Di lantai teratas gedung Renowed Innovation Corp. di kota Fragrant Harbour, Reno Afrizal sedang berdiskusi dengan beberapa orang tim tender project Goldenbrook Canal.
Heri dan anggota tim project sedang mengerjakan proposal di meja meeting yang ada di ruangan CEO itu, sementara Reno sedang duduk di kursi kerjanya, mengecek beberapa dokumen yang akan mereka lampirkan dalam pengajuan proposal tender tersebut. Di salah satu sisi dinding, pesawat televisi sedang menyala dengan suara yang dikecilkan. Tampak di layar televisi itu berita ekonomi dari salah satu stasiun televisi di Fragrant Harbour, FH Tribune. Reno sedang memperhatikan nama-nama beberapa perusahaan yang ikut serta dalam pengajuan tender Goldenbrook Canal, saat telinganya menangkap sebuah laporan berita dari seorang reporter. “Selamat pagi, saya Mira Damanik melaporkan dari Fragrant Convention Centre—FCC untuk F-news. Pagi ini Aco’s Inc telah meluncurkan produk baru berupa satu seri kosmetik yang dinamakan Akinos make up set, yang diklaim akan menjadi tren terbaru tahun ini.” Sebutan Aco’s Inc telah menarik perhatian Reno sehingga ia meletakkan dokumen yang ada di tangannya. “Keraskan suara televisi!” perintahnya sambil menatap layar LCD besar itu. Semua yang ada diruangan itu menoleh ke arahnya. Dan Heri yang pertama menyadari perintah itu, segera meraih remote televisi dan menaikkan volume suaranya. Semua yang ada di sana terdiam dan ikut menatap ke arah layar, memperhatikan berita yang sedang disiarkan. “Tidak hanya meluncurkan Akinos make up set, Eric Wijaya, selaku CEO dari grup perusahaan Wijaya Corp yang menaungi Aco’s Inc, juga mengumumkan bahwa Janeta Effendi akan menjadi brand ambassador terbaru Aco’s Inc tahun ini,” Reno menatap tidak berkedip pada berita di layar kaca. Ia teringat apa yang dikatakan Cora padanya kemarin pagi. “Besok, jam 10 pagi, Eric akan mengumumkan Janet sebagai new Brand Ambassador Aco’s Inc, untuk menaikkan harga sahamnya.” Reno melirik jam tangannya, dan saat itu waktu menunjukkan pukul 10.30. Apakah ini sebuah kebetulan? Pikir Reno sambil kembali melihat ke layar kaca. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan layar LCD itu. “Berita ini memang sebuah kejutan, tetapi ini adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Sejalan dengan semakin berkembangnya Aco’s Inc, Nona Janeta akan menjadi Brand Ambassador produk kami tahun ini.” Eric Wijaya dengan ditemani Janeta Effendi, tampak berbicara di layar kaca. Janeta Effendi adalah seorang model yang kembali naik daun beberapa bulan terakhir ini. Dan isu yang beredar, ia di sokong oleh keluarga Wijaya dan bahkan telah dianggap sebagai bagian keluarga tersebut. Sehingga tidak mengherankan jika Janeta diangkat menjadi Brand Ambassador salah satu anak perusahaan Grup Wijaya itu. Akan tetapi yang membuat Reno mengernyitkan dahinya adalah saat ia teringat kembali ekspresi Cora kemarin. Gadis itu begitu bersikukuh untuk mengajaknya bekerjasama menjatuhkan Grup perusahaan Wijaya. Sebenarnya ada hal apa yang terjadi antara Cora dan keluarga itu? “Bos, apa ada yang aneh?” Heri mendekat dan bertanya padanya setengah berbisik. Ia dan semua yang ada di ruangan itu merasa heran. Sebab—walaupun Wijaya Corp. bersaing dalam beberapa tender penting yang mereka ikuti, Aco’s Inc—anak perusahaan Wijaya Corp itu, tidak berhubungan dengan project yang sedang mereka kerjakan saat ini. Reno berjalan kembali ke meja kerjanya diikuti Heri. Ia menulis sesuatu pada selembar kertas note kecil. “Cari tahu apa yang terjadi sejak 7 tahun terakhir,” perintah Reno sambil menyodorkan kertas note tersebut kepada Heri. Heri menerimanya dan membaca dalam hati apa yang tertulis di sana. “Cora Aleyna.” Heri tertegun selama beberapa detik. Ia tidak mengenal nama itu. Siapa dia dan mengapa Bosnya tertarik ingin mengetahuinya? “Ini—” Reno mengangkat tangannya, menghentikan Heri bicara. Lalu dari gerakan matanya ia memberi isyarat untuk tidak lagi bertanya. Heri mengangguk mengerti dan ia pun keluar dari ruangan itu, mengerjakan perintah Bosnya. *** “Aah, bukan seperti itu. Sebenarnya aku dan Eric, kami berdua menganggap satu sama lain sebagai adik dan kakak. Tetapi, siapa sangka, Eric…” Di layar kaca, Cora melihat Janet tersipu malu sembari melirik Eric yang duduk di sebelahnya, bagaikan sepasang kekasih. Mereka berdua sedang diwawancarai oleh sebuah acara infotainment televisi, dan sialnya—Cora tidak sengaja melihatnya. Cora menghela nafas dan mematikan siaran televisi itu. Sudah beberapa hari sejak Eric mengumumkan Janet sebagai Brand Ambassador produk kosmetik Aco’s Inc., gosip kedekatan hubungan mereka semakin menyebar dengan cepat. Setiap kali ia melihat berita itu, Cora merasakan kembali penghinaan, ejekan dan tipu daya yang mereka lakukan padanya dan Anjani. Ditengah usahanya untuk mencari pekerjaan, ia masih memikirkan cara untuk membalas Eric. Namun, apa yang bisa ia lakukan untuk membalas mereka? Tanpa bantuan orang yang berpengaruh, akan sulit untuk bisa menjatuhkan Eric sendirian. Ia tidak punya kekuatan dan kekuasaan, sedangkan status Eric jauh lebih tinggi dan kuat darinya. Dan mengenai Reno… Ah, Cora tidak yakin jika ia berhasil meyakinkan pria itu. Sejak bertemu di Topaz Palate, ia belum pernah bertemu kembali dengan Reno. Dan sialnya lagi, ia lupa meninggalkan nomor telepon miliknya. Padahal ia tidak punya akses untuk menghubungi pria itu. Cora merasa dirinya sangat bodoh melupakan hal sepenting itu! Mendesah putus asa, Cora memutuskan untuk keluar mencari pekerjaan siang itu. Mencari pekerjaan sebagai seorang designer perhiasan tidaklah mudah. Apalagi ia sudah lama tidak berkecimpung di dunia itu. Sejak pindah ke Fragrant Harbour setahun yang lalu, ia langsung bekerja sebagai “perawat” Anjani, meskipun ia bukan seorang perawat medis. Tugasnya di rumah keluarga Wijaya hanya menemani dan menyiapkan kebutuhan wanita itu. Itu sebabnya Cora sangat dekat dengan wanita yang merupakan kepala rumah tangga Wijaya itu, sampai Anjani berpulang beberapa minggu yang lalu. Cora berhenti di depan sebuah bangunan estetik dengan tulisan House of Lidya. Lidya adalah seorang perancang busana terkenal di Fragrant Harbour. Dan Cora berniat untuk mencari tahu jika mereka tertarik untuk meng-hirenya sebagai salah satu perancang perhiasan mereka. “Selamat siang. Saya Cora, dan saya seorang perancang perhiasan. Apakah mungkin saya bertemu dengan Madam Lidya untuk menunjukkan sebagian rancangan saya?” Cora bertanya pada seorang karyawan front desk. “Apa kamu sudah membuat janji?” “Belum. Saya berharap Madam Lidya bisa menyempatkan sedikit saja waktu,” jawab Cora sambil menggelengkan kepala. “Maaf, Madam sangat sibuk. Sebaiknya buat janji terlebih dahulu. Ini nomor telepon yang bisa kamu hubungi untuk membuat janji.” Karyawan front desk itu memberikan sebuah kartu nama. Cora mengerti jika ia tidak bisa begitu saja menemui Lidya. Apalagi Lidya adalah seorang perancang busana terkenal. Ia mengambil kartu nama itu dan menyimpannya dalam dompetnya. Setelah mengucapkan terima kasih, Cora hendak berbalik badan pergi. Namun, suara seseorang yang familiar menghentikannya. “Lihat Tante, siapa ini?” Janet! Cora mengenali suara itu.Cora mendesah pelan. Kenapa ia harus bertemu dengan perempuan itu di sini?