“Kurang ajar! Bagaimana mungkin mereka melakukan ini padamu? Dan Eric? Dasar laki-laki berengsek! Tidak berperasaan!” Tiara—sahabat Cora, sangat geram saat Cora menceritakan apa yang terjadi.
Cora menghela nafas dengan berat. Ia pun tidak menyangka mereka yang terlihat baik di permukaan, ternyata memiliki pikiran dan rencana sepicik itu. Hatinya benar-benar sakit telah dikhianati, dimanfaatkan dan diperlakukan seperti sampah oleh Eric dan Janet! Ia tidak bisa melupakan apa yang mereka lakukan padanya begitu saja! Tetapi… apa yang bisa aku lakukan? Andai aku bisa membalas perbuatan mereka… Eric seorang CEO perusahaan besar, dan aku… bukan siapa-siapa… Batin Cora merasa sangat kecewa dan sedih. Ia menghela nafas sedih. Melihat raut wajah Cora yang begitu sedih, Tiara ikut merasa sedih. Dipeluknya sahabatnya itu dengan erat. “Cora, lupakan saja laki-laki berengsek itu! Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik darinya!” Ia melepaskan pelukannya lalu berkata dengan geram, “Dan Janet…semoga mereka berdua mendapat balasan setimpal atas perbuatan mereka!” “Aku harap begitu,” ucap Cora sambil menarik nafas dalam. Untung saja ada Tiara. Sahabatnya itu tidak hanya memberinya dukungan, tetapi dia juga menjemputnya dan mengijinkannya tinggal di kos tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Paling tidak, sampai ia mendapatkan tempat tinggal yang baru. “Habiskan makanmu. Jangan sampai masalah seperti ini membuatmu sakit.” Tiara mendekatkan piring makanan ke dekat Cora. Tiara mengajak Cora ke sebuah restoran malam itu. Sejak mereka bertemu, Cora enggan memakan apa pun juga. Padahal temannya itu belum makan sejak pagi. Cora menghela nafas berat. Ia tidak bernafsu untuk makan setelah mengetahui tipu daya Eric selama ini. “Aku ke kamar mandi sebentar. Kamu makanlah, Cora,” ucap Tiara sebelum ia beranjak pergi. Cora menatap piring mie goreng dihadapannya tanpa bernafsu. Diletakkannya kembali alat makan yang dipegangnya kembali ke atas piring. Saat sedang termenung, tidak sengaja ia mendengar percakapan beberapa orang yang duduk di meja sebelahnya. “Sayang sekali private room sedang tidak bisa kita gunakan.” “Aku dengar, semua ruangan private room dibooking oleh RI Corp malam ini.” Awalnya, Cora tidak terlalu ambil peduli pada percakapan mereka sampai ia mendengar mereka menyebut nama RI Corp. Eric pernah memberitahukannya mengenai perusaahaan itu. Saat itu Eric begitu kesal dengan sepak terjang RI Corp yang mulai menyaingi nama besar Wijaya Corp—perusahaan keluarga yang di pimpin oleh Eric. Dia mengatakan bahwa RI Corp beberapa kali berhasil menjegal tender proyek besar yang sedang diincarnya, dan bahkan memenangkan tender itu. Dan hal itu membuat Eric begitu gusar. RI Corp sendiri awalnya adalah sebuah perusahaan kecil yang didirikan tidak lebih dari lima tahun yang lalu. Namun sejak mulai berdiri hingga sekarang, perusahaan itu mengalami kemajuan yang sangat pesat, dan sekarang digadang-gadang telah memiliki aset yang sama besar dengan Wijaya Corp. Bahkan nilai saham perusahaan itu pun cukup tinggi dan menyamai Wijaya Corp. Padahal selama hampir lima belas tahun, Wijaya Corp adalah salah satu perusahaan yang mempunyai nama besar di Fragrant Harbour. Cora langsung menajamkan telinga, ingin mendengar lebih jauh percakapan mereka. “Benar. Mereka menggunakan ketiga ruangan itu sekaligus. Padahal aku ingin mengajak kalian makan di sana malam ini. Siapa tahu kita bisa bertemu dan melihat langsung CEO-nya!” ujar salah seorang dari mereka sambil tertawa. Cora ingat, Eric juga pernah mengatakan jika dia kesulitan mengetahui identitas CEO tersebut, karena pria itu sangat misterius dan tidak pernah menampakkan wajahnya kepada publik. Memikirkan hal itu, tiba-tiba terlintas sebuah ide dibenak Cora. Mungkinkah ia bisa mengajak CEO RI Corp itu untuk bekerjasama dengannya? Cora sadar, untuk membalas Eric, ia tidak bisa melakukannya sendirian. Ia membutuhkan bantuan orang lain yang sama kuatnya dengan Eric. Siapa lagi di Fragrant Harbour yang bisa melakukan hal itu selain CEO RI Corp? Cora juga mengetahui jika Eric kerap kali bermain curang dalam berbisnis. Hal ini ia ketahui saat beberapa kali membantu Anjani mengecek keadaan perusahaan. Meskipun Anjani sudah memberi peringatan, namun Eric masih saja melakukan lobi-lobi bisnis yang tidak seharusnya. Dan hal itu bisa menjadi salah satu nilai jualnya untuk membujuk CEO RI Corp itu untuk bekerjasama dengannya untuk menjatuhkan Eric! Ya, itu bisa jadi sebuah jalan keluar untuk membalas semua perbuatan jahat Eric padanya! Bagaikan sebuah jalan keluar baginya, Cora menyorongkan tubuhnya mendekati salah seorang di meja sebelah. “Maaf, boleh saya tahu di mana private room yang kalian bicarakan?” tanya Cora mencoba peruntungannya. Orang itu menatap Cora dengan penuh selidik sebelum ia terkekeh. “Kamu pasti mau mencoba mendekati CEO itu ya? Kata orang dia memang sangat tampan, tapi kamu juga harus tahu, dia tidak mudah dekat dengan sembarang perempuan,” ujarnya menebak maksud Cora menanyakan ruangan itu. Cora menghela nafas, terserah apa saja yang dia katakan. Yang ia inginkan hanyalah bertemu dan membuat penawaran dengan CEO itu. “Bisa beritahu di mana letaknya?” Cora kembali bertanya, setengah memaksa. Untungnya orang itu mau memberitahu Cora di mana letaknya. Ia pun tidak membuang waktu dan segera berjalan ke arah private room yang dimaksud. Namun saat ia baru memasuki lorong menuju ruangan itu, pintu di depannya terbuka, dan keluarlah beberapa orang laki-laki yang menyuruhnya berhenti, disusul beberapa orang laki-laki dan perempuan dalam pakaian kerja yang rapi keluar dari ruangan itu. Cora terpaksa menunggu hingga rombongan itu lewat, barulah ia diperbolehkan berjalan kembali. Cora bergegas mengikuti rombongan itu, keluar melalui pintu khusus. Diam-diam ia memperhatikan mereka satu persatu, mencari sosok CEO yang ingin ditemuinya. Namun Cora benar-benar tidak mempunyai petunjuk mengenai ciri-ciri orang tersebut. Dari tempatnya berdiri, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Akan tetapi, ada satu orang yang paling menonjol diantara mereka, yang terlihat disegani dan memiliki postur tubuh yang tinggi tegap. Apakah dia orangnya? Cora memutuskan membuntuti pria itu, hingga dia masuk ke dalam sebuah mobil Mercedez Bens diikuti oleh seorang pria. Dari tempatnya berdiri di balik pilar, samar Cora mendengarkan percakapan mereka. “Besok pagi jam 8, Bos ada meeting dengan Bapak Adrian di Topaz Palate. Apa Bos mau saya temani?” “Tidak perlu Heri, biar aku pergi sendiri.” Orang itu—Heri, mengangguk hormat dan menutup pintu mobil sebelum mobil melaju meninggalkan halaman restoran. Topaz Palate jam 8. Besok pagi orang itu akan berada di sana. Apakah ini kesempatan yang baik untuk menemuinya? Cora menggigit bibirnya dengan gelisah. Satu hal yang jelas baginya, ia tidak boleh membuang kesempatan ini. Apalagi jika ini adalah satu-satunya kesempatan untuk bertemu dengan CEO itu!“Kamu yakin mau pergi menemui orang itu?” tanya Tiara sembari memperhatikan Cora bersiap-siap. Cora yang baru saja selesai mandi dan sedang merapikan pakaiannya menoleh. Ia mengangguk. “Kalau ada yang bisa menjatuhkan perusahaan Eric, itu adalah RI Corp. Hanya dia yang bisa membantuku,” jawab Cora sambil menatap penampilan dirinya di depan cermin. “Bagaimana kamu akan meyakinkan dia? Kamu bahkan tidak tahu seperti apa rupa orang itu, atau—bagaimana sifatnya,” tanya Tiara lagi sambil ia beranjak dari ranjang. Cora menatap di cermin kedua matanya yang berbentuk foxy—memanjang dan terangkat di bagian luar. Identitas CEO itu sulit diketahui, sehingga untuk bisa menemuinya akan sulit jika tidak memiliki kontak langsung dengannya. Instingnya mengatakan jika pria yang ia buntuti semalam adalah orang yang ia cari. Dan percakapan yang didengarnya semalam adalah sebuah petunjuk untuk bisa menemui pria tersebut. Dan jika benar dia CEO RI Corp, ia punya kesempatan untuk membuat CEO itu te
Cora menatap tak percaya pada pria dihadapannya. Tubuhnya diam tak berkutik seakan raganya tidak berada di tempat itu.“Cora Aleyna… siapa sangka kita bertemu lagi,” ucap pria itu sambil tersenyum miring.Kemudian dia duduk dengan elegan, menyilangkan kaki dengan santai.Kedua tangannya berada di sandaran tangan, beristirahat dengan elegan, sementara pandangan matanya mengamati gadis yang berdiri di depannya. Cora tersadar dari lamunannya saat mendengar pria itu menyebut namanya. Ia mencoba berdiri dengan tegak, meskipun merasa kikuk. Tidak pernah terpikirkan dalam benak Cora bahwa ia akan bertemu kembali dengan Reno—pria itu. Dan yang membuatnya bertambah syok adalah bahwa pria yang pernah menjadi kekasihnya itu kemungkinan besar adalah CEO yang ia cari.Bagaimana mungkin?“Reno—apakah kamu—CEO RI Corp.?” Cora harus memastikannya.Reno mendengus dan tersenyum miring. “Apakah itu penting?” Walaupun bersikap sinis, Reno tidak membantahnya. Dan itu cukup untuk membuat Cora yakin Ren
Di lantai teratas gedung Renowed Innovation Corp. di kota Fragrant Harbour, Reno Afrizal sedang berdiskusi dengan beberapa orang tim tender project Goldenbrook Canal. Heri dan anggota tim project sedang mengerjakan proposal di meja meeting yang ada di ruangan CEO itu, sementara Reno sedang duduk di kursi kerjanya, mengecek beberapa dokumen yang akan mereka lampirkan dalam pengajuan proposal tender tersebut. Di salah satu sisi dinding, pesawat televisi sedang menyala dengan suara yang dikecilkan. Tampak di layar televisi itu berita ekonomi dari salah satu stasiun televisi di Fragrant Harbour, FH Tribune. Reno sedang memperhatikan nama-nama beberapa perusahaan yang ikut serta dalam pengajuan tender Goldenbrook Canal, saat telinganya menangkap sebuah laporan berita dari seorang reporter. “Selamat pagi, saya Mira Damanik melaporkan dari Fragrant Convention Centre—FCC untuk F-news. Pagi ini Aco’s Inc telah meluncurkan produk baru berupa satu seri kosmetik yang dinamakan Akinos make up
Cora mendesah pelan. Kenapa ia harus bertemu dengan perempuan itu di sini?“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Teguran bernada keras itu diikuti oleh sentakan kuat di bahu, sehingga tubuh Cora berputar arah dengan cepat.Sesaat tubuhnya limbung, namun ia berhasil menyeimbangkannya dengan cepat. Cora mengangkat pandangannya dan dilihatnya Janet, Tania—adik Eric dan juga Rita—ibu Eric. Mereka bertiga berdiri mengitarinya.“Cora, apa yang kamu lakukan di sini?” Rita kembali bertanya dengan nada setengah mendesis, dan matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seakan khawatir jika ada yang memperhatikan mereka.“Ya, Cora. Sedang apa kamu di sini? Tempat ini bukan untukmu!” Tania ikut bertanya dengan tatapan curiga.“Tante, bukankah Nenek Anjani sering memesan baju di sini? Aku curiga, dia menggunakan nama keluarga Wijaya untuk memesan sesuatu di sini!” Janet membisikkan kalimat itu di telinga Rita, sambil melirik Cora dengan tajam.“Benarkah? Kamu menggunakan nama keluarga kami? Apa yang ka
“Nona, ini gambar Anda,” ujar pria itu sambil menyodorkan kertas itu kepada Cora.Cora mengernyitkan keningnya mengenali suara itu. Ia beranjak berdiri sembari menerima sketsa rancangan miliknya. “Terima kasih,” ucap Cora sambil menatap Heri yang berdiri di depannya. Ia merasa heran bertemu dengan Heri di tempat itu. Dan jika Heri ada di sini, apa artinya Reno…?Pandangan Cora menyapu sekeliling halaman rumah mode itu mencari sosok Reno. Namun, ia kecewa tidak melihat Reno di sana. Di saat ia ingin bertanya, ketika itulah pandangan matanya terpaku pada sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari mereka.Mungkinkah Reno ada di dalam mobil itu? Cora tidak dapat melihat bagian dalam mobil itu karena jendela mobil itu begitu gelap.“Apa pun yang dia katakan, jangan terpengaruh olehnya! Dia itu hanya ingin mendekati Anda, untuk mengambil uang Anda saja!” seloroh Tania, memperingatkan Heri. Ia sengaja melakukan itu untuk mempermalukan Cora.Selain itu ia tida
Cora menatap terkejut. Dia—tidak menolaknya?Reno kembali mendekat dan kedua mata mereka menatap dengan intens. “Aku tidak suka kebohongan, Cora. Jika kamu ingin bekerjasama denganku, bicara jujur! Kamu mengerti?”Cora menarik nafas dalam, menyadari kesalahannya karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada Reno. “Oke, maaf,” ucapnya sambil menurunkan pandangan.“Sekarang katakan sekali lagi, kenapa kamu ingin melakukan hal ini?!” sergah Reno sambil menatapnya, memperhatikan ekspresi wajah Cora.Cora menatap keluar pada gedung-gedung di pinggir jalan utama kota Fragrant Harbour yang dilalui mobil sedan mewah yang ditumpangi mereka.Namun, benaknya melayang jauh melampaui gedung-gedung itu, kembali pada kejadian hampir seminggu yang lalu saat mereka mengusir dan memperlakukannya seperti sampah.Ia menghela nafas dalam. “Eric dan keluarganya, mereka telah membohongiku.”Reno tidak memotong ucapan Cora dan membiarkan gadis itu bercerita.“Setahun yang lalu, aku mulai bekerja untuk merawat
Reno belum lama duduk di kursi kerjanya pagi itu saat pintu kantornya terbuka dengan tiba-tiba, disusul derap langkah kaki bergegas.“Maaf Pak, Bapak tidak bisa masuk begitu saja!” seru Heri sambil berusaha menghalangi seseorang untuk masuk.“Kamu pikir siapa dirimu? Berani melarangku?” pria berusia lima puluhan tahun itu tampak gusar oleh tindakan Heri yang melarangnya.“Reno! Apa kamu mengajari dia untuk melarangku datang?” teriak pria itu sambil berusaha melihat ke arah Reno melewati pundak Heri.Reno menghela nafas. “Biarkan dia masuk.” Ia lalu bersandar di kursinya sambil melihat ke arah pria yang gusar itu melewati Heri dengan kesal.“Apa maumu?” tanya Reno dengan sikap enggan.Sofyan—pria itu, menghela nafas dan merapikan pakaiannya sambil berjalan menghampiri Reno. Dia berhenti tepat di depan meja kerja CEO RI Corp. dengan tersenyum.Raut wajahnya tidak lagi kesal saat menghadapi Reno. Ia justru tersenyum sangat ramah. “Reno, Papa tahu kamu sedang sibuk, dan Papa sebenarnya ti
Heri merasa ada yang aneh dengan seringaian Bosnya itu. Akan tetapi ia mengiyakan perintahnya. “Baik Bos.” Ia pun keluar untuk menemui Cora.“Nona, Pak Reno sudah menunggu Anda. Silahkan…”Cora melirik pintu ruangan itu sebelum ia beranjak berdiri dan berjalan memasukinya.Saat memasuki ruangan itu, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah Reno. Reno berdiri membelakanginya di depan dinding kaca yang berhadapan langsung dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit di kota mereka. Ia sama sekali tidak menoleh saat Cora berjalan masuk dan pintu ditutup Heri dari luar.Cora sempat berhenti dan ragu untuk melangkah sebelum ia meneruskan langkahnya dengan berjalan pelan.Sambil berjalan, ia memperhatikan interior kantor Reno. Diam-diam ia berdecak kagum pada ruangan kerja Reno. Ruangan itu sangat rapi, berkelas dan bergaya modern.Harus diakuinya, Reno memiliki selera yang sangat bagus. Ornamen kayu berwarna gelap dipadu dengan kursi kulit penerima tamu berwarna copper, meeting r
Tidak mungkin jam tangan ini palsu! Apa yang perempuan kampungan ini ketahui sampai berani mengatakan jam tangan ini palsu?!Laura begitu geram. Berani-beraninya Cora, perempuan rendahan ini mengatakan jam pemberiannya palsu. Padahal ia membeli jam tangan ini dengan harga yang sangat mahal!Cora dengan polosnya menjawab, “Tapi itu benar.. Perhatikan dengan seksama. Logo crown yang ada di sini, terlihat sedikit miring, tidak tepat ditengah.” Cora menunjukkan letak logo crown di bagian atas jam itu yang menggantikan angka 12. Laura dan juga Reno ikut memperhatikan.Wajah Laura seketika memerah, karena apa yang dikatakan Cora ternyata benar. Logo crown itu memang sediki miring. “Mungkin—mungkin, orang yang membuatnya sedang tidak—fokus!” Laura langsung beralasan.Reno mengulum senyum berusaha untuk tidak tertawa.Cora menggeleng menanggapi Laura. “Itu tidak mungkin. Sekelas jam Rolex sangat memperhatikan detil, tidak mungkin melakukan kesalahan seperti ini,” ujarnya menyanggah. Ia lalu
Laura duduk menunggu di ruangan tunggu VIP dengan harap-harap cemas. Maukah Reno menemuinya? Sebentar-sebentar ia melirik ke arah meja sekertaris CEO yang menyuruhnya duduk di tempat itu, berharap dia membawa kabar baik.Dengan mengenakan baju terusan spagheti straps sebatas setengah paha berwarna emerald serta sepasang kacamata hitam, siang itu Laura datang ke kantor Renowed Innovation untuk menemui Reno.Seperti rencananya dan Sofyan, ia datang untuk memberi Reno sebuah hadiah ulang tahun; dan jika beruntung, ia mungkin bisa mengajak Reno makan siang bersamanya!Sofyan bahkan meminjamkannya kartu akses lift VIP, sehingga ia tidak mendapat kesulitan ketika memasuki gedung sampai naik ke lantai teratas.Dan sekarang, semua terserah pada Reno. Laura berharap Reno mau menemuinya.Untungnya ia tidak perlu lama menunggu sampai sekertaris CEO itu datang menghampirinya. “Bu Laura, Anda boleh masuk sekarang. Pak Reno ada di dalam,” ujar Frieda menyampaikan dengan sopan.Laura senang sekali
Cora duduk di kursi terdekat dan mencari tahu mengenai berita itu lebih lanjut. Ia mengecek berita serupa di kanal-kanal berita lainnya. Ternyata, berita itu mulai tersebar sejak semalam dan menjadi sekarang menjadi salah satu berita yang viral.Banyak orang yang membicarakannya dan mendapat berbagai respon yang berbeda. Dari yang tidak percaya, sampai kepada yang menyupah serapah, dan bahkan sampai memberi testimoni efek buruk yang mereka derita dari pemakaian kosmetik dari Aco’s Inc tersebut.Satu-persatu mulai banyak orang yang berbicara dan mempertanyakan kebenaran berita itu.“Pantas saja wajahku menjadi merah dan iritasi. Aku sudah curiga, dan ternyata mereka memang menggunakan Mercuri dan Hidrokuinon!”“Apa masih kurang kaya keluarga Wijaya itu sampai tega berbuat seperti ini? Kalau Ibu Anjani masih hidup, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi di perusahaannya!”“Aku yakin Janeta Efendi juga mengetahui hal ini! Dia juga pasti tidak mau menggunakan produk Aco’s!”“Pastilah J
“Lumayan. Paling tidak, ciumanmu—tidak lebih buruk dari 6 tahun yang lalu,” ujar Reno sambil tersenyum dan terang-terangan memperhatikan wajah merona Cora.Wajah Cora semakin memerah. Ia yakin Reno sengaja menatap dan mengatakan hal itu untuk membuatnya bertambah malu saja!Cora tidak ingin berlama-lama berada di pangkuan Reno. Ia begitu malu. Kalau saat itu ada lubang di bawah kakinya, ingin rasanya ia melompat dan bersembunyi di sana!Ia bergegas beranjak turun dari pangkuan Reno. Namun pria itu justru menahannya, memeganginya sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah dia sedang mencumbunya.Dan sebelum Cora sempat protes, Reno berbisik di telinganya. “Di jendela di belakangmu ada yang sedang memperhatikan. Jangan menoleh, dan ikuti saja apa yang aku katakan.”Ingin rasanya Cora menoleh untuk melihat siapa orang yang menjadi mata-mata di rumah itu, namun ia tidak melakukannya. The show must go on.“Kenapa kamu tidak menyuapi aku saja?” ujar Reno sambil melirik roti bakar di atas
Cora terdiam beberapa saat. Bulu kuduknya sedikit meremang merasakan hembusan nafas Reno di telinga dan ceruk lehernya. Namun, ia segera mengatasi keterkejutannya itu dengan memaksakan sebuah senyuman pada sang suami dan menjawabnya. “Pagi, Sayang.”Cora tahu persis Reno sedang bersandiwara. Apalagi dapur tempat mereka berada, merupakan tempat yang strategis untuk mempertontonkan kemesraan. Apa yang mereka lakukan dapat terlihat dengan jelas dari ruang makan, ruang keluarga, tangga, selasar lantai dua dan juga taman di belakang rumah. Di setiap tempat itu ada saja asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Entah sedang mengepel, membersihkan debu, atau pun menyiangi tanaman. “Masak apa buat aku pagi ini?” Reno menatap Cora dari samping. Ujung mata foxy Cora melirik pria disampingnya. “Roti bakar kesukaanmu. Atau kamu ingin yang lain?”Reno menggeleng. “Apa pun yang kamu buat pasti lezat.” Lalu dengan playful dikecupnya lagi pipi Cora, bagaikan kekasih yang seda
Eric masih dalam keadaan sangat gusar dan kesal saat pintu kantornya terbuka. “Eric, apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Sejak aku bangun pagi ini, semua orang menghubungiku. Menanyakan mengenai zat berbahaya dalam produk Aco’s! Kenapa kamu tidak menjawab teleponku?” Janet berjalan masuk dengan gusar. Ia mengenakan jaket hoodie dan kaca mata hitam, persis seperti orang yang tengah menyembunyikan diri.Janet begitu kesal. Saat bangun di pagi hari, ia mendapat begitu banyak panggilan masuk tidak terjawab, pesan, serta notifikasi yang terus menerus dari aku media sosialnya.Jabet begitu terkejut. Bagi seorang publik figur, begitu banyaknya reaksi yang dia dapat dari publik, bisa berasal dari dua hal; berita baik atau berita buruk.Janet berharap ia mendapatkan sebuah surprise, berita baik yang tidak terduga. Namun kenyataannya ia justru mendapatkan begitu banyak cacian, makian dan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.Semua orang seolah-olah meminta pertanggungjawabannya mengenai produk ya
“Apa maksudmu? Bagaimana mereka bisa mengetahuinya?” Eric mendamprat Adi— Direktur operasional Aco’s Inc. yang datang ke kantornya pagi itu.“Kami masih menyelidikinya Pak Eric. Kami juga belum mengetahui bagaimana hal itu bisa bocor ke publik,” jawab Adi dengan gemetar. Bulir-bulir keringat menetes di dahinya karena begitu takutnya dia. Pemberitaan mengenai bahan berbahaya yang terkandung dalam produk kosmetik Aco’s Inc menyebar dengan cepat di berbagai berita dan media sosial sejak semalam. Dan pagi ini, berita itu bagaikan sebuah pemberitaan yang viral dibicarakan banyak orang.Masalah kosmetik yang mengandung zat berbahaya telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir ini, apalagi dengan begitu banyaknya influencer yang ikut membahas mengenai produk-produk kosmetik yang tidak aman digunakan dan berbahaya bagi kulit serta organ tubuh.Dan Aco’s Inc telah berusaha untuk menutup rahasia itu rapat-rapat, namun ternyata rahasia itu bocor juga.Eric mendengus kasar. “Apa kamu ti
“Apa kamu bilang? Mereka menikah?” Sofyan yang sedang duduk di seiah pub beranjak berdiri dan berjalan ke tempat sepiIa baru mendengar kabar pernikahan Reno dan Cora dari seorang mata-mata yang ia kirim di rumah Reno.“Benar, Pak. Pak Reno sendiri yang memperkenalkan Nyonya Cora sebagai—”“Nyonya! Nyonya! Dia bukan Nyonya! Dia itu hanya anak yatim piatu miskin! Tidak perlu memanggil dia Nyonya!” sergah Sofyan yang kesal mendengar mata-matanya itu justru memanggil Cora dengan terhormat. Sofyan merasa Cora tidak pantas di panggilan dengan sebutan Nyonya, apalagi sampai menikah dengan anaknya yang notabene adalah seorang pengusaha sukses!Menurut Sofyan, Reno hanya boleh menikah dengan perempuan pilihannya. Perempuan yang berasal dari keluarga kaya dan bisa menguntungkan bagi dirinya dan Reno!“Dengar baik-baik. Mereka itu hanya berpura-pura saja menikah!” Sofyan tetap tidak percaya jika Reno dan Cora menikah.Pasalnya, Reno begitu sakit hati saat Cora memutuskannya dulu. Jadi, bagaima
Cora ragu dan bimbang, gelisah dan tidak tenang. Ia tidak ingin tidur di sofa itu, tapi apa Reno akan mengijinkan ia tidur di ranjang?Tiba-tiba Cora mempunyai suatu ide. Saat ia mendengar suara air berhenti mengalir, Cora segera menarik selimut dan berpura-pura tidur.Samar ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Cora yakin Reno sudah berjalan keluar kamar mandi meskipun ia tidak bisa mendengar suara langkah kaki pria itu.Di luar kamar mandi, Reno melihat Cora sudah berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi tubuhnya, dan hanya menyisakan bagian kepala.Ia berhenti di sisi ranjang, memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat sebelum ia berjalan ke arah pintu.Cora yang masih berpura-pura tidur dan memejamkan mata, tidak tahu apa yang Reno lakukan atau di mana dia. Sampai ia mendengar pintu kamar itu dibuka, lalu di tutup.Ke mana dia pergi? Pikir Cora. Ia mencoba mendengarkan dengan seksama, namun ia tidak mendengar suara apa pun di dalam kamar itu. Reno benar-benar p