หน้าหลัก / Urban / Bangkitnya Johan / บทที่ 61 - บทที่ 70

บททั้งหมดของ Bangkitnya Johan: บทที่ 61 - บทที่ 70

104

Part 61

Evelyn Voss duduk di ruang kerjanya, membaca ulang laporan yang baru saja diterimanya dari tim intelijen perusahaan. Informasi tentang pergerakan Keluarga Wilhelm dan Keluarga Moreau semakin menarik. Mereka tampaknya tidak hanya ingin bekerja sama, tetapi juga berusaha memahami struktur kepemimpinan Arthura Trade & Co. Darius mengetuk pintu dan masuk tanpa menunggu jawaban. "Kami baru saja menerima kabar bahwa Keluarga Moreau telah mengajukan perjanjian dagang formal. Mereka tertarik untuk menjadi mitra eksklusif dalam distribusi barang dari Varestia ke wilayah mereka." Evelyn menghela napas pelan. "Mereka bergerak lebih cepat dari yang kita perkirakan. Apakah ada indikasi mereka juga mencoba menyelidiki pemilik kita?" "Belum ada bukti langsung, tetapi ada beberapa pergerakan aneh dari pihak mereka," jawab Darius. "Mereka mungkin ingin memastikan siapa yang sebenarnya menjalankan perusahaan ini." Evelyn tersenyum tipis. "Baik. Kita akan tetap mengikuti prosedur. Johan akan men
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-17
อ่านเพิ่มเติม

Part 62

Tiga hari kemudian, di bawah langit malam yang berhiaskan bintang samar, Evelyn dan Darius bersembunyi di balik bayangan di sekitar vila tempat pertemuan rahasia berlangsung. Mata mereka awas mengamati gerakan di dalam bangunan yang diterangi lampu redup. "Tim bayangan sudah siap di titik masing-masing," bisik Darius sambil menekan alat komunikasi kecil di telinganya. "Begitu kita mendapat sinyal, kita bisa masuk." Evelyn mengangguk. "Kita harus cepat dan pastikan Gregoire tidak lolos." Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar mendekat dari arah lain. Dua pria berbadan besar dengan wajah mencurigakan berjalan ke arah mereka. Evelyn dan Darius saling bertukar pandang sebelum pria-pria itu menghentikan langkah mereka. "Siapa kalian?" salah satu pria itu bertanya dengan nada tajam. Tanpa menjawab, Evelyn melompat maju dan mengayunkan tinjunya ke wajah pria itu. Pukulan keras mendarat, membuatnya terhuyung. Darius tak tinggal diam—dengan gerakan cepat, ia menarik belatinya dan m
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-17
อ่านเพิ่มเติม

Part 63

Evelyn dan Darius berdiri di depan pintu besar yang tampak kokoh. Di baliknya, suara percakapan terdengar semakin jelas. Mereka saling bertukar pandang sebelum Darius mengangguk pelan. Dengan satu tarikan napas, Evelyn mendorong pintu itu hingga terbuka. Di dalam, ruangan luas dengan lampu gantung redup menyambut mereka. Gregoire Levant berdiri di tengah, dikelilingi oleh empat pria bersenjata. Di sampingnya, seorang pria tinggi dengan jubah hitam—kemungkinan tangan kanan Keluarga Moreau—menyipitkan mata saat melihat mereka masuk. “Evelyn Voss,” suara Gregoire terdengar tenang, seolah sudah memperkirakan kedatangan mereka. “Aku tahu kau akan datang.” Evelyn hanya menyeringai. “Sayangnya, aku tidak datang untuk berbasa-basi.” Gregoire memberi isyarat, dan keempat pria bersenjata segera bergerak. Pertarungan pun dimulai. Salah satu pria menyerang Evelyn dengan tinju keras, tetapi ia menundu
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
อ่านเพิ่มเติม

Part 64

Johan berdiri dengan tenang, menghadapi pria berjubah hitam yang kini mulai merendahkan tubuhnya dalam posisi bertarung. Matanya penuh kebencian, tetapi Johan hanya tersenyum tipis, seolah melihat lawannya sebagai hiburan semata. “Kau pikir bisa menghentikanku begitu saja, Johan?” pria itu menyeringai. “Aku telah berlatih bertahun-tahun untuk mengalahkanmu.” Johan tertawa kecil. “Kalau begitu, tunjukkan.” Pertarungan pun dimulai. Pria berjubah hitam melesat maju, pisaunya berkilat di bawah cahaya lampu redup. Ia menyerang dengan kecepatan tinggi, menusuk dan menebas dengan presisi yang mematikan. Tetapi Johan menghindar dengan mudah. Ia bergerak ringan, seperti bayangan, setiap gerakan lawannya ditepis atau dielakkan tanpa usaha berarti. Setiap kali pria itu menyerang, Johan hanya berputar atau mundur selangkah, seolah sedang menari di tengah medan perang. Waktu berlalu, d
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
อ่านเพิ่มเติม

Part 65

Lorong rahasia telah tertutup, menyisakan keheningan yang menggantung di antara mereka. Evelyn menatap alat pelacak kecil yang berkelip di tangan Johan, matanya menyipit penuh perhitungan. “Seberapa jauh dia bisa pergi?” tanya Darius, masih mengatur napas setelah pertarungan sengit tadi. Johan melirik layar kecil di alat komunikasinya. “Gregoire bergerak cepat, tapi dia masih di dalam radius kita. Jika kita bertindak sekarang, kita bisa menangkapnya sebelum dia mencapai tempat aman.” Evelyn mengangguk. “Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk berlama-lama.” Tanpa ragu, mereka bertiga segera keluar dari vila, bergerak dalam kegelapan malam. Jalanan Varestia yang sepi menyambut mereka dengan udara dingin dan samar-samar suara air menetes dari atap bangunan tua. Johan mengamati sinyal pelacak yang terus berkedip di alatnya. “Dia menuju ke arah dermaga. Sepertinya dia punya jalan keluar dari sana.” Evelyn mendengus. “Tentu s
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
อ่านเพิ่มเติม

Part 66

Perahu motor meluncur tanpa suara mendekati pulau, ombak kecil menghantam lambungnya dengan lembut. Dari kejauhan, cahaya samar terlihat di antara pepohonan lebat, menandakan adanya aktivitas di pulau itu. Johan memperlambat laju perahu, lalu memberi isyarat pada Evelyn dan Darius untuk bersiap. Mereka mengenakan pakaian gelap agar lebih sulit terlihat dalam kegelapan malam. “Dari sini kita jalan kaki,” bisik Johan sambil menambatkan perahu di sisi pulau yang tersembunyi dari pandangan utama. Mereka bertiga turun dengan sigap, menyelinap melalui pasir lembab menuju vegetasi lebat. Pepohonan tinggi menjulang di sekeliling mereka, menciptakan bayangan yang sempurna untuk bergerak tanpa terdeteksi. Darius merendahkan tubuhnya, mengamati jejak kaki di tanah. “Ada sekitar empat atau lima orang yang baru saja lewat sini.” Evelyn mengangguk. “Gregoire pasti tidak sendirian. Jika ini benar-benar markasnya, dia p
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18
อ่านเพิ่มเติม

Part 67

Evelyn, Johan, dan Darius menerobos ke lantai atas, napas mereka tetap stabil meski adrenalin mengalir deras. Setiap langkah mereka diiringi ketegangan yang memenuhi udara. Di ujung koridor, sebuah pintu ganda besar berdiri kokoh. Itu pasti tempat Gregoire bersembunyi. Darius merapat ke sisi pintu, memasang telinganya. “Ada suara langkah kaki. Setidaknya tiga orang di dalam.” Evelyn mengangguk, lalu menoleh ke Johan. “Bagaimana menurutmu?” Johan hanya tersenyum tipis. “Kita masuk dan buat mereka menyesali semuanya.” Tanpa membuang waktu, Johan mengangkat kakinya dan menendang pintu dengan kekuatan penuh. Pintu itu terbuka dengan keras, memperlihatkan ruangan luas dengan jendela menghadap ke laut. Di tengah ruangan, Gregoire Levant berdiri dengan jas mahalnya yang tetap rapi, sementara dua anak buahnya sudah bersiap dengan senjata terangkat. Gregoire tersenyum, sama sekali tak terkejut. “Tepat waktu. Aku tahu kalia
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-19
อ่านเพิ่มเติม

Part 68

Perahu motor mereka bergetar pelan saat gelombang semakin kuat. Johan, Evelyn, dan Darius berdiri menatap kapal besar yang perlahan muncul dari balik kabut. Siluetnya gelap, tanpa tanda pengenal yang jelas. Darius mengaktifkan teropongnya dan mengamati kapal itu dengan cermat. “Tidak ada bendera. Tidak ada nomor lambung. Ini bukan kapal biasa.” Evelyn menggertakkan giginya. “Seseorang tahu kita ada di sini.” Gregoire tertawa pelan, meskipun kedua tangannya masih terikat erat. “Tepat sekali. Dan sekarang, kalian hanya punya dua pilihan: menyerah atau tenggelam.” Johan hanya menatapnya sebentar sebelum beralih ke Evelyn dan Darius. “Aku lebih suka pilihan ketiga.” Darius menaikkan alisnya. “Dan itu?” Johan tersenyum tajam. “Kita hancurkan mereka sebelum mereka sadar apa yang terjadi.” Tiba-tiba, suara dengungan rendah terdengar dari kejauhan. Beberapa detik kemudian, cahaya
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-19
อ่านเพิ่มเติม

Part 69

Angin laut berhembus kencang saat Johan berdiri di atas perahu yang kini telah ia kuasai. Asap dari ledakan dan suara ombak yang menghantam lambung kapal menjadi latar belakang yang sempurna untuk satu hal: perburuan dimulai. Kapal musuh, yang sebelumnya mengejar mereka dengan kepercayaan diri penuh, kini mulai berbalik arah, mencoba melarikan diri ke dalam kabut tebal. Namun, Johan hanya menyeringai. “Mereka pikir bisa kabur begitu saja?” gumamnya sambil meraih kemudi perahu. Dengan satu gerakan cepat, ia memutar tuas gas hingga ke batas maksimum. Mesin meraung, dan perahu melesat membelah ombak menuju kapal utama musuh. Di atas kapal besar itu, para anak buah Moreau tampak panik. Beberapa dari mereka berteriak memerintahkan persiapan pertahanan, sementara yang lain mulai mengarahkan senjata ke perahu Johan. Peluru pertama melesat, menghantam air di sekitarnya. Namun, Johan tetap tenang. Dengan satu tangan di kemudi, i
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-19
อ่านเพิ่มเติม

Part 70

Johan bergerak cepat menuju ruang kapten, tubuhnya tetap waspada. Di kejauhan, suara baling-baling helikopter mulai berputar, menandakan Moreau sudah bersiap untuk kabur. Saat ia sampai di tangga menuju dek atas, dua penjaga muncul, masing-masing membawa senapan serbu. DOR! DOR! Johan berguling ke samping, berlindung di balik peti kayu besar sebelum membalas tembakan dengan akurat. DOR! DOR! Salah satu pria langsung terjatuh, peluru Johan menembus dadanya. Pria kedua mencoba berlindung, tetapi Johan sudah lebih cepat. Ia melompat keluar dari perlindungan dan menembakkan peluru tepat ke lutut lawannya. Pria itu menjerit, jatuh berlutut, tetapi Johan tidak memberinya kesempatan. Dengan langkah tenang, ia mendekat dan melepaskan satu tembakan ke kepala. Selesai. Tanpa membuang waktu, Johan melangkah ke dek atas. Helikopter kini sudah menyala penuh, baling-bali
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-19
อ่านเพิ่มเติม
ก่อนหน้า
1
...
56789
...
11
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status