Share

Part 67

last update Last Updated: 2025-03-19 18:00:25

Evelyn, Johan, dan Darius menerobos ke lantai atas, napas mereka tetap stabil meski adrenalin mengalir deras. Setiap langkah mereka diiringi ketegangan yang memenuhi udara.

Di ujung koridor, sebuah pintu ganda besar berdiri kokoh. Itu pasti tempat Gregoire bersembunyi.

Darius merapat ke sisi pintu, memasang telinganya. “Ada suara langkah kaki. Setidaknya tiga orang di dalam.”

Evelyn mengangguk, lalu menoleh ke Johan. “Bagaimana menurutmu?”

Johan hanya tersenyum tipis. “Kita masuk dan buat mereka menyesali semuanya.”

Tanpa membuang waktu, Johan mengangkat kakinya dan menendang pintu dengan kekuatan penuh. Pintu itu terbuka dengan keras, memperlihatkan ruangan luas dengan jendela menghadap ke laut.

Di tengah ruangan, Gregoire Levant berdiri dengan jas mahalnya yang tetap rapi, sementara dua anak buahnya sudah bersiap dengan senjata terangkat.

Gregoire tersenyum, sama sekali tak terkejut. “Tepat waktu. Aku tahu kalia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bangkitnya Johan   Part 68

    Perahu motor mereka bergetar pelan saat gelombang semakin kuat. Johan, Evelyn, dan Darius berdiri menatap kapal besar yang perlahan muncul dari balik kabut. Siluetnya gelap, tanpa tanda pengenal yang jelas. Darius mengaktifkan teropongnya dan mengamati kapal itu dengan cermat. “Tidak ada bendera. Tidak ada nomor lambung. Ini bukan kapal biasa.” Evelyn menggertakkan giginya. “Seseorang tahu kita ada di sini.” Gregoire tertawa pelan, meskipun kedua tangannya masih terikat erat. “Tepat sekali. Dan sekarang, kalian hanya punya dua pilihan: menyerah atau tenggelam.” Johan hanya menatapnya sebentar sebelum beralih ke Evelyn dan Darius. “Aku lebih suka pilihan ketiga.” Darius menaikkan alisnya. “Dan itu?” Johan tersenyum tajam. “Kita hancurkan mereka sebelum mereka sadar apa yang terjadi.” Tiba-tiba, suara dengungan rendah terdengar dari kejauhan. Beberapa detik kemudian, cahaya

    Last Updated : 2025-03-19
  • Bangkitnya Johan   Part 69

    Angin laut berhembus kencang saat Johan berdiri di atas perahu yang kini telah ia kuasai. Asap dari ledakan dan suara ombak yang menghantam lambung kapal menjadi latar belakang yang sempurna untuk satu hal: perburuan dimulai. Kapal musuh, yang sebelumnya mengejar mereka dengan kepercayaan diri penuh, kini mulai berbalik arah, mencoba melarikan diri ke dalam kabut tebal. Namun, Johan hanya menyeringai. “Mereka pikir bisa kabur begitu saja?” gumamnya sambil meraih kemudi perahu. Dengan satu gerakan cepat, ia memutar tuas gas hingga ke batas maksimum. Mesin meraung, dan perahu melesat membelah ombak menuju kapal utama musuh. Di atas kapal besar itu, para anak buah Moreau tampak panik. Beberapa dari mereka berteriak memerintahkan persiapan pertahanan, sementara yang lain mulai mengarahkan senjata ke perahu Johan. Peluru pertama melesat, menghantam air di sekitarnya. Namun, Johan tetap tenang. Dengan satu tangan di kemudi, i

    Last Updated : 2025-03-19
  • Bangkitnya Johan   Part 70

    Johan bergerak cepat menuju ruang kapten, tubuhnya tetap waspada. Di kejauhan, suara baling-baling helikopter mulai berputar, menandakan Moreau sudah bersiap untuk kabur. Saat ia sampai di tangga menuju dek atas, dua penjaga muncul, masing-masing membawa senapan serbu. DOR! DOR! Johan berguling ke samping, berlindung di balik peti kayu besar sebelum membalas tembakan dengan akurat. DOR! DOR! Salah satu pria langsung terjatuh, peluru Johan menembus dadanya. Pria kedua mencoba berlindung, tetapi Johan sudah lebih cepat. Ia melompat keluar dari perlindungan dan menembakkan peluru tepat ke lutut lawannya. Pria itu menjerit, jatuh berlutut, tetapi Johan tidak memberinya kesempatan. Dengan langkah tenang, ia mendekat dan melepaskan satu tembakan ke kepala. Selesai. Tanpa membuang waktu, Johan melangkah ke dek atas. Helikopter kini sudah menyala penuh, baling-bali

    Last Updated : 2025-03-19
  • Bangkitnya Johan   Part 71

    Johan berdiri di atas dek kapal yang kini penuh dengan tubuh tak bernyawa dan serpihan sisa pertempuran. Udara malam yang dingin terasa menusuk kulit, tetapi pikirannya tetap tajam. Ia baru saja menghabisi musuh terakhirnya, dan kini hanya ada satu hal yang harus dilakukan—keluar dari tempat ini sebelum bala bantuan Moreau datang. Suara alat komunikasinya kembali berbunyi. "Johan, kau masih di sana? Kami hampir sampai di titik pertemuan." Suara Evelyn terdengar tegas namun sedikit khawatir. Johan menekan tombol di alat komunikasi. "Aku masih di kapal. Tidak ada ancaman lagi di sini. Kalian di mana?" "Kami sudah mendekati pantai. Ada dermaga tua sekitar 500 meter dari posisimu. Bisa kau sampai ke sana?" Johan menatap ke arah laut, melihat ombak yang berkilauan di bawah sinar bulan. Kapal ini sudah tidak bisa digunakan lagi. Mesin utama hancur akibat ledakan sebelumnya, dan dari kejauhan, ia bisa melihat b

    Last Updated : 2025-03-20
  • Bangkitnya Johan   Part 72

    Mobil hitam itu melaju tanpa henti menuju persembunyian sementara yang telah dipersiapkan oleh Darius. Di dalam kabin yang sunyi, hanya suara mesin dan hembusan napas berat yang terdengar. Johan bersandar di kursinya, matanya menatap lurus ke depan, pikirannya berputar mencari celah untuk mengatasi ancaman baru yang baru saja mereka ketahui—Ludger Falkenhayn. Evelyn menatap Gregoire yang masih terikat di kursi belakang. “Katakan padaku satu hal, Gregoire. Kenapa Ludger tertarik dengan perusahaan kami? Apa yang sebenarnya dia inginkan?” Gregoire menyeringai kecil. “Kalian tidak menyadarinya? Perusahaan ini lebih dari sekadar bisnis dagang biasa. Kalian memiliki aset, koneksi, dan informasi yang sangat berharga. Dan Ludger tidak menginginkan itu untuk dirinya sendiri—dia ingin memastikan tidak ada yang bisa menyainginya.” Darius mendengus. “Jadi, jika dia tidak bisa memilikinya, dia akan menghancurkannya?” Gregoire mengan

    Last Updated : 2025-03-20
  • Bangkitnya Johan   Part 73

    Mobil melaju dalam keheningan, hanya suara mesin yang terdengar di antara mereka. Sisa pertempuran barusan masih terasa di udara, dan meskipun mereka berhasil lolos, semua orang di dalam mobil tahu bahwa ancaman belum berakhir. Johan duduk diam di kursinya, matanya fokus ke jalanan yang gelap. Gregoire, yang masih terikat di kursi belakang, menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara. “Ludger tidak akan berhenti hanya karena kalian mengalahkan beberapa anak buahnya.” Evelyn meliriknya. “Kami tahu itu.” Gregoire menyeringai kecil. “Tapi kalian belum tahu seberapa jauh dia bisa pergi.” Darius yang masih berkonsentrasi mengemudi menoleh sekilas ke kaca spion. “Kalau kau punya sesuatu yang lebih dari sekadar peringatan samar, sebaiknya kau katakan sekarang.” Gregoire mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit, meskipun tali di pergelangannya masih mengikat erat. “Kalian pikir Ludger hanya

    Last Updated : 2025-03-20
  • Bangkitnya Johan   Part 74

    Asap masih mengepul dari reruntuhan, sementara suara tembakan mulai mereda. Evelyn, Darius, dan Johan berdiri di antara mayat para Hounds yang tergeletak di tanah, memastikan tidak ada yang tersisa. Gregoire, masih dalam keadaan terikat, menyaksikan semuanya dengan tatapan penuh ketakutan dan kekaguman. “Aku harus mengakui… kalian lebih tangguh dari yang kuduga.” Evelyn tidak menanggapi. Matanya masih mengawasi sekeliling, mencari tanda-tanda bahaya lain. “Kita tidak bisa tinggal di sini. Jika Hounds sudah menemukan tempat ini, maka Ludger pasti tahu.” Darius mengangguk, memasukkan peluru baru ke dalam senjatanya. “Kemana kita pergi sekarang?” Johan memandangi tubuh-tubuh yang tergeletak di tanah sebelum menjawab, suaranya dingin dan penuh kepastian. “Kita tidak lari. Kita serang balik.” Gregoire terkekeh. “Itu terdengar seperti bunuh diri.” Johan berbalik menatapnya, matanya tajam. “Ludg

    Last Updated : 2025-03-20
  • Bangkitnya Johan   Part 75

    Di dalam persembunyian sementara, Johan, Evelyn, Darius, dan Gregoire duduk mengelilingi meja yang penuh dengan peta dan dokumen. Cahaya lampu redup menerangi wajah mereka yang serius. Gregoire menunjuk sebuah titik di peta. “Inilah fasilitas Ludger di perbatasan Varestia. Tempat ini tidak hanya menjadi pusat komando, tapi juga gudang penyimpanan senjata dan dokumen penting.” Evelyn menyilangkan tangan. “Berapa banyak penjaga?” Gregoire berpikir sejenak. “Minimal dua lusin, mungkin lebih. Mereka bukan sekadar prajurit bayaran biasa. Sebagian dari mereka adalah mantan tentara dan agen bayangan yang bekerja di bawah Ludger selama bertahun-tahun.” Darius menghela napas. “Jadi kita berhadapan dengan pasukan elit.” Sebelum Johan sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat. Pintu terbuka, dan seorang pria dengan postur tegap memasuki ruangan bersama beberapa anak buahnya. “Maaf terla

    Last Updated : 2025-03-21

Latest chapter

  • Bangkitnya Johan   Part 104

    Ruangan itu dipenuhi ketegangan yang tak terlihat, tetapi Johan tetap berdiri dengan tenang di hadapan Tristan Rangga dan Rendra Rangga. Keduanya memimpin keluarga yang terkenal dengan pasukan bayangan dan pengawal elit Astvaria. Tristan akhirnya bersandar di kursinya, menghela napas perlahan sebelum berbicara. "Johan, kau datang untuk memastikan kesetