Share

17. Ciuman Pertama

last update Last Updated: 2024-08-23 18:27:30

"Enak sekali masakan istri kamu, Dhuha. Opa suka ini. Sudah lama Opa gak makan tempe goreng seperti ini," ujar opa begitu semangat. Ini sudah empat potong tempe yang ia habiskan dengan cepat.

"Hanya tempe goreng, Opa," jawabku santai. Aku baru saja duduk dengan pakaian rapi hendak ke kantor. Jika ada opa di rumah, aku wajib sekali terlihat sibuk. Padahal aslinya aku begitu malas ke kantor.

"Ini tempe goreng yang dibumbui. Coba aja kamu cicipi. Tumis kangkungnya juga enak. Berasa bumbu dan aduh, Opa tinggal di sini saja deh, masakan istri kamu mengingatkan Opa dengan masakan oma." Aku melirik Aini yang hanya bisa tersenyum di tempatnya. Ia pasti bingung kenapa opa begitu memuji tempe goreng biasa buatannya.

"Jangan terlalu banyak minyak, nanti Opa kambuh lagi!"

"Nggak bakalan. Tempe ini adalah makanan sehat. Kamu jangan protes mulu kalau Opa muji istri kamu. Harusnya kamu senang, toh!" aku pun akhirnya mengambil tempe goreng yang sejak tadi diagung-agungkan opa Fauzi. Dan... rasanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Siti Hajar
ceritanya bagus,lucu jdi bacanya asik...
goodnovel comment avatar
Ruly
ceritanya bagus
goodnovel comment avatar
Arumi Kais
duuh..... oppa is the best world kluarga besar family Wiratama
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   18. Pernikahan Kontrak, jadi Jangan Berharap Lebih

    "Ada apa, Mas? Kamu kenyang ya? Kenapa gak makan makanan yang aku bawakan?" tanya Luna sambil terus menatapku. "Oh, bukan, Luna. Aku hanya lagi kepikiran pekerjaan. Maafkan jika mood-ku lagi agak berantakan hari ini," kataku lagi sambil tersenyum. "Bukan karena pembantu kamu yang kerja bawa anak itu kan?" "Oh, bukan itu. Baiklah, aku makan. Kamu udah makan?""Belum, aku emang pengen makan bareng kamu, Mas. Mama udah masakin ini, masa gak dimakan. Ayo, kita makan sama-sama." Aku pun akhirnya mengangguk. Kasihan juga dengan Luna sudah jauh-jauh berkunjung ke kantor jika makanannya tidak aku makan. Kami makan dengan santai. Luna selalu bisa menjadi teman ngobrol yang asik dan juga seru. Sampai makanan yang tadinya tidak bernafsu untuk aku cicipi, kini sudah habis. Perutku kekenyangan dan pikirin ini sedikit plong. "Maaf kalau aku tanggung waktu sibuk kamu ya, Mas," ujarnya sambil membereskan tempat bekal. "Luna, aku yang minta maaf, selalu aja bikin kamu repot. Makanan mama selalu

    Last Updated : 2024-08-24
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   19. Ke mana Aini?

    "Halo, Hakim, lu di mana?""Gue di Bandung. Ini bini lu nelpon gue tadi siang, tapi gue gak angkat karena meeting. Gue telepon balik, udah gak nyambung. Emang ada apa?""Loh, Aini nelpon lu? Dia gak nelepon gue. Emang dia hapa nomor HP lu, kok bisa? Parah tuh cewek, HP suami sendiri gak dihapalin, malah nelpon ke lu!""Udah, Dhu, bukan waktunya banyak nanya. Kata opa, Aini gak pulang-pulang ini udah malam. Pamit ke puskesmas. Bener itu?""Iya, bener, tadi ijin ke gue.""Lu anter?""Nggaklah, gue ngantor, mana gue tahu dia naik apa? Lagian gue gak tahu nomor telepon dia. Aini emang punya HP?""Ada, gue kasih kan, hadiah pernikahan lu berdua!""Ah, sial! Kenapa gak ngomong lu?! Mana nomornya, cepat kirim!" aku benar-benar kesal, sekaligus panik. Ke mana Aini, kenapa perginya lama? Apa jangan-jangan dia yang menelepon aku tadi siang? Sebuah kontak dikirimkan oleh Hakim. Aku pun langsung mengeceknya dan benar sekali, nomornya sama dengan nomor yang tadi siang aku abaikan. Ada lima pangg

    Last Updated : 2024-08-26
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   20. Paniknya Dhuha

    Malam itu juga, aku langsung menuju Sukabumi. Hakim pun katanya akan datang, tapi ia berangkat dari Bandung. Aku ditemani Putra. Penjelasan Putra membuatku tidak bisa menyetir dengan benar. Aku khawatir nanti malah kami kenapa-napa di jalan. "Lu yakin gak ada lagi yang lu sembunyikan dari gue kan, Put?" tanyaku pada Putra."Nanti saja setelah kita sampai di Sukabumi. Petugas di sana yang akan menjelaskan. Lu bukannya CEO, kenapa istri lu imunisasi di puskesmas? Bangkrut apa gimana lu?" aku tak tahu harus menjawab apa. "Istri gue yang keukeuh mau ke puskesmas. Ini pelajaran buat gue, lain kali, gue anter aja," jawabku tak yakin. Ada banyak rencana di kepala ini. Mungkin salah satunya adalah dengan memberikan rumah yang layak huni untuk Aini dan kedua anaknya, saat kami berpisah nanti. Mungkin aku pun harus mensupport keuangan mereka, seperti yang sekolah, dan belanja harian. Anggap saja, Intan dan Izzam adalah anak yatim yang aku angkat jadi anak. Mungkin seperti anak asuh gitu. T

    Last Updated : 2024-08-27
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   21. Buket Bunga dari Hakim

    Aini membuka matanya perlahan, saat merasakan sentuhan pelan pada tangannya. Rupanya seorang perawat tengah membetulkan tali infus dalam temaramnya lampu tidur kamar perawatan. "Gimana, Bu, masih pusing?" tanya perawat itu padanya. "Sedikit, Sus," jawab Aini dengan suara serak. "Semoga nanti hilang ya. Memang gak langsung hilang setelah dikasih obat dari infusan. Efek obatnya perlahan. Besok pasti lebih enak kepala dan badannya. Suaminya dari tadi nungguin loh, sampe ketiduran. Terlihat sekali pak Dhuha khawatir sama Ibu dan bayi Intan." Suster menoleh pada Dhuha. Pria yang tertidur pulas dengan menyandarkan kepalanya di sofa. Aini pun baru sadar, bahwa ia berada dalam ruangan berbeda. "Iya, suami saya memang perhatian banget, Sus. Pasti sekarang ia capek dan ngantuk berat.""Bener, Bu, soalnya pak Dhuha dari mulai sampai sampai satu jam yang lalu masih wara-wiri ngurusin obat dan kamar VVIP yang sekarang Ibu tempati.""Lalu putri saya, Sus?" "Itu, di bilik sebelah. Baru tidur l

    Last Updated : 2024-08-27
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   22. Tiket Honeymoon

    "Opa sudah sampai daritadi? Kenapa gak bilang kalau mau menyusul ke sini?" tanya Dhuha berjalan cepat menyusul opa Fauzi yang berjalan masuk ke kamar perawatan Aini. "Kalau kamu yang urus, pasti aja lama. Opa gak percaya. Makanya opa suruh Hakim cepet nyusulin kamu ke sini." Opa berjalan mendekati Aini. Pria berusia senja itu tersenyum, memberikan punggung tangannya untuk dicium oleh istri sang Cucu. "Gimana keadaan kamu Aini? Udah baikan?" "Udah Opa. Maafkan Aini jadi merepotkan semua." Aini tersenyum canggung. Ia benar-benar merasa tidak enak hati atas musibah yang ia alami. Semua orang sibuk, bahkan opa yang sudah tua pun ikut menyusulnya. "Suami kamu udah minta maaf sama kamu?" Opa Fauzi menoleh ke arah Dhuha. "Sudah, Mas Dhuha langsung minta maaf begitu saya sadar. Langsung dipeluk juga." "Masa aku gebukin, ya jelas aku peluk kalau istri nangis!" "Dih, sewot!" Hakim kembali terkekeh melihat kelakuan sepupunya yang tidak seperti biasanya. "Dia gak mau ngakuin

    Last Updated : 2024-08-28
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   23. Luna Mencari Dhuha

    Tiga hari teleponnya diabaikan oleh Dhuha, tentu saja Luna merasa ada yang aneh. Wanita itu mencari tahu dengan datang ke kantor Dhuha, ia mengira mantan kekasihnya itu sedang sibuk sekali, sehingga tidak bisa angkat teleponnya. Ternyata Dhuha pun tidak ada di kantor. Sayangnya, ia tidak bertemu dengan sekretaris Dhuha, sehingga ia pun pulang dengan tangan kosong tanpa tahu ke mana Dhuha sebenarnya. CV yang sudah ia kirimkan pada Dhuha belum mendapatkan balasan dari pria itu. Namun, jangan panggil ia Luna jika ia mudah menyerah, wanita itu pun memutuskan pergi ke rumah Dhuha. Ya, siang ini, Luna mengendarai mobilnya menuju rumah pria incarannya. Ia berharap mendapatkan informasi dari pembantu pria itu. "Permisi, apa Dhuha-nya ada? Mbak siapa ya?" tanya Luna saat ia turun dari mobil dan bertemu dengan Citra yang sedang menggendong Intan. Suster dari Opa Fauzi itu tengah mengambil paket di dalam box yang terletak di luar pagar. "Oh, Tuan Dhuha lagi pergi honeymoon. Saya Citra, suste

    Last Updated : 2024-08-31
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   24. Bayaran Malam Pertama

    "Siapa, Citra? Kayaknya tadi kamu bicara sama tamu," tanya opa Fauzi begitu Citra berjalan ke ruang tengah. "Gak tahu, Tuan. Dia gak bilang namanya. Cuma nanyain tuan Dhuha. Saya bilang tuan Dhuha honeymoon fan cewek itu gak percaya. Cantik dan naik mobil, Tuan.""Oh, begitu, mungkin teman Dhuha. Ya sudah, gak papa. Saya mau jemput Izzam di tempat kursus. Kamu di sini saja temani Intan.""Baik, Tuan, hati-hati di jalan."Pria enam puluh sembilan tahun itu masih sangat gagah, walau sering drop kesehatan jantungnya. Masih bisa bolak-balik ngantor dan juga bawa mobil. Sebenarnya ia bisa saja minta tolong sopir, tapi pria itu tidak mau. Hari-harinya tambah semangat sejak masuknya Intan dan Izzam dalam kehidupan cucunya; Dhuha. Sementara itu, di Bali, Dhuha dan Aini berasa di sebuah cottage yang pemandangan di depannya adalah pantai. Jika Aini tidak tahu mau ngapain diajak honeymoon, maka Dhuha masih menyibukkan diri melakukan zoom meeting.Pria itu baru saja selesai setelah dua jam zoo

    Last Updated : 2024-08-31
  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   25. Nikahi Saja Kekasihmu

    "Kamu kira aku beneran? Ya, gaklah! Sudah, kita dari tadi bicara terus, kapan makannya. Ayo, makan semua hidangan ini, mumpung aku baik." Aini menghela napas. Ia sudah benar-benar takut Dhuha menginginkan malam pertama dengannya, sedangkan dia... Lebih baik jangan. Batin Aini. "Mas Dhuha hobi sekali bikin jantung saya deg-degan. Untung cuma akting. Kalau beneran, pakai apa saya harus gosok daki di badan saya ini he he he ... "Keduanya pun Sama-sama tertawa. Selesai makan, keduanya berjalan-jalan menyusuri pantai. Dhuha yang membawa kamera, mengambil beberapa spot foto yang estetik untuk album fotografi kegemarannya. Ya, Dhuha sedang fotografi dan memiliki beberapa kamera canggih. Sekedar hobi, tetapi terkadang menghasilkan juga untuknya, jika hasil jepretan kecenya, ia kirim ke majalah atau sedang ikut kompetisi. "Mas, saya difoto ya. Buat kenang-kenangan," seru Aini semangat. "Oke, ambil gaya yang benar! Jangan manyun saja. Smile!" Aini pun tersenyum malu-malu. Ada beberapa gay

    Last Updated : 2024-09-02

Latest chapter

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   326. Buah Kesabaran

    Hari itu, matahari bersinar lembut, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang memenuhi hati Aini dan Dhuha. Kabar kehamilan Aini menjadi hadiah yang tidak pernah mereka sangka akan datang secepat ini. Setelah bertahun-tahun penantian dan berbagai ujian, akhirnya doa mereka terjawab.Setelah meninggalkan klinik, Dhuha tidak henti-hentinya menggenggam tangan Aini. Tatapan matanya penuh dengan cinta dan rasa syukur.“Aku masih tidak percaya, Sayang,” gumamnya sambil mencuri pandang ke arah istrinya yang duduk di sebelahnya di dalam mobil.Aini tersenyum, meski air matanya belum benar-benar kering. “Aku juga, Mas. Sepertinya Allah benar-benar ingin menguji kesabaran kita sebelum akhirnya memberikan anugerah ini.”Dhuha mengangguk. “Dan kamu lulus ujian itu dengan begitu sabar dan tulus.”Aini menatap suaminya. “Bukan cuma aku. Kita berdua.”Sesampainya di rumah, Dhuha langsung menghubungi keluarganya. Maria awalnya tidak percaya, tapi saat Dhuha menunjukkan foto USG Aini, maka wanita paruh b

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   325. Kejutan dari Ria

    Ria berdiri tidak jauh dari meja mereka, mengenakan blouse berwarna pastel dan rok panjang yang anggun. Wajahnya tampak terkejut, tetapi segera berubah menjadi senyum hangat saat ia mendekat."Aku tidak menyangka akan bertemu kalian di sini," katanya sambil menarik kursi kosong di samping Aini.Dhuha hanya mengangguk kecil. Ia masih merasa canggung setiap kali bertemu Ria, mengingat alasan keberadaan wanita itu dalam hidup mereka. Sementara itu, Aini mencoba tersenyum, meski di dalam hatinya ada perasaan tak nyaman yang berputar."Kak Aini, bagaimana kabarmu?" tanya Ria, nada suaranya lembut dan penuh perhatian."Baik, meskipun sedikit tidak enak badan hari ini," jawab Aini sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.Dhuha menatap istrinya dengan cemas. "Kalau masih merasa pusing, kita pulang saja, Sayang. Istirahat lebih penting."Aini menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Aku justru senang bertemu Ria di sini."Mata Ria menatap Dhuha dan Aini bergantian. Ia bisa merasakan ketegangan yan

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   324. Ucapan Maria

    Sore itu, langit menguning keemasan, memberi nuansa hangat yang kontras dengan perasaan Dhuha yang penuh beban. Ia melangkah menuju rumah besar yang sudah sejak kecil ia tinggali, rumah tempat ibunya, Maria, menunggunya dengan segudang pertanyaan yang selalu ia hindari."Duduklah, Nak," Maria mempersilakan putranya duduk di kursi teras yang nyaman. Di hadapannya, teh melati mengepul, menebar aroma menenangkan. Namun, Dhuha tahu, pembicaraan kali ini tidak akan senyaman teh itu."Apa kabar, Ma?" tanya Dhuha, mencoba mencairkan suasana. Pria itu membuka sepatunya, sekaligus melepas dua kancing kemeja abu-abunya paling atas. "Mama sehat, kamu minum dulu!" Dhuha mengangguk. Mengambil teh melati yang aromanya sangat sedap itu. "Mama bikin pisang goreng?" "Bukan, bibik yang masak. Kamu cuci tangan dulu sana, kalau mau makan pisang goreng." Dhuha mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia mencuci tangan di wastafel ruang tengah. "Keliatannya Mama sehat, ada apa Mama panggil aku ke

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   323. Bertemu Izzam dan Intan

    Aini meraih tangan Alex dan menjabatnya pelan. Kesepakatan ini mungkin bukan yang terbaik baginya, tapi setidaknya ini adalah langkah awal untuk bisa kembali dekat dengan anak-anaknya."Terima kasih, Mas," ucapnya dengan suara nyaris berbisik.Alex mengangguk tanpa ekspresi, sementara Zita masih menampilkan senyum ramahnya. Dhuha yang duduk di samping Aini tetap tenang, meskipun tatapannya sesekali bergeser pada Zita, menilai bagaimana wanita itu bersikap."Kapan aku bisa mulai bertemu mereka?" tanya Aini hati-hati.Alex menatap Zita sejenak, seolah meminta pendapatnya."Bagaimana kalau akhir pekan ini? Hari Sabtu setelah makan siang? Kita bisa bertemu di taman dekat rumah," usul Zita."Anak-anak pasti senang sekali," tambahnya masih dengan senyum yang sama. Aini tersenyum lega. "Baik, aku akan datang."Percakapan pun berlanjut dengan membahas hal-hal ringan mengenai kegiatan anak-anak. Zita dengan santai bercerita bagaimana Intan kini semakin menyukai menggambar dan Izzam mulai tert

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   322. Berdamai dengan Takdir

    Mobil sedan hitam itu berhenti di halaman rumah besar dengan taman yang tertata rapi. Anton menatap bangunan megah itu dengan napas berat. Sudah lebih dari sebulan Amel tinggal di sini, di rumah orang tuanya, meninggalkan rumah mereka yang seharusnya menjadi tempat membangun kebahagiaan bersama.Anton turun dari mobil, mengetuk pintu dengan sedikit ragu. Tak lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.“Masuklah, Mas. Mbak Amel ada di ruang tamu,” katanya dengan sopan.Anton melangkah masuk, mendapati Amel duduk di sofa, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Sejujurnya, ia sudah mengira istrinya akan bereaksi seperti ini.“Assalamualaykum, Amel…” Anton membuka suara, suaranya bergetar. Kakinya melangkah pelan, sesekali melirik ruang tengah yang besar itu teramat sepi. Amel duduk di depan televisi dengan tatapan kosong. "Amel," panggil Anton lagi. Amel menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya tanpa minat. “Ada perlu apa datang ke sini?” tanya wanita itu sinis. Anton m

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   321. Bertemu Alex

    Pagi harinya, Aini bangun dengan tubuh lebih segar, meski pikirannya masih penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Setelah menunaikan salat subuh berjamaah dengan Dhuha, ia menyiapkan sarapan sederhana berupa roti panggang dan omelet.Dhuha duduk di meja makan sambil menggulir layar ponselnya. Sesekali ia menatap Aini sambil tersenyum. "Aku selalu senang kalau lihat rambut kamu basah." Aini yang sedang mengangkat roti dari panggangan, langsung menoleh ke belakang. "Dih, dingin tahu!" balasnya sambil tersipu malu. Malu bila ingat kejadian semalam, ia yang terlalu bersemangat sampai mereka berdua jatuh dari ranjang. Suara tawa Dhuha menggema. "Tapi aku suka sama yang semalam. Boleh diulang dia hari lagi ha ha ha.... ""Emmoh!" Aini menaruh piring yang sudah ada roti panggang coklat di depan suaminya. "Diulang gerakannya, bukan jatohnya, ha ha ha... huk! huk!""Makanya jangan iseng, jadinya tersedak!" Aini memberikan air putih pada suaminya. "Maaf, Sayang, kenapa sih, aku selal

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   320. Siapa Wanita Itu?

    Aini menghapus air matanya dengan ujung jari, berusaha menenangkan diri. Dhuha masih menggenggam tangannya erat, memberikan kehangatan di tengah gemuruh emosinya. Dari kejauhan, ia memperhatikan Intan dan Izzam berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah, sesekali menoleh ke belakang untuk melambaikan tangan pada wanita yang mengantar mereka.Siapa dia? Wanita itu tersenyum hangat, begitu akrab dengan Intan dan Izzam. Aini menelan ludah. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya—perasaan kehilangan yang semakin nyata. Wanita yang sama persis dengan yang ada di media sosial Alex tempo hari. Apa wanita itu sudah menjadi istri Alex? "Mas, aku ingin tahu siapa dia," gumamnya pelan, hampir seperti bisikan.Dhuha menoleh ke arahnya, menatap dengan mata penuh pengertian. "Kalau kamu penasaran, kita bisa cari tahu. Tapi kamu harus siap dengan jawabannya."Aini menarik napas panjang. Apakah ia benar-benar siap? Ia tidak tahu. Namun, melihat bagaimana anak-anaknya terlihat nyaman dengan wanita it

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   319. Rindu Intan dan Izzam

    Maria menatap Miranti lekat-lekat, memastikan bahwa gadis itu benar-benar yakin dengan keputusannya. Sejak awal, ia tidak pernah membayangkan akan ada seseorang yang begitu rela mengorbankan dirinya seperti ini.“Tante akan bicara dengan Dhuha dan Aini,” ulang Maria, memastikan Miranti tidak berubah pikiran.Miranti mengangguk. “Terima kasih, Tante. Saya siap menghadapi mereka kapan pun. Kami hanya perlu bicara dari hati ke hati. Apapun nanti jawaban Aini dan Dhuha, saya juga gak keberatan."Maria menyandarkan punggungnya ke kursi. Pikirannya mulai mencari cara terbaik untuk menyampaikan hal ini kepada putranya dan menantunya. Aini mungkin masih belum sepenuhnya terbuka terhadap gagasan ini, meskipun ia sendiri yang mengusulkannya. Dhuha? Maria yakin putranya masih berada dalam fase menolak.Namun, waktu terus berjalan.Setelah makan siang mereka selesai, Maria dan Miranti berpisah. Namun, bagi Maria, ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih rumit. Apa Dhuha akan set

  • Malam Pertama dengan Janda Anak 2   318.

    Aini terdiam mendengar syarat yang diajukan Dhuha. Matanya menatap suaminya, mencari keyakinan di balik permintaannya."Satu tahun, Mas?" ulangnya pelan.Dhuha mengangguk. "Iya, Ai. Kita sudah menunggu sejauh ini. Aku ingin kita memberi waktu untuk pernikahan kita lebih matang sebelum kita mengambil keputusan sebesar ini. Lagipula, dokter bilang kamu masih punya peluang hamil secara alami. Kenapa kita tidak mencoba lebih lama? Kamu bukan tidak bisa hamil, tapi memang belum waktunya. Sayang, aku ingin kita benar-benar yakin akan langkah yang ke depannya kita tempuh ini. Termasuk segala hal berkaitan dengan dampaknya, terutama mama."Aini menggigit bibirnya. Ia tahu suaminya tidak sepenuhnya setuju dengan usulannya, tapi setidaknya Dhuha tidak langsung menolaknya mentah-mentah. Ini sudah lebih baik daripada tidak ada kompromi sama sekali.Ria, yang sejak tadi memperhatikan mereka, akhirnya ikut angkat bicara. "Menurut saya, keputusan Mas Dhuha masuk akal, Kak Aini. Ini bukan hal kecil.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status