Beranda / Romansa / Kembalinya sang Putri Pewaris / Bab 1. Sebuah Kenyataan

Share

Kembalinya sang Putri Pewaris
Kembalinya sang Putri Pewaris
Penulis: Ziya_Khan21

Bab 1. Sebuah Kenyataan

Penulis: Ziya_Khan21
last update Terakhir Diperbarui: 2024-07-10 23:17:11

“Ah… Sayang, bagaimana kalau istrimu datang?”

Deg!

Jantung Bianna Arzenia Harland seolah mencelos mendengar suara itu dari dalam kamar. Tangannya yang gemetar menutup mulut agar tidak menimbulkan suara.

Telinganya seperti berdenging saat desahan demi desahan dari hasil pergulatan di dalam sana terdengar hingga keluar kamar.

“Jangan pedulikan wanita bodoh itu, Sayangku…”

Apa katanya?! Wanita bodoh?!

Dada Bianna langsung bergemuruh disesaki amarah. Teganya Kevin melakukan ini di belakangnya?!

Padahal, sesaat yang lalu, Bianna merasa ada sedikit keraguan dalam hatinya. Bagaimana mungkin, seorang Kevin Jeremy, suaminya yang selama ini begitu mencintainya, mengkhianatinya? Kabar burung itu pasti salah!

Namun, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri…. hatinya hancur berkeping-keping.

Bianna tak bisa lagi menahan rasa sesak dalam dadanya. Dia tak mungkin berpaling dan berpura-pura tidak melihat apapun.

Karena itu, dia menyentak pintu lebih kuat hingga terbuka.

Dua manusia yang bergumul tanpa sehelai benang pun di dalam sana tampak terkejut dan buru-buru meraih selimut untuk menutupi tubuh keduanya.

“Bianna?! Bagaimana bisa kamu—”

“Teganya kamu melakukan ini padaku, Kevin!” sentak Bianna dengan bibir gemetar, menyela ucapan suaminya.

Sekeras apapun mencoba tegar, Bianna tak bisa menahan air mata yang jatuh menetes di balik kacamatanya.

Sementara sang suami, yang tadinya kelihatan panik, kini tampak tenang seolah tak terjadi apapun. Dengan santainya, Kevin beringsut dan memakai kimono tidur yang tersampir di kursi meja rias.

“Tadinya aku tidak ingin percaya berita yang kudapatkan selama ini. Tadinya aku berharap kalau kamu tetaplah laki-laki dan suami yang bisa aku percaya, tapi apa ini, Kevin! Tega, kamu mengkhianati aku sama—”

Bianna mengalihkan pandangannya pada wanita yang tengah duduk bersandar headboard ranjangnya dengan selimut menutupi tubuh polosnya.

“Leony? Kamu ….” Bianna melangkah mendekat ke ranjang. Amarah di dadanya membuat Bianna ingin menjambak rambut wanita itu!

Namun, Kevin dengan cepat menahan langkah Bianna yang akan menyerang Leony.

“Jangan salahkan dia, Bia! Kalau ada orang yang harus disalahkan dalam hal ini adalah kamu! Paham!?”

Bianna terbelalak mendengar tuduhan Kevin.

“Aku? Kenapa jadi aku yang salah padahal jelas-jelas kamu yang sudah selingkuh dengan sekretarismu itu! Jadi, ini alasan kamu memecat Eluza dan menjadikan dia sekretarismu? Iya, Vin? Jawab!”

“Tidak usah teriak!” sentak Kevin kesal, membuat Bianna langsung terdiam. Selama ini, Kevin tidak pernah membentaknya sedikit pun …

“Aku sudah bosan padamu yang selalu tampil sederhana dan tidak pandai berdandan. Leony lebih segala-galanya darimu, Bia. Itu kenapa aku sudah menikahinya,” ucap Kevin tanpa beban, seolah apa yang ia ucapkan bukan hal besar.

“Apa kamu bilang!?”

Rasanya seolah ada ribuan pisau yang menusuk hati Bianna. Bagaimana bisa pria biasa yang dia angkat derajatnya menjadi seorang CEO di perusahaan ayahnya, ternyata tidak menghargainya sebagai seorang istri.

“Tidak usah menangis. Karena kamu sudah ada di sini, maka sudah waktunya juga kamu tahu hal ini.” Kevin menjeda ucapannya hanya untuk mengambil map yang ada di atas meja rias lalu menyerahkannya pada Bianna.

“Kamu punya dua pilihan, Bia. Rela dimadu dan tetap hidup mewah bersamaku, atau bercerai tapi semua harta kekayaanmu jadi milikku. Silakan pilih.”

Mata Bianna membelalak tak percaya dengan semua ucapan Kevin. Namun, bukannya melihat isi dari map itu, wanita itu justru merobek dan melemparkannya tepat ke wajah Kevin.

“Dasar laki-laki tak tahu diri! Aku sudah menjadikanmu pengusaha hebat tapi apa balasanmu padaku? Dan dengan mudahnya kamu mau menguasai harta warisan ayahku? Jangan mimpi kamu Kevin! Justru aku yang akan menendangmu dari kehidupanku sekarang juga!” Bianna berkata dengan mata yang basah, tetapi bara amarah jelas terlihat di sana.

Sementara itu, Kevin bukannya takut, dia justru tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman dari istri tuanya itu. Dia segera mengambil satu map lagi yang ada di dalam laci meja rias lalu kembali memberikannya pada Bianna.

“Aku sudah menduga kamu akan menolak permintaanku, itu sebabnya aku sudah lebih dulu mempersiapkan surat-surat yang seharusnya kamu tandatangani dan lihatlah map itu,” ujar Kevin dengan tenang.

“Di sana kamu sudah menandatangani surat perceraian kita sekaligus surat peralihan kekayaan dari almarhum ayahmu padaku. Itu artinya mulai sekarang semua harta ini sudah jatuh ke tanganku, kamu dengar, Bia?” jelas Kevin dengan seringai senyum kembali tercetak di bibirnya.

Tangan Bianna gemetar melihat dokumen itu. Kapan ia menandatangani surat itu?!

“I-ini tidak mungkin terjadi…” Wanita berkacamata itu membolak-balik lembaran kertas di tangannya dengan panik. Dia terkejut kala melihat sudah ada dua kertas yang terdapat tanda tangannya.

“Kamu benar-benar berengsek, Kevin! Kamu gunakan kesempatan di saat aku lengah!” salak Bianna dengan berurai air mata.

“Sekarang kamu sudah tahu ‘kan? Kalau kamu bukan lagi pemilik dari Harland Group dan juga bukan istriku lagi. Jadi, saat ini juga aku minta kamu keluar dari tempat ini!” Kevin menunjuk pintu dengan tangan kirinya. Tatapannya tajam dan tanpa belas kasihan sama sekali.

“Tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Kevin!” protes Bianna sambil mencengkeram kimono pria itu. “Ini semua milik orang tuaku, kamu tidak berhak atas semuanya!”

Namun, dengan kasar, Kevin tepis tangannya hingga wanita itu jatuh terduduk di lantai.

Kevin segera menghubungi keamanan villa tempatnya tinggal melalui ponselnya. Tidak berapa lama, dua orang satpam datang di depan pintu kamarnya.

“Seret wanita ini keluar dan jangan biarkan dia masuk villa ini tanpa seizinku!” titahnya dengan suara tegas.

“Baik, Tuan!” sahut kedua satpam itu sambil memapah berdiri Bianna.

“Lepaskan aku!” Bianna menarik tangannya dari kedua orang itu lalu dia menatap pada Kevin. “Baik, Kevin. Aku terima semua ini. Tapi ingat, aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang, lihat saja!"

Setelah berkata seperti itu, Bianna pun meninggalkan kamar itu dengan hati yang tidak lagi utuh juga air mata yang kembali menetes. Dia benar-benar terluka dan kehilangan arah saat ini.

Bagaimana mungkin pria yang dia nikahi karena cinta justru mengkhianatinya setega ini? Ternyata selama ini dia hanya dijadikan alat untuk mendapatkan kekuasaan saja. Pantas saja sejak kematian sang ayah, perilaku Kevin berubah 180 derajat, dan selalu saja mengabaikan dirinya sebagai istri.

Dengan perasaan terluka dan tidak tahu harus ke mana, Bianna melajukan mobilnya membelah jalanan malam dengan sangat kencang. Matanya dia biarkan basah karena air mata.

Dalam hati dia berjanji akan membalas pengkhianatan, penipuan dan penghinaan yang dia dapatkan dari pria itu.

Tanpa sadar Bianna menekan pedal gas terlalu dalam, entah apa yang ada di dalam pikirannya, yang pasti saat ini dia hanya ingin pergi meninggalkan semuanya. Hingga saat berada di pertigaan, Bianna yang tidak memperhatikan jalan pun tidak menyadari sebuah truk yang lewat berlawanan arah.

Bianna kaget saat truk itu sudah dekat dan dia tidak bisa menghindar begitu saja. Alhasil dia banting stir ke kanan. Namun, naas dia menabrak mobil yang ada di depannya hingga mobilnya sendiri terguling dua kali dan berakhir dengan posisi terbalik dan berhenti tepat di bibir jurang.

“Tidak! Aku tidak boleh mati lebih dulu, aku harus menuntut balas pada mereka….”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (48)
goodnovel comment avatar
Ratihtyas
Parah banget si Kevin...‍...️
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
bnr2 suami laknat ini mah dikasih jati mlh mknta jantung, semoga saja bianna selamat biar bisa kembali merebut harta keluarganya
goodnovel comment avatar
Elly Julita
Hai Hai, i'm coming ... kevin keknya gak inget kalo karma itu nyata, ayo bia tunjukan kalo kamu kuat dan hebat, libas habis mereka dgan kesuksesan u,,
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 2. Bertemu Damian

    Bianna tersenyum getir ketika dengan mata kepalanya sendiri melihat mobil yang tadi dia tumpangi akhirnya jatuh dan meledak di bawah jurang. Langit malam pun berubah terang karena api yang menyala dari badan mobil itu. Dia beruntung karena sempat menyelamatkan diri meski blouse yang dia pakai robek di bagian lengan karena tersayat kaca jendela yang pecah. Wanita yang mengikat rambut hitam panjangnya itu pun memilih pergi dan menyingkir dari tempat itu sebelum warga sekitar mendekati lokasi kecelakaannya.Belum lagi terlalu jauh dari tempat kecelakaan, Bianna merasa perutnya sakit sekali. Tidak ingin peduli, tetapi semakin dia berjalan, sakit itu semakin menjadi. Bianna sempatkan berhenti untuk mengatur napas.“Tidak! Aku tidak boleh kalah. Aku masih harus kembali untuk merebut semua yang seharusnya menjadi milikku,” gumam Bianna sembari melanjutkan langkahnya, hingga entah sudah berapa lama dia berjalan tubuhnya semakin melemah dan matanya pun berkunang-kunang.Saat Bianna mengira di

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-11
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 3. Pria Gila?

    Pria itu memiliki postur tinggi menjulang, berpakaian jas rapi membalut tubuhnya yang atletis, terlihat makin berwibawa dengan cambang tipisnya. Meskipun buram, tapi Bianna yakin dia adalah pria yang tampan. Hanya saja, Bianna juga yakin ia tidak mengenali pria itu seumur hidupnya.“Saya mencari tahu siapa dirimu saat kamu masih koma.”Bianna tertegun mendengar jawaban Damian. “Semua? Apa keluarga saya tahu saya di sini?” tanyanya memastikan.Damian tidak langsung menjawab. Dia memilih mengambil iPad yang ada di atas sofa lalu membuka laman portal berita bisnis hari ini. Setelah ketemu yang dia cari, pria tampan itu mengulurkan benda pintar itu pada Bianna. “Suamimu sudah menganggapmu mati dalam kecelakaan itu.”Bianna terkejut dengan pernyataan Damian. Dia bawa matanya melihat layar sebelas inch tersebut. Seketika bola matanya membulat sempurna membaca headline news pagi ini.Kevin, sang suami mengumumkan pernikahannya dengan Leony setelah memastikan dirinya tewas dalam kecelakaan

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-11
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 4. Titik Balik

    Namun, sepertinya Bianna juga sudah gila. Selama tiga hari ini, dia sudah memikirkan keputusannya ribuan kali. Ia mempertimbangkan baik-buruknya, dan ia sampai pada kesimpulan bahwa tawaran Damian adalah jalan keluar paling mudah. Bianna hanya perlu menikah dengan pria itu untuk mendapatkan sumber daya tak terbatas. Dimana lagi ia bisa mendapatkan kesempatan seperti itu?Jadi, hari ini, ia sudah tampak siap karena sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit oleh dokter. Sesuai ucapan Damian, pria itu datang ke sana untuk menjemputnya, juga untuk menagih jawaban atas tawaran yang dia layangkan.“Anda datang, Tuan?” sambut Bianna sambil tersenyum saat Damian masuk ke dalam ruangan. Pria itu tampak terkejut saat melihat penampilannya. Hari ini, Bianna memakai dress putih sepanjang lutut dengan rompi lengan panjang yang juga sewarna bajunya. Makeup tipis yang menghiasi wajah membuatnya tampak berseri, tidak pucat seperti sebelumnya.Damian tidak mengatakan apapun selama beberapa saat.

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-13
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 5. Yang Sesungguhnya

    Teras kantor catatan sipil sudah dipenuhi oleh para wartawan dari berbagai media elektronik mau pun cetak di seluruh Mexico ini. Baik wartawan wanita maupun pria yang membawa mic segera menghampiri sumber berita mereka–Bianna dan Damian–yang berjalan di belakang Eduardo saat ketiganya keluar dari pintu utama gedung itu. Bukan itu saja, lampu blitz dari kamera para pencari berita itu juga menyambut kedatangan ketiganya. Bianna yang belum terbiasa dengan keadaan seperti ini tentu mendadak grogi dan ketakutan. Dia, bahkan hampir melangkah mundur kalau saja tangan besar Damian tidak menahan lengannya. “Hadapi! Kalau kamu mundur sekarang berarti kamu kalah, Bia!” Singkat, tetapi cukup menyentak hati Bianna. “I-iya, Tuan.” “Damian. Mulai hari ini aku suamimu,” ujarnya penuh penekanan di akhir kalimatnya. “Baik, Damian. Aku mengerti,” sahut Bianna tergugu. “Sekarang tersenyumlah. Tunjukkan pada mereka kalau kamu bahagia atas pernikahan ini.” Bianna tidak bisa membantah setiap ucap

    Terakhir Diperbarui : 2024-07-13
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 6. Tak diduga

    Kaki jenjang Bianna memasuki sebuah kamar di lantai dua rumah mewah itu. Ada Damian menyusul di belakangnya, tanpa bicara dan hanya memperhatikan gerak gerik Bianna yang sedang menyusuri isi kamar miliknya. Bianna cukup terperangah melihat isi kamar paling luas yang ada di rumah ini. Kamar utama dengan ranjang besar berada di sebelah kanan pintu menjadi pemandangan pertama yang ditangkap mata almond wanita itu. Di sebelah kirinya terdapat satu ruangan dengan sliding door kaca buram yang Bianna tebak adalah ruang ganti Damian yang juga terhubung dengan kamar mandi kamar ini. Bianna melanjutkan langkahnya menuju dinding yang ditutupi dengan gorden transparan. Bianna yakin dibalik gorden itu pasti pemandangan luar rumah ini. Namun, sebelum membukanya, wanita berambut panjang itu menengok pada Damian yang ternyata sudah duduk di tepi ranjang dan sedang melonggarkan dasinya. “Maaf, Damian. Aku sudah terlalu lancang menyentuh isi kamar ini,” ujar Bianna yang merasa tak enak karena seda

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-23
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 7. Party

    Bianna masih merasa kesal pada Damian atas ucapannya tadi sore. Wanita itu berpikir seharusnya Damian tidak bicara sesarkas itu. Mana dia tahu kalau pria itu akan masuk ke ruang ganti saat dirinya masih beberes pakaiannya di dalam dan sialnya, Bianna memang sembarang meletakkan pakaian dalamnya tanpa menyadari kalau saat ini dia berada di rumah pria yang hanya pura-pura menjadi suaminya demi membantunya membalas dendam pada mantan suaminya. Sampai hari ini Bianna sendiri tidak tahu apa alasan Damian dan kenapa pria tampan itu mau menikahi janda miskin seperti dirinya. Bianna sedang merapikan rambut yang sudah dia catok hingga terlihat semakin lurus dan berkilau saat pintu kamarnya diketuk seseorang. “Masuk saja,” ucapnya sembari menyemprotkan hair mist agar rambutnya tetap rapi dan wangi.“Maaf, Nyonya. Anda sudah ditunggu oleh tuan Damian di bawah,” lapor Inara, salah satu pelayan muda di rumah ini. “Ah, iya, Nara. Aku sudah siap. Bisa minta tolong ambilkan sepatuku di dalam?” Pi

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-24
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 8 Kenyataan

    Bianna masih menatap heran pada wanita yang baru saja menyapanya. Sekeras apa pun dia mengingat, Bianna tetap tidak tahu siapa wanita itu. “Namaku Eveline, istri dari Tobias Fernando, kamu mungkin tak tahu aku, tapi mungkin mengenal suamiku.” Wanita bernama Eveline itu memperkenalkan dirinya seakan-akan tahu isyarat kebingungan di mata Bianna. Bianna kembali mengingat nama terakhir yang Eveline sebut. Bianna kembali mengumpat dalam hati sekaligus menyesali karena jarang ikut menghadiri pesta dan meeting yang dilakukan oleh Kevin dan ayahnya dulu. Alhasil dia jarang bertemu dengan para relasi perusahaan. Seperti yang terjadi saat ini. Bianna terpaksa tesenyum kikuk karena gagal mengingat nama suami Eveline.“Maafkan aku Eve. Aku tidak bisa mengingat kalian.” Eveline tersenyum simpul. “Sudah kuduga. It’s okay Bia. Seingatku, kita juga baru sekali bertemu saat pesta ulang tahun terakhir ayahmu. Setelah itu aku tidak pernah meli

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-25
  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 9 Hari Baru

    Ditemani alunan musik Mariachi khas Meksiko pun suara denting sloki berisi tequila–minuman alkohol yang pasti selalu ada di setiap pergelaran pesta di kota ini–juga tawa ceria para tamu undangan yang sengaja turun ke area dansa untuk menari bergembira menggoyangkan tubuh mereka mengikuti irama musik yang sudah terkenal mendunia itu, menjadikan suasana pesta pernikahan Bianna dan Damian semakin meriah.Namun sayangnya, sang pengantin wanita yang tahun ini akan berusia dua puluh delapan tahun itu tidak bisa menikmatinya dengan tersenyum, melainkan dengan kesedihan dan derai air mata yang tak kunjung mereda meski beberapa kali dia menyeka pipinya yang basah. Rasa sakit di dadanya begitu menyesakkan. Sudahlah dianggap meninggal, kini dia harus menghadapi kenyataan kalau mantan suaminya sudah menuduhnya berselingkuh. Bianna yang malang harus berbuat apa sekarang? Saat nama baik yang dia jaga selama ini harus rusak oleh kelakuan pria yang tak bertanggung jawab

    Terakhir Diperbarui : 2024-08-26

Bab terbaru

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 178 Akhir yang Indah

    Enam bulan kemudianAngin sore bertiup lembut, mengusap wajah Rachel yang termenung di bangku taman dekat dengan rumahnya. Pandangannya kosong menatap danau buatan di depannya, pikirannya masih dipenuhi oleh satu hal yang sama selama enam bulan terakhir ini, penyesalan.Hampir setiap hari, dia mengulang kembali momen itu dalam pikirannya. Betapa bodohnya dia yang hanya diam saat Sean bertanya apakah dia harus pergi. Seharusnya saat itu Rachel mengatakan sesuatu. Seharusnya waktu itu Rachel memintanya tetap tinggal.Rachel menggenggam erat jemarinya sendiri, hatinya terasa sesak."Aku seharusnya mengatakannya …," gumamnya, lalu tiba-tiba dia berteriak kesal, "Aku seharusnya bilang jangan pergi!" Suaranya bergetar menahan tangis."Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya malam itu?"Rachel membelalakkan matanya. Mencerna suara yang baru saja dia dengar lalu dengan cepat dia berdiri dan menoleh ke arah suara itu.Di sana, berdiri sosok yang selama ini selalu ada dalam pikirannya.Sean.Rache

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 177 Kembali ke New York

    Perjalanan menuju rumah Rachel dipenuhi dengan keheningan. Hanya suara mesin mobil yang terdengar, sedangkan Sean dan Rachel larut dalam pikiran masing-masing.Rachel menggenggam ujung mantelnya dengan erat, mencoba menahan sesuatu yang terasa mengganjal di dadanya. Sean di sampingnya tampak tenang, tetapi tatapannya lurus ke depan, seakan-akan menyembunyikan banyak hal yang ingin dia katakan.Mobil berhenti di depan rumah Rachel. Wanita itu membuka pintu mobil, tetapi sebelum turun, Sean akhirnya bersuara.“Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita.”Rachel membeku. Jari-jarinya yang memegang pegangan pintu menegang. Dia menelan ludah susah payah, berusaha mencari sesuatu untuk dikatakan, tetapi tenggorokannya terasa kering.“Kalau begitu .…” Rachel menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “hati-hati di perjalanan.”Sean tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa pahit.“Kau juga,” jawabnya.Rachel mengangguk pelan, lalu turun dari mobil. Sean tetap duduk di dalam, menatap punggung

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 176 Haruskah?

    Sean berdiri di tepi trotoar, menunggu dengan sabar di depan kantor tempat Rachel bekerja. Udara sore yang sejuk membelai wajahnya, sedangkan lalu lintas kota mulai ramai seiring jam pulang kerja.Tidak lama, pintu kaca otomatis terbuka, dan Rachel muncul dari dalam gedung dia antara banyaknya para pekerja yang keluar dari gedung itu. Dia tampak lelah, tetapi senyum tetap terukir di wajahnya saat matanya menangkap sosok Sean. Dengan riang, dia melambaikan tangan."Sean!" serunya, mempercepat langkah mendekatinya.Sean, yang kini sudah benar-benar pulih tanpa tongkatnya, membalas senyum Rachel. "Lama sekali. Aku hampir mengira kau sudah lupa kalau ada seseorang yang menunggumu di sini," godanya.Rachel tertawa kecil. "Sibuk, tahu? Tapi aku senang kamu datang menjemputku."Sean mengangkat bahu. "Aku ‘kan harus memastikan kamu tidak pulang terlalu larut. Siapa tahu ada orang asing yang mencoba merebut perhatianmu," ujarnya dengan nada bercan

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 175 Bersatu

    Waktu berlalu, dan akhirnya hari yang dinantikan tiba. Setelah menjalani pemulihan yang cukup panjang, Sean dan Steven hari ini sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Mereka sempat melalui berbagai pemeriksaan dan tes untuk memastikan kondisi keduanya benar-benar sudah pulih.Hari itu langit begitu cerah, seolah-olah ikut merayakan kesembuhan mereka berdua.Damian sudah menunggu di depan ruang rawat sang anak yang pintunya terbuka dengan penuh antusias. Tidak berapa lama, orang yang dia tunggu akhirnya keluar juga. Bianna tersenyum hangat sambil menggandeng tangan Steven yang terlihat lebih ceria dan sehat dibanding sebelumnya.“Siap pulang, jagoan?” Damian bertanya sambil mengusap kepala putranya dengan lembut.Steven mengangguk dengan semangat. “Siap, Daddy! Aku kangen rumah!”Dari arah sebelah kanan Damian, Sean juga baru keluar dari ruang rawatnya, pria itu melangkah dengan tenang, meskipun tubuhnya masih sed

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 174 Satu Keluarga

    Rachel menghela napas, tidak menyangka kalau Sean akan bertanya hal itu. Wanita yang menguncir rambut panjangnya itu lebih dulu menyesap air putih dari gelas yang ada di meja samping tempat tidur sebelum akhirnya menjawab, “Aku bertemu dengan Bianna lebih dulu, lalu dari situlah aku mulai mengenal Damian. Tapi aku bisa merasakan sesuatu yang aneh darinya. Dia selalu bersikap baik, tapi juga menjaga jarak seolah-olah … ada sesuatu dalam diriku yang mengganggunya.”Sean mengangkat alis. “Mengganggunya?”Rachel mengangguk pelan. “Aku tidak tahu pasti, tapi aku merasa dia melihatku bukan sebagai diriku sendiri … melainkan seseorang yang lain.”Sean menatap Rachel dalam diam. Pikirannya mulai menghubungkan banyak hal yang selama ini terasa samar. “Mungkin karena kamu mirip dengan Elara,” gumamnya lirih.Rachel menatap Sean, mencoba membaca ekspresinya. “Aku tidak pernah bertanya banyak, karena aku bisa merasakan sepertinya itu sesua

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 173 Steven Selamat

    Waktu terasa berjalan lambat bagi Damian dan Bianna yang menunggu di luar ruang operasi. Bianna duduk di bangku tunggu sambil terus meremas jemarinya sendiri, sedangkan Damian mondar-mandir di sepanjang lorong rumah sakit.“Aku tidak tahan lagi … ini sudah berjam-jam,” gumam Bianna dengan suara gemetar.Damian menghentikan langkahnya dan duduk di samping istrinya, menggenggam tangannya erat. “Mereka akan baik-baik saja. Sean kuat, begitu juga Steven.”Bianna mengangguk, meskipun kekhawatiran masih tergambar jelas di wajahnya. Sementara Eduardo duduk di bangku lainnya ditemani oleh Dion. Pria tua itu menunduk sembari merapalkan doa-doa demi keselamatan cucu dan cicitnya.Setelah hampir lima jam yang terasa seperti seumur hidup, akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Dokter Rodriguez keluar dengan wajah tenang dan profesional didampingi seorang suster di sampingnya. “Dok, bagaimana keadaan mereka?” Damian langsung b

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 172 Hari Penting

    Damian menatapnya dengan sorot mata tajam, tetapi tetap tenang. “Bukan itu maksudku, Kak.”“Tapi itulah yang kamu katakan!” Sean mendekat, dadanya naik turun menahan amarah. “Kamu berbicara seolah-olah kehadiran Rachel itu seperti pengganti Elara! Seperti Elara tidak ada artinya bagimu!”Mendengar ucapan Sean, Damian mengepalkan tangannya. “Aku tidak pernah bilang begitu! Aku hanya mengatakan bahwa melihat Rachel … aku merasa sedikit lebih baik. Itu bukan berarti aku melupakan Elara!”Sean menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya. “Jangan bicara seolah-olah kamu lebih menderita dariku, Damian! Kamu bahkan tidak ada di sana saat Elara meninggal! Kamu tidak melihatnya sekarat di pelukanku! Kamu tidak merasakan ketakutan dan rasa bersalah yang menghantui setiap detik hidupmu!”Suasana semakin memanas, napas mereka berdua memburu.Damian menatap Sean dengan tatapan dingin. “Kamu pikir hanya kamu yang merasa kehilangan, Kak? Aku juga

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 171 Sean Marah

    Malam semakin larut, tetapi Damian belum juga bisa memejamkan mata. Dia menatap Bianna yang tertidur di samping Steven, memeluk putra mereka dengan penuh kasih sayang. Wajah putranya masih pucat, tetapi napasnya kini lebih teratur setelah mendapatkan perawatan intensif. Damian mengusap rambut Steven dengan lembut, memastikan bahwa putranya nyaman.Namun, pikirannya terus dipenuhi oleh sosok Sean.Dengan hati yang dipenuhi berbagai emosi, Damian bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kamar rawat sang anak. Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi, mencari keberadaan Sean. Dia tahu bahwa saudaranya itu pasti masih ada di sekitar sini.Saat dia sampai di taman di balkon rumah sakit, langkahnya terhenti.Di sana, di bawah redupnya cahaya lampu taman, Sean sedang duduk di bangku panjang bersama Rachel. Keduanya tampak berbincang dengan santai. Rachel terkadang tertawa kecil, sementara Sean terlihat lebih rileks dibandingkan s

  • Kembalinya sang Putri Pewaris    Bab 170 Membuka Hati

    Rachel tiba di rumah sakit, untuk menjenguk Steven. Saat dia melangkah ke dalam ruangan dan melihat ekspresi wajah semua orang, dia langsung menyadari bahwa sesuatu yang besar baru saja terjadi. “Apa yang terjadi?” tanyanya sambil menatap mereka satu per satu. Bianna menghapus air matanya dan tersenyum. “Kak Sean cocok sebagai donor sumsum tulang untuk Steven.” Rachel terkejut. Dia menoleh ke arah Sean yang hanya berdiri diam di sudut ruangan, tampak tenang seperti biasanya. Namun, di balik ketenangannya, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan Sean. Rachel melangkah mendekat dan berkata pelan, “Kau benar-benar akan melakukannya?” Sean menatap Rachel dan mengangguk tanpa ragu. “Ya. Aku akan menyelamatkan keponakanku.” Rachel menatapnya dalam-dalam. “Itu … luar biasa.” Sean tidak menjawab, hanya menoleh kembali ke Damian dan Bianna. “Kalau begitu, aku akan menyelesaikan tes tambaha

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status