kopi yang dipesankan Sekar. Sekar menatap punggung ayahnya yang semakin mengecil dengan tatapan sendu. "Sekar ulang tahun bulan kemarin, jangankan nyiapin kado. Ayah ingat aja Sekar gak yakin." *** "Loh, balik lagi?" Sekar menatap Kayden sinis. Tidak ada larangan untuk menjenguk pasien lebih dari satu kali. Kenapa pula Kayden repot-repot mengurusinya. "Calon imamkuh," Sekar tak meladeni Kayden lagi, tapi langsung menubruk John yan
last updateLast Updated : 2024-04-14
Read more

23. Gigi Ompong

"Gue ke kelas lagi aja deh." Sekar melengos. "Ih becanda, Sekar." Bella merengek. Dia memegangi tangan Sekar agar tidak benar-benar meninggalkannya. "Duduk di situ aja." Sekar menunjuk kursi yang letaknya paling jauh dari Shaka. Bella mengangguk. Dia mengikuti Sekar berjalan ke sana. "Tapi kata anak-anak lo udah baikan sama kak Shaka." Bella berbisik lagi. "Mana ada!" Sekar ngegas. "Katanya tadi pagi Kak Shaka nyamperin lo ke kelas. Dia senyum-senyum habis dari sana." Bella bertanya lagi. "Dia senyum bukan berarti ada sangkut-pautnya sama gue." Sekar mendengus sebal. Apalagi menyadari hampir seluruh pasang mata di sana memperhatikan ke arahnya dan Shaka bergantian. Dia merasa murid di Garuda ini tidak ada kerjaan sampai mengurusi kehidupan orang lain. "Ternyata belum baikan, ya?" Bella meluruhkan pundak. Padahal dia sudah sangat berharap mereka benar-benar berbaikan. "Jangan bahas dia lagi ah." Sekar berdecak. Matanya berkilat dingin. Tanpa Sekar sadari, sejak gadis itu memasu
last updateLast Updated : 2024-04-14
Read more

24. Yes Begadang

Gio mengangguk. "Gue selalu bawa kotak itu kemana pun satu bulan ini. Jaga-jaga kalau gak sengaja ketemu lo. Suka, kan?" Sekar mengangguk. Dia menjulurkan tangan kanannya. Gio membantu Sekar mengenakannya. "Sebenarnya gue bikin dua lagi, buat Kayden juga. Tapi dia gak mungkin mau nerima sekarang." Tak lupa Gio menunjuk gelang dengan model yang sama yang melingkar di tangannya sendiri. Sekar terdiam. Dia juga tidak bisa apa-apa. Padahal dulu mereka tidak terpisahkan sampai banyak yang mengira mereka kembar tiga. Tapi sekarang.... Sekar berdehem. Dia tidak ingin mengingat masa lalu. "Bang Kay ngapain aja pas nyerang lo?" Tanyanya kemudian. Gio cemberut. Mukanya sudah sehancur ini, apa masih harus bertanya lagi. "Hobi banget lo bikin orang kesel." Gio menarik pipi chubby Sekar. "Ya emang salah lo, ya." Sekar menjauhkan tangan Gio. Dia merebut telur gulung di tangan Gio. Miliknya sudah habis duluan. Sebenarnya masih ada tiga bungkus siomay dan bakso bakar, tapi Sekar rencananya ingi
last updateLast Updated : 2024-04-14
Read more

25. Uang Jajan Tambahan

Sekar bertepuk tangan saat mendapati tidak hanya tiga, tapi lima batang cokelat begitu dia memeriksa laci. Matanya berbinar-binar. "Woahh. Ada lima!" Shaka yang diam-diam mengintipnya terkekeh gemas. Sekarang dia percaya dengan yang dibocorkan Bella bahwa Sekar memang pecinta makan. Shaka meninggalkan kelas Sekar dengan hati yang berbunga-bunga. Dia tersenyum sepanjang jalan. Langkahnya terasa ringan. °°° "Udah berapa kali gue peringatin lo buat jauhin Shaka gue!" Sekar membuang pandangan. Dia sedang makan cokelat manis dari Shaka tadi pagi tapi rasa manisnya langsung hilang karena kemunculan Evelyn. "Gue lagi ngomong sama lo!" Evelyn menggeram karena Sekar tak mendengarkan. Kakinya menghentak kesal. Sekar memutar matanya. "Gue gak tertarik sama dia!" Evelyn menyipitkan mata sambil mencondongkan tubuhnya. "Lo ngomongin apa sama Shaka tadi pagi di gerbang sampai bisik-bisik?" Sekar terkekeh. "Lo penasaran?" Sekar kemudian mendekatkan wajahnya, "tanya aja sama Shaka lo itu." Eve
last updateLast Updated : 2024-04-15
Read more

26. Kakak Jeni

Dimas tersenyum sinis. "Sudah selesai?" tanyanya. Sekar segera mundur. Dia memonyongkan bibirnya karena diabaikan. Tadi saja sok suci menegur dia. Sekar mengepalkan tangannya. Jika bukan orang tua pasti orang itu sudah Sekar tonjok. Dimas memperhatikan Sekar yang mulai mengendarai motornya. Pandangannya rumit. Dia sebenarnya sudah lupa siapa nama gadis itu. Dimas ingat anak itu suka mengintili Kayden sejak anak itu duduk di kelas tiga SD. Dimas jarang pulang ke rumah, tapi saat dia pulang dia akan selalu melihatnya dan Gio di sekeliling Kayden. Sampai saat masuk SMA Kayden memilih tinggal di apartemen, Dimas tidak pernah lagi melihat gadis itu. Dia hanya tau dari Rendi bahwa Kayden sering mengunjungi Farah bersama gadis itu. Dia tidak tau Kayden ada hubungan apa dengannya. Dia juga sebenarnya tidak begitu peduli. Yang dia pedulikan di dunia ini hanya Farahnya seorang. °°° "Hai, babu-babuku." Sekar memasuki Rumah Sendiri dengan bertingkah seperti berjalan di atas red carpet. Tanga
last updateLast Updated : 2024-04-15
Read more

27. Pura-pura Bodoh

"Maafin gue dulu." pinta Shaka. "Ga-" "Lo yakin? Limapuluh cokelat loh ini. Kalo lo gak mau, cokelatnya gue bagiin ke anak-anak." "Jangan." Sekar menggigit bibirnya. Itu kan sudah punyanya. "Jadi gue dimaafin, kan?" Shaka menatapnya penuh harap. Sekar terdiam sebentar. Sekar sadar sebenarnya Shaka tidak akan berhenti mengganggunya sampai Sekar mau memaafkannya. Sekar menarik nafas dalam-dalam. "Kalo gue maafin lo, janji jangan ganggu gue lagi." ucap Sekar. "Oke. Tengkyu, sayang." Shaka tersenyum lebar. Perasaannya lega luar biasa. "Jijik." Sekar mendorong Shaka ke samping. Dia segera berlari turun menuju parkiran. Cokelatnya harus diamankan sebelum Shaka berubah pikiran. Shaka masih menatapnya yang semakin jauh. Perasaannya sungguh lega. Akhirnya dia bisa juga mendapatkan maaf Sekar. Sekarang tinggal satu langkah lagi untuk menjadikan Sekar pacar. *** Sekar kaget saat seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya di taman. Dia mencebik kesal setelah melihat orang itu. "Hai," Shak
last updateLast Updated : 2024-04-15
Read more

28. Sindikat Perdagangan Anak

Louis terkekeh gemas. Sekar mengikuti istrinya memanggil laptopnya sebagai selingkuhan Louis. Paman Gula Padahal paman kangen tau ghibah sama kamu. Tadi di bawah gak bebas, keluarga Dewo menyebalkan. Sok akrab sama paman. Sekar terkekeh. Dia berbalik telentang di atas kasurnya sambil membalas chat Louis. Sekar Cantik Paman sih ngasih oleh-olehnya cuma buat Sekar. Mahal pulak. Kan mereka iri 🤣🤣 Paman Gula Sengaja🤣🤣 Sekar Cantik Astaga paman. Tapi Sekar suka kok🤣🤣 Tok tok tok Pintu kamar Sekar diketuk. Lalu Louis masuk setelah mendapat izin Sekar. Louis masuk dengan laptop dan kopi hitamnya. Dia ikut bergabung di atas kasur. Sekar menatapnya sinis. Percuma pamannya di sini kalau tetap sibuk dengan laptopnya. "Sini nyender sama paman." Louis terkekeh dan menarik Sekar untuk bersandar di pundaknya. Sekarang Sekar bisa melihat apa yang dikerjakan Louis di laptopnya. "Kenapa kamu belum tidur, udah mau jam dua belas loh ini?" "Baru juga jam dua belas." Sekar mendengus.
last updateLast Updated : 2024-04-15
Read more

29. Misi Pencurian

Shaka mengangkat bahu acuh. Tapi sudut bibirnya berkedut. "Gatau. Tapi kantinnya emang udah pindah." Ucapnya. Sekar mengernyitkan dahi. Gadis itu berhenti berontak. Dia mengikuti ke mana Shaka melangkah. Tapi semakin lama, arah yang mereka lewati semakin mirip dengan arah kantin yang lama. Apalagi saat mereka benar-benar memasuki kantin. Posisinya benar-benar tidak bergeser seinchi pun. Wajah Sekar berubah masam. Shaka terkekeh. Dia telah diam-diam memperhatikan raut wajah Sekar sejak dia menggandengnya dari kelas. Dia menahan gemas sepanjang jalan. "Polos banget sih." Shaka mencubit pipi Sekar kemudian mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Sekar merasakan panas di kedua pipinya. Dia lalu berlari menghampiri Bella yang duduk di sebuah meja. "Lo kok ninggalin gue!" Sekar memeluk bahu Bella. Dia menyembunyikan wajahnya di sana. Rasanya dia ingin menangis saja. Dia malu karena mau-mau saja dibohongi Shaka. Apalagi barusan Shaka mencubit pipinya di depan kantin. Pasti semua orang
last updateLast Updated : 2024-04-16
Read more

30. Calon Mantu

Sekar menggeleng dan kemudian tersenyum miris. "Ibu gue gak pernah dimakamin. Jasadnya belum ketemu sampai sekarang." Shaka lagi-lagi terdiam. Tangannya mengepal tanpa sadar. Betapa ba-jingannya dia kemarin telah mengatai orang tua Sekar. "Bukan hal mudah buat gue ngungkit tentang ibu lagi. Gue udah maafin lo. Gue harap ini terakhir kali lo bahas ibu gue." "Dan gak usah natap kasihan gue kayak gitu. Gue gak butuh dikasihani!" tandasnya. Shaka yang dari tadi menatap gadis itu mau tidak mau mengalihkan pandangannya. Mendadak dia tidak tau apa yang harus dikatakan. °°° Sekar menatap gugusan bintang di atas sana dari balkon apartemennya. Sebatang rokok terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Sekar menyesap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke udara. Dia memperhatikan kepulan asap itu yang perlahan menghilang menyatu bersama udara yang dingin. Sekar terkekeh pedih. "Pasti enak kalo hidup jadi asap. Ringan. Ringkas. Gak berbekas." Mata Sekar kembal
last updateLast Updated : 2024-04-16
Read more
PREV
123456
...
18
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status