Diperalat dan dianggap remeh oleh Eric Wijaya—tunangannya, Cora Aleyna sangat kecewa dan sakit hati. Dia berniat membalas perbuatan Eric dengan menjatuhkan perusahaan milik mantan tunangannya itu. Memanfaatkan pengetahuannya akan rahasia perusahaan Wijaya, Cora bekerjasama dengan seorang CEO misterius. Namun siapa sangka Reno—CEO misterius itu adalah orang yang memiliki masa lalu yang rumit dengannya! Dapatkah Cora membalaskan dendamnya dengan kembalinya Reno dalam hidupnya? Atau justru ia terjebak dalam pesona Sang mantan?
View MoreCora duduk di kursi terdekat dan mencari tahu mengenai berita itu lebih lanjut. Ia mengecek berita serupa di kanal-kanal berita lainnya. Ternyata, berita itu mulai tersebar sejak semalam dan menjadi sekarang menjadi salah satu berita yang viral.Banyak orang yang membicarakannya dan mendapat berbagai respon yang berbeda. Dari yang tidak percaya, sampai kepada yang menyupah serapah, dan bahkan sampai memberi testimoni efek buruk yang mereka derita dari pemakaian kosmetik dari Aco’s Inc tersebut.Satu-persatu mulai banyak orang yang berbicara dan mempertanyakan kebenaran berita itu.“Pantas saja wajahku menjadi merah dan iritasi. Aku sudah curiga, dan ternyata mereka memang menggunakan Mercuri dan Hidrokuinon!”“Apa masih kurang kaya keluarga Wijaya itu sampai tega berbuat seperti ini? Kalau Ibu Anjani masih hidup, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi di perusahaannya!”“Aku yakin Janeta Efendi juga mengetahui hal ini! Dia juga pasti tidak mau menggunakan produk Aco’s!”“Pastilah J
“Lumayan. Paling tidak, ciumanmu—tidak lebih buruk dari 6 tahun yang lalu,” ujar Reno sambil tersenyum dan terang-terangan memperhatikan wajah merona Cora.Wajah Cora semakin memerah. Ia yakin Reno sengaja menatap dan mengatakan hal itu untuk membuatnya bertambah malu saja!Cora tidak ingin berlama-lama berada di pangkuan Reno. Ia begitu malu. Kalau saat itu ada lubang di bawah kakinya, ingin rasanya ia melompat dan bersembunyi di sana!Ia bergegas beranjak turun dari pangkuan Reno. Namun pria itu justru menahannya, memeganginya sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah dia sedang mencumbunya.Dan sebelum Cora sempat protes, Reno berbisik di telinganya. “Di jendela di belakangmu ada yang sedang memperhatikan. Jangan menoleh, dan ikuti saja apa yang aku katakan.”Ingin rasanya Cora menoleh untuk melihat siapa orang yang menjadi mata-mata di rumah itu, namun ia tidak melakukannya. The show must go on.“Kenapa kamu tidak menyuapi aku saja?” ujar Reno sambil melirik roti bakar di atas
Cora terdiam beberapa saat. Bulu kuduknya sedikit meremang merasakan hembusan nafas Reno di telinga dan ceruk lehernya. Namun, ia segera mengatasi keterkejutannya itu dengan memaksakan sebuah senyuman pada sang suami dan menjawabnya. “Pagi, Sayang.”Cora tahu persis Reno sedang bersandiwara. Apalagi dapur tempat mereka berada, merupakan tempat yang strategis untuk mempertontonkan kemesraan. Apa yang mereka lakukan dapat terlihat dengan jelas dari ruang makan, ruang keluarga, tangga, selasar lantai dua dan juga taman di belakang rumah. Di setiap tempat itu ada saja asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Entah sedang mengepel, membersihkan debu, atau pun menyiangi tanaman. “Masak apa buat aku pagi ini?” Reno menatap Cora dari samping. Ujung mata foxy Cora melirik pria disampingnya. “Roti bakar kesukaanmu. Atau kamu ingin yang lain?”Reno menggeleng. “Apa pun yang kamu buat pasti lezat.” Lalu dengan playful dikecupnya lagi pipi Cora, bagaikan kekasih yang seda
Eric masih dalam keadaan sangat gusar dan kesal saat pintu kantornya terbuka. “Eric, apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Sejak aku bangun pagi ini, semua orang menghubungiku. Menanyakan mengenai zat berbahaya dalam produk Aco’s! Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?” Janet berjalan masuk dengan gusar. Ia mengenakan jaket hoodie dan kaca mata hitam, persis seperti orang yang tengah menyembunyikan diri.Janet begitu kesal. Saat bangun di pagi hari, ia mendapat begitu banyak panggilan masuk tidak terjawab, pesan, serta notifikasi yang terus menerus dari aku media sosialnya.Jabet begitu terkejut. Bagi seorang publik figur, begitu banyaknya reaksi yang dia dapat dari publik, bisa berasal dari dua hal; berita baik atau berita buruk.Janet berharap ia mendapatkan sebuah surprise, berita baik yang tidak terduga. Namun kenyataannya ia justru mendapatkan begitu banyak cacian, makian dan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.Semua orang seolah-olah meminta pertanggungjawabannya mengenai produk ya
“Apa maksudmu? Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?” Eric mendamprat Adi— Direktur operasional Aco’s Inc. yang datang ke kantornya pagi itu.“Kami masih menyelidikinya Pak Eric. Kami juga belum mengetahui bagaimana hal itu bisa bocor ke publik,” jawab Adi dengan gemetar. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya karena begitu takutnya dia. Pemberitaan mengenai bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik Aco’s Inc menyebar dengan cepat di berbagai berita dan media sosial sejak semalam. Dan pagi ini, berita itu bagaikan sebuah pemberitaan yang viral dibicarakan banyak orang.Masalah kosmetik yang mengandung zat berbahaya telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir ini, apalagi dengan begitu banyaknya influencer yang ikut membahas mengenai produk-produk kosmetik yang tidak aman digunakan dan berbahaya bagi kulit serta organ tubuh.Dan Aco’s Inc telah berusaha untuk menutup rahasia itu rapat-rapat, namun ternyata rahasia itu bocor juga.Eric mendengus kasar. “Apa kamu ti
“Apa kamu bilang? Mereka menikah?” Sofyan yang sedang duduk di seiah pub beranjak berdiri dan berjalan ke tempat sepiIa baru mendengar kabar pernikahan Reno dan Cora dari seorang mata-mata yang ia kirim di rumah Reno.“Benar, Pak. Pak Reno sendiri yang memperkenalkan Nyonya Cora sebagai—”“Nyonya! Nyonya! Dia bukan Nyonya! Dia itu hanya anak yatim piatu miskin! Tidak perlu memanggil dia Nyonya!” sergah Sofyan yang kesal mendengar mata-matanya itu justru memanggil Cora dengan terhormat. Sofyan merasa Cora tidak pantas di panggilan dengan sebutan Nyonya, apalagi sampai menikah dengan anaknya yang notabene adalah seorang pengusaha sukses!Menurut Sofyan, Reno hanya boleh menikah dengan perempuan pilihannya. Perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan bisa menguntungkan bagi dirinya dan Reno!“Dengar baik-baik. Mereka itu hanya berpura-pura saja menikah!” Sofyan tetap tidak percaya jika Reno dan Cora menikah.Pasalnya, Reno begitu sakit hati saat Cora memutuskannya dulu. Jadi, bagaima
Cora ragu dan bimbang, gelisah dan tidak tenang. Ia tidak ingin tidur di sofa itu, tapi apa Reno akan mengijinkan ia tidur di ranjang?Tiba-tiba Cora mempunyai suatu ide. Saat ia mendengar suara air berhenti mengalir, Cora segera menarik selimut dan berpura-pura tidur.Samar ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Cora yakin Reno sudah berjalan keluar kamar mandi meskipun ia tidak bisa mendengar suara langkah kaki pria itu.Di luar kamar mandi, Reno melihat Cora sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, dan hanya menyisakan bagian kepala.Ia berhenti di sisi ranjang, memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat sebelum ia berjalan ke arah pintu.Cora yang masih berpura-pura tidur dan memejamkan mata, tidak tahu apa yang Reno lakukan atau di mana dia. Sampai ia mendengar pintu kamar itu dibuka, lalu di tutup.Ke mana dia pergi? Pikir Cora. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama, namun ia tidak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu. Reno benar-benar p
“Kamu tidak hendak memesan baju di tempat itu kan?” tanya Reno setelah beberapa saat Cora tidak menjawabnya.“Atau—kamu sengaja mengikuti mereka ke tempat itu?” tanya Reno lagi.Cora mengetahui siapa yang Reno maksudkan dengan “mereka”. Dia juga pasti melihat Janet, Rita dan Tania di sana.Cora menggeleng. “Aku—ingin melamar pekerjaan di sana,” jawab Cora akhirnya.Reno menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya sambil menatap gadis di hadapannya. Ia memang melihat Cora membawa map, dan Heri juga mengatakan bahwa kertas-kertas yang tersebar yang telah dengan sengaja dihempaskan Janet saat itu adalah gambar-gambar perhiasan.“Kenapa?” tanya Reno singkat.Meskipun hanya satu kata, namun Cora mengerti apa yang Reno tanyakan.Cora mengangkat bahunya. “Mencari pekerjaan sebagai designer perhiasan sangat sulit. Kebanyakan toko perhiasan sudah memiliki designer mereka sendiri, atau sebagian mereka mengikut pada design yang sudah umum atau sedang tren.”“Yang aku tahu, Lidya belum memiliki seor
Cora meraih tas yang berisi alat menggambarnya. Namun pergelangan tangannya yang sakit membuatnya meringis kesakitan.Akan tetapi karena niatnya yang besar untuk menggambar, ia membuka tas itu dan mengeluarkan buku sketsa, serta alat menggambar lainnya.Cora membuka buku sketsanya kemudian ia mencoba mengambil salah satu pensil miliknya. Namun saat ia mencobanya, pensil itu selalu terlepas dari pegangannya. “Aaahhh!” Ia merasa sangat kesal. Bahkan memegang pensil saja ia tidak bisa!“Jangan memaksakan diri.” Tiba-tiba saja Reno datang dan berdiri di sampingnya. Cora menengadahkan wajahnya menatap Reno. Pria itu berdiri dengan memasukkan tangannya ke kantong celana, masih mengenakan pakaian yang sama yang dia kenakan sejak pagi. Hanya saja kali ini jas hitam yang tadi pagi dia kenakan, sekarang tersampir di pundaknya, menggantung benas menutupi punggung dan bagian belakang tubuhnya.“Aku tidak memaksakan diri. Aku hanya mencoba saja!” jawab Cora sambil ia beranjak berdiri. Ia tidak
Be—berciuman?! Di ruangan itu, tangan Cora yang tengah memegang segelas wine seketika bergetar. Di hadapannya, Eric dan seorang wanita yang wajahnya familiar tengah berciuman dengan begitu mesranya. “E—Eric! Apa yang kamu laku—” “Ah, akhirnya jalang ini muncul juga!” Cora memicingkan matanya merasa gusar dan tersinggung mendengar panggilan kasar Janet padanya. Jalang? “Apa maksudmu berkata seperti itu?” tegurnya sambil berjalan ke arah Janet. Namun, sebelum ia bisa mendekati Janet, Eric menghadangnya. “Eric, kamu—melindungi dia!?” Cora menatap pria dihadapannya dengan tatapan terluka dan kecewa. “Tentu saja!” Eric mengangkat satu alisnya dan menatap dengan angkuh sebelum menarik Janet ke dalam pelukannya. “Karena aku akan menikahi Janet.” Menikahi Janet? Cora mundur selangkah seakan tidak percaya dengan pendengarannya. “Tapi—kita bertunangan. Bagaimana mungkin kamu—?” “Kamu itu naif atau bodoh?” ucap Eric dengan tatapan merendahkan yang membuat Cora menahan nafas. “Kamu berh...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments