Di sebuah kamar ganti di ballroom hotel berbintang, Lea Rose berdiri mematung tepat di depan cermin sambil memandangi pantulan dirinya sendiri. Hari ini adalah hari pernikahannya—lebih tepatnya pernikahan yang tidak dia inginkan. Demi menyelamatkan keluarganya dari ambang kebangkrutan, ayahnya tega menjadikan dirinya sebagai sandera untuk keluarga Easton.
“Berhentilah berdrama, Lea! Jika kamu ingin menyelamatkan keluarga Thompson dari neraka kehancuran, maka terima saja pernikahan ini dengan lapang dada!”
Suara ibu tirinya yang sedari tadi mengawasinya di belakang, seolah peluru yang menembus jantung Lea. Membuat air matanya tak sengaja menetes dari ujung mata dan mengalir di pipi. Bagaimana bisa ia merasa lapang dada?
“Tapi, Bu—”
“Kita sudah menyepakati hal ini, Lea. Dan kamu sudah setuju untuk menggantikan kakakmu menikah dengan putra kedua keluarga Easton! Sekarang hapus air matamu yang tidak berguna dan keluarlah!” ucap wanita itu sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Lea segera menyapu air matanya dan bersiap untuk keluar seperti yang diperintahkan oleh ibu tirinya. Namun saat ia hendak membuka langkah, Noah Easton—pria yang akan menjadi pengantin laki-laki hari ini—datang menghampirinya. Tatapan pria itu jelas menunjukkan kemarahan yang tak terbendung, ia mendatangi Lea dengan sorot mengintimidasi.
“Seharusnya kamu tolak saja pernikahan sialan ini. Mengapa malah menerimanya, huh?!” bentak Noah penuh kemarahan.
Lea sedikit tersentak dan refleks menutup mata saat melihat Noah melayangkan tangannya. Namun sebuah gerakan lembut di puncak kepalanya membuat Lea membuka mata dengan perlahan. Lea pikir Noah akan memukulnya, tetapi pria itu malah mengusap kepalanya.
“Masih belum terlambat untuk membatalkan pernikahan ini, Lea. Keluarlah sekarang dan katakan pada orang tuamu kamu tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Atau … kamu bisa kabur saja seperti yang dilakukan pemeran utama wanita di novel.”
Lea meneguk saliva dengan berat. Di saat bibirnya hendak terbuka untuk menjawab, kedatangan seseorang membuatnya tertahan.
“Bagaimana hasilnya?” Kaelyn Brown—ibu Noah—masuk dengan tergesa-gesa. Suaranya tampak cemas saat melontarkan pertanyaan tersebut.
Noah segera berbalik, kemudian tersenyum menghampiri ibunya. “Aku sudah menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan. Tenanglah, Bu. Pernikahan sialan ini tidak akan terjadi hari ini.”
Kaelyn menatap putranya dengan ragu, kemudian menghampiri Lea yang berdiri mematung. “Aku harap kamu mengerti situasi kita. Ketahui posisi keluarga Thompson, terlebih lagi posisimu sendiri. Aku tidak ingin putraku menjadi tumbal atas perjanjian bodoh para tetua di masa lalu. Tidak ada yang mengharapkanmu di keluarga Easton,” bisiknya dengan suara tajam dan tegas, lalu melangkah keluar bersama putranya.
Kedua mata Lea terasa memanas, namun sekuat tenaga ia menahan agar air mata tidak jatuh dari tempatnya. Kata-kata Kaelyn sama sekali tidak salah. Tidak ada yang menginginkan Lea, baik di keluarga Easton ataupun di keluarga Thompson.
Cukup lama Lea berdiri mematung, hingga seorang petugas WO datang dan memberi tahu Lea untuk segera keluar. Dengan sedikit gemetar, Lea berjalan menuju altar dengan perasaan campur aduk—antara rasa ragu dan cemas.
“Mengapa kemari?! Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk kabur, atau memberi tahu orang tuamu, atau apa pun itu yang bisa membatalkan pernikahan sialan ini!” sambut Noah, nada suaranya berbisik namun dipenuhi amarah.
Lea tak berani menatapnya. “Maafkan aku. Tapi, aku juga tidak punya pilihan …,” katanya lemah.
Rahang Noah mengeras karena amarah. “Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal! Batalkan sekarang atau aku akan—” Ucapan Noah terhenti saat ia melihat sang ayah menatap tajam ke arahnya.
Noah sontak terdiam dan sikapnya berubah 180 derajat, seperti peliharaan yang tidak berkutik di hadapan tuannya. Lalu, pesta pernikahan pun langsung pada puncaknya dan berakhir sesuai agenda. Sepanjang acara Noah terus menyalahkan Lea sebab pernikahan terlaksana, pria itu bahkan langsung pergi dan meninggalkan Lea sendirian.
“Hari ini benar-benar melelahkan,” gumam Lea sambil meraih gelas berisi wine dan menenggaknya hingga habis.
Karena toleransinya terhadap alkohol sangat rendah, satu gelas wine sangat cukup membuat Lea mabuk. Ia melangkah sempoyongan menuju mobil setelah menerima informasi bahwa seorang sopir akan mengantarnya ke kediaman Easton.
“Saya akan mengantar Anda ke kediaman Easton,” jelas sopir saat Lea baru saja masuk mobil.
Lea mengangguk pelan dan mobil pun meluncur menuju kediaman Easton. Di sepanjang jalan, Lea benar-benar hampir kehilangan kesadarannya. Hingga tak terasa, mobil yang Lea tumpangi tiba-tiba sudah memasuki kediaman keluarga Easton dan berhenti tepat di depan pintu utama kediaman keluarga Easton yang mewah.
Lea turun dari mobil dan berjalan masuk dengan langkah yang masih sempoyongan. Seorang pelayan menyambut kedatangannya dan berkata akan mengantarkan Lea ke kamarnya.
“Tidak usah. Kamu hanya perlu memberi tahuku letak kamar pengantin di mana.” Lea menolak.
Awalnya pelayan itu terlihat ragu, tetapi Lea kembali meyakinkan bahwa ia baik-baik saja naik ke atas sendirian. Lalu pelayan itu pun memberi tahu Lea letak kamar pengantin.
Lea menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setibanya di depan kamar yang ia yakini adalah kamar pengantin, Lea langsung membuka pintu kamar tersebut.
“Noah …?” gumam Lea saat melihat sesosok pria tengah berdiri di ujung ranjang sambil melucuti kancing kemejanya.
Lea berjalan mendatangi pria itu dan berhenti tepat di depannya. “Aku tahu kamu sangat kesal hari ini. Tapi, aku sungguh minta maaf karena pernikahan ini juga di luar kuasaku,” ujarnya sambil terkekeh, namun sedetik kemudian wajahnya berubah murung.
Pria itu menipiskan jarak mereka, lalu menarik dagu Lea agar menatapnya. “Lihat dengan benar siapa yang berdiri di hadapanmu sekarang,” katanya dengan suara parau.
Lea menyipitkan mata, memfokuskan tatapannya pada pria di hadapannya itu. “Kamu … Noah Easton. Suamiku,” sahutnya tampak yakin.
Pria itu menarik napas dalam, tatapannya terfokus pada Lea yang tampak kehilangan keseimbangan. Saat matanya jatuh pada bibir wanita itu, dorongan yang tak terelakkan muncul dalam dirinya—keinginan yang tak bisa ditahan.
Tanpa peringatan, pria itu mendekat dan mendaratkan ciuman hangat di bibir Lea. Ciuman itu bukan sekadar lembut—ada api yang menggeliat di antara mereka. Dengan penuh gairah, ia melumat bibir Lea, menghidupkan setiap sensasi yang terpendam.
Lea terlena dalam setiap sentuhan, setiap cecapan yang menggoda, seolah dunia di sekitar mereka menghilang. Dalam momen itu, Lea merasakan getaran yang membuat jantungnya berpacu. Ia terperangkap dalam kehangatan tubuh pria itu, pria yang ia pikir adalah suaminya.
Keesokan paginya, Lea terbangun setelah tak sengaja mendengar suara berisik dari alarm. Dengan mata berat, ia membuka mata dan sebuah pemandangan tak biasa mengejutkan wanita itu. Bagaimana bisa Kayden Easton tidur tepat di sampingnya?!Lea terkejut dan langsung melompat dari tempat tidur, jantungnya berdegup kencang. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya seolah tercekat begitu saja. Lea berniat membangunkannya, namun pria itu tiba-tiba membuka matanya.“Apa yang terjadi? Mengapa kamu tidur di ranjangku dan Noah?” tanya Lea panik.Kayden tersenyum miring. “Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di kamarku?”Lea kembali terkejut. “A-apa? A-aku pikir ini kamar pengantin,” jawabnya dengan suara tergagap.Kayden tertawa pelan. “Jangan bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Aku tahu kamu memang sengaja ingin naik ke atas ranjangku, Lea Rose!”Seluruh wajah Lea memerah karena merasa malu sekaligus marah. “Apa maksudmu? Aku sungguh tidak sengaja masuk ke kamar ini!” elaknya.Usai men
“Kak, apa yang kamu lakukan di sini?” Noah menangkap lengan Kayden dengan cepat.Kayden menatap sang adik dengan wajah datar, mengamati dari atas hingga bawah. Penampilannya tampak berantakan, seperti seseorang yang baru saja berpesta sepanjang malam.“Dia ke sini untuk membahas pekerjaan. Kamu tahu ‘kan kalau dia adalah atasanku di kantor?” Lea menjawab sebelum bibir Kayden sempat terbuka.Noah bergumam pelan sambil mengamati keduanya secara bergantian. Pria itu tampak curiga, namun akhirnya mengangguk percaya. “Jadi, apa kalian berdua sudah selesai membahasnya?”Lea mengangguk mengiyakan. “Ya! Kita sudah selesai membahasnya.”Kayden berbalik dan menatap Lea sambil tersenyum tipis. Mata birunya seolah mengisyaratkan sesuatu. Kemudian, ia menarik lengannya dari genggaman Noah dan membuka langkah meninggalkan kamar.Sepeninggal Kayden, Lea hanya diam sambil memperhatikan Noah yang pergi menuju ranjang. Suaminya itu tampak berantakan. Ia bahkan tidur tanpa mengganti pakaiannya.“Berhent
Siang harinya, Lea dan Noah terbang ke Seychelles menaiki jet pribadi keluarga Easton. Setelah 22 jam perjalanan udara, termasuk perjalanan helikopter menuju resort, mereka akhirnya tiba di villa pribadi yang luas dan mewah.“Kamarku berada di lantai satu dan kamarmu di lantai dua,” ucap Noah ketika mereka baru saja tiba di ruang tengah.Melihat Lea menatapnya sambil mematung, Noah kembali berbicara, “Kamu tidak berpikir kita akan tidur di kamar yang sama, bukan? Bulan madu ini kita lakukan untuk tujuan tertentu, tapi kita tidak benar-benar berbulan madu seperti pasangan pada umumnya.”Sebenarnya, tidur di kamar terpisah juga termasuk menguntungkan Lea. Itu artinya tidak ada hal-hal erotis yang akan terjadi pada keduanya, bukan? Lea akan menganggap bulan madu ini sebagai liburan untuk menenangkan diri.“Uhm, kalau begitu bolehkah aku naik ke atas sekarang? Aku ingin beristirahat sebentar,” tanya Lea meminta izin.Noah memasang wajah datar. “Tentu saja. Tidak ada yang melarangmu berist
Kayden menutup pintu kamar lalu menguncinya. Lea yang melihat hal itu lantas melangkah mundur. Wajahnya panik sekaligus waspada saat pria tinggi itu melangkah mendatanginya.“Berhenti! Jangan mendekatiku!” seru Lea dengan suara tegas. Salah satu tangannya terulur ke depan agar Kayden tidak mendekatinya.Namun, Kayden sama sekali tak menggubris peringatan wanita itu, seolah kata-katanya hanya angin lalu. Kakinya yang panjang melangkah dengan mantap, tatapannya tajam memancarkan aura mengintimidasi, membuat Lea semakin melangkah mundur ketakutan.“Aku mohon, pergilah dari sini sekarang.” Lea menempelkan kedua tangannya. “Noah sedang menungguku di bawah. Kamu bisa lihat sendiri penampilanku sekarang, Noah yang memberikan gaun ini dan menyuruh penata rias datang. Kami akan pergi berkencan. Tolong jangan buat masalah.”Kayden mendadak menghentikan langkahnya. Senyum kecil penuh cemooh tersungging di bibirnya. “Noah?” ulangnya dengan nada sinis. “Kamu benar-benar percaya Noah peduli sejauh
Lea menyipitkan mata, mencoba memastikan bahwa sosok di balkon villa seberang memang Noah. Namun, berapa kali pun ia mengucek matanya, pemandangan itu tak berubah. Lea merasa seperti tersedak udara, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Lea memang tak menginginkan pernikahan ini sejak awal. Namun, melihat Noah sedang bercinta dengan wanita lain saat bulan madu mereka, adalah sebuah pukulan yang tidak terduga. Lea merasa sangat kebingungan.“Apa kamu sudah melihatnya?” Suara Kayden terdengar dari arah belakang, memecah keheningan yang sedari tadi membalut Lea.Lea terkesiap dan sontak melangkah mundur dari jendela. Ia berusaha bersikap tenang meski jelas sekali wajahnya tampak kebingungan."Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Lea. Mata hazelnya menatap Kayden yang duduk tenang di meja makan.Kayden hanya tersenyum kecil, senyuman yang lebih terasa seperti ejekan. “Duduklah. Sekarang sudah lewat jam makan siang,” ucapnya seolah tak peduli dengan pertanyaan wanita itu.Lea membuka langk
Lea berhasil meloloskan diri dari villa Noah. Ia berlari dengan napas tersengal dan jantung yang berdebar kencang. Setiap langkahnya terasa berat, seolah tanah yang dipijaknya semakin memeluknya dengan kekuatan yang tak terlihat.Tanpa sadar, kakinya membawanya ke arah villa Kayden. Mungkin karena dia butuh tempat yang terasa aman, meskipun dia tahu itu ironis—villa Kayden bukanlah tempat yang akan memberinya perlindungan. Namun ketika ketakutannya semakin meluap, tanpa berpikir panjang ia mengetuk pintu dengan keras.Pintu terbuka dengan cepat dan sosok Kayden muncul di hadapannya. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya.Lea tidak menjawab segera. Napasnya masih terengah-engah. "Noah … dia ... dia memukulku," ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun penuh dengan ketakutan yang tak bisa disembunyikan.Kayden terdiam sejenak, ekspresinya berubah menjadi lebih serius. Dia mengamati Lea dari atas hingga bawah, seolah mencoba memahami lebih
Keesokan paginya, Lea keluar dari kamar dengan kedua mata sembap karena kurang tidur. Sepanjang malam pikirannya terus dihantui oleh kata-kata Kayden. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah hati-hati.“Kamu mau ke mana?”Suara Kayden yang berat membuat Lea terperanjat. Wanita itu sontak menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Kayden yang berdiri di ujung lorong. “Ke mana lagi memangnya? Tentu saja aku harus kembali ke villa Noah,” jawabnya dengan nada yang ia paksakan agar terdengar tegas.Kayden mengangguk pelan, kakinya yang panjang perlahan melangkah mendekati Lea yang berdiri mematung. “Rupanya kamu sudah merindukan suamimu yang kejam itu, ya?” ucapnya dengan nada datar, namun sorot matanya tampak menusuk.Wajah Lea langsung berubah masam. “Aku merindukannya atau tidak, itu bukan urusanmu,” balasnya cepat. “Terima kasih sudah menampungku tadi malam,” tambahnya, lalu berbalik hendak melangkah.Namun baru beberapa kali ia melangkah, Kayden t
Lea terpaku sementara matanya melebar karena kebingungan. Ucapan Noah tadi masih menggantung di pikirannya ketika pria itu tiba-tiba mendorong tubuhnya menjauh. Ada desakan dalam hatinya untuk bertanya—mengapa semua ini perlu dilakukan? Tapi tatapan dingin di mata Noah membuat kata-katanya terhenti di ujung lidah.Noah berbalik tanpa sepatah kata. Lea mengerjap beberapa kali, mencoba memproses apa yang terjadi, namun tubuhnya justru bergerak mengikuti Noah yang berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman.Noah membuka pintu pengemudi dan masuk tanpa menoleh. Tak ada isyarat, tak ada permintaan agar Lea juga harus masuk. Tapi entah bagaimana, Lea tahu harus masuk segera. Dengan sedikit ragu Lea membuka pintu penumpang, lalu duduk di sana dengan tubuh yang terasa tegang.‘Dia tidak marah lagi, ‘kan?’ Pertanyaan itu terlintas dalam kepala Lea.Mesin mobil menyala, lalu roda mulai bergulir perlahan meninggalkan halaman villa. Lea melirik ke arah Noah, mencoba membaca pikirannya dari e
Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki
Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li
Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc
Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat
Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak
Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An
“Tapi, aku kemari untuk menemani Annika memilih perabotan,” tolak Lea, berusaha menahan diri.Untuk apa lagi menghindar? Keadaannya sudah terlanjur seperti ini. Ia bisa menjelaskan semuanya nanti pada Annika.Kayden tidak bereaksi langsung, tetapi tatapannya semakin dalam menusuk. Tekanan yang ia berikan begitu kuat hingga Annika yang berdiri di samping Lea merasakan tubuhnya ikut menegang.Dengan senyum kecil yang terpaksa, Annika meraih tangan Lea dan berkata, “Aku baik-baik saja, Lea. Aku bisa memilih sendiri perabotannya.”Lalu dengan gerakan perlahan, ia mendekat dan berhenti tepat di belakang Lea.“Pergilah. Aku tidak ingin dimarahi kalau kamu menolak. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana ekspresi CEO kita.” Suaranya merendah saat berbisik di telinga Lea. “Untuk masalah tadi, kamu bisa menjelaskannya padaku nanti.”Lea menghela napas. Lalu, ia akhirnya mengangguk pelan.Kayden menyeringai kecil, jelas puas dengan keputusan Lea. “Bagus,” gumamnya sebelum melangkah lebih dulu.Lea ha
Lea baru saja tiba di Home & Haven. Matanya langsung berkeliling mencari keberadaan Annika. Hingga sebuah suara memanggilnya dari samping, Lea segera menoleh dan tersenyum lebar.“Anni!” serunya, lalu melangkah cepat menuju temannya itu.Annika menarik tangan Lea dengan antusias, kemudian mengajaknya berkeliling di antara deretan perabotan yang tertata rapi. Mereka berhenti di sebuah rak pajangan, di mana Annika mulai memilih beberapa hiasan untuk apartemennya. Lea ikut membantu, memberikan saran sesekali, sementara Annika tampak bersemangat menimbang pilihan.“Aku suka yang ini,” ujar Annika seraya mengangkat sebuah lampu meja berdesain minimalis. “Tapi yang itu juga bagus ….”Lea tertawa kecil. “Kamu bisa mengambil dua-duanya kalau sulit memilih.”Annika mengerucutkan bibirnya, merasa ragu, sebelum akhirnya mengangguk. Namun saat Lea hendak beralih ke bagian lain, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sosok yang begitu familiar.‘Kayden?’ gumamnya dalam hati.Pria itu berjalan di anta
Lea terbangun dan merasakan sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya. Ia mengerjapkan mata perlahan sebelum menyadari bahwa itu adalah lengan Kayden. Senyum tipis terukir di bibirnya, lalu ia kembali memejamkan mata, menikmati kehangatan yang menyelimutinya.Meski jam hampir menunjukkan pukul sembilan pagi, Lea enggan beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya terasa nyaman dalam pelukan pria itu, seolah-olah dunia luar tak lagi penting. Salju di luar mungkin turun dengan deras, tetapi kehangatan yang mengalir dari tubuh Kayden membuatnya betah berlama-lama.Ia mendengar dengusan halus di belakangnya, lalu genggaman di pinggangnya mengerat. Tanpa membuka mata, Kayden menariknya lebih dekat hingga punggung Lea menempel sepenuhnya di dadanya.“Kamu sudah bangun?” Suara serak Kayden terdengar di telinganya.Lea tersenyum kecil. “Mmm ... tapi aku belum ingin turun,” jawabnya pelan.Kayden tidak menjawab, hanya menurunkan kepalanya ke lekukan leher Lea dan menghela napas panjang di sana. Hawa