Bagi Emely Erlania William, yang baru berusia 21 tahun, Blue Sinclair adalah pria yang paling ia benci—penghancur kepercayaannya, dan sumber luka yang belum sembuh. Ia bersumpah untuk menjauhi pria berusia 39 tahun itu selamanya, hingga takdir mempertemukan mereka lagi dalam situasi yang mengubah segalanya. Malam itu, di sebuah club malam, Emely terjebak dalam bahaya. Blue muncul sebagai penyelamat, namun ia datang dengan harga yang tak main-main. Dengan rahasia Emely di tangannya, Blue menawarkan pilihan yang tak bisa ditolak: menyerahkan kebebasannya, atau menghadapi kehancuran. Dipaksa menandatangani perjanjian sebagai ‘Sugar Baby’, Emely kini harus menghadapi pria yang selama ini ia benci, sambil memerangi perasaan rumit yang mulai tumbuh. Blue yang dingin, manipulatif, dan memanggilnya “kucing liar” ternyata memiliki cara untuk mengunci dirinya dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Namun, siapa sebenarnya yang sedang bermain dalam permainan ini? Apakah Blue benar-benar ingin menjinakkan Emely, atau justru ia yang perlahan tunduk pada pesona liar gadis itu? Kebencian dan gairah seringkali tak berjarak, tapi beranikah Emely menghadapi pria yang kini memegang kendali atas hidupnya?
View MoreKalimat terakhir Emely seperti petir yang menyambar di tengah keheningan. Ronan terhenyak, tubuhnya menegang. Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu kehilangan ketenangannya. Tatapan dinginnya goyah, dan sebersit rasa terpojok terlihat di matanya. Blue pun tak berkata apa-apa. Emosinya yang sempat terpercik kini perlahan-lahan padam, digantikan oleh kekaguman pada Emely. Gadis itu tak hanya mampu mempertahankan ketenangannya, tetapi juga berhasil memukul balik Ronan dengan cara yang elegan. “Baiklah, Uncle,” ucap Emely dengan senyum tenang, matanya menatap lurus ke arah Ronan. “Aku akan menjawab satu per satu pertanyaan yang tadi Uncle ajukan kepadaku.” Keheningan memenuhi ruangan. Ronan tetap duduk dengan ekspresi datar, namun tatapannya menunjukkan rasa penasaran yang samar. Di samping Emely, Blue hanya menatapnya dengan senyum kecil, sementara Zara terlihat sedikit tegang, mengantisipasi apa yang akan dikatakan gadis itu.
Blue, yang duduk di samping Emely, hanya bisa menghela napas panjang. Ekspresinya menunjukkan rasa jenuh yang tak lagi bisa disembunyikan. Ia mulai muak dengan sikap ayahnya yang menurutnya tidak pada tempatnya.Berbeda dengan mereka, Emely justru merasa ini seperti permainan kecil yang menarik. Gadis itu terkekeh pelan dalam hati, tak terganggu sedikitpun oleh sikap dingin Ronan. Dengan tenang, ia menjawab, “Aku berkuliah, Uncle.” Suaranya begitu tenang.Ronan mengangguk pelan, namun sorot matanya jelas-jelas menunjukkan rasa meremehkan. Seolah jawaban Emely hanya memperkuat pandangan buruk yang telah ia simpulkan. “Di universitas mana kau berkuliah?” tanyanya, masih dengan nada datar.Tanpa ragu, Emely menjawab, “Di Columbia University. Aku adalah salah satu mahasiswa terbaik di sana.” Senyumnya mengembang, tapi tidak angkuh, lebih seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia miliki. “Maaf, Uncle. Bukan bermaksud sombong, tapi kurasa tak ada salahnya m
***Beberapa menit setelah selesai menyantap makan malam, Zara mengajak semua orang untuk kembali ke ruang keluarga. Mereka berjalan perlahan menuju ruangan luas itu.Tak lama setelah mereka duduk, dua pelayan datang dengan nampan perak, menyuguhkan minuman untuk semua orang. Jus apel segar, teh chamomile hangat, dan air mineral dengan irisan lemon tersaji di gelas-gelas kristal.Zara, sejak awal, tampak tak mau membiarkan suasana menjadi canggung. Wanita itu terus berusaha membuat Emely merasa nyaman di tengah sikap dingin Ronan yang kerap kali terasa seperti tembok tak tertembus. Dalam hati, Zara bertanya-tanya apakah Emely akan menjadi salah satu dari perempuan kebanyakan—lemah, mudah terintimidasi oleh tatapan dingin dan sikap tegas suaminya.Oh, tentu tidak. Emely jelas berbeda. Gadis itu tak semudah itu mundur. Bahkan dengan Blue, Emely tak segan melawan jika merasa diperlakukan tidak adil. Maka, menghadapi tatapan datar Ronan pun bukan
Blue yang memperhatikan dari samping hanya bisa tersenyum geli. Ia berusaha menahan tawa kecilnya, melihat betapa canggungnya Emely menghadapi Ibunya. Zara tampak sama sekali tidak terganggu dengan panggilan itu. Sebaliknya, ia tetap tersenyum lembut. “Justru kami yang berterima kasih, Nak, karena kamu sudah berkenan meluangkan waktu untuk datang ke kediaman kami,” ucapnya, membuat suasana menjadi lebih nyaman.Pertemuan pertama mereka tampak berjalan baik-baik saja, tanpa kendala atau suasana tegang yang Emely khawatirkan sebelumnya. Perlahan, Emely merasa lega. Kekhawatiran tentang calon mertua yang galak atau sulit diterima seolah sirna. Zara tidak seperti yang ia bayangkan—wanita itu terlihat hangat.Selanjutnya, Talia maju menyapa Emely dengan ramah, membuat suasana semakin cair.Zara lalu mengajak Emely dan Amara masuk ke dalam Mansion mewah. Langkah mereka menuju ruang keluarga, sebuah ruangan luas dengan dekorasi elegan.Zara sen
***Dengan perasaan gugup yang sulit disembunyikan, Emely melangkah keluar dari mobil ketika Blue dengan sigap membuka pintu untuknya. Malam itu, ia mengenakan gaun elegan berwarna emerald green dengan potongan high-neck yang anggun. Gaun tersebut membalut tubuhnya dengan sempurna, memancarkan keanggunan yang tak terbantahkan, hingga berhenti tepat di lututnya.Di sisi lain, Amara, gadis kecil itu, tampak tak kalah memesona. Ia mengenakan gaun dusty pink dengan lengan puff yang manis, rok tutu bertingkat yang mengembang, dan dihiasi pita satin besar di pinggang. Rambutnya yang tergerai rapi dilengkapi bando mutiara, memberikan kesan seperti seorang putri kecil yang anggun dan menggemaskan.Amara memegang tangan kiri sang Ayah dengan erat, sementara tangan kanan pria itu membantu Emely turun dari mobil dengan lembut. Emely menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kegugupan yang menyelimuti dirinya. Ia menatap pintu besar di depan
Beberapa hari kemudian…Setelah beberapa hari yang lalu, Emely akhirnya menyetujui permintaan Blue untuk bertemu dengan orang tua pria itu, terutama Ibunya. Kemudian, di hari itu Blue segera memberitahu Ibunya, Zara, yang menyambut kabar bahagia itu dengan antusiasme yang luar biasa.Malam ini adalah malam yang sangat dinanti oleh Zara. Setelah beberapa hari menunggu, malam ini akhirnya tiba juga, ketika putranya, Blue, akan datang ke Mansion untuk makan malam dan memperkenalkan kekasihnya. Zara semakin tidak sabar menunggu momen itu.Sejak siang, Zara dan Talia telah sibuk mempersiapkan menu makan malam yang akan menjadi hidangan untuk menyambut anggota baru dalam keluarga mereka. Semua persiapan dilakukan dengan penuh perhatian, memastikan segalanya berjalan sempurna. Dan kini, malam pun telah tiba. Semua persiapan telah selesai.Di ruang tengah Mansion Sinclair yang mewah, Zara duduk bersama suaminya, Ronan, dan putrinya, Talia. Mereka sedang m
“Hmm, dunia pun tahu itu. Makanya kamu sangat tergila-gila padaku,” balas Emely tanpa menoleh, nada suaranya datar namun jelas penuh percaya diri.Blue tertawa pelan. “Kau memang benar,” gumamnya pelan.Ia menegakkan tubuh dari sandarannya dan berjalan santai mendekati Emely, yang sedang fokus menuangkan minuman ke dalam gelas. Sesampainya di belakang Emely, Blue membawa kedua tangannya ke pinggang gadis itu, melingkarkannya dengan mesra.Emely sejenak membeku saat merasakan pelukan hangat pria itu, tetapi ia memilih untuk tak bereaksi.Blue menunduk sedikit, mengecup lembut pipi Emely. Bibirnya hanya menyentuh sekilas, namun sentuhan itu cukup untuk membuat Emely menarik napas dalam. “Aku tidak akan menyangkal,” bisik Blue dekat di telinganya. Suaranya rendah, hampir seperti gumaman, namun cukup jelas untuk membuat hati Emely sedikit bergetar. “Karena kenyataannya memang seperti itu. Aku tergila-gila padamu.”Dengan lembut, Blu
***Emely berdiri di teras rumah, pandangannya tertuju pada sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman. Mobil itu milik Arwen, sahabatnya. Ia mengamati saat mobil berhenti perlahan di samping kendaraan Blue yang terparkir rapi.Mesin mobil dimatikan, dan tak lama kemudian Arwen keluar dengan membawa laptop di lengannya. Dengan langkah santai, gadis itu mendekati Emely yang sudah menunggunya di teras.“Hay!” sapa Arwen ceria, mengulas senyum lebar.“Kamu terlambat dua menit,” sindir Emely, tangannya dilipat di dada.Arwen berhenti tepat di hadapan sahabatnya dan memutar bola matanya dengan malas. “Bersyukur aku masih mau nyamperin kamu ke sini!” balasnya ketus.Emely hanya tertawa kecil, menikmati reaksi Arwen yang khas.Namun, tawa itu terhenti saat suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Arwen menoleh ke arah pintu dengan rasa penasaran. Beberapa detik kemudian, sosok Blue muncul, berjalan dengan tenang namun p
Emely tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah Blue dengan sorot mata penuh kekaguman dan sedikit senyum di sudut bibirnya. Tangannya tetap bekerja, mengurut dengan lembut batang keperkasaan Blue, sesekali memberikan remasan kecil yang membuat pria itu menarik napas panjang. "Berapa lama kau ingin bermain?" tanya Blue, suaranya terdengar berat."Aku tidak bisa lama-lama," jawab Emely dengan nada parau, hampir berbisik. "Aku harus menyiapkan tugas kuliahku sebelum Arwen sampai."Blue mengangguk kecil. Kemudian, ia meraih pergelangan tangan Emely, menghentikan sentuhannya yang terus menggoda. Lalu, ia berpindah posisi, mengambil tempat di belakang tubuh ramping gadis itu. Sofa besar yang mereka duduki cukup luas, memungkinkan mereka berdua berbaring miring dengan nyaman.Emely mengerti tanpa perlu kata-kata. Ia meloloskan kain segitiga kecil yang membalut dirinya, lalu mengangkat gaun yang dikenakannya hingga cukup tinggi untuk memberi akses penuh pa
Azure Nightclub malam itu berdenyut dengan kehidupan. Musik EDM menggema memecah udara, dentumannya menggetarkan lantai marmer dan mengalir ke tubuh setiap pengunjung. Aroma minuman keras bercampur parfum mewah memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer yang menggoda dan penuh gairah.Di salah satu sudut lounge yang mewah, Emely Erlania William’s tampak tengah duduk bersama teman-temannya. Wajahnya yang cantik dan anggun memancarkan cahaya tersendiri meskipun dikelilingi oleh gemerlap dunia malam. Rambut panjangnya tergerai, berpadu sempurna dengan gaun hitam yang menonjolkan tubuh rampingnya yang penuh pesona. Ia baru saja kembali ke meja setelah puas berdansa di lantai dansa, bergerak bebas tanpa pengawasan, menikmati malam yang penuh kebebasan. Beberapa botol minuman baru telah dipesan dan berjajar rapi di atas meja. Teman-temannya tertawa dan bercanda. Suara mereka tenggelam dalam dentuman musik.Di salah satu sofa, seorang lelaki muda, yang juga bagian dari kelompok itu, tak dapat m...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments