Jatuh dan terpuruk waktu suaminya meninggal di depan matanya akibat kecelakaan tunggal saat dia hamil, Mei mengalami depresi. Kelahiran putranya yang seharusnya menjadi titik balik justru memperkeruh emosinya. Mei mengalami baby blue parah hingga membuat putra semata wayangnya terpaksa diasuh oleh sang mertua. Hal ini justru membuat sang ayah, Budi, jatuh sakit dan meninggal. Keadaan justru berbalik saat ayahnya meninggal. Mei mulai berjuang untuk pulih. Lalu saat kebahagiaan sudah di depan mata, Mei menyadari bahwa penyebab kecelakaan yang membuat suaminya meninggal dulu adalah ulah orang dekatnya. Siapa dia? Apakah Mei akan kembali terpuruk atau semakin bangkit untuk membalas dendam?
Lihat lebih banyak"Mei, maaf aku harus memberi kabar buruk untukmu hari ini." Mei sedang di kamar, menyortir laporan restorannya. Mendengar kalimat Dimas yang mencurigakan, dia langsung menghentikan kegiatannya.
"Ada apa, Dimas? Katakan!" desak Mei. Hatinya mendadak menjadi gundah.
Dimas adalah pemilik bengkel mobil langganan Mei. Dan Dimas tidak pernah meneleponnya seperti ini. Sepertinya Mei benar-benar akan mendengar berita yang sangat buruk hari ini.
"Beberapa hari yang lalu kau memintaku untuk memperbaiki mobilmu yang rusak akibat kecelakaanmu waktu itu. kau ingat?"
"Tentu! Tentu saja! Ada apa dengan mobil itu?"
"Ada yang aneh. Sepertinya ada yang sengaja meledakkan ban mobilmu hingga kau mengalami kecelakaan dengan suamimu."
Pensil yang sedang dipegang Mei langsung patah begitu saja karena dia meremasnya begitu kuat. Nafasnya seketika sesak seakan ada ratusan batu menghantam dadanya. Air matanya sudah terkumpul di ujung matanya. Dia harus melakukan sesuatu sebelum depresinya kembali muncul dan dia akan mengamuk.
Bayangan Albert, suaminya, meregang nyawa di depannya saat kecelakaan tunggal yang melibatkan mobil mereka melintas dengan cepat di pikirannya tanpa bisa dia cegah. Wajah tampan Albert penuh dengan darah. Kemejanya yang berwarna biru berubah merah karena darah. Mobil mereka berguling, menabrak semak-semak dan akhirnya berhenti setelah menghantam sebuah pohon di pinggir jalan.
Luka Mei tidak cukup parah. Untung saja perutnya yang berisi janin berumur empat bulan selamat dengan ajaib. Namun tidak untuk Albert. Matanya tertutup untuk selamanya tidak lama setelah kecelakaan itu.
Meski sudah lebih dari satu tahun, tapi bayang-bayang kecelakaan itu tidak bisa hilang sepenuhnya. Tangan Mei bergetar hebat. Dia sangat ingin bertemu Dimas sekarang, tapi itu tidak mungkin. Mungkin besok. Ya, besok saja. Sekarang dia harus segera bertemu Erik untuk menyalurkan rasa frustrasinya.
--
Seorang wanita tampak begitu fokus memberikan jab dan hook pada samsak di depannya. Peluhnya bercucuran membasahi kaos longgar dan celana panjang olah raga yang dipakainya. Matanya yang tampak dingin tidak dapat menutupi wajahnya yang cantik khas Indonesia. Dia tengah berkonsentrasi penuh meluapkan segala amarah yang terpendam di dalam dirinya, berharap benda mati yang tergantung di depannya itu mampu menyerap segala emosinya yang terpedam.
Pelatihnya yang bernama Erik setia berdiri di depannya sambil memegangi samsak. Berbagai instruksi dia ucapkan untuk wanita itu.
“Jab!”
“Lagi!”
“Left hook!”
“Right hook!”
“Again!
“Do it again, Mei! Fokus! Jangan kendor!”
Meilina nama wanita itu. Beberapa pasang mata memerhatikannya yang terus berlatih. Mei cukup populer di kalangan mereka karena Erik selalu memperlakukannya berbeda. Tekadnya yang kuat membuat kemampuan tinjunya berkembang sangat pesat.
Sang wanita tidak memedulikan tatapan laki-laki lain yang juga berlatih di sasana tinju itu. Dia adalah seorang ibu muda berusia dua puluh lima tahun yang ditinggal oleh dua orang terkasihnya, suami dan ayahnya. Kematian kedua orang itu yang berdekatan membuat Mei merasakan kesedihan yang mendalam. Hal itu memicu depresi dan baby blue.
“Kak, tolong biarkan aku membantumu. Jangan kau pendam sendiri seperti ini. Tidakkah kau merasa ayah dan Kak Albert bersedih jika melihatmu seperti ini?” Begitu kata Lili dulu. “Pikirkan Alan juga, Kak. Dia bukti cinta Kak Albert padamu. Jangan sia-siakan putramu!”
Mei yang merasa hidupnya sudah tidak berarti, tiba-tiba merasa tertampar dengan kalimat Lili. Ya, Alan, putranya dengan sang kekasih hati, Albert, yang baru berumur satu bulan memang membutuhkan dirinya, kasih sayangnya. Albert akan sangat sedih di atas sana melihat putra yang dia cintai justru disia-siakan oleh mamanya sendiri. Mei tidak ingin hal itu terjadi. Dia harus bangkit untuk merawat buah hatinya. Apalagi kini Alan sengaja dititipkan pada mertuanya karena mentalnya yang tidak stabil.
Mei langsung menyetujui kalimat Lili. Sang adik melonjak kegirangan. Akhirnya kakaknya yang terkena depresi dan baby blues kini mempunyai semangat untuk bangkit. Lili pun mengajaknya ke sebuah sasana yang direkomendasikan oleh temannya. Lili yakin olahraga adalah salah satu terapi terbaik untuk kakaknya. Itulah pertama kalinya Meli mengenal Erik. Lebih tepatnya, Erik adalah kakak Poppy, teman sekolah Lili.
Pria berumur dua puluh tujuh tahun itu menyambut hangat kedatangan Mei. Lili sudah menceritakan padanya tentang keadaan Mei meski hanya garis besarnya saja. Kesungguhan Mei untuk sembuh dan sehat membuat Erik selalu menatapnya dengan raut berbeda. Dan kini dia sudah sembilan bulan lamanya berlatih di sasana ini.
“Arghh!!” Dengan sekuat tenaga Mei memukul samsak sampai benda itu terpelanting.
Seluruh tenaganya sudah terkuras. Nafasnya memburu. Mei memejamkan matanya sebentar untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Sudah mendingan?” Erik mendekati Mei dan memberikan handuk serta satu botol air.
“Terima kasih,” ucap Mei tanpa menjawab pertanyaan sang pelatih, Erik.
Mei duduk di bangku tidak jauh dari samsak, mengelap keringatnya, dan meminum air di botol hingga menyisakan separuh.
“Mau menceritakannya padaku?" tanya Erik lagi.
Mei mengambil nafas dalam-dalam. "Dimas mengatakan kalau kecelakaan itu hasil rekayasa."
"Kecelakaanmu dan Albet?" Kening Erik berkerut. Dia tampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Mei mengangguk.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Mencari pelakunya, tentu saja!"
“Itu akan sangat berbahaya, Mei.”
Mei menatap Erik lekat-lekat. “Aku perlu meluapkan seluruh rasa frustrasiku, Erik! Bukankah kau selalu mengatakan itu? Aku harus mencari siapa pelakunya agar hidupku lebih tenang.”
Erik mengangguk. Pada akhirnya, dia setuju dengan Mei. "Aku akan membantumu."
Mei sontak menoleh. "Rik, ini tidak akan mudah. Siapa pun pelakukanya jelas menargetkan aku dan Albert. Kau bisa saja terluka."
Erik langsung terkekeh. "Apa kau lupa aku pelatih tinju dan mua thay?"
Mei terdiam. Erik memang ahlinya. Dan jujur saja sepertinya Mei memang akan membutuhkan tenaga Erik. Selain itu, Erik sudah menjadi sahabat yang baik untuknya selama sembilan bulan berlatih di sini.
"Baiklah. Kau ikut."
Senyum Erik langsung terbit. “Mau jalan?”
“Ke mana? Aku nggak mau terlalu jauh.”
“Nggak kok. Jalan kaki aja. Nggak jauh dari sini ‘kan ada banyak orang jualan. Masih sore juga. Jadi aku nggak ngajak kamu makan. Kita beli seblak atau pentol kesukaanmu. Kita juga butuh makan untuk mengejar penjahat.”
Membayangkan kuah gurih dan pedas seblak membuat air liur Mei menetes. Oh, betapa nikmatnya. “Oke,” jawabnya tanpa ragu. Matanya bahkan berbinar saat menjawab Erik.
Erik segera mengambil tas kecilnya. Begitu juga dengan Mei. Mereka pun keluar sasana setelah memakai jaket.
Sesuai rencana, Mei memilih seblak. Erik lebih memilih rujak buah. Mereka makan dengan lahap di sebuah bangku. Sore ini ada banyak orang di sini. Mungkin mereka baru pulang bekerja dilihat dari seragam yang mereka pakai. Ada juga anak-anak muda yang sedang berkumpul dengan teman-teman mereka. Untung saja Mei dan Erik masih bisa menemukan satu bangku kosong.
Selesai menghabiskan makanan, mereka pun kembali ke sasana.
“Sebaiknya aku pulang sekarang sebelum Lili pulang,” ucap Mei sambil membuka pintu.
“Aku lihat restoranmu semakin ramai," ucap Erik tiba-tiba.
Ya, uang pensiunan ayah dan suaminya sengaja Mei kelola menjadi rumah makan untuk menghidupi dirinya dan juga Lili. Karena mentalnya yang belum stabil, dia menunjuk manajer untuk mengelola rumah makan itu. Dan Lili sangat setuju dengan keputusan kakaknya.
Mei memiliki restoran yang menawarkan masakan khas Indonesia dengan tampilan modern dan artistik. Restoran itu cukup terkenal karena selain tampilannya yang menarik, gedung dan desain ruang yang nyaman, cita rasanya juga tidak mengecewakan. Rumah makan berkonsep industrial itu kini sudah memiliki tiga cabang, dua cabang di Surabaya dan satu lagi di Malang.
“Itu semua berkat manajernya. Aku hanya sesekali menengok,” sahut Mei.
“Kapan-kapan kau harus mentraktirku makan di sana,” goda Erik.
“Tentu! Setelah semua hal ini selesai, kita akan ke sana,” jawab Mei yakin. “Sudah ya! Aku juga belum menelepon Alan. Putraku itu pasti sudah menunggu.”
“Kau masih sering meneleponnya?”
Mei mengangguk. “Dia sudah hampir satu tahun. Sudah mulai mengerti dan mengenalku. Dia benar-benar anak yang pintar. Grandpa dan grandmanya merawatnya dengan baik. Aku berhutang budi pada mereka.”
“Alan cucu mereka juga. Jangan terlalu keras pada dirimu.”
Mei mengangguk. “Mungkin suatu saat aku akan mengajak Alan untuk tinggal denganku.”
“Kau akan menjadi ibu yang baik,” ucap Erik sambil menatap wajah di sampingnya dalam-dalam.
Mei menoleh. Mata mereka bertemu. “Terima kasih, Erik. Kau benar-benar sahabat yang baik.”
Erik hanya tersenyum dan mengangguk. "Keadaanmu sudah semakin baik, tapi kau masih harus tetap semangat!"
Mei mengangguk pasti.
Entah sampai kapan Mei menganggapnya sahabat. Erik berharap suatu saat Mei akan benar-benar bisa melihatnya sebagai seorang pria yang bisa diandalkan.
Mei pun berjalan ke arah loker untuk mengambil tas dan baju gantinya sebelum akhirnya pergi menjauh.
Erik terdiam. Dia hanya mampu menatap punggung wanita yang dia kagumi dari belakang. Mei, wanita cantik yang jatuh terpuruk karena kematian suami dan ayahnya dan kini mencoba bangkit. Bagi Erik, tidak ada wanita lain yang membuatnya terpaku selain wanita kuat seperti Meli.
“Aku berharap suatu saat kau mampu melihatku bukan sebagai sahabat atau coach-mu,” ucapnya dalam hati.
“Bos, jangan melamun terus! Ada yang perlu dilatih ini!” seru anak buahnya dari belakang.
Erik menoleh dan tertawa. Sebelum kembali melatih yang lain, dia menyempatkan kembali menoleh ke arah pintu yang baru saja menelan tubuh Mei dengan sempurna.
"Kau harus berjuang keras jika menyukainya, Bos! Dia tidak mudah ditaklukkan," goda anak buahnya.
Erik semakin tertawa keras mendengarnya. "Apa sekarang kau berperan menjadi mak comblang?"
Sudah empat hari berlalu, dan Erik sudah sembuh dari lukanya.“Apa kau yakin sudah baik-baik saja?” tanya Mei. Tangannya masih sibuk dengan bawang di dapur. Dia sedang memasak pasta untuk makan malam kali ini.“Aku sudah baik-baik saja, Mei. Apa kamu tidak percaya?” keluh Erik.“Iya, aku percaya,” jawab Mei terkekeh.“Tidak, kamu masih belum mempercayainya. Mungkin jika aku menggendongmu, baru kamu percaya.”Wajah Mei sontak memerah. “Jangan bercanda! Aku sedang memegang pisau. Awas saja kalau kau berani!”Erik terbahak-bahak melihat bagaimana ekspresi wanita yang disukainya itu. “Aku tidak akan berani,” ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya.“Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” tanya Erik.“Menemui Gunawan, mencari bukti keterlibatannya dengan Mary, lalu mengadili mereka berdua,” jawab Mei dnegan berapi-api.“Lalu Toni?”“Pria itu tidak tahu apa pun. Aku justru merasa kasihan padanya. Dia sudah dibohongi oleh dua orang yang dekat dengannya. Apa kau tahu bagaimana menyakitkan
Toni berjalan dengan tenang menuju meja panjang yang penuh dengan alat-alat penyiksaan. Ada gunting dan pisau dengan berbagai ukuran. Ada juga gergaji, tang, dan sebagainya. Di sebelahnya ada alat penghantar listrik. Dan yang tidak kalah seru, ada cincin tinju. Cincin itu yang paling Toni suka karena dia bisa melampiaskan amarahnya dengan hingga puas.“Kau boleh memilih, Bob. Apa kira-kira yang cocok untukmu?” Mata Toni menyisir seluruh benda yang ada di sana. Tangannya bergerak perlahan, memilih yang cocok untuk pembukaan.“Ha! Ambil saja sesukamu! Aku tidak takut. Justru sebenarnya kaulah yang harus takut. Apa kau tahu kalau polisi mulai menyelidikimu? Hahaha!!” Tawa Bobi membahana.DUGH!!Toni memukul ulu hati Bobi dengan sekuat tenaga, tanpa ampun. Dia begitu marah mendengar kalimat Bobi.“Argghh!!” Bobi menjerit dan memuntahkan darah yang cukup banyak. Dagu dan kaosnya semakin penuh dengan darah. Aroma amis semakin pekat memenuhi ruangan.Bobi mengernyit, menahan sakit. Perutnya
“Kenapa kau ada di dapur?” Mei mengerutkan keningnya melihat Erik yang sudah duduk manis di bar stool dengan dua cangkir cokelat di depannya.Erik menjawab pertanyaan Mei dengan senyum yang sangat menawan. “Aku sudah tidak apa-apa. Lukaku sudah sembuh.”“Jangan terlalu banyak bergerak. Nanti jahitanmu kembali terbuka.”“Jangan khawatir tentang itu!”Mei menggeser kursi di samping Erik dan mendudukinya. Erik pun mengulurkan satu cangkir cokelat. Mei membuka bungkus roti dan memberikannya pada Erik.“Aku sudah berbicara dengan Lily semalam dan pagi ini dia mengirimiku email. Sebentar!” Mei merogoh ponselya di saku, membuka aplikasi, dan menunjukkannya pada Erik.“Jadi pria itu kenalan anak buah Toni??”Mei mengangguk. “Setelah menusukmu, dia berlari keluar dan bertemu dengan orang kepercayaan Toni, Gunawan. Setelah semua ini, dia masih mengelak kalau dia tidak berhubungan dengan kasus itu?? Kurang ajar!!” Mata Mei memerah. Rahangnya mengetat. Tiba-tiba, kebenciannya pada Toni memuncak.
“Selidiki rekaman CCTV!” perintah Toni begitu dia mendengar Erik dan Mei diserang sesaat setelah keluar dari ruang private.Entah kenapa Toni merasa penyerangan itu berhubungan erat dengan penyelidikan yang sedang mereka lakukan. Namun, siapa orang yang begitu terang-terangan ingin menghabisi mereka? Bolet sudah di penjara. Tidak mungkin Mary sendiri begitu berani melukai Erik dan Mei di keramaian. Apalagi wanita itu dari tadi terus saja menghubunginya. Lalu siapa? Apakah ada orang lain yang berhubungan dengan kasus ini? Tapi siapa?Pertanyaan-pertanyan itu terus saja bergema di kepala Toni. Siapa selain Mary yang menginginkan Mei dan Erik celaka??Toni mengambil ponselnya. Dia mencoba menghubungi Gunawan. Namun, setelah dua kali panggilan, Gunawan tidak juga mengangkatnya. Toni berdecak. Ini sudah kedua kalinya Gunawan tidak mengangkat panggilannya. Tidak biasanya orang kepercayaannya berlaku seperti ini karena Gunawan tidak mungkin mengambil job dari orang lain.“Ini, Tuan.” Anak bu
Toni tersenyum miring melihat siapa yang meneleponnya sore ini. Dua kali Mary menelepon, tapi Toni terus mengabaikannya. Ini adalah pertama kali bagi pria itu tidak mengindahkan Mary. Dulu, Mary adalah prioritas hidupnya, tapi kini wanita itu prioritas amarahnya.Pria itu sudah mendarat di Jakarta tadi sore dan kini sedang duduk di sebuah private room di restoran. Tadi siang dia mengirim undangan makan malam kepada seorang pria dan wanita. Dan kini, dia sedang menunggu kedatangan mereka.Toni kembali menatap layar ponselnya yang berkedip tanpa berkeiginan untuk menjawabnya. Darahnya selalu mendidih mengingat pengkhianatan yang dilakukan Mary. Apa yang dilakukan wanita itu seakan membuatnya menjadi kambing hitam atas meninggalnya seorang pria bernama Albert. Toni berjanji dalam hati tidak akan membuat hidup Mary tenang.Suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian Toni. Seyumnya terbit dengan indah. Seorang laki dan perempuan memasuki ruang private restoran itu dengan pandangan datar
Hanya satu nama yang terlintas dalam benak Toni, tapi dia terus berusaha menghilangkannya. Semakin kuat dia mengingatnya, semakin kuat dia menyangkalnya.Bodoh!! Toni merasa sangat bodoh!! Kenapa dia tidak mengecek rekeningnya? Dia bisa tahu dari kartunya yang mana yang mengeluarkan uang untuk membayar Bolet."Cepat!!!" teriak Toni pada Wawan.Tanpa kata, Wawan menekan pedal gas lebih dalam. Dia tidak tahu apa yang membuat bos besarnya ini begitu ingin sampai bank dengan cepat. Wawan terus saja menekan gas dan klakson agar bisa cepat sampai. Sesekali dia melirik spion. Bos besarnya itu terus saja memandang jalanan dengan kening berkerut. Lima belas menit kemudian, Wawan sudah menghentikan mobilnya di depan pintu lobi bank yang dituju Toni.Dengan segera, Toni membuka pintu dan segera turun. Begitu Toni turun, Wawan pun memarkirkan mobilnya dan menunggu bosnya di sana.Toni merapikan bajunya sebelum berjalan masuk. Seorang sekuriti membukakan pintu untuk Toni dan menanyakan keperluan
Bolet sudah dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara. Toni tidak mungkin ikut ke sana meski setengah mati dia ingin menguak apa yang terjadi dua tahun lalu. Jadi, dia memutuskan untuk kembali ke hotel dan meminta Malik untuk memantau perkembangan Bolet. Jika sampai besok dia belum siuman, Toni terpaksa kembali ke Jakarta tanpa berbicara dengan Bolet.“Malik, jangan lupa juga untuk mencari tahu dengan detail kasus kecelakaan yang melibatkan Bolet dua tahun lalu.” Toni memberi perintah pada Malik melalui telepon.“Maksud Bos kecelakaan yang itu?”“Memangnya kecelakaan yang mana lagi yang aku maksud?”“Baik, Bos. Akan langsung diantar ke hotel. Tunggu saja sebentar!”“Maksudmu semua detail kecelakaan sudah ada di tanganmu??”“I-iya, Bos. Baru tadi pagi saya dapatnya, Bos. Rencananya tadi mau saya kasihkan setelah bertemu Bolet. Tapi akhirnya lupa karena ada insiden itu. Hehe,, maaf ya, Bos.”Toni menggeram. “Antarkan segera!!”“Baik, Bos!”Toni menutup panggilannya begitu saja dan meletakkan
Toni terpaksa menjadwal ulang kepulangannya ke Jakarta karena dia baru mendapat informasi kalau Bolet ternyata benar-benar berada di penjara. Semalam, dia menginap di sebuah hotel yang sudah disiapkan Malik untuknya. Dan Toni berencana untuk menginap selama yang dia butuhkan.“Rupanya wanita itu tahu benar apa yang dia lakukan. Dia benar-benar menjebloskan Bolet ke penjara meski dengan tuduhan ringan, bukan pembunuhan. Dia tahu Bolet hanya pelaku, bukan dalang kecelakaan itu. Dia masih mencari pelaku sebenarnya.” Toni memainkan kuping cangkir kopinya. Pikirannya terus berputar, menghubungkan kepingan-kepingan puzzle yang muncul.Pagi ini, Toni akan mendatangi Bolet di penjara. Dia harus segera mencari tahu kebenarannya. Hanya Bolet yang tahu hal itu. Dia adalah saksi kunci.Dengan gerakan yang anggun, Toni menyesap kopinya hingga tandas. Setelah itu, dia berdiri, mengambil jaketnya, dan melangkah keluar kamar.Sebuah mobil telah menunggunya di lobi. Wawan setia mengantarnya ke mana pu
Toni sedang berkendara menuju pelabuhan Perak. Dia harus segera bertemu dengan Bolet atau salah satu anak buahnya. Sopir yang diutus menjemputnya di Bandara Juanda malam ini hanyalah remahan yang tidak tahu apa pun tentang rencana-rencana rumit kelompoknya.Mata Toni terus tertuju pada jendela. Pikirannya rumit.“Apa benar Bolet tidak ada di markas?” pertanyaan Toni memecah keheningan setelah beberapa lama.“Benar, Bos!” jawab si sopir antusias. Dia begitu bersemangat karena diberi tugas menjemput bos besarnya dari Jakarta. Sopir itu masih begitu muda. Umurnya sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun. Wawan namanya. Wajahnya manis dengan kulit cokelat eksotis. Rambutnya sepanjang telinga, lurus. Seandainya saja dia bukan preman, banyak orang tua yang mau menjadikannya menantu.“Sudah berapa lama?” pandangan Toni beralih pada Wawan.Wawan melirik spion.“Bearapa lama Bolet tidak ke markas?” ulang Toni.“Mmm, tidak yakin, Bos. Mungkin tiga atau dua hari ini saya tidak bertemu Bos Bo
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen