"Morning, Sayang," suara Kayshan terdengar malas saat menarik pinggang istrinya yang menjauh. "Pagi ... Abang, alarm ponselku nggak bunyi, telat subuhan, nih." Farhana menyingkirkan lengan Kayshan yang melingkari pinggangnya lalu gegas bangun."Bukan nggak bunyi, kita tidur pules banget," bisik Kayshan ikut beringsut saat Hana hendak turun. Wanita itu mengelak ketika Kay akan menjamahnya lagi. Dia buru-buru menuju kamar mandi.Saat melepas lingerie hijau tua yang dia kenakan. Hana melihat kulit putih mulusnya kini dihiasi bercak pink di beberapa titik. Dia menggigit bibir, baru tahu wujud jejak kecupan di permukaan kulitnya. Jemari lentik itu meraba pelan, kuatir menimbulkan rasa nyeri ketika disentuh. Tapi, ternyata tidak.Justru ingatan panas semalam kembali melintas saat dia menelusuri satu per satu jejak tersebut. Farhana buru-buru menggelengkan kepala, meski senyum malu-malunya muncul.Dia gegas membersihkan tubuh dan bersuci lalu keluar dari sana.Ketika hendak menghampar saja
"No? Kenapa?" Suara Farhan ikut terdengar panik di seberang.Farhana memindahkan ponselnya ke telinga kiri agar lebih leluasa. "Pa-aarr, A-abang demam. Aku dah ngompres, pasang selang oksigen dan minumin obat dari ibu ... ta-tappi kok, A-abang nggak mau buka mata," jelas Hana terbata, sambil berjalan mondar mandir dan menggigiti kuku tangannya.Farhan menarik napas panjang. Ibunya telah berpesan bahwa Kayshan kini ada dalam pengawasan Dewiq langsung. Obat yang diberikan saat ini hanya sebagai penunda sakit dan pereda nyeri karena permintaan khusus Kayshan pada Dewiq sebelum pergi ke Skotlandia dengan Hana.Farhan tak dapat jujur tentang kondisi iparnya itu sebab Farhana pasti kebingungan di sana. Dewiq pun tidak mengatakan secara rinci sehingga dia terbatas menyampaikan informasi untuk kembarannya."No, Abang masih napas, nggak?" tanyanya konyol.Farhana mengerutkan keningnya yang mulus. Sekilas menilik dari balkon, pergerakan dada Kayshan apakah masih turun naik. "Ya masih, lah.""
"Jangan pergi kemana-mana lagi, Bang," lirih Kemal yang baru usai menggantikan Farhan mengisi kajian. "Jaga sendiri istrimu, aku belum tentu sanggup menyenangkan hatinya," sambung sang pria muda sembari memakai sandalnya. Kemal berjalan pelan menghampiri kerumunan pria di halaman rumah pribadi sang Yai. Dia menyalimi guru sekaligus pemilik Tazkiya tour tempatnya bernaung sebagai muthowif.Pandangan pun beralih pada Kayshan yang memberikan senyum lesu saat melihat Kemal meminta salim. Adiknya ini selalu saja santun meski dia kerap menyakitinya."Lagi di sini, Dek," tanya Kay lemah disela isakan halus Hana yang masih mendekapnya."Iya. Pulang tiap weekend, Bang," jawab Kemal pelan. Dia ikut pilu mendengar rintihan Hana sekaligus cemas melihat rupa pucat kakak beda ibunya ini. "Ke rumah sakit, Bang, ayo," ajak Kemal sangat lirih.Kayshan mengangguk, tubuhnya setengah melayang, jika tidak didekap erat Farhana, mungkin dia sudah pingsan.Ambulance khusus milik Tazkiya sudah siap terparkir
Farhan sedang bersiap menuju rumah sakit ketika Farhana berlari kecil ke arahnya. Dia langsung duduk di kursi depan padahal kembarannya itu masih membersihkan interior mobil."No, keluar dulu. Nggak bakal ditinggal," pinta Farhan, menowel pundak Farhana."Ogah!" sungutnya masih kesal. "Ayo, Paarr! Udah dua jam nih," rengeknya menarik lengan kemeja Farhan agar gegas berangkat.Dokter muda itu berdecak sebal. Dia terpaksa meletakkan penyedot debu portablenya dan bersiap duduk di belakang kemudi.Kala baru menekan tombol starter, ponsel Farhan berdering. "Ya?" ["Ajak Nana segera ke sini!"] ujar seseorang di ujung telepon."Ada sesuatu?" tanya Farhan ragu-ragu tapi mencoba bersikap tenang sebab Farhana memelototinya.["Lekas!"] sentaknya membuat Farhan menjauhkan gawai itu dari telinga."Oke, oke. Meluncur!" Klik. Farhana memutar posisi duduknya menghadap Farhan. Dia meminta penjelasan tentang telepon tadi."Kemoooonn!" Farhan tak memedulikan tatapan menusuk Hana. Dia berpura-pura tak
Kemal diam sembari menurunkan pandangan. Dia menunggu kalimat lanjutan dari Hana. "Nama gadis itu, Mehru? Orang terdekat Kakak?" Farhana jadi penasaran sebab Kemal tak pernah terlihat atau terdengar bertegur sapa dengan wanita."Hmm. Deket banget," jawabnya pelan. "Oh, pantesan dia mau bantu. Selamat, yah. Semoga happy," sambung Hana datar. Entah mengapa dia tak suka mendengar kalimatnya sendiri.Farhana masih ingat wajah gadis itu, putih mulus dan cantik. Apalagi profesi pekerjaannya mulia, sebagai perawat. Wajar kalau dia bungkam saat didesak Kayshan. Ternyata Kemal adalah orang spesial yang tersirat dalam ucapannya kala itu.Kemal mendongak, melihat wajah gadis ayu di hadapannya. Kedua alis sang lelaki ini ikut mengerut mendengar penuturan Hana."Aku happy, kok. Meski nggak ada sesiapa di sisiku saat ini," balas Kemal sedikit melengkungkan senyum. "Lagian, penghuni hatiku bukan Mehru. Jadi, tidak perlu beri ucapan selamat." Dia berkata sambil berlalu pergi.Farhana melihat keperg
Tatapan para pria itu kini tertuju ke pintu yang mulai terbuka sebab terdorong dari luar. Seorang gadis ayu muncul di sana. Sejenak, dia terheran sebab pandangan para penghuni ruangan terpusat padanya."P-pak?" cicitnya ragu ketika akan melangkah ke arah Kayshan. Dia memilih mendekap map di depan dadanya seakan ingin bersembunyi di sebaliknya."Sini," kata Kayshan menggerakkan jarinya agar Gisel mendekat.Sekretaris Kayshan itu menyerahkan dokumen pada sang pimpinan sekaligus menarik pulpen dari holder. Ketika Gisel membuka halaman untuk sign, Kayshan bertanya, "Dia sudah datang?" Sekretaris ayu itu mengangguk. "Sudah, Pak." "Siapkan ruang meeting." Kay menutup map tadi dan menyerahkan kembali pada Gisel."Baik." Gadis berkacamata itu berlalu pergi setelah menerima kembali dokumennya. Namun, saat tiba di ambang pintu, dia berdiri menyamping sembari membuka panelnya lebar. "Mari, gentleman," sambung Gisel, menjulurkan lengan, menyilakan para staf keluar ruangan.Jajaran top managem
"Abiii!" Dia berlari mendekat sambil merentangkan kedua tangannya.Kemal berhenti tepat di depan lift. Dia tersenyum lalu berjongkok, bersiap menyambut si gadis cantik yang sedang berlari ke arahnya."Jangan lari-lari, Sayang!" serunya tapi tak digubris anak itu. Dia tetap berlari sepanjang lorong.Senyum lebar tersungging di bibir pink seperti Cherry. Pipinya merona karena dingin meski gamis dan hijab hitam menjuntai menutupi tubuh mungilnya. Grep!"Abi!" "Alhamdulillah. Kesayangan Abi dah pulang ke Jakarta lagi." Kemal mendekap erat Gauri, dia rindu ocehan gadis ini jika dirinya menginap di rumah Kamala.Saat perjumpaan pertama mereka beberapa tahun lalu, gadis itu sedang mengamuk dan memukuli Kayshan karena enggan makan dan minum obat.Kemal yang baru mendarat dari Jeddah, tak tega melihat Gauri terus memberontak dalam gendongan Kayshan.Kamala menjelaskan kondisi Gauri saat itu. Biasanya Kay dapat menenangkannya tapi suasana hati Kayshan masih dirundung pilu setelah kepergian E
Farhana memulai pemeriksaan dengan pengecekan ovulasi, lalu Histerosalpingografi (HSG) alias rontgen untuk memperlihatkan kondisi rahim dan tuba falopi secara real-time alias langsung.Setelah itu USG transvaginal, Histeroskopi untuk mengatasi masalah polip, fibroid, dan perdarahan abnormal, serta memastikan hasil pemeriksaan HSG. Kemudian Laparoskopi, mendiagnosis serta mengobati penyakit terkait gangguan pada area perut dan panggul.Dikuatirkan Farhana mengalami gangguan pada endometriosis, tumor fibroid, kista, suka nyeri panggul, dan masalah kesuburan. Saat melakukan tes ini, dokter membius pasien.Farhan setia menemani kembarannya sampai semua rangkaian test selesai. Dewiq pun meminta putrinya itu langsung opname dalam satu ruangan dengan Kayshan.Beberapa jam kemudian, Hana mual muntah dan merasakan nyeri di daerah perut bagian bawah sebagai efek samping setelah semua prosedur dijalani.Hana meringis nyeri meskipun dokter telah memberikan obat pereda sakit. "Perjuanganku jadi ib