“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Teguran bernada keras itu diikuti oleh sentakan kuat di bahu, sehingga tubuh Cora berputar arah dengan cepat.Sesaat tubuhnya limbung, namun ia berhasil menyeimbangkannya dengan cepat. Cora mengangkat pandangannya dan dilihatnya Janet, Tania—adik Eric dan juga Rita—ibu Eric. Mereka bertiga berdiri mengitarinya.“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Rita kembali bertanya dengan nada setengah mendesis, dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seakan khawatir jika ada yang memperhatikan mereka.“Ya, Cora. Sedang apa kamu di sini? Tempat ini bukan untukmu!” Tania ikut bertanya dengan tatapan curiga.“Tante, bukankah Nenek Anjani sering memesan baju di sini? Aku curiga, dia menggunakan nama keluarga Wijaya untuk memesan sesuatu di sini!” Janet membisikkan kalimat itu di telinga Rita, sambil melirik Cora dengan tajam.“Benarkah? Kamu menggunakan nama keluarga kami? Apa yang ka
“Nona, ini gambar Anda,” ujar pria itu sambil menyodorkan kertas itu kepada Cora.Cora mengernyitkan keningnya mengenali suara itu. Ia beranjak berdiri sembari menerima sketsa rancangan miliknya. “Terima kasih,” ucap Cora sambil menatap Heri yang berdiri di depannya. Ia merasa heran bertemu dengan Heri di tempat itu. Dan jika Heri ada di sini, apa artinya Reno…?Pandangan Cora menyapu sekeliling halaman rumah mode itu mencari sosok Reno. Namun, ia kecewa tidak melihat Reno di sana. Di saat ia ingin bertanya, ketika itulah pandangan matanya terpaku pada sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.Mungkinkah Reno ada di dalam mobil itu? Cora tidak dapat melihat bagian dalam mobil itu karena jendela mobil itu begitu gelap.“Apa pun yang dia katakan, jangan terpengaruh olehnya! Dia itu hanya ingin mendekati Anda, untuk mengambil uang Anda saja!” seloroh Tania, memperingatkan Heri. Ia sengaja melakukan itu untuk mempermalukan Cora.Selain itu ia tida
Cora menatap terkejut. Dia—tidak menolaknya?Reno kembali mendekat dan kedua mata mereka menatap dengan intens. “Aku tidak suka kebohongan, Cora. Jika kamu ingin bekerjasama denganku, bicara jujur! Kamu mengerti?”Cora menarik nafas dalam, menyadari kesalahannya karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Reno. “Oke, maaf,” ucapnya sambil menurunkan pandangan.“Sekarang katakan sekali lagi, kenapa kamu ingin melakukan hal ini?!” sergah Reno sambil menatapnya, memperhatikan ekspresi wajah Cora.Cora menatap keluar pada gedung-gedung di pinggir jalan utama kota Fragrant Harbour yang dilalui mobil sedan mewah yang ditumpangi mereka.Namun, benaknya melayang jauh melampaui gedung-gedung itu, kembali pada kejadian hampir seminggu yang lalu saat mereka mengusir dan memperlakukannya seperti sampah.Ia menghela nafas dalam. “Eric dan keluarganya, mereka telah membohongiku.”Reno tidak memotong ucapan Cora dan membiarkan gadis itu bercerita.“Setahun yang lalu, aku mulai bekerja untuk merawat
Reno belum lama duduk di kursi kerjanya pagi itu saat pintu kantornya terbuka dengan tiba-tiba, disusul derap langkah kaki bergegas.“Maaf Pak, Bapak tidak bisa masuk begitu saja!” seru Heri sambil berusaha menghalangi seseorang untuk masuk.“Kamu pikir siapa dirimu? Berani melarangku?” pria berusia lima puluhan tahun itu tampak gusar oleh tindakan Heri yang melarangnya.“Reno! Apa kamu mengajari dia untuk melarangku datang?” teriak pria itu sambil berusaha melihat ke arah Reno melewati pundak Heri.Reno menghela nafas. “Biarkan dia masuk.” Ia lalu bersandar di kursinya sambil melihat ke arah pria yang gusar itu melewati Heri dengan kesal.“Apa maumu?” tanya Reno dengan sikap enggan.Sofyan—pria itu, menghela nafas dan merapikan pakaiannya sambil berjalan menghampiri Reno. Dia berhenti tepat di depan meja kerja CEO RI Corp. dengan tersenyum.Raut wajahnya tidak lagi kesal saat menghadapi Reno. Ia justru tersenyum sangat ramah. “Reno, Papa tahu kamu sedang sibuk, dan Papa sebenarnya ti
Heri merasa ada yang aneh dengan seringaian Bosnya itu. Akan tetapi ia mengiyakan perintahnya. “Baik Bos.” Ia pun keluar untuk menemui Cora.“Nona, Pak Reno sudah menunggu Anda. Silahkan…”Cora melirik pintu ruangan itu sebelum ia beranjak berdiri dan berjalan memasukinya.Saat memasuki ruangan itu, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Reno. Reno berdiri membelakanginya di depan dinding kaca yang berhadapan langsung dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota mereka. Ia sama sekali tidak menoleh saat Cora berjalan masuk dan pintu ditutup Heri dari luar.Cora sempat berhenti dan ragu untuk melangkah sebelum ia meneruskan langkahnya dengan berjalan pelan.Sambil berjalan, ia memperhatikan interior kantor Reno. Diam-diam ia berdecak kagum pada ruangan kerja Reno. Ruangan itu sangat rapi, berkelas dan bergaya modern.Harus diakuinya, Reno memiliki selera yang sangat bagus. Ornamen kayu berwarna gelap dipadu dengan kursi kulit penerima tamu berwarna copper, meeting r
Jam setengah tujuh malam, Reno dengan mengenakan sweater hitam dan celana dark grey mengendarai sendiri mobil Daytona SP3 miliknya yang berwarna merah. Mobil sport mewah yang memiliki bentuk indah itu berhenti di depan salon kecantikan Elise. Reno melangkah keluar dan berjalan memasuki salon itu. “Selamat malam Reno, kamu datang tepat waktu,” ujar Elise ketika melihat Reno memasuki pintu salon kecantikan miliknya. “Malam Elise. Lama tidak bertemu, dan kamu semakin cantik saja,” sapa Reno sambil menyalami Elise. “Hem, terima kasih pujiannya, Reno. Tetapi sayangnya, cantik saja tidak cukup untukmu,” balas Elise sambil mengerlingkan matanya dan merangkul lengan Reno, mengajaknya masuk lebih dalam ke dalam salon kecantikan itu. Reno tertawa kecil sambil mengangkat telapak tangannya, menyerah pada kata-kata Elise. “Apa dia sudah siap?” tanya Reno, tidak lupa pada tujuan kedatangannya ke salon itu. “Tentu!” Jawab Elise dengan tersenyum miring. “Tapi beritahu dulu di mana k
“Cora, ada apa?” tanya Reno dengan suara dipelankan. Ia heran melihat reaksi keras dari Cora. Cora masih saja menatapnya dan tatapan matanya terlihat sangat gugup.Reno memberi isyarat pada pelayan restoran untuk menunggu, sementara ia menarik Cora, menepi di luar pintu restoran itu.“Reno, aku— aku sepertinya tidak bisa menemanimu,” ucap Cora dengan gugup.Cora tidak ingin menemui pria itu—Sofyan Nor Afrizal.“Kenapa?” tanya Reno dengan tatapan penuh selidik. Ia merasa heran mengapa Cora tiba-tiba saja berubah pikiran.Cora menggeleng. “Aku— tiba-tiba aku merasa tidak enak badan…” ujar Cora beralasan.Tanpa disadari, jari -jari tangan Cora bergerak meremas sisi gaunnya. Ia sangat gugup dan gelisah. Dan hal itu tidak lepas dari pengamatan Reno. “No, Cora. Kamu tidak bisa mundur sekarang!” seru Reno dengan nada memaksa.Bagaimana mungkin Cora mundur setelah seharian di make over, dan mereka hanya tinggal melangkah masuk?“Reno, kamu— kamu bisa meminta apa saja. Tetapi aku tidak bisa
“Selamat malam, maaf kami berdua datang terlambat,” ucap Reno menyapa mereka berempat dengan tersenyum ramah. Seakan tidak menyadari tatapan mata menyudutkan keempat orang tersebut, ia memberikan senyum terbaiknya.Sofyan berdiri dari kursinya dengan wajah gusar dan datang menghampiri.“Reno, apa-apaan ini? Kenapa kamu datang bersama—dia?” Sofyan mengecilkan suaranya, namun nada bicaranya tidak luput dari rasa kesal dan geram. Ditatapnya Cora terang-terangan dengan tatapan tidak suka. “Tentu saja aku datang bersamanya. Dia tunanganku, Pah,” ujar Reno tanpa langsung menyebutkan hubungan “pertunangan” mereka. Lalu dengan lembut ia merangkul pundak Cora.“Tunangan?” Sofyan berseru, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Matanya langsung mengkritisi, menatap dan memperhatikan gadis cantik yang berdiri di samping putranya itu.Gadis itu memang cantik, dan sangat menarik. namun ada sesuatu yang membuat Sofyan mengerutkan keningnya dengan dalam setiap kali ia memperhatikan gadis itu. Ia
Tidak mungkin jam tangan ini palsu! Apa yang perempuan kampungan ini ketahui sampai berani mengatakan jam tangan ini palsu?!Laura begitu geram. Berani-beraninya Cora, perempuan rendahan ini mengatakan jam pemberiannya palsu. Padahal ia membeli jam tangan ini dengan harga yang sangat mahal!Cora dengan polosnya menjawab, “Tapi itu benar.. Perhatikan dengan seksama. Logo crown yang ada di sini, terlihat sedikit miring, tidak tepat ditengah.” Cora menunjukkan letak logo crown di bagian atas jam itu yang menggantikan angka 12. Laura dan juga Reno ikut memperhatikan.Wajah Laura seketika memerah, karena apa yang dikatakan Cora ternyata benar. Logo crown itu memang sediki miring. “Mungkin—mungkin, orang yang membuatnya sedang tidak—fokus!” Laura langsung beralasan.Reno mengulum senyum berusaha untuk tidak tertawa.Cora menggeleng menanggapi Laura. “Itu tidak mungkin. Sekelas jam Rolex sangat memperhatikan detil, tidak mungkin melakukan kesalahan seperti ini,” ujarnya menyanggah. Ia lalu
Laura duduk menunggu di ruangan tunggu VIP dengan harap-harap cemas. Maukah Reno menemuinya? Sebentar-sebentar ia melirik ke arah meja sekertaris CEO yang menyuruhnya duduk di tempat itu, berharap dia membawa kabar baik.Dengan mengenakan baju terusan spagheti straps sebatas setengah paha berwarna emerald serta sepasang kacamata hitam, siang itu Laura datang ke kantor Renowed Innovation untuk menemui Reno.Seperti rencananya dan Sofyan, ia datang untuk memberi Reno sebuah hadiah ulang tahun; dan jika beruntung, ia mungkin bisa mengajak Reno makan siang bersamanya!Sofyan bahkan meminjamkannya kartu akses lift VIP, sehingga ia tidak mendapat kesulitan ketika memasuki gedung sampai naik ke lantai teratas.Dan sekarang, semua terserah pada Reno. Laura berharap Reno mau menemuinya.Untungnya ia tidak perlu lama menunggu sampai sekertaris CEO itu datang menghampirinya. “Bu Laura, Anda boleh masuk sekarang. Pak Reno ada di dalam,” ujar Frieda menyampaikan dengan sopan.Laura senang sekali
Cora duduk di kursi terdekat dan mencari tahu mengenai berita itu lebih lanjut. Ia mengecek berita serupa di kanal-kanal berita lainnya. Ternyata, berita itu mulai tersebar sejak semalam dan menjadi sekarang menjadi salah satu berita yang viral.Banyak orang yang membicarakannya dan mendapat berbagai respon yang berbeda. Dari yang tidak percaya, sampai kepada yang menyupah serapah, dan bahkan sampai memberi testimoni efek buruk yang mereka derita dari pemakaian kosmetik dari Aco’s Inc tersebut.Satu-persatu mulai banyak orang yang berbicara dan mempertanyakan kebenaran berita itu.“Pantas saja wajahku menjadi merah dan iritasi. Aku sudah curiga, dan ternyata mereka memang menggunakan Mercuri dan Hidrokuinon!”“Apa masih kurang kaya keluarga Wijaya itu sampai tega berbuat seperti ini? Kalau Ibu Anjani masih hidup, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi di perusahaannya!”“Aku yakin Janeta Efendi juga mengetahui hal ini! Dia juga pasti tidak mau menggunakan produk Aco’s!”“Pastilah J
“Lumayan. Paling tidak, ciumanmu—tidak lebih buruk dari 6 tahun yang lalu,” ujar Reno sambil tersenyum dan terang-terangan memperhatikan wajah merona Cora.Wajah Cora semakin memerah. Ia yakin Reno sengaja menatap dan mengatakan hal itu untuk membuatnya bertambah malu saja!Cora tidak ingin berlama-lama berada di pangkuan Reno. Ia begitu malu. Kalau saat itu ada lubang di bawah kakinya, ingin rasanya ia melompat dan bersembunyi di sana!Ia bergegas beranjak turun dari pangkuan Reno. Namun pria itu justru menahannya, memeganginya sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah dia sedang mencumbunya.Dan sebelum Cora sempat protes, Reno berbisik di telinganya. “Di jendela di belakangmu ada yang sedang memperhatikan. Jangan menoleh, dan ikuti saja apa yang aku katakan.”Ingin rasanya Cora menoleh untuk melihat siapa orang yang menjadi mata-mata di rumah itu, namun ia tidak melakukannya. The show must go on.“Kenapa kamu tidak menyuapi aku saja?” ujar Reno sambil melirik roti bakar di atas
Cora terdiam beberapa saat. Bulu kuduknya sedikit meremang merasakan hembusan nafas Reno di telinga dan ceruk lehernya. Namun, ia segera mengatasi keterkejutannya itu dengan memaksakan sebuah senyuman pada sang suami dan menjawabnya. “Pagi, Sayang.”Cora tahu persis Reno sedang bersandiwara. Apalagi dapur tempat mereka berada, merupakan tempat yang strategis untuk mempertontonkan kemesraan. Apa yang mereka lakukan dapat terlihat dengan jelas dari ruang makan, ruang keluarga, tangga, selasar lantai dua dan juga taman di belakang rumah. Di setiap tempat itu ada saja asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Entah sedang mengepel, membersihkan debu, atau pun menyiangi tanaman. “Masak apa buat aku pagi ini?” Reno menatap Cora dari samping. Ujung mata foxy Cora melirik pria disampingnya. “Roti bakar kesukaanmu. Atau kamu ingin yang lain?”Reno menggeleng. “Apa pun yang kamu buat pasti lezat.” Lalu dengan playful dikecupnya lagi pipi Cora, bagaikan kekasih yang seda
Eric masih dalam keadaan sangat gusar dan kesal saat pintu kantornya terbuka. “Eric, apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Sejak aku bangun pagi ini, semua orang menghubungiku. Menanyakan mengenai zat berbahaya dalam produk Aco’s! Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?” Janet berjalan masuk dengan gusar. Ia mengenakan jaket hoodie dan kaca mata hitam, persis seperti orang yang tengah menyembunyikan diri.Janet begitu kesal. Saat bangun di pagi hari, ia mendapat begitu banyak panggilan masuk tidak terjawab, pesan, serta notifikasi yang terus menerus dari aku media sosialnya.Jabet begitu terkejut. Bagi seorang publik figur, begitu banyaknya reaksi yang dia dapat dari publik, bisa berasal dari dua hal; berita baik atau berita buruk.Janet berharap ia mendapatkan sebuah surprise, berita baik yang tidak terduga. Namun kenyataannya ia justru mendapatkan begitu banyak cacian, makian dan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.Semua orang seolah-olah meminta pertanggungjawabannya mengenai produk ya
“Apa maksudmu? Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?” Eric mendamprat Adi— Direktur operasional Aco’s Inc. yang datang ke kantornya pagi itu.“Kami masih menyelidikinya Pak Eric. Kami juga belum mengetahui bagaimana hal itu bisa bocor ke publik,” jawab Adi dengan gemetar. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya karena begitu takutnya dia. Pemberitaan mengenai bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik Aco’s Inc menyebar dengan cepat di berbagai berita dan media sosial sejak semalam. Dan pagi ini, berita itu bagaikan sebuah pemberitaan yang viral dibicarakan banyak orang.Masalah kosmetik yang mengandung zat berbahaya telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir ini, apalagi dengan begitu banyaknya influencer yang ikut membahas mengenai produk-produk kosmetik yang tidak aman digunakan dan berbahaya bagi kulit serta organ tubuh.Dan Aco’s Inc telah berusaha untuk menutup rahasia itu rapat-rapat, namun ternyata rahasia itu bocor juga.Eric mendengus kasar. “Apa kamu ti
“Apa kamu bilang? Mereka menikah?” Sofyan yang sedang duduk di seiah pub beranjak berdiri dan berjalan ke tempat sepiIa baru mendengar kabar pernikahan Reno dan Cora dari seorang mata-mata yang ia kirim di rumah Reno.“Benar, Pak. Pak Reno sendiri yang memperkenalkan Nyonya Cora sebagai—”“Nyonya! Nyonya! Dia bukan Nyonya! Dia itu hanya anak yatim piatu miskin! Tidak perlu memanggil dia Nyonya!” sergah Sofyan yang kesal mendengar mata-matanya itu justru memanggil Cora dengan terhormat. Sofyan merasa Cora tidak pantas di panggilan dengan sebutan Nyonya, apalagi sampai menikah dengan anaknya yang notabene adalah seorang pengusaha sukses!Menurut Sofyan, Reno hanya boleh menikah dengan perempuan pilihannya. Perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan bisa menguntungkan bagi dirinya dan Reno!“Dengar baik-baik. Mereka itu hanya berpura-pura saja menikah!” Sofyan tetap tidak percaya jika Reno dan Cora menikah.Pasalnya, Reno begitu sakit hati saat Cora memutuskannya dulu. Jadi, bagaima
Cora ragu dan bimbang, gelisah dan tidak tenang. Ia tidak ingin tidur di sofa itu, tapi apa Reno akan mengijinkan ia tidur di ranjang?Tiba-tiba Cora mempunyai suatu ide. Saat ia mendengar suara air berhenti mengalir, Cora segera menarik selimut dan berpura-pura tidur.Samar ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Cora yakin Reno sudah berjalan keluar kamar mandi meskipun ia tidak bisa mendengar suara langkah kaki pria itu.Di luar kamar mandi, Reno melihat Cora sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, dan hanya menyisakan bagian kepala.Ia berhenti di sisi ranjang, memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat sebelum ia berjalan ke arah pintu.Cora yang masih berpura-pura tidur dan memejamkan mata, tidak tahu apa yang Reno lakukan atau di mana dia. Sampai ia mendengar pintu kamar itu dibuka, lalu di tutup.Ke mana dia pergi? Pikir Cora. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama, namun ia tidak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu. Reno benar-benar p