Share

4. Honeymoon

Penulis: Merspenstory
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-08 07:39:27

Siang harinya, Lea dan Noah terbang ke Seychelles menaiki jet pribadi keluarga Easton. Setelah 22 jam perjalanan udara, termasuk perjalanan helikopter menuju resort, mereka akhirnya tiba di villa pribadi yang luas dan mewah.

“Kamarku berada di lantai satu dan kamarmu di lantai dua,” ucap Noah ketika mereka baru saja tiba di ruang tengah.

Melihat Lea menatapnya sambil mematung, Noah kembali berbicara, “Kamu tidak berpikir kita akan tidur di kamar yang sama, bukan? Bulan madu ini kita lakukan untuk tujuan tertentu, tapi kita tidak benar-benar berbulan madu seperti pasangan pada umumnya.”

Sebenarnya, tidur di kamar terpisah juga termasuk menguntungkan Lea. Itu artinya tidak ada hal-hal erotis yang akan terjadi pada keduanya, bukan? Lea akan menganggap bulan madu ini sebagai liburan untuk menenangkan diri.

“Uhm, kalau begitu bolehkah aku naik ke atas sekarang? Aku ingin beristirahat sebentar,” tanya Lea meminta izin.

Noah memasang wajah datar. “Tentu saja. Tidak ada yang melarangmu beristirahat!” sahutnya dengan sedikit ketus.

Lea segera membawa kopernya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Saat ia membuka pintu, wanita itu merasa takjub dengan pemandangan yang disuguhkan melalui jendela kamarnya. Lea langsung melepaskan gagang koper, lalu berlari menuju jendela yang sudah terbuka.

“Luar biasa! Lautnya sangat indah!” serunya tersenyum senang.

Setelah cukup lama menikmati pemandangan yang indah itu, Lea merebahkan diri di atas kasur yang empuk dan nyaman. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang, ditambah angin sepoi yang berembus masuk, membuat rasa kantuk tak tertahankan menyerang pelupuk matanya.

Lea terlelap hingga sebuah dering ponsel membangunkannya. Dengan mata mengantuk, Lea menatap layar dan melihat kontak ibu tirinya terpampang di sana. Merasa sangat terkejut, Lea bergegas duduk dan menjawab panggilan tersebut.

“Halo, Bu?” sapanya gugup.

Astrid Galen bukan tipikal ibu tiri yang akan menelepon Lea hanya untuk hal-hal remeh. Bahkan, ia jarang sekali menghubungi putri tirinya itu. Jadi, apa yang ibu tirinya itu inginkan sekarang?

“Bersikap baiklah pada Noah Easton dan seluruh keluarganya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada keluarga Thompson karena kesalahanmu, aku tidak akan melepaskanmu. Ingat itu, jalang!” ancam Astrid dengan suara tegas.

“Baik, Bu. Aku mengerti,” sahut Lea lirih.

Panggilan telepon terputus begitu saja dan suasana hati Lea langsung memburuk. Kapan Astrid akan berhenti menyebutnya ‘jalang’?

Terlahir sebagai anak haram dari hasil perselingkuhan ayahnya dengan seorang penari striptis bukanlah takdir yang Lea inginkan. Namun manusia tidak bisa memilih dari siapa mereka dilahirkan. Lea terpaksa menerima kenyataan itu, seperti ikan yang terbawa arus di air yang deras.

Untuk menghukum Julianne Rose, Astrid melampiaskan kemarahannya pada Lea, putri yang dilahirkan oleh wanita selingkuhan suaminya itu. Lea yang tidak tahu apa-apa harus menanggung dosa dari keegoisan orang tuanya. Astrid yang penuh dendam bersumpah akan membuat hidup Lea tidak pernah bahagia!

Suara ketukan yang tak terduga sontak menghentikan lamunan Lea. “Siapa di sana?” tanyanya sedikit berteriak.

“Saya Vanessa, penata rias yang dikirim oleh Tuan Noah Easton untuk merias Anda, Nyonya.”

Lea bangkit dan melangkah untuk membuka pintu. “Kamu dikirim untuk meriasku? Dalam rangka apa?” tanyanya bingung. Noah tidak mengatakan apa pun tentang agenda mereka hari ini.

Wanita bernama Vanessa itu menggeleng pelan. “Saya tidak tahu, Nyonya,” sahutnya tersenyum.

Tak ingin membuang waktu, Lea pun mempersilakan Vanessa masuk ke dalam kamarnya. Sementara Lea duduk di depan meja rias, si penata rias segera mengeluarkan peralatan merias dari dalam tasnya.

“Anda ingin riasan seperti apa, Nyonya?” tanya wanita itu.

Lea bergumam pelan sambil menatap cermin. “Aku serahkan semuanya padamu, karena kamu yang lebih tahu.”

Vanessa mengangguk paham, kemudian memulai proses merias. Dengan keterampilan tangannya yang sudah tidak diragukan lagi, ditambah wajah Lea yang sudah begitu cantik, tidak sulit untuk Vanessa menyulap wanita itu menjadi bak bidadari.

“Anda cantik sekali, Nyonya,” kata Vanessa tersenyum puas. “Sekarang Anda hanya perlu berganti pakaian.”

Bersamaan dengan itu, suara ketukan pada pintu kembali terdengar. Vanessa dengan cekatan membukakan pintu tersebut dan mendapati seorang wanita berdiri sambil memegang sebuah paper bag berukuran besar.

“Ini dari Tuan Noah Easton,” kata wanita itu.

Vanessa menerima paper bag tersebut dan menyerahkannya pada Lea. Ketika Lea membukanya, sebuah gaun yang sangat cantik terbungkus rapi di sana.

Lea mengambil gaun itu dan membawanya ke kamar mandi. Setelah gaun tersebut terpasang di tubuhnya, Lea keluar sambil berjalan dengan anggun. Bahkan Vanessa dibuat terpesona melihat kecantikan wanita bermata hazel itu.

“Anda terlihat luar biasa, Nyonya! Kalau begitu saya izin pamit,” seru Vanessa kemudian undur diri.

Lea berdiri di depan meja rias, menatap pantulan dirinya dengan senyum lebar. Gaun berwarna merah marun itu sangat pas di tubuhnya. Tanpa Lea duga, Kayden tiba-tiba membuka pintu dan masuk dengan senyum misterius.

Lea terkejut dan segera berpaling dari cermin. “Mengapa kamu tiba-tiba ada di sini?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   5. Pemandangan Mengejutkan

    Kayden menutup pintu kamar lalu menguncinya. Lea yang melihat hal itu lantas melangkah mundur. Wajahnya panik sekaligus waspada saat pria tinggi itu melangkah mendatanginya.“Berhenti! Jangan mendekatiku!” seru Lea dengan suara tegas. Salah satu tangannya terulur ke depan agar Kayden tidak mendekatinya.Namun, Kayden sama sekali tak menggubris peringatan wanita itu, seolah kata-katanya hanya angin lalu. Kakinya yang panjang melangkah dengan mantap, tatapannya tajam memancarkan aura mengintimidasi, membuat Lea semakin melangkah mundur ketakutan.“Aku mohon, pergilah dari sini sekarang.” Lea menempelkan kedua tangannya. “Noah sedang menungguku di bawah. Kamu bisa lihat sendiri penampilanku sekarang, Noah yang memberikan gaun ini dan menyuruh penata rias datang. Kami akan pergi berkencan. Tolong jangan buat masalah.”Kayden mendadak menghentikan langkahnya. Senyum kecil penuh cemooh tersungging di bibirnya. “Noah?” ulangnya dengan nada sinis. “Kamu benar-benar percaya Noah peduli sejauh

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   6. Pukulan yang Tidak Terduga

    Lea menyipitkan mata, mencoba memastikan bahwa sosok di balkon villa seberang memang Noah. Namun, berapa kali pun ia mengucek matanya, pemandangan itu tak berubah. Lea merasa seperti tersedak udara, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Lea memang tak menginginkan pernikahan ini sejak awal. Namun, melihat Noah sedang bercinta dengan wanita lain saat bulan madu mereka, adalah sebuah pukulan yang tidak terduga. Lea merasa sangat kebingungan.“Apa kamu sudah melihatnya?” Suara Kayden terdengar dari arah belakang, memecah keheningan yang sedari tadi membalut Lea.Lea terkesiap dan sontak melangkah mundur dari jendela. Ia berusaha bersikap tenang meski jelas sekali wajahnya tampak kebingungan."Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Lea. Mata hazelnya menatap Kayden yang duduk tenang di meja makan.Kayden hanya tersenyum kecil, senyuman yang lebih terasa seperti ejekan. “Duduklah. Sekarang sudah lewat jam makan siang,” ucapnya seolah tak peduli dengan pertanyaan wanita itu.Lea membuka langk

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   7. Kendali dan Perlindungan

    Lea berhasil meloloskan diri dari villa Noah. Ia berlari dengan napas tersengal dan jantung yang berdebar kencang. Setiap langkahnya terasa berat, seolah tanah yang dipijaknya semakin memeluknya dengan kekuatan yang tak terlihat.Tanpa sadar, kakinya membawanya ke arah villa Kayden. Mungkin karena dia butuh tempat yang terasa aman, meskipun dia tahu itu ironis—villa Kayden bukanlah tempat yang akan memberinya perlindungan. Namun ketika ketakutannya semakin meluap, tanpa berpikir panjang ia mengetuk pintu dengan keras.Pintu terbuka dengan cepat dan sosok Kayden muncul di hadapannya. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya.Lea tidak menjawab segera. Napasnya masih terengah-engah. "Noah … dia ... dia memukulku," ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun penuh dengan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Kayden terdiam sejenak, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. Dia mengamati Lea dari atas hingga bawah, seolah mencoba memahami lebih

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   8. Kita Harus Berakting

    Keesokan paginya, Lea keluar dari kamar dengan kedua mata sembap karena kurang tidur. Sepanjang malam pikirannya terus dihantui oleh kata-kata Kayden. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah hati-hati.“Kamu mau ke mana?”Suara Kayden yang berat membuat Lea terperanjat. Wanita itu sontak menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Kayden yang berdiri di ujung lorong. “Ke mana lagi memangnya? Tentu saja aku harus kembali ke villa Noah,” jawabnya dengan nada yang ia paksakan agar terdengar tegas.Kayden mengangguk pelan, kakinya yang panjang perlahan melangkah mendekati Lea yang berdiri mematung. “Rupanya kamu sudah merindukan suamimu yang kejam itu, ya?” ucapnya dengan nada datar, namun sorot matanya tampak menusuk.Wajah Lea langsung berubah masam. “Aku merindukannya atau tidak, itu bukan urusanmu,” balasnya cepat. “Terima kasih sudah menampungku tadi malam,” tambahnya, lalu berbalik hendak melangkah.Namun baru beberapa kali ia melangkah, Kayden t

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-08
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   9. Aku Akan Menyingkirkannya

    Lea terpaku sementara matanya melebar karena kebingungan. Ucapan Noah tadi masih menggantung di pikirannya ketika pria itu tiba-tiba mendorong tubuhnya menjauh. Ada desakan dalam hatinya untuk bertanya—mengapa semua ini perlu dilakukan? Tapi tatapan dingin di mata Noah membuat kata-katanya terhenti di ujung lidah.Noah berbalik tanpa sepatah kata. Lea mengerjap beberapa kali, mencoba memproses apa yang terjadi, namun tubuhnya justru bergerak mengikuti Noah yang berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman.Noah membuka pintu pengemudi dan masuk tanpa menoleh. Tak ada isyarat, tak ada permintaan agar Lea juga harus masuk. Tapi entah bagaimana, Lea tahu harus masuk segera. Dengan sedikit ragu Lea membuka pintu penumpang, lalu duduk di sana dengan tubuh yang terasa tegang.‘Dia tidak marah lagi, ‘kan?’ Pertanyaan itu terlintas dalam kepala Lea.Mesin mobil menyala, lalu roda mulai bergulir perlahan meninggalkan halaman villa. Lea melirik ke arah Noah, mencoba membaca pikirannya dari e

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   10. Apa Dia Istrimu?

    Lea memegangi ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, seolah menolak kenyataan yang baru saja ia dengar. Dengan hati-hati, ia melangkah mundur kemudian menjauh dari tempat itu.Lututnya terasa sangat lemas. Lea menggigit bibirnya kuat-kuat sambil berjuang mempertahankan keseimbangan. Kata-kata Noah tadi terus bergema di kepalanya, seperti racun yang menyusup ke setiap sel tubuhnya.Noah tidak pernah menginginkan pernikahan ini, Lea tahu itu. Tapi tidak sedikit pun ia membayangkan bahwa pria itu berpikir untuk menyingkirkan dirinya—bukan hanya dari hidupnya, tapi dari dunia ini juga.“Pantas saja dia memukuliku seperti ingin membunuhku. Ternyata dia ….” Lea kembali menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan luapan rasa sakit yang menusuk jantungnya.Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata Lea. Hanya perlu satu kedipan, atau satu gerakan kecil, air mata itu akan jatuh bersama rasa sakit dan ketakutan di dalam dirinya.Lea terhuyung, ham

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   11. Sebuah Hukuman

    Begitu mendengar jawaban tersebut, ekspresi Sophia berubah drastis. Tanpa sepatah kata, ia segera berbalik dan melangkah pergi dengan wajah yang penuh ketidakpuasan. Sikap lembutnya yang tadi terlihat saat menolong Lea kini menghilang, digantikan oleh sikap dingin yang mencuat melalui sebuah tubrukan kecil di bahu wanita bermata hazel itu.Tubrukan itu mungkin terlihat sepele, tetapi cukup untuk membuat Lea terpaku di tempat. Entah mengapa Lea merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik tindakan wanita itu—sesuatu yang menusuk seperti tatapan tajam Sophia yang sempat singgah sesaat sebelum berlalu.“Sophia! Sayang!” teriak Noah panik.Ia melangkah maju hendak menyusul Sophia, tetapi tiba-tiba berhenti. Langkahnya tertahan di depan Lea yang berdiri mematung dengan wajah pucat.Noah menatap istrinya itu dengan tajam, sorot matanya menusuk seperti belati yang diarahkan langsung ke hati Lea. “Aku tidak akan memaafkanmu jika hubunganku dengan Sophia semakin memburuk,” desisnya dengan n

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-24
  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   12. Dijadikan Lelucon

    Malam harinya, Noah berpesta dengan teman-temannya di villa. Suara tawa dan sorakan yang begitu riuh memenuhi seisi ruangan, sementara Lea terjebak di tengah kegelapan pesta yang sedang berlangsung. Sialnya, ia bukan hanya tidak bisa beristirahat—Noah juga memaksanya menjadi pelayan malam itu, memerintahkannya melayani setiap tamu yang datang.Berpesta seperti ini jelas bukanlah kehidupan yang pernah Lea kenal. Selain bersekolah, masa mudanya lebih banyak dihabiskan di dapur atau melayani kakak tirinya. Kini tubuhnya terasa semakin lelah dan kedua matanya terasa berat, namun Noah tidak memberinya kesempatan untuk berhenti.Sejenak, Lea merenung. Sebuah pikiran bahwa Noah jauh lebih kejam daripada Kayden tiba-tiba menyelusup di kepalanya."Astaga, apa yang aku pikirkan? Mengapa aku malah membandingkan Noah dengan Kayden?" gumamnya pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan barusan.Dengan cepat Lea menggoyangkan kepalanya, mencoba mengusir pemikiran yang tak seharusnya ada

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-25

Bab terbaru

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   169. A Kiss They Didn’t Expect

    Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   168. Truth or Dare

    Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   167. Naughty Kayden

    Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   166. Playing with Fire

    Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   165. Aku Mencintaimu Sejak Awal

    Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   164. Terpaksa Mengakui

    Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   163. Rencana Kayden: Tinggal Bersama

    “Tapi, aku kemari untuk menemani Annika memilih perabotan,” tolak Lea, berusaha menahan diri.Untuk apa lagi menghindar? Keadaannya sudah terlanjur seperti ini. Ia bisa menjelaskan semuanya nanti pada Annika.Kayden tidak bereaksi langsung, tetapi tatapannya semakin dalam menusuk. Tekanan yang ia berikan begitu kuat hingga Annika yang berdiri di samping Lea merasakan tubuhnya ikut menegang.Dengan senyum kecil yang terpaksa, Annika meraih tangan Lea dan berkata, “Aku baik-baik saja, Lea. Aku bisa memilih sendiri perabotannya.”Lalu dengan gerakan perlahan, ia mendekat dan berhenti tepat di belakang Lea.“Pergilah. Aku tidak ingin dimarahi kalau kamu menolak. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana ekspresi CEO kita.” Suaranya merendah saat berbisik di telinga Lea. “Untuk masalah tadi, kamu bisa menjelaskannya padaku nanti.”Lea menghela napas. Lalu, ia akhirnya mengangguk pelan.Kayden menyeringai kecil, jelas puas dengan keputusan Lea. “Bagus,” gumamnya sebelum melangkah lebih dulu.Lea ha

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   162. Ketahuan Annika

    Lea baru saja tiba di Home & Haven. Matanya langsung berkeliling mencari keberadaan Annika. Hingga sebuah suara memanggilnya dari samping, Lea segera menoleh dan tersenyum lebar.“Anni!” serunya, lalu melangkah cepat menuju temannya itu.Annika menarik tangan Lea dengan antusias, kemudian mengajaknya berkeliling di antara deretan perabotan yang tertata rapi. Mereka berhenti di sebuah rak pajangan, di mana Annika mulai memilih beberapa hiasan untuk apartemennya. Lea ikut membantu, memberikan saran sesekali, sementara Annika tampak bersemangat menimbang pilihan.“Aku suka yang ini,” ujar Annika seraya mengangkat sebuah lampu meja berdesain minimalis. “Tapi yang itu juga bagus ….”Lea tertawa kecil. “Kamu bisa mengambil dua-duanya kalau sulit memilih.”Annika mengerucutkan bibirnya, merasa ragu, sebelum akhirnya mengangguk. Namun saat Lea hendak beralih ke bagian lain, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang begitu familiar.‘Kayden?’ gumamnya dalam hati.Pria itu berjalan di anta

  • Hasrat Liar Sang Kakak Ipar   161. Enggan

    Lea terbangun dan merasakan sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Ia mengerjapkan mata perlahan sebelum menyadari bahwa itu adalah lengan Kayden. Senyum tipis terukir di bibirnya, lalu ia kembali memejamkan mata, menikmati kehangatan yang menyelimutinya.Meski jam hampir menunjukkan pukul sembilan pagi, Lea enggan beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya terasa nyaman dalam pelukan pria itu, seolah-olah dunia luar tak lagi penting. Salju di luar mungkin turun dengan deras, tetapi kehangatan yang mengalir dari tubuh Kayden membuatnya betah berlama-lama.Ia mendengar dengusan halus di belakangnya, lalu genggaman di pinggangnya mengerat. Tanpa membuka mata, Kayden menariknya lebih dekat hingga punggung Lea menempel sepenuhnya di dadanya.“Kamu sudah bangun?” Suara serak Kayden terdengar di telinganya.Lea tersenyum kecil. “Mmm ... tapi aku belum ingin turun,” jawabnya pelan.Kayden tidak menjawab, hanya menurunkan kepalanya ke lekukan leher Lea dan menghela napas panjang di sana. Hawa

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status