Share

Bab 3

Author: Misya Lively
last update Last Updated: 2025-02-25 15:03:06

“Kamu yakin mau pergi menemui orang itu?” tanya Tiara sembari memperhatikan Cora bersiap-siap.

Cora yang baru saja selesai mandi dan sedang merapikan pakaiannya menoleh. Ia mengangguk.

“Kalau ada yang bisa menjatuhkan perusahaan Eric, itu adalah RI Corp. Hanya dia yang bisa membantuku,” jawab Cora sambil menatap penampilan dirinya di depan cermin.

“Bagaimana kamu akan meyakinkan dia? Kamu bahkan tidak tahu seperti apa rupa orang itu, atau—bagaimana sifatnya,” tanya Tiara lagi sambil ia beranjak dari ranjang.

Cora menatap di cermin kedua matanya yang berbentuk foxy—memanjang dan terangkat di bagian luar.

Identitas CEO itu sulit diketahui, sehingga untuk bisa menemuinya akan sulit jika tidak memiliki kontak langsung dengannya.

Instingnya mengatakan jika pria yang ia buntuti semalam adalah orang yang ia cari. Dan percakapan yang didengarnya semalam adalah sebuah petunjuk untuk bisa menemui pria tersebut.

Dan jika benar dia CEO RI Corp, ia punya kesempatan untuk membuat CEO itu tertarik untuk bekerjasama dengannya.

Cora tersenyum pada Tiara melalui pantulan cermin. “Aku punya beberapa ide. Kita lihat saja nanti.”

Pagi itu, dengan mengenakan satu stel pakaian wanita karir—rok dan blazer hitam dengan strip tipis berwarna abu—yang ia pinjam dari Tiara, Cora menaiki taksi menuju Hotel Topaz.

Akan tetapi, kemacetan lalu lintas pagi itu membuatnya sedikit terlambat.

Dengan bergegas, ia masuk ke dalam hotel, berharap pria itu masih ada di sana.

Hotel Topaz memiliki dua buah restoran. Yang pertama adalah Avenue Topaz yang terletak di lantai dasar—dan pagi itu dipenuhi oleh penghuni hotel yang sedang menikmati sarapan pagi mereka.

Dan yang kedua adalah Topaz Palate yang terletak di lantai 10 hotel itu. Topaz Palate lebih eksklusif dan tidak terlalu ramai, sehingga kerap digunakan untuk menjamu pertemuan bisnis.

Cora menaiki lift ke lantai 10 menuju Topaz Palate.

Meskipun sudah pernah ke restoran itu sebelumnya, Cora masih saja merasa gugup. Ritme jantungnya berdetak lebih cepat saat ia berjalan mendekati restoran itu.

Seperti dugaannya, di dalam restoran tidak terdapat banyak pengunjung. Hanya ada beberapa orang pebisnis yang duduk di sana.

Cora memperhatikan mereka satu persatu, mencari diantara mereka yang memiliki figur mirip “CEO” yang ia lihat tadi malam.

Beberapa meja dari tempatnya berdiri, duduk seorang pria dan seorang wanita. Meski mereka berpakaian kerja rapi, namun gestur mereka tampak seperti sepasang kekasih. Cora memastikan pria itu bukan orang yang ia cari.

Lalu di sebelah kanannya, tampak dua orang laki-laki, tetapi mereka berdua terlihat berusia lebih tua dari pria yang ia lihat semalam.

Beralih ke sebelah kiri, duduk dua orang laki-laki. Usia mereka nampak sesuai. Akan tetapi melihat gestur tubuhnya, Cora ragu jika salah satu dari mereka yang ia cari.

“Selamat pagi, selamat datang di Topaz Palate. Nama saya Ana. Ada yang saya bisa bantu?” Seorang pelayan restoran datang menghampiri Cora.

Cora berusaha bersikap wajar dan tersenyum padanya. Namun begitu, ujung matanya masih sibuk mencari sosok lain di restoran itu.

“Ya… saya—” tepat saat Cora hendak menjawab, ia melihat figur yang mirip sekali dengan pria yang ia lihat semalam, berperawakan tinggi dan tegap.

Dia duduk di teras luar restoran bersama seorang pria paruh baya dan seorang pria muda. Mereka tampak tengah terlibat dalam sebuah percakapan serius.

Sayangnya, Cora tidak dapat melihat wajah pria itu, karena dia duduk membelakanginya.

Dan apakah dia CEO RI Corp? Hanya satu cara untuk memastikannya, yaitu dengan berbicara dengan pria itu!

“Nona, apa anda sedang menunggu seseorang? Ada berapa orang? Saya bisa carikan meja yang cocok untuk Nona dan teman Nona.” Tawaran pelayan restoran membuyarkan pikiran Cora.

“Saya— hanya sendiri saja. Bisa saya duduk di sebelah sana? Pemandangannya terlihat indah dari sana,” ujar Cora beralasan sambil menunjuk meja yang berhadapan dengan pria yang diincarnya itu.

Selain agar ia bisa melihat wajah pria itu, ia pun ingin memastikan kesempatannya tidak terbuang percuma.

“Dari meja itu memang bisa melihat keluar, tetapi kalau Nona ingin melihat pemandangan yang lebih bagus, mari ikuti saya…” dengan ramah pelayan restoran mempersilahkan Cora untuk mengikutinya.

“Tu—tunggu, saya tidak masalah—” Cora berusaha menghentikannya, namun pelayan itu terus berjalan, begitu antusias menunjukkan meja terbaik di restoran itu.

Dan Cora terpaksa mengikutinya.

“Nah, disini pemandangannya sangat bagus, Nona. Silahkan duduk,” ujar pelayan sambil menarik kursi untuknya.

Meja yang dipilihkan pelayan itu memang memiliki pemandangan kota yang sangat indah. Dan meski letaknya tidak jauh dari meja pria itu—hanya berjarak dua meja, namun lagi-lagi Cora tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.

“Nona mau pesan apa?” tanya pelayan itu sambil memberikan buku menu padanya.

Cora melihat buku menu dan memesan secangkir kopi dengan sepiring roti bakar.

Selama duduk menunggu, Cora berusaha mencuri dengar percakapan CEO itu dan rekan bisnisnya.

“…Saya rasa selama kita berdua mengikuti kesepakatan, tidak akan ada masalah, Pak Adrian.” Pria tinggi tegap itu berbicara.

Nama klien pria itu cocok dengan yang disebut Heri. Dipastikan pria itu memang orang yang sama dengan semalam.

“Tentu saja. Kami tidak akan menyalahi kesepakatan kerjasama kita!” jawab Adrian, kolega pria itu.

“Kalau tidak ada yang lain, Heri akan mengurus segala sesuatunya.”

Cora menajamkan pendengarannya dan mengerutkan kening. Ia merasa aneh.

Semakin ia mendengarkan suara pria itu, semakin ia merasa familiar. Tetapi, di mana ia pernah mendengar suara pria itu?

Cora masih memikirkan hal itu ketika ketiga orang itu beranjak berdiri dan mereka bersalaman.

Ia langsung tersadar dan kembali memperhatikan gerak-gerik pria itu dari ujung matanya. Apakah dia akan pergi? Sepertinya mereka telah selesai bicara.

Untung saja, setelah kedua orang koleganya pergi, pria itu tetap di tempatnya.

Cora tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan cepat ia berjalan menuju meja pria itu.

“Selamat pagi, Pak. Nama saya Cora. Bapak memang belum mengenal saya, tetapi ada suatu hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Bapak. Dan saya yakin—” mulut Cora terhenti di tengah-tengah. Kedua matanya membelalak saat melihat wajah CEO itu.

“K-kamu?”

Bagaimana mungkin? Cora benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 4

    Cora menatap tak percaya pada pria dihadapannya. Tubuhnya diam tak berkutik seakan raganya tidak berada di tempat itu.“Cora Aleyna… siapa sangka kita bertemu lagi,” ucap pria itu sambil tersenyum miring.Kemudian dia duduk dengan elegan, menyilangkan kaki dengan santai.Kedua tangannya berada di sandaran tangan, beristirahat dengan elegan, sementara pandangan matanya mengamati gadis yang berdiri di depannya. Cora tersadar dari lamunannya saat mendengar pria itu menyebut namanya. Ia mencoba berdiri dengan tegak, meskipun merasa kikuk. Tidak pernah terpikirkan dalam benak Cora bahwa ia akan bertemu kembali dengan Reno—pria itu. Dan yang membuatnya bertambah syok adalah bahwa pria yang pernah menjadi kekasihnya itu kemungkinan besar adalah CEO yang ia cari.Bagaimana mungkin?“Reno—apakah kamu—CEO RI Corp.?” Cora harus memastikannya.Reno mendengus dan tersenyum miring. “Apakah itu penting?” Walaupun bersikap sinis, Reno tidak membantahnya. Dan itu cukup untuk membuat Cora yakin Ren

    Last Updated : 2025-02-25
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 5

    Di lantai teratas gedung Renowed Innovation Corp. di kota Fragrant Harbour, Reno Afrizal sedang berdiskusi dengan beberapa orang tim tender project Goldenbrook Canal. Heri dan anggota tim project sedang mengerjakan proposal di meja meeting yang ada di ruangan CEO itu, sementara Reno sedang duduk di kursi kerjanya, mengecek beberapa dokumen yang akan mereka lampirkan dalam pengajuan proposal tender tersebut. Di salah satu sisi dinding, pesawat televisi sedang menyala dengan suara yang dikecilkan. Tampak di layar televisi itu berita ekonomi dari salah satu stasiun televisi di Fragrant Harbour, FH Tribune. Reno sedang memperhatikan nama-nama beberapa perusahaan yang ikut serta dalam pengajuan tender Goldenbrook Canal, saat telinganya menangkap sebuah laporan berita dari seorang reporter. “Selamat pagi, saya Mira Damanik melaporkan dari Fragrant Convention Centre—FCC untuk F-news. Pagi ini Aco’s Inc telah meluncurkan produk baru berupa satu seri kosmetik yang dinamakan Akinos make up

    Last Updated : 2025-02-25
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 6

    Cora mendesah pelan. Kenapa ia harus bertemu dengan perempuan itu di sini?“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Teguran bernada keras itu diikuti oleh sentakan kuat di bahu, sehingga tubuh Cora berputar arah dengan cepat.Sesaat tubuhnya limbung, namun ia berhasil menyeimbangkannya dengan cepat. Cora mengangkat pandangannya dan dilihatnya Janet, Tania—adik Eric dan juga Rita—ibu Eric. Mereka bertiga berdiri mengitarinya.“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Rita kembali bertanya dengan nada setengah mendesis, dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seakan khawatir jika ada yang memperhatikan mereka.“Ya, Cora. Sedang apa kamu di sini? Tempat ini bukan untukmu!” Tania ikut bertanya dengan tatapan curiga.“Tante, bukankah Nenek Anjani sering memesan baju di sini? Aku curiga, dia menggunakan nama keluarga Wijaya untuk memesan sesuatu di sini!” Janet membisikkan kalimat itu di telinga Rita, sambil melirik Cora dengan tajam.“Benarkah? Kamu menggunakan nama keluarga kami? Apa yang ka

    Last Updated : 2025-03-07
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 7

    “Nona, ini gambar Anda,” ujar pria itu sambil menyodorkan kertas itu kepada Cora.Cora mengernyitkan keningnya mengenali suara itu. Ia beranjak berdiri sembari menerima sketsa rancangan miliknya. “Terima kasih,” ucap Cora sambil menatap Heri yang berdiri di depannya. Ia merasa heran bertemu dengan Heri di tempat itu. Dan jika Heri ada di sini, apa artinya Reno…?Pandangan Cora menyapu sekeliling halaman rumah mode itu mencari sosok Reno. Namun, ia kecewa tidak melihat Reno di sana. Di saat ia ingin bertanya, ketika itulah pandangan matanya terpaku pada sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.Mungkinkah Reno ada di dalam mobil itu? Cora tidak dapat melihat bagian dalam mobil itu karena jendela mobil itu begitu gelap.“Apa pun yang dia katakan, jangan terpengaruh olehnya! Dia itu hanya ingin mendekati Anda, untuk mengambil uang Anda saja!” seloroh Tania, memperingatkan Heri. Ia sengaja melakukan itu untuk mempermalukan Cora.Selain itu ia tida

    Last Updated : 2025-03-08
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 8

    Cora menatap terkejut. Dia—tidak menolaknya?Reno kembali mendekat dan kedua mata mereka menatap dengan intens. “Aku tidak suka kebohongan, Cora. Jika kamu ingin bekerjasama denganku, bicara jujur! Kamu mengerti?”Cora menarik nafas dalam, menyadari kesalahannya karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Reno. “Oke, maaf,” ucapnya sambil menurunkan pandangan.“Sekarang katakan sekali lagi, kenapa kamu ingin melakukan hal ini?!” sergah Reno sambil menatapnya, memperhatikan ekspresi wajah Cora.Cora menatap keluar pada gedung-gedung di pinggir jalan utama kota Fragrant Harbour yang dilalui mobil sedan mewah yang ditumpangi mereka.Namun, benaknya melayang jauh melampaui gedung-gedung itu, kembali pada kejadian hampir seminggu yang lalu saat mereka mengusir dan memperlakukannya seperti sampah.Ia menghela nafas dalam. “Eric dan keluarganya, mereka telah membohongiku.”Reno tidak memotong ucapan Cora dan membiarkan gadis itu bercerita.“Setahun yang lalu, aku mulai bekerja untuk merawat

    Last Updated : 2025-03-10
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 9

    Reno belum lama duduk di kursi kerjanya pagi itu saat pintu kantornya terbuka dengan tiba-tiba, disusul derap langkah kaki bergegas.“Maaf Pak, Bapak tidak bisa masuk begitu saja!” seru Heri sambil berusaha menghalangi seseorang untuk masuk.“Kamu pikir siapa dirimu? Berani melarangku?” pria berusia lima puluhan tahun itu tampak gusar oleh tindakan Heri yang melarangnya.“Reno! Apa kamu mengajari dia untuk melarangku datang?” teriak pria itu sambil berusaha melihat ke arah Reno melewati pundak Heri.Reno menghela nafas. “Biarkan dia masuk.” Ia lalu bersandar di kursinya sambil melihat ke arah pria yang gusar itu melewati Heri dengan kesal.“Apa maumu?” tanya Reno dengan sikap enggan.Sofyan—pria itu, menghela nafas dan merapikan pakaiannya sambil berjalan menghampiri Reno. Dia berhenti tepat di depan meja kerja CEO RI Corp. dengan tersenyum.Raut wajahnya tidak lagi kesal saat menghadapi Reno. Ia justru tersenyum sangat ramah. “Reno, Papa tahu kamu sedang sibuk, dan Papa sebenarnya ti

    Last Updated : 2025-03-11
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 10

    Heri merasa ada yang aneh dengan seringaian Bosnya itu. Akan tetapi ia mengiyakan perintahnya. “Baik Bos.” Ia pun keluar untuk menemui Cora.“Nona, Pak Reno sudah menunggu Anda. Silahkan…”Cora melirik pintu ruangan itu sebelum ia beranjak berdiri dan berjalan memasukinya.Saat memasuki ruangan itu, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Reno. Reno berdiri membelakanginya di depan dinding kaca yang berhadapan langsung dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota mereka. Ia sama sekali tidak menoleh saat Cora berjalan masuk dan pintu ditutup Heri dari luar.Cora sempat berhenti dan ragu untuk melangkah sebelum ia meneruskan langkahnya dengan berjalan pelan.Sambil berjalan, ia memperhatikan interior kantor Reno. Diam-diam ia berdecak kagum pada ruangan kerja Reno. Ruangan itu sangat rapi, berkelas dan bergaya modern.Harus diakuinya, Reno memiliki selera yang sangat bagus. Ornamen kayu berwarna gelap dipadu dengan kursi kulit penerima tamu berwarna copper, meeting r

    Last Updated : 2025-03-12
  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 11

    Jam setengah tujuh malam, Reno dengan mengenakan sweater hitam dan celana dark grey mengendarai sendiri mobil Daytona SP3 miliknya yang berwarna merah. Mobil sport mewah yang memiliki bentuk indah itu berhenti di depan salon kecantikan Elise. Reno melangkah keluar dan berjalan memasuki salon itu. “Selamat malam Reno, kamu datang tepat waktu,” ujar Elise ketika melihat Reno memasuki pintu salon kecantikan miliknya. “Malam Elise. Lama tidak bertemu, dan kamu semakin cantik saja,” sapa Reno sambil menyalami Elise. “Hem, terima kasih pujiannya, Reno. Tetapi sayangnya, cantik saja tidak cukup untukmu,” balas Elise sambil mengerlingkan matanya dan merangkul lengan Reno, mengajaknya masuk lebih dalam ke dalam salon kecantikan itu. Reno tertawa kecil sambil mengangkat telapak tangannya, menyerah pada kata-kata Elise. “Apa dia sudah siap?” tanya Reno, tidak lupa pada tujuan kedatangannya ke salon itu. “Tentu!” Jawab Elise dengan tersenyum miring. “Tapi beritahu dulu di mana k

    Last Updated : 2025-03-13

Latest chapter

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 32

    Tidak mungkin jam tangan ini palsu! Apa yang perempuan kampungan ini ketahui sampai berani mengatakan jam tangan ini palsu?!Laura begitu geram. Berani-beraninya Cora, perempuan rendahan ini mengatakan jam pemberiannya palsu. Padahal ia membeli jam tangan ini dengan harga yang sangat mahal!Cora dengan polosnya menjawab, “Tapi itu benar.. Perhatikan dengan seksama. Logo crown yang ada di sini, terlihat sedikit miring, tidak tepat ditengah.” Cora menunjukkan letak logo crown di bagian atas jam itu yang menggantikan angka 12. Laura dan juga Reno ikut memperhatikan.Wajah Laura seketika memerah, karena apa yang dikatakan Cora ternyata benar. Logo crown itu memang sediki miring. “Mungkin—mungkin, orang yang membuatnya sedang tidak—fokus!” Laura langsung beralasan.Reno mengulum senyum berusaha untuk tidak tertawa.Cora menggeleng menanggapi Laura. “Itu tidak mungkin. Sekelas jam Rolex sangat memperhatikan detil, tidak mungkin melakukan kesalahan seperti ini,” ujarnya menyanggah. Ia lalu

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 31

    Laura duduk menunggu di ruangan tunggu VIP dengan harap-harap cemas. Maukah Reno menemuinya? Sebentar-sebentar ia melirik ke arah meja sekertaris CEO yang menyuruhnya duduk di tempat itu, berharap dia membawa kabar baik.Dengan mengenakan baju terusan spagheti straps sebatas setengah paha berwarna emerald serta sepasang kacamata hitam, siang itu Laura datang ke kantor Renowed Innovation untuk menemui Reno.Seperti rencananya dan Sofyan, ia datang untuk memberi Reno sebuah hadiah ulang tahun; dan jika beruntung, ia mungkin bisa mengajak Reno makan siang bersamanya!Sofyan bahkan meminjamkannya kartu akses lift VIP, sehingga ia tidak mendapat kesulitan ketika memasuki gedung sampai naik ke lantai teratas.Dan sekarang, semua terserah pada Reno. Laura berharap Reno mau menemuinya.Untungnya ia tidak perlu lama menunggu sampai sekertaris CEO itu datang menghampirinya. “Bu Laura, Anda boleh masuk sekarang. Pak Reno ada di dalam,” ujar Frieda menyampaikan dengan sopan.Laura senang sekali

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 30

    Cora duduk di kursi terdekat dan mencari tahu mengenai berita itu lebih lanjut. Ia mengecek berita serupa di kanal-kanal berita lainnya. Ternyata, berita itu mulai tersebar sejak semalam dan menjadi sekarang menjadi salah satu berita yang viral.Banyak orang yang membicarakannya dan mendapat berbagai respon yang berbeda. Dari yang tidak percaya, sampai kepada yang menyupah serapah, dan bahkan sampai memberi testimoni efek buruk yang mereka derita dari pemakaian kosmetik dari Aco’s Inc tersebut.Satu-persatu mulai banyak orang yang berbicara dan mempertanyakan kebenaran berita itu.“Pantas saja wajahku menjadi merah dan iritasi. Aku sudah curiga, dan ternyata mereka memang menggunakan Mercuri dan Hidrokuinon!”“Apa masih kurang kaya keluarga Wijaya itu sampai tega berbuat seperti ini? Kalau Ibu Anjani masih hidup, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi di perusahaannya!”“Aku yakin Janeta Efendi juga mengetahui hal ini! Dia juga pasti tidak mau menggunakan produk Aco’s!”“Pastilah J

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 29

    “Lumayan. Paling tidak, ciumanmu—tidak lebih buruk dari 6 tahun yang lalu,” ujar Reno sambil tersenyum dan terang-terangan memperhatikan wajah merona Cora.Wajah Cora semakin memerah. Ia yakin Reno sengaja menatap dan mengatakan hal itu untuk membuatnya bertambah malu saja!Cora tidak ingin berlama-lama berada di pangkuan Reno. Ia begitu malu. Kalau saat itu ada lubang di bawah kakinya, ingin rasanya ia melompat dan bersembunyi di sana!Ia bergegas beranjak turun dari pangkuan Reno. Namun pria itu justru menahannya, memeganginya sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah dia sedang mencumbunya.Dan sebelum Cora sempat protes, Reno berbisik di telinganya. “Di jendela di belakangmu ada yang sedang memperhatikan. Jangan menoleh, dan ikuti saja apa yang aku katakan.”Ingin rasanya Cora menoleh untuk melihat siapa orang yang menjadi mata-mata di rumah itu, namun ia tidak melakukannya. The show must go on.“Kenapa kamu tidak menyuapi aku saja?” ujar Reno sambil melirik roti bakar di atas

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 28

    Cora terdiam beberapa saat. Bulu kuduknya sedikit meremang merasakan hembusan nafas Reno di telinga dan ceruk lehernya. Namun, ia segera mengatasi keterkejutannya itu dengan memaksakan sebuah senyuman pada sang suami dan menjawabnya. “Pagi, Sayang.”Cora tahu persis Reno sedang bersandiwara. Apalagi dapur tempat mereka berada, merupakan tempat yang strategis untuk mempertontonkan kemesraan. Apa yang mereka lakukan dapat terlihat dengan jelas dari ruang makan, ruang keluarga, tangga, selasar lantai dua dan juga taman di belakang rumah. Di setiap tempat itu ada saja asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Entah sedang mengepel, membersihkan debu, atau pun menyiangi tanaman. “Masak apa buat aku pagi ini?” Reno menatap Cora dari samping. Ujung mata foxy Cora melirik pria disampingnya. “Roti bakar kesukaanmu. Atau kamu ingin yang lain?”Reno menggeleng. “Apa pun yang kamu buat pasti lezat.” Lalu dengan playful dikecupnya lagi pipi Cora, bagaikan kekasih yang seda

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 27

    Eric masih dalam keadaan sangat gusar dan kesal saat pintu kantornya terbuka. “Eric, apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Sejak aku bangun pagi ini, semua orang menghubungiku. Menanyakan mengenai zat berbahaya dalam produk Aco’s! Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?” Janet berjalan masuk dengan gusar. Ia mengenakan jaket hoodie dan kaca mata hitam, persis seperti orang yang tengah menyembunyikan diri.Janet begitu kesal. Saat bangun di pagi hari, ia mendapat begitu banyak panggilan masuk tidak terjawab, pesan, serta notifikasi yang terus menerus dari aku media sosialnya.Jabet begitu terkejut. Bagi seorang publik figur, begitu banyaknya reaksi yang dia dapat dari publik, bisa berasal dari dua hal; berita baik atau berita buruk.Janet berharap ia mendapatkan sebuah surprise, berita baik yang tidak terduga. Namun kenyataannya ia justru mendapatkan begitu banyak cacian, makian dan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.Semua orang seolah-olah meminta pertanggungjawabannya mengenai produk ya

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 26

    “Apa maksudmu? Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?” Eric mendamprat Adi— Direktur operasional Aco’s Inc. yang datang ke kantornya pagi itu.“Kami masih menyelidikinya Pak Eric. Kami juga belum mengetahui bagaimana hal itu bisa bocor ke publik,” jawab Adi dengan gemetar. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya karena begitu takutnya dia. Pemberitaan mengenai bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik Aco’s Inc menyebar dengan cepat di berbagai berita dan media sosial sejak semalam. Dan pagi ini, berita itu bagaikan sebuah pemberitaan yang viral dibicarakan banyak orang.Masalah kosmetik yang mengandung zat berbahaya telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir ini, apalagi dengan begitu banyaknya influencer yang ikut membahas mengenai produk-produk kosmetik yang tidak aman digunakan dan berbahaya bagi kulit serta organ tubuh.Dan Aco’s Inc telah berusaha untuk menutup rahasia itu rapat-rapat, namun ternyata rahasia itu bocor juga.Eric mendengus kasar. “Apa kamu ti

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 25

    “Apa kamu bilang? Mereka menikah?” Sofyan yang sedang duduk di seiah pub beranjak berdiri dan berjalan ke tempat sepiIa baru mendengar kabar pernikahan Reno dan Cora dari seorang mata-mata yang ia kirim di rumah Reno.“Benar, Pak. Pak Reno sendiri yang memperkenalkan Nyonya Cora sebagai—”“Nyonya! Nyonya! Dia bukan Nyonya! Dia itu hanya anak yatim piatu miskin! Tidak perlu memanggil dia Nyonya!” sergah Sofyan yang kesal mendengar mata-matanya itu justru memanggil Cora dengan terhormat. Sofyan merasa Cora tidak pantas di panggilan dengan sebutan Nyonya, apalagi sampai menikah dengan anaknya yang notabene adalah seorang pengusaha sukses!Menurut Sofyan, Reno hanya boleh menikah dengan perempuan pilihannya. Perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan bisa menguntungkan bagi dirinya dan Reno!“Dengar baik-baik. Mereka itu hanya berpura-pura saja menikah!” Sofyan tetap tidak percaya jika Reno dan Cora menikah.Pasalnya, Reno begitu sakit hati saat Cora memutuskannya dulu. Jadi, bagaima

  • Kesepakatan Hati: Terjebak Pelukan Sang Mantan   Bab 24

    Cora ragu dan bimbang, gelisah dan tidak tenang. Ia tidak ingin tidur di sofa itu, tapi apa Reno akan mengijinkan ia tidur di ranjang?Tiba-tiba Cora mempunyai suatu ide. Saat ia mendengar suara air berhenti mengalir, Cora segera menarik selimut dan berpura-pura tidur.Samar ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Cora yakin Reno sudah berjalan keluar kamar mandi meskipun ia tidak bisa mendengar suara langkah kaki pria itu.Di luar kamar mandi, Reno melihat Cora sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, dan hanya menyisakan bagian kepala.Ia berhenti di sisi ranjang, memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat sebelum ia berjalan ke arah pintu.Cora yang masih berpura-pura tidur dan memejamkan mata, tidak tahu apa yang Reno lakukan atau di mana dia. Sampai ia mendengar pintu kamar itu dibuka, lalu di tutup.Ke mana dia pergi? Pikir Cora. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama, namun ia tidak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu. Reno benar-benar p

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status