Cora menatap tak percaya pada pria dihadapannya. Tubuhnya diam tak berkutik seakan raganya tidak berada di tempat itu.
“Cora Aleyna… siapa sangka kita bertemu lagi,” ucap pria itu sambil tersenyum miring. Kemudian dia duduk dengan elegan, menyilangkan kaki dengan santai. Kedua tangannya berada di sandaran tangan, beristirahat dengan elegan, sementara pandangan matanya mengamati gadis yang berdiri di depannya. Cora tersadar dari lamunannya saat mendengar pria itu menyebut namanya. Ia mencoba berdiri dengan tegak, meskipun merasa kikuk. Tidak pernah terpikirkan dalam benak Cora bahwa ia akan bertemu kembali dengan Reno—pria itu. Dan yang membuatnya bertambah syok adalah bahwa pria yang pernah menjadi kekasihnya itu kemungkinan besar adalah CEO yang ia cari. Bagaimana mungkin? “Reno—apakah kamu—CEO RI Corp.?” Cora harus memastikannya. Reno mendengus dan tersenyum miring. “Apakah itu penting?” Walaupun bersikap sinis, Reno tidak membantahnya. Dan itu cukup untuk membuat Cora yakin Reno adalah CEO yang ia cari! Dengan cepat Cora duduk di seberang kursi pria itu. “Reno, aku punya penawaran untukmu,” ujarnya sambil meletakkan tangan di atas meja, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan mendekati pria itu. Cora mengesampingkan rasa malu, sungkan dan canggung yang dirasakannya. Kalau tidak melakukannya sekarang, kapan lagi ia punya kesempatan? “Aku tidak tertarik.” Reno berkata dengan acuh tak acuh sembari mengangkat satu alisnya. Ia lalu meraih sekotak rokok dari saku celana dan mengambil sebatang. Dengan sedikit menunduk, ia menyulutnya. Cora menghela nafas merasa Reno belum bisa melupakan masa lalu mereka. Ia sadar, akan sulit membujuk Reno untuk bekerjasama dengannya jika pria itu masih tidak bisa melupakan kejadian di masa lalu. “Reno, aku tahu kamu masih marah dengan apa yang terjadi dulu. Tetapi, itu sudah hampir—7 tahun yang lalu. Apa kamu masih mempermasalahkan hal itu?” tanya Cora dengan perlahan sembari menatap pria di hadapannya. Tidak dipungkirinya, Reno masih setampan dulu kala mereka berpacaran. Namun Reno yang berada dihadapannya saat ini terlihat lebih dewasa dan memiliki aura otoritatif yang sangat kuat . “Mempermasalahkan?” Reno mengulangnya dengan tatapan tajam dan raut wajah yang seketika dingin. Ia menyorongkan tubuhnya ke depan dan meletakkan satu sikunya di atas meja. Posisi wajah mereka berdekatan dengan kedua pasang pupil menatap dengan intens, bergerak seakan saling mengikuti satu sama lain. “Untuk apa? Bukankah aku tidak cukup baik untukmu?” tanya Reno, mengulang apa yang pernah Cora katakan padanya dulu. Cora menahan nafasnya. Sekelebat ia bisa merasakan kembali tatapan mata yang terluka dan kecewa 7 tahun yang lalu saat ia menyakiti hatinya. Cora tidak sanggup menatapnya lebih lama. Ia menunduk dan bernafas dengan tersenggal pelan. Entah mengapa, dadanya terasa sesak, seakan seseorang tengah meremas paru-parunya sehingga membuatnya sulit untuk bernafas. Kejadian 7 tahun yang lalu ternyata masih membekas di hati Reno lebih dalam dari yang ia duga. Ia sama sekali tidak menyangka. Cora tahu ia memang bersalah. Akan tetapi ia punya alasan tersendiri mengapa melakukannya saat itu. Cora menarik nafas dalam, berusaha menguatkan dirinya untuk menghadapi kedua manik hitam itu kembali. Ia mengangkat wajahnya dan kembali bertemu dengan kedua pasang mata yang hitam pekat. “Reno,” ucap Cora menjeda. “Aku minta maaf.” Reno mendengus kasar, tidak menganggap permintaan maaf itu dengan serius. Namun, Cora tetap melanjutkan. “Saat itu aku masih muda dan naif. Maksudku, banyak orang membuat kesalahan saat mereka muda—” Ucapan Cora terpenggal mendengar suara tawa Reno. Reno menarik nafas dan berhenti tertawa. “Masih muda dan naif?” Ia lalu tersenyum miring. “Masih saja beralasan!” Tenggorokan Cora tercekat. Ingin mengatakan sesuatu, membela dirinya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Namun, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. “Berapa yang kamu inginkan?” Reno lanjut bertanya sembari mengeluarkan sebuah buku cek dari dalam tasnya. “Apa?” Cora bingung dengan apa yang Reno tanyakan. “Berapa uang yang kamu butuhkan?” tanpa menunggu jawaban Cora, pria itu menulis sejumlah angka lalu menyodorkan cek itu. “Tidak. Kamu salah paham, Reno. Aku tidak menginginkan uangmu.” Cora menolak cek itu dan segera mengembalikannya. “Aku kesini ingin membuat penawaran denganmu!” “Sudah kubilang, aku tidak tertarik!” timpal Reno sambil membereskan barang-barang miliknya di atas meja. Cora panik melihat Reno bersiap-siap untuk pergi. Padahal, mereka belum bersepakat apa pun. Ia tidak bisa membiarkan Reno pergi! “Kamu mau ke mana?” tanya Cora sambil memperhatikan Reno. “Ambil uangnya dan jangan temui aku lagi!” ucap Reno dengan sikap acuh. “Reno!” Cora menahan pergelangan tangan pria itu hingga berhenti bergerak dan menatapnya. “Beri aku kesempatan untuk bicara!” pinta Cora dengan tatapan memohon. “Kamu tidak akan menyesalinya, Reno. Dengarkan aku dulu!” Cora tidak peduli. Ia harus bisa memberitahu Reno apa yang ingin ia katakan. Mereka diam dan saling menatap selama beberapa detik, sebelum Reno berkata, “Satu menit.” Reno menaruh kembali barang miliknya dibatas meja, menyandarkan punggungnya di kursi dengan kedua siku bersandar di sandaran tangan. Ia dengan santai mengaitkan jari-jarinya, menunggu Cora bicara. Cora menarik nafas dalam dan kembali duduk. Ia menatap Reno dengan serius dan perlahan berkata, “Aku tahu perusahaanmu sedang bersaing dengan Wijaya Corporation. Dan aku—mengetahui rahasia dan kecurangan mereka.” Reno mendengus sembari menahan tawanya. “Ini yang ingin kamu bicarakan denganku?” Cora tidak menghiraukan nada suara mengolok itu. Ia mengangguk dan masih dengan ekspresi serius melanjutkan, “Aku bisa memberikan informasi kecurangan mereka dengan cuma-cuma, asalkan—kamu membantuku menjatuhkan Wijaya Corp!” Keduanya saling menatap dalam diam. Saat itu Cora yakin sekali jika Reno tertarik dengan penawarannya. Bukankah perusahaan Reno akan diuntungkan dengan jatuhnya Wijaya Corp? Tiba-tiba saja Reno berdiri dan meraih barang pribadinya. “Reno? Bagaimana? Kamu—setuju bekerjasama denganku?” tanya Cora sambil menatap Reno dengan penuh harap. “Kamu baru saja membuang waktumu, Cora,” sergah Reno sambil melirik gadis dihadapannya, lalu berjalan pergi. “Tunggu! Reno!” Cora bergegas mengikutinya. “Eric berbuat curang, dan aku tahu apa yang dia lakukan!” Sembari mengikuti langkah panjang pria itu, Cora mencoba untuk meyakinkan Reno. Namun Reno tidak menggubrisnya dan terus berjalan keluar dari Topaz Palate dan masuk ke dalam lift. “Dia berbuat curang dalam berbagai tender. Apa kamu tidak ingin tahu apa saja yang dia lakukan?!” Di dalam lift, Cora masih berusaha meyakinkan Reno. Reno menghela nafas dan menoleh. “Kamu tidak pernah tertarik pada bisnis. Dan sekarang, kamu mengatakan mengetahui rahasia sebuah perusahaan besar?” Reno menatap skeptis pada Cora. Reno benar, dulu ia memang tidak tertarik untuk terjun dalam intrik dunia bisnis. Namun, sekarang berbeda. Ia punya satu tujuan! Lift berhenti di lantai dasar dan Reno berjalan keluar. “Bantu aku menjatuhkan perusahaan Eric, dengan begitu dia tidak akan menjadi pesaingmu lagi!” Dengan terengah-engah Cora berusaha menyamai langkah Reno. Namun Reno tetap mengacuhkannya. Di luar lobi Hotel Topaz, Heri—pria yang bersama Reno semalam sudah menunggu di depan sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam. Saat jarak mereka semakin dekat, Heri membuka pintu untuk Reno. Cora panik. Reno tidak juga percaya padanya dan dia akan segera pergi. Apa yang harus ia lakukan untuk membuatnya percaya? “Reno!” Reno hendak melangkah memasuki mobil saat ia mendengar Cora memanggil namanya dengan lantang. “Besok, jam 10 pagi, Eric akan mengumumkan Janet sebagai new brand ambassador Aco’s Inc untuk menaikkan harga sahamnya,” seru Cora, berharap Reno mendengar ucapannya. Ini adalah satu-satunya cara. Reno menghentikan langkahnya. Dia terdiam sesaat sebelum lanjut masuk ke dalam mobil dan pintu mobil itu tertutup. Cora menghela nafas, pasrah dengan hasil yang akan dicapainya nanti. Tidak ada jaminan jika Reno mendengarkannya, terlebih dengan masa lalu yang mereka miliki. Cora menatap mobil sedan mewah itu bergerak menjauh, seakan semua kalimat yang ia ucapkan tadi ikut menghilang bersama pria yang ada di dalam mobil itu.Di lantai teratas gedung Renowed Innovation Corp. di kota Fragrant Harbour, Reno Afrizal sedang berdiskusi dengan beberapa orang tim tender project Goldenbrook Canal. Heri dan anggota tim project sedang mengerjakan proposal di meja meeting yang ada di ruangan CEO itu, sementara Reno sedang duduk di kursi kerjanya, mengecek beberapa dokumen yang akan mereka lampirkan dalam pengajuan proposal tender tersebut. Di salah satu sisi dinding, pesawat televisi sedang menyala dengan suara yang dikecilkan. Tampak di layar televisi itu berita ekonomi dari salah satu stasiun televisi di Fragrant Harbour, FH Tribune. Reno sedang memperhatikan nama-nama beberapa perusahaan yang ikut serta dalam pengajuan tender Goldenbrook Canal, saat telinganya menangkap sebuah laporan berita dari seorang reporter. “Selamat pagi, saya Mira Damanik melaporkan dari Fragrant Convention Centre—FCC untuk F-news. Pagi ini Aco’s Inc telah meluncurkan produk baru berupa satu seri kosmetik yang dinamakan Akinos make up
Cora mendesah pelan. Kenapa ia harus bertemu dengan perempuan itu di sini?“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Teguran bernada keras itu diikuti oleh sentakan kuat di bahu, sehingga tubuh Cora berputar arah dengan cepat.Sesaat tubuhnya limbung, namun ia berhasil menyeimbangkannya dengan cepat. Cora mengangkat pandangannya dan dilihatnya Janet, Tania—adik Eric dan juga Rita—ibu Eric. Mereka bertiga berdiri mengitarinya.“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Rita kembali bertanya dengan nada setengah mendesis, dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seakan khawatir jika ada yang memperhatikan mereka.“Ya, Cora. Sedang apa kamu di sini? Tempat ini bukan untukmu!” Tania ikut bertanya dengan tatapan curiga.“Tante, bukankah Nenek Anjani sering memesan baju di sini? Aku curiga, dia menggunakan nama keluarga Wijaya untuk memesan sesuatu di sini!” Janet membisikkan kalimat itu di telinga Rita, sambil melirik Cora dengan tajam.“Benarkah? Kamu menggunakan nama keluarga kami? Apa yang ka
“Nona, ini gambar Anda,” ujar pria itu sambil menyodorkan kertas itu kepada Cora.Cora mengernyitkan keningnya mengenali suara itu. Ia beranjak berdiri sembari menerima sketsa rancangan miliknya. “Terima kasih,” ucap Cora sambil menatap Heri yang berdiri di depannya. Ia merasa heran bertemu dengan Heri di tempat itu. Dan jika Heri ada di sini, apa artinya Reno…?Pandangan Cora menyapu sekeliling halaman rumah mode itu mencari sosok Reno. Namun, ia kecewa tidak melihat Reno di sana. Di saat ia ingin bertanya, ketika itulah pandangan matanya terpaku pada sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.Mungkinkah Reno ada di dalam mobil itu? Cora tidak dapat melihat bagian dalam mobil itu karena jendela mobil itu begitu gelap.“Apa pun yang dia katakan, jangan terpengaruh olehnya! Dia itu hanya ingin mendekati Anda, untuk mengambil uang Anda saja!” seloroh Tania, memperingatkan Heri. Ia sengaja melakukan itu untuk mempermalukan Cora.Selain itu ia tida
Cora menatap terkejut. Dia—tidak menolaknya?Reno kembali mendekat dan kedua mata mereka menatap dengan intens. “Aku tidak suka kebohongan, Cora. Jika kamu ingin bekerjasama denganku, bicara jujur! Kamu mengerti?”Cora menarik nafas dalam, menyadari kesalahannya karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Reno. “Oke, maaf,” ucapnya sambil menurunkan pandangan.“Sekarang katakan sekali lagi, kenapa kamu ingin melakukan hal ini?!” sergah Reno sambil menatapnya, memperhatikan ekspresi wajah Cora.Cora menatap keluar pada gedung-gedung di pinggir jalan utama kota Fragrant Harbour yang dilalui mobil sedan mewah yang ditumpangi mereka.Namun, benaknya melayang jauh melampaui gedung-gedung itu, kembali pada kejadian hampir seminggu yang lalu saat mereka mengusir dan memperlakukannya seperti sampah.Ia menghela nafas dalam. “Eric dan keluarganya, mereka telah membohongiku.”Reno tidak memotong ucapan Cora dan membiarkan gadis itu bercerita.“Setahun yang lalu, aku mulai bekerja untuk merawat
Reno belum lama duduk di kursi kerjanya pagi itu saat pintu kantornya terbuka dengan tiba-tiba, disusul derap langkah kaki bergegas.“Maaf Pak, Bapak tidak bisa masuk begitu saja!” seru Heri sambil berusaha menghalangi seseorang untuk masuk.“Kamu pikir siapa dirimu? Berani melarangku?” pria berusia lima puluhan tahun itu tampak gusar oleh tindakan Heri yang melarangnya.“Reno! Apa kamu mengajari dia untuk melarangku datang?” teriak pria itu sambil berusaha melihat ke arah Reno melewati pundak Heri.Reno menghela nafas. “Biarkan dia masuk.” Ia lalu bersandar di kursinya sambil melihat ke arah pria yang gusar itu melewati Heri dengan kesal.“Apa maumu?” tanya Reno dengan sikap enggan.Sofyan—pria itu, menghela nafas dan merapikan pakaiannya sambil berjalan menghampiri Reno. Dia berhenti tepat di depan meja kerja CEO RI Corp. dengan tersenyum.Raut wajahnya tidak lagi kesal saat menghadapi Reno. Ia justru tersenyum sangat ramah. “Reno, Papa tahu kamu sedang sibuk, dan Papa sebenarnya ti
Heri merasa ada yang aneh dengan seringaian Bosnya itu. Akan tetapi ia mengiyakan perintahnya. “Baik Bos.” Ia pun keluar untuk menemui Cora.“Nona, Pak Reno sudah menunggu Anda. Silahkan…”Cora melirik pintu ruangan itu sebelum ia beranjak berdiri dan berjalan memasukinya.Saat memasuki ruangan itu, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Reno. Reno berdiri membelakanginya di depan dinding kaca yang berhadapan langsung dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota mereka. Ia sama sekali tidak menoleh saat Cora berjalan masuk dan pintu ditutup Heri dari luar.Cora sempat berhenti dan ragu untuk melangkah sebelum ia meneruskan langkahnya dengan berjalan pelan.Sambil berjalan, ia memperhatikan interior kantor Reno. Diam-diam ia berdecak kagum pada ruangan kerja Reno. Ruangan itu sangat rapi, berkelas dan bergaya modern.Harus diakuinya, Reno memiliki selera yang sangat bagus. Ornamen kayu berwarna gelap dipadu dengan kursi kulit penerima tamu berwarna copper, meeting r
Jam setengah tujuh malam, Reno dengan mengenakan sweater hitam dan celana dark grey mengendarai sendiri mobil Daytona SP3 miliknya yang berwarna merah. Mobil sport mewah yang memiliki bentuk indah itu berhenti di depan salon kecantikan Elise. Reno melangkah keluar dan berjalan memasuki salon itu. “Selamat malam Reno, kamu datang tepat waktu,” ujar Elise ketika melihat Reno memasuki pintu salon kecantikan miliknya. “Malam Elise. Lama tidak bertemu, dan kamu semakin cantik saja,” sapa Reno sambil menyalami Elise. “Hem, terima kasih pujiannya, Reno. Tetapi sayangnya, cantik saja tidak cukup untukmu,” balas Elise sambil mengerlingkan matanya dan merangkul lengan Reno, mengajaknya masuk lebih dalam ke dalam salon kecantikan itu. Reno tertawa kecil sambil mengangkat telapak tangannya, menyerah pada kata-kata Elise. “Apa dia sudah siap?” tanya Reno, tidak lupa pada tujuan kedatangannya ke salon itu. “Tentu!” Jawab Elise dengan tersenyum miring. “Tapi beritahu dulu di mana k
“Cora, ada apa?” tanya Reno dengan suara dipelankan. Ia heran melihat reaksi keras dari Cora. Cora masih saja menatapnya dan tatapan matanya terlihat sangat gugup.Reno memberi isyarat pada pelayan restoran untuk menunggu, sementara ia menarik Cora, menepi di luar pintu restoran itu.“Reno, aku— aku sepertinya tidak bisa menemanimu,” ucap Cora dengan gugup.Cora tidak ingin menemui pria itu—Sofyan Nor Afrizal.“Kenapa?” tanya Reno dengan tatapan penuh selidik. Ia merasa heran mengapa Cora tiba-tiba saja berubah pikiran.Cora menggeleng. “Aku— tiba-tiba aku merasa tidak enak badan…” ujar Cora beralasan.Tanpa disadari, jari -jari tangan Cora bergerak meremas sisi gaunnya. Ia sangat gugup dan gelisah. Dan hal itu tidak lepas dari pengamatan Reno. “No, Cora. Kamu tidak bisa mundur sekarang!” seru Reno dengan nada memaksa.Bagaimana mungkin Cora mundur setelah seharian di make over, dan mereka hanya tinggal melangkah masuk?“Reno, kamu— kamu bisa meminta apa saja. Tetapi aku tidak bisa
Tidak mungkin jam tangan ini palsu! Apa yang perempuan kampungan ini ketahui sampai berani mengatakan jam tangan ini palsu?!Laura begitu geram. Berani-beraninya Cora, perempuan rendahan ini mengatakan jam pemberiannya palsu. Padahal ia membeli jam tangan ini dengan harga yang sangat mahal!Cora dengan polosnya menjawab, “Tapi itu benar.. Perhatikan dengan seksama. Logo crown yang ada di sini, terlihat sedikit miring, tidak tepat ditengah.” Cora menunjukkan letak logo crown di bagian atas jam itu yang menggantikan angka 12. Laura dan juga Reno ikut memperhatikan.Wajah Laura seketika memerah, karena apa yang dikatakan Cora ternyata benar. Logo crown itu memang sediki miring. “Mungkin—mungkin, orang yang membuatnya sedang tidak—fokus!” Laura langsung beralasan.Reno mengulum senyum berusaha untuk tidak tertawa.Cora menggeleng menanggapi Laura. “Itu tidak mungkin. Sekelas jam Rolex sangat memperhatikan detil, tidak mungkin melakukan kesalahan seperti ini,” ujarnya menyanggah. Ia lalu
Laura duduk menunggu di ruangan tunggu VIP dengan harap-harap cemas. Maukah Reno menemuinya? Sebentar-sebentar ia melirik ke arah meja sekertaris CEO yang menyuruhnya duduk di tempat itu, berharap dia membawa kabar baik.Dengan mengenakan baju terusan spagheti straps sebatas setengah paha berwarna emerald serta sepasang kacamata hitam, siang itu Laura datang ke kantor Renowed Innovation untuk menemui Reno.Seperti rencananya dan Sofyan, ia datang untuk memberi Reno sebuah hadiah ulang tahun; dan jika beruntung, ia mungkin bisa mengajak Reno makan siang bersamanya!Sofyan bahkan meminjamkannya kartu akses lift VIP, sehingga ia tidak mendapat kesulitan ketika memasuki gedung sampai naik ke lantai teratas.Dan sekarang, semua terserah pada Reno. Laura berharap Reno mau menemuinya.Untungnya ia tidak perlu lama menunggu sampai sekertaris CEO itu datang menghampirinya. “Bu Laura, Anda boleh masuk sekarang. Pak Reno ada di dalam,” ujar Frieda menyampaikan dengan sopan.Laura senang sekali
Cora duduk di kursi terdekat dan mencari tahu mengenai berita itu lebih lanjut. Ia mengecek berita serupa di kanal-kanal berita lainnya. Ternyata, berita itu mulai tersebar sejak semalam dan menjadi sekarang menjadi salah satu berita yang viral.Banyak orang yang membicarakannya dan mendapat berbagai respon yang berbeda. Dari yang tidak percaya, sampai kepada yang menyupah serapah, dan bahkan sampai memberi testimoni efek buruk yang mereka derita dari pemakaian kosmetik dari Aco’s Inc tersebut.Satu-persatu mulai banyak orang yang berbicara dan mempertanyakan kebenaran berita itu.“Pantas saja wajahku menjadi merah dan iritasi. Aku sudah curiga, dan ternyata mereka memang menggunakan Mercuri dan Hidrokuinon!”“Apa masih kurang kaya keluarga Wijaya itu sampai tega berbuat seperti ini? Kalau Ibu Anjani masih hidup, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi di perusahaannya!”“Aku yakin Janeta Efendi juga mengetahui hal ini! Dia juga pasti tidak mau menggunakan produk Aco’s!”“Pastilah J
“Lumayan. Paling tidak, ciumanmu—tidak lebih buruk dari 6 tahun yang lalu,” ujar Reno sambil tersenyum dan terang-terangan memperhatikan wajah merona Cora.Wajah Cora semakin memerah. Ia yakin Reno sengaja menatap dan mengatakan hal itu untuk membuatnya bertambah malu saja!Cora tidak ingin berlama-lama berada di pangkuan Reno. Ia begitu malu. Kalau saat itu ada lubang di bawah kakinya, ingin rasanya ia melompat dan bersembunyi di sana!Ia bergegas beranjak turun dari pangkuan Reno. Namun pria itu justru menahannya, memeganginya sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah dia sedang mencumbunya.Dan sebelum Cora sempat protes, Reno berbisik di telinganya. “Di jendela di belakangmu ada yang sedang memperhatikan. Jangan menoleh, dan ikuti saja apa yang aku katakan.”Ingin rasanya Cora menoleh untuk melihat siapa orang yang menjadi mata-mata di rumah itu, namun ia tidak melakukannya. The show must go on.“Kenapa kamu tidak menyuapi aku saja?” ujar Reno sambil melirik roti bakar di atas
Cora terdiam beberapa saat. Bulu kuduknya sedikit meremang merasakan hembusan nafas Reno di telinga dan ceruk lehernya. Namun, ia segera mengatasi keterkejutannya itu dengan memaksakan sebuah senyuman pada sang suami dan menjawabnya. “Pagi, Sayang.”Cora tahu persis Reno sedang bersandiwara. Apalagi dapur tempat mereka berada, merupakan tempat yang strategis untuk mempertontonkan kemesraan. Apa yang mereka lakukan dapat terlihat dengan jelas dari ruang makan, ruang keluarga, tangga, selasar lantai dua dan juga taman di belakang rumah. Di setiap tempat itu ada saja asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Entah sedang mengepel, membersihkan debu, atau pun menyiangi tanaman. “Masak apa buat aku pagi ini?” Reno menatap Cora dari samping. Ujung mata foxy Cora melirik pria disampingnya. “Roti bakar kesukaanmu. Atau kamu ingin yang lain?”Reno menggeleng. “Apa pun yang kamu buat pasti lezat.” Lalu dengan playful dikecupnya lagi pipi Cora, bagaikan kekasih yang seda
Eric masih dalam keadaan sangat gusar dan kesal saat pintu kantornya terbuka. “Eric, apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Sejak aku bangun pagi ini, semua orang menghubungiku. Menanyakan mengenai zat berbahaya dalam produk Aco’s! Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?” Janet berjalan masuk dengan gusar. Ia mengenakan jaket hoodie dan kaca mata hitam, persis seperti orang yang tengah menyembunyikan diri.Janet begitu kesal. Saat bangun di pagi hari, ia mendapat begitu banyak panggilan masuk tidak terjawab, pesan, serta notifikasi yang terus menerus dari aku media sosialnya.Jabet begitu terkejut. Bagi seorang publik figur, begitu banyaknya reaksi yang dia dapat dari publik, bisa berasal dari dua hal; berita baik atau berita buruk.Janet berharap ia mendapatkan sebuah surprise, berita baik yang tidak terduga. Namun kenyataannya ia justru mendapatkan begitu banyak cacian, makian dan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.Semua orang seolah-olah meminta pertanggungjawabannya mengenai produk ya
“Apa maksudmu? Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?” Eric mendamprat Adi— Direktur operasional Aco’s Inc. yang datang ke kantornya pagi itu.“Kami masih menyelidikinya Pak Eric. Kami juga belum mengetahui bagaimana hal itu bisa bocor ke publik,” jawab Adi dengan gemetar. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya karena begitu takutnya dia. Pemberitaan mengenai bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik Aco’s Inc menyebar dengan cepat di berbagai berita dan media sosial sejak semalam. Dan pagi ini, berita itu bagaikan sebuah pemberitaan yang viral dibicarakan banyak orang.Masalah kosmetik yang mengandung zat berbahaya telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir ini, apalagi dengan begitu banyaknya influencer yang ikut membahas mengenai produk-produk kosmetik yang tidak aman digunakan dan berbahaya bagi kulit serta organ tubuh.Dan Aco’s Inc telah berusaha untuk menutup rahasia itu rapat-rapat, namun ternyata rahasia itu bocor juga.Eric mendengus kasar. “Apa kamu ti
“Apa kamu bilang? Mereka menikah?” Sofyan yang sedang duduk di seiah pub beranjak berdiri dan berjalan ke tempat sepiIa baru mendengar kabar pernikahan Reno dan Cora dari seorang mata-mata yang ia kirim di rumah Reno.“Benar, Pak. Pak Reno sendiri yang memperkenalkan Nyonya Cora sebagai—”“Nyonya! Nyonya! Dia bukan Nyonya! Dia itu hanya anak yatim piatu miskin! Tidak perlu memanggil dia Nyonya!” sergah Sofyan yang kesal mendengar mata-matanya itu justru memanggil Cora dengan terhormat. Sofyan merasa Cora tidak pantas di panggilan dengan sebutan Nyonya, apalagi sampai menikah dengan anaknya yang notabene adalah seorang pengusaha sukses!Menurut Sofyan, Reno hanya boleh menikah dengan perempuan pilihannya. Perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan bisa menguntungkan bagi dirinya dan Reno!“Dengar baik-baik. Mereka itu hanya berpura-pura saja menikah!” Sofyan tetap tidak percaya jika Reno dan Cora menikah.Pasalnya, Reno begitu sakit hati saat Cora memutuskannya dulu. Jadi, bagaima
Cora ragu dan bimbang, gelisah dan tidak tenang. Ia tidak ingin tidur di sofa itu, tapi apa Reno akan mengijinkan ia tidur di ranjang?Tiba-tiba Cora mempunyai suatu ide. Saat ia mendengar suara air berhenti mengalir, Cora segera menarik selimut dan berpura-pura tidur.Samar ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Cora yakin Reno sudah berjalan keluar kamar mandi meskipun ia tidak bisa mendengar suara langkah kaki pria itu.Di luar kamar mandi, Reno melihat Cora sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, dan hanya menyisakan bagian kepala.Ia berhenti di sisi ranjang, memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat sebelum ia berjalan ke arah pintu.Cora yang masih berpura-pura tidur dan memejamkan mata, tidak tahu apa yang Reno lakukan atau di mana dia. Sampai ia mendengar pintu kamar itu dibuka, lalu di tutup.Ke mana dia pergi? Pikir Cora. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama, namun ia tidak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu. Reno benar-benar p