Semua Bab Jatuh Cinta Pada Adik Musuh : Bab 11 - Bab 20

177 Bab

11. Makam Manda

Nafas lelaki itu menderu. Telunjuknya menunjuk Kayden tepat di muka. "Yang sopan kamu sama orang tua!" "Tua-tua bangsat kayak lo gak perlu pake sopan santun." Kayden berdecak sambil memeriksa jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Dasar pemuda gak berakhlak. Dari dulu saya sudah gak suka kamu berteman dengan anak saya. Kamu itu cuma bawa pengaruh buruk untuknya!" Ucap orang itu. Suaranya yang besar membuat beberapa orang memperhatikan mereka. "Malu om, sok-sokan bawa-bawa akhlak, sendirinya jadi penipu." Kayden tersenyum miring. "Jaga mulut kamu, ya!" Telunjuk pria tua itu kembali mengacung. Matanya melotot. Mukanya merah hingga ke telinga. Kayden terkekeh dan melambaikan tangannya. Sebenarnya dia masih ingin meladeni orang tua itu, tapi seseorang berseragam satpam di dekat pintu sana membuat Kayden mengurungkan niatnya. "Gelutnya di luar aja, ya, mas Kay. Saya titip satu bogem mentah di perut." Ucap satpam itu saat Kayden melewatinya. Kayden meliriknya sebal. "Be
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-03-05
Baca selengkapnya

12. Rindu yang Nyata

Sekar menatap hamparan pasir putih di depannya yang sesekali diderai ombak dari laut biru di depannya. Sekar menatap ke kejauhan. Ada rasa rindu yang besar di matanya. Rindu yang tak pernah bisa dia obati. Sekar menghirup nafas dalam dan mengeratkan genggamannya pada dua plastik besar yang ditentengnya. Dia melangkah menuju rumah besar berbahan kayu yang berdiri sendiri tak jauh dari pantai itu. Pohon kelapa melambai di sisi kiri kanan rumah itu. Langkah Sekar semakin dekat. Dia tersenyum melihat ayunan di halaman rumah itu. Membayangkan dirinya kecil yang duduk di atas sana dengan dua anak laki-laki yang menjaganya di sisi kiri kanannya. Sekar kecil akan menjerit-jerit jika keduanya mengisenginya dengan lemparan ayunan yang besar. Sekar menghela nafas panjang. Betapa waktu cepat berlalu. Sekar tiba di depan pintu. Dia memegang hendel dan memutarnya pelan. Lalu berjingkat-jingkat saat memasuki lebih dalam bagian rumah itu. Sekar melewati ruang tamu. Matanya tak sengaja melihat pig
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-03-06
Baca selengkapnya

13. Buang Kayden ke Laut

Sekar menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Gadis itu menikmati terpaan angin lembut yang menerbangkan rambutnya. Bunyi deburan ombak menenangkan pikirannya. Sekar membuka matanya dan melihat rumah Marni yang terlihat kecil dari tempatnya. Gadis itu tersenyum kecil. "Makasih ibu udah kirim bude buat Sekar." Kepalanya mendongak menghadap langit. "Ibu apa kabar?" Katanya lagi. Tangannya menyentuh permukaan air laut yang hangat karena terkena paparan sinar matahari. Sekar teringat kata-kata Shaka di sekolah tadi. Gadis itu menggigit bagian dalam bibirnya. "Tadi ada yang ngatain ibu. Maaf Sekar gak bisa ngelakuin apa-apa buat bela ibu. Sekar gak berdaya. Sekar lemah." Suaranya bergetar. Matanya mulai berembun lagi. Sekar kemudian menggelengkan kepalanya. "Gak. Sekar gak boleh cengeng." Tidak. Dia tidak boleh menangis. Ibunya akan sedih jika melihatnya seperti ini. Sekar menepuk-nepuk pipinya. Jangan sampai dia menangis lagi. Gadis itu mendongak lagi. "Ibu apa kabar? Kalo
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-03-29
Baca selengkapnya

14. Bintang Paling Terang

Sekar menatap Kayden sambil menutup mulutnya dramatis, "Abang beneran mau Sekar buang, ya? Tapi badan bang Kay berat, Sekar sama bude gak akan sanggup. Tapi nanti kalau bang Kay emang pengen banget, bang Kay nanti jalan aja ke ujung dermaga, nanti Sekar bantu ikat tangan sama kaki abang, ya. Terus nanti Sekar bantu dorong juga." Sekar menepuk-nepuk punggung Kayden. Kenapa Kayden merasa seolah dialah yang ingin dibuang. Rautnya langsung berubah masam. Dia memulai makannya tanpa menghiraukan Sekar lagi. "Ngomong-ngomong nak Kayden," Marni berhenti sejenak dan melirik Sekar dengan ujung mata. Tangannya memuntir ujung baju yang dikenakannya. "Bude nolak tawaran Sekar tadi?" Sekar cemberut melihat gelagat budenya. Pasti bude ingin meminta bantuan Kayden untuk menolak tawarannya. Jangan sampai dia gagal berbisnis dengan paman tamp-, maksudnya paman baik hatinya. "Tawaran apa nih, bude kok sekarang main rahasia-rahasiaan sama Kayden? Bude udah gak anggap Kayden anak lagi, ya?" Sekar berg
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-03-30
Baca selengkapnya

15. Pemuja Visual

Sekar menatap bintang paling terang dan membayangkan ibunya sedang menatapnya sambil tersenyum dari atas sana. Lagi-lagi dia teringat ucapan Shaka tadi pagi. Gadis itu menggigit bibirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Kayden yang diam-diam memperhatikan dari tadi merangkul gadis itu. Sebelah tangannya mengusap rambut Sekar. "Nangis aja, gak perlu ditahan. Ada abang di sini. Abang selalu ada buat kamu." Kayden merangkum wajah Sekar kemudian menariknya masuk ke dalam pelukannya. Dia sudah menduga ada yang tidak beres dengan Sekar hari ini. Sekar tidak mungkin nekat ke rumah pantai begitu saja jika tidak terjadi apa-apa. Sekar memeluk Kayden dan air matanya mulai membasahi kaos pemuda itu. Kayden mengepalkan tangannya mendengar tangisan gadis itu. "Nangis lah, keluarin semua kesedihan kamu." Kayden berbisik dan mencium puncak kepala gadis itu. "Dia ngatain hal buruk tentang ibu. Hati Sekar sakit dengarnya. Ibu orang baik. Ibu Sekar orang baik." Sekar memukul-mukul dada Kayden. Air mat
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-04-01
Baca selengkapnya

16. Garang Seperti Ibu-ibu

Mata Sekar melotot. Dia tidak habis pikir apa yang menarik dari diri Evelyn hingga membuat Shaka sempat jatuh hati. Gadis itu berdecih. Ternyata hanya seperti itu tipe idaman Shaka. "Gak habis pikir kan lo? Sama gue juga. Apa bagusnya nenek lampir itu. Gue curiga jangan-jangan Shaka dipelet." Ucap Kayden lagi. Sekar terkekeh. Dia jadi ikutan curiga. "Dah, jangan bahas si nenek lampir, males gue. Tidur yuk, udah mau subuh kayaknya." Kayden menggendong Sekar menuju rumah pantai. "Besok Sekar gak sekolah aja, ya~" Sekar mengedip-ngedipkan matanya. "Oke, kapten." Kayden mengiyakan. "Tumben bang Kay gak marah-marah?" Sekar menyipitkan mata. "Besok gak tiba-tiba Sekar udah diiket dan dibawa pulang buat sekolah, kan? Sekar udah pernah ngalamin. Sering!" Kayden terbahak kemudian mengecup kening Sekar sebentar, "hari ini udah sangat berat buat kamu. Gapapa besok abang izinin bolos. Nanti abang yang bilang sama wali kelas kamu." Sekar menaikkan tubuhnya dan mengecup rahang Kayden. "S
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-04-05
Baca selengkapnya

17. Geng Motor Tanpa Musuh

"Abang tuh kakinya masih dibungkus kayak mumi. Jangan banyak gerak dulu." Sekar menghela nafasnya. "Sini tidur dekat abang Bibin aja." Bintang menggoyang-menggoyangkan tangannya. Sekar terdiam. Luka Bintang lebih banyak daripada John. Itulah alasan kenapa Sekar lebih memilih ikut dengan John daripada Bintang. Sekar memijit tangan Bintang. "Kata dokter, kaki bang Bibin gak boleh banyak gerak dulu, nanti makin lama sembuhnya." Bintang mengangguk, "bakal cepat sembuh kalo ada Sekar." "Aduh aduh... Tangan abang, Kar, kayaknya minta dipijat-pijat juga." John merintih-rintih dari brankarnya. Bintang memutar mata dengan kesal. "Gak bisa lu ya, liat gue manja manja bentar!" Dia melototi John. Sekar menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Sekar lalu menyeret kursinya ke tengah-tengah dan duduk di sana dengan tangan terlipat di dada. "Loh, Kar...." John menatapnya dengan tidak puas. Begitu juga Bintang. "Kamu di sini aja sama abang. Kamu pasti masih ngantuk, kan? Ayo~" John me
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-04-05
Baca selengkapnya

18. Smansa

Shaka tersenyum tipis dan menyentuh rusuk kirinya dengan penuh perasaan. Satu tahun yang lalu geng mereka pernah bertarung melawan Fonza dan sekali waktu dia kebetulan berhadapan dengan adik angkat Kayden. Shaka menahan terjangan gadis itu yang dengan mantap menargetkan perutnya. Shaka menahan kaki gadis itu yang salah mendarat akibat Shaka yang memundurkan tubuhnya tiba-tiba. Mata mereka bertatapan. Shaka seperti ditarik tenggelam dalam pesona mata indah itu. Dari matanya saja Shaka bisa menjamin gadis itu adalah gadis yang sangat cantik. Sayangnya dia tak pernah bertemu gadis itu lagi. Bayangan tentang kontak singkat itu juga sudah tidak berapa jelas lagi di ingatan Shaka. Perempuan tangguh sekaligus menawan seperti itu, sungguh sangat beruntung jika dia bisa mendapatkannya. "Seharusnya dia udah masuk SMA sekarang. Gue penasaran dia masuk SMA mana kira-kira." Bara terus bercerita. Berhubung topik ini menarik jadi Vernon tidak berniat memarahinya karena mengajaknya bergosip macam pe
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-04-05
Baca selengkapnya

19. Bapak Atitut Nol

"Kar, satu Garuda juga udah tau ya pas kak Shaka cegat motor lo waktu di parkiran kemarin. Apalagi ada yang sempet moto mata lo yang merah waktu itu. Akun gosip sekolah semuanya isinya tentang lo sama kak Shaka." Sekar cemberut. Kenapa murid-murid Garuda ini suka sekali mengurusi masalah orang lain. "Kar, jadi lo nangis di taman itu karena kak Shaka? Dia ngapain lo?" Tanya Bella. Sekar menghela nafas panjang. "Bukan apa-apa, kok. Lo gak perlu khawatir." Bella mengerucutkan bibirnya. "Pokoknya kalo ada apa-apa lo harus cerita, ya. Bella siap jadi pendengar yang baik." "Iya iya, bawel." Sekar terkekeh sebelum kemudian menutup sambungan telepon mereka. Shaka yang diam-diam menempelkan telinga di depan pintu kamar Bella menghela nafas berat dan meninggalkan kamar bella dengan lunglai. Sekar meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dan panggilan masuk dari kontak lain datang. Sekar mendengus membaca nama yang muncul di layar. "Kok gak diangkat, lagi? Cowok lo, ya?" Bintan
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-04-05
Baca selengkapnya

20. Pahlawan Mangga Muda

Sekar merasakan punggung Kayden semakin bergetar. Akhirnya gadis itu tak bisa menahan diri. Dia ikut menangis bersama Kayden. "Bang Kay masih punya Sekar." Katanya bergetar. "Jangan pernah tinggalin gue, Kar." Bisik Kayden. Dia memeluk Sekar lebih erat. "Sekar gak akan pernah ninggalin abang." Sekar menggigit bagian dalam bibirnya. Air matanya jatuh semakin deras. "Gue butuh lo. Tolong jangan tinggalin gue juga. Cuma lo yang gue punya sekarang." Sekar mengangguk kuat-kuat. "Pasti. Sekar akan terus ada buat abang. Sekar gak akan ninggalin abang." Rendi memperhatikan mereka dari balik tembok. Hatinya bergetar menyaksikan bagaimana rapuhnya anak majikannya. Melihat mereka membuat Rendi terbayang dengan anak-anaknya di rumah. Laki-laki itu mengusap sudut matanya dengan punggung tangannya °°°°° "Tuan," Rendi membungkuk hormat setelah memasuki ruangan Dimas. Dia menyerahkan berkas rekam medis Farah di tangannya. Satu jam setelah Kayden dan Sekar meninggalkan rumah sakit, Rendi
last updateTerakhir Diperbarui : 2024-04-14
Baca selengkapnya
Sebelumnya
123456
...
18
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status