Semua Bab Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian: Bab 171 - Bab 180

213 Bab

Bab 171

Tiba-tiba, mobil sport milik Hendro meluncur tajam ke arah Wenny, berusaha memaksanya mundur. Namun Wenny justru menantang bahaya. Sisi kanan mobilnya bersentuhan dengan dinding, memercikkan semburat api yang menyala-nyala sepanjang jalan. Dalam sekejap, mobilnya melayang dan meluncur dengan kecepatan tinggi, menyusul Hendro dari belakang. Tidak disangka, kemampuan membalapnya begitu memukau, sungguh luar biasa. Hendro melirik ke arah Wenny. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya, membuat helaian rambut hitam panjang dan bersih itu berkibar indah di udara, sebagian menyangkut lembut di wajah seputih salju dan leher jenjangnya. Kecantikannya begitu bersinar, begitu memesona hingga tidak sanggup mengalihkan pandangan. Wenny memakai kacamata hitam dan menoleh pelan ke arahnya, lalu tanpa basa-basi mengacungkan jari tengah. “Sialan…” Hendro hanya terkekeh rendah. Suaranya dalam dan serak, seperti bergulir dari dada, malas tapi menggoda. Gadis itu… membuat hatinya gatal. Gatal dan tak te
Baca selengkapnya

Bab 172

Steve tertawa, “Jadi ternyata yang dimaksud bala bantuan oleh Wenny adalah Hana.”Hendro mengernyit, tak mengerti, "Bala bantuan apa?"“Tadi kalian berdua imbang, susah mastiin siapa menang. Tapi Wenny bilang, Hana punya penyakit jantung. Jadi, sehebat apapun kamu nyetir, tetap saja nggak bisa bawa penumpang seperti dia. Hana pasti jadi bala bantuan buat Wenny.” Nada bicara Steve ringan, tapi penuh arti.‘Dia bilang begitu?’Hendro menoleh, tatapannya jatuh pada siluet Wenny yang perlahan menjauh. Bibirnya terangkat membentuk senyum samar. Steve menyenggol Hendro dengan bahunya, “Dia menarik, ya?”Hendro hanya menaikkan alis tegasnya, tak menjawab. Hana yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa mendengus dalam hati. ‘Apa kalian anggap aku ini tak ada?’...Wenny dan Steve memasuki kamar suite Pearl Sea View yang menghadap laut, sementara Hana dan Hendro masuk ke kamar suite Diamond Sea View.Tak lama, Fany dan Stella pun tiba. Vila pemandian air panas ini memang terkenal, semua o
Baca selengkapnya

Bab 173

Sebelumnya mereka adu keahlian di lintasan balap, kini mereka beradu kekayaan. Kali ini adalah pertarungan dompet, dan kalau sudah bicara soal kekayaan, siapa yang bisa menandingi Hendro, orang terkaya di kota Livia. Wajah mungil Hana tampak manis dan penuh harap saat menatapnya, meminta dengan manja agar dia yang membelikan. Hendro melirik Hana, lalu menoleh pada Wenny. Mata Wenny yang jernih juga menatapnya. Hana menarik lengan Hendro, suaranya manja dan mendesak, "Hendro, beliin buat aku, ya? Aku mau."Hendro menatap penjual toko, "Aku akan bayar dua kali lipat ."Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk Hana. Hana mengangkat dagu indahnya dengan bangga, menatap Wenny seperti seekor merak betina yang baru saja memamerkan bulunya. Tatapannya seolah berkata—lihat kan? Hendro membelikannya untukku. Steve langsung menyela, "Hendro, kalau begitu nggak seru. Pak, aku bayar tiga kali lipat."Steve menawarkan harga tiga kali lipat untuk Wenny. Wenny buru-buru berkata, "Tuan Steve,
Baca selengkapnya

Bab 174

Hana melangkah ke dalam kolam air panas dan mendekati Hendro. "Hendro, aku cantik, kan?" tanyanya lembut, penuh harap.Hendro menatapnya tanpa berkata apa-apa. Namun sebelum dia sempat membuka mulut, Fany sudah datang sambil menarik Wenny. Fany menyusuri kolam dan berseru, "Wenny, ayo cepat turun!"Hendro mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Wenny. Wenny sudah berganti pakaian dengan bikini, namun terlihat canggung. Dia membungkus tubuhnya dengan handuk.Hana langsung menyindir dengan nada tajam, "Wenny, ngapain kamu pakai handuk? Jangan-jangan kamu nggak pede sama badanmu sendiri?"Stella ikut-ikutan tertawa kecil, jelas menikmati situasi. Fany mendorong, "Wenny, semua orang suruh kamu lepas handuk tuh!" Dan tanpa aba-aba, dia langsung menarik handuk itu dari tubuh Wenny. Ah! Wenny menjerit kecil, terkejut, dan bersamaan dengan itu keindahan tubuhnya pun terpampang di hadapan semua orang. Ia mengenakan bikini warna merah magenta, kontras sempurna dengan kulitnya yang putih alami
Baca selengkapnya

Bab 175

Wenny merasa heran. Kenapa tatapan Hendro terus tertuju padanya? Padahal Hana ada tepat di sampingnya, kenapa dia tidak melihat Hana saja?Belakangan ini, Hendro memang terlihat terlalu sering menatapnya… terlalu sering untuk sebuah kebetulan. Steve menatap Wenny sambil tersenyum lembut. “Wenny, ayo kita pindah ke sana. Tempat itu lebih tenang.”Fany menahan tawa sambil menggoda, “Wah, Tuan Steve mau berduaan sama Wenny nih! Sana, sana cepat!”Wenny hanya tersenyum tipis dan mengikuti Steve pergi dari keramaian. Fany sempat melirik Hendro. Tatapan pria itu gelap dan muram, jelas-jelas sedang tidak senang. Entah kenapa, dia merasa puas melihatnya begitu. Di sisi lain, Wenny dan Steve kini menikmati suasana hangat di kolam yang lebih sunyi. Mereka sempat berbincang ringan, sampai akhirnya ponsel Steve tiba-tiba berbunyi. “Wenny, aku terima telepon dulu, ya.” "Oke."Steve naik untuk menjawab telepon. Wenny berendam sebentar, lalu matanya menangkap sosok penjual es krim. Ia tak pern
Baca selengkapnya

Bab 176

Si pria bertato harimau itu telah datang bersama beberapa pria. Hendro mengenali pria itu, dikenal sebagai "Kak Hugo" di dunia mafia. Dia adalah tangan kanan dari sindikat besar, terkenal kejam dan tanpa ampun, tangannya pernah berlumuran darah banyak orang. Kini, ia ketahuan selingkuh dengan istri kakaknya sendiri dan sayangnya, orang yang memergoki mereka adalah Wenny. Wenny nggak akan dibiarkan pergi dalam keadaan hidup. Ada aturan tak tertulis dalam dunia hitam dan putih, saling tak mencampuri urusan orang lain. Hendro tidak ingin menimbulkan konflik, kecuali benar-benar terpaksa. Langkah kaki mendekat. Seorang pria berseru, “Kak Hugo, mereka ada di sini!”Tanpa memberi waktu berpikir, Hendro menunduk dan mencium bibir merah Wenny. Wenny baru saja mendengar suara mereka, tapi sebelum sempat bereaksi, pandangannya gelap, sebuah ciuman dalam datang menerjang. Ciuman itu kasar, penuh amarah, seperti pelampiasan emosi yang lama terpendam, dia mencium seolah ingin menggigit, menan
Baca selengkapnya

Bab 177

Sekarang, tubuh tinggi dan berotot itu telah memerangkapnya di sudut yang tersembunyi. Di tempat yang begitu sepi, saat pria itu berkata ingin membelikannya sesuatu, Wenny tiba-tiba merasa seolah mereka adalah sepasang kekasih gelap yang tengah mencuri waktu bersama dan dirinya hanyalah simpanan rahasia dari pria ini. Padahal, kenyataannya… dia adalah istri sahnya. “Aku nggak butuh baju baru.” “Kalau es krim, mau?”Hendro tiba-tiba mengeluarkan es krim dari balik tubuhnya. Wenny membelalak. Di tangannya, tiba-tiba muncul es krim rasa stroberi, rasa favoritnya. “Kapan kamu beli itu?” "Barusan saja."Ternyata, sejak tadi dia telah mengikutinya diam-diam, melihat bagaimana dia mengejar-ngejar pedagang es krim seperti anak kecil. Wenny menundukkan bulu matanya. Dia tak menyangka pria sekeras Hendro bisa belikan es krim untuknya. Es krim itu kini sudah menyentuh bibir merahnya. “Coba satu gigitan,” kata pria itu pelan.Wenny menatapnya, “Aku nggak pengen makan.”Dia jelas ingin maka
Baca selengkapnya

Bab 178

Wenny melirik ke arah Hendro sambil memegang es krim rasa stroberi di tangannya. Hendro berdiri tegak dengan tubuh tinggi dan kaki jenjangnya, menatap Wenny dengan tenang, seolah menunggu jawaban darinya. “Emangnya harus cowok yang beliin es krim buat aku? Aku beli sendiri, kok.” Wenny sedikit berbohong. Hana dan Stella tampak tak begitu yakin dengan ucapannya. Hendro hanya melengkungkan bibir tipisnya sedikit, seolah berkata dalam hati 'Dasar penipu kecil.' Wenny tak ingin memperpanjang situasi. Ia menoleh pada Steve dan berkata, “Steve, aku nggak mau berendam lagi. Ayo kita kembali ke kamar, ya.”Steve mengangguk, "Oke ."Steve pergi bersama Wenny. Stella berkata dengan iri dan dengki, “Wenny jelas-jelas bohong. Es krim itu pasti dari cowok. Lihat deh, dia buru-buru ngajak Kak Steve ke kamar, pasti niatnya mau tidur bareng!”Hana meraih lengan kekar Hendro dan bergelayut manja, “Hendro, sekarang Wenny kan pacarnya Steve, mereka juga sekamar malam ini. Menurutmu… mereka bakal ti
Baca selengkapnya

Bab 179

Hendro dan Hana kembali ke kamar suite Diamond Sea View milik mereka. Hendro berdiri diam di depan jendela besar, menatap laut malam yang bergelombang dengan ekspresi tak terbaca. Tiba-tiba, tubuh lembut merangkulnya dari belakang. Sepasang tangan halus dan pucat mendarat di dada bidangnya, merayap dengan penuh godaan. Itu Hana. Hendro berbalik dan menatap Hana dengan datar, “Kenapa?"Hana menatap wajah tampan pria itu penuh kekaguman. Malam ini, hanya mereka berdua di satu kamar. Waktu seperti ini, gairah mudah terbakar.Dengan nada genit dan manja, Hana bertanya, “Hendro, kamu pernah tidur sama cewek?”“Kenapa tanya begitu?” balasnya, kening sedikit berkerut.Hana tahu, selama ini hanya dirinya wanita yang berada di sisi Hendro. Meski ia koma selama tiga tahun, dan saat bangun di sisinya sudah ada Wenny, tapi dia yakin Hendro belum pernah menyentuhnya. Namun, lelaki seperti Hendro, di usia penuh gairah dan vitalitas, masa iya nggak punya hasrat sedikit pun? Beberapa kali dia men
Baca selengkapnya

Bab 180

"Apa ini?" Wenny menutup pintu kamar dengan hati-hati. Dia lalu menumpahkan isi kantong di atas ranjang, sebungkus kondom dan sehelai lingerie yang menggoda. Dia tertegun. Dia tidak pernah memesan barang-barang ini!'Apa pihak layanan kamar mengantar ke kamar yang salah?' Saat itu juga, Steve keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih diselimuti uap hangat. Matanya juga langsung tertuju pada benda-benda di atas ranjang, dan ia pun terdiam. “Wenny, ini…?”Wenny langsung paham, bukan Steve yang pesan barang-barang itu. Jadi gimana dua barang ini bisa sampai di sini?Ding-dong.Bel pintu kembali berbunyi. “Aku yang buka,” kata Steve sambil melangkah ke arah pintu. Begitu pintu dibuka, ada Hendro dan Hana. Bulu mata panjang Wenny bergetar halus. Bukannya mereka menginap di kamar suite Diamond Sea View?"Hendro, ngapain kalian di sini ?" tanya Steve dengan heran. Suara Hendro terdengar dalam dan berat, seperti magnet yang menarik perhatian, “Sistem keamanan di kamar kami sedang bermasa
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1617181920
...
22
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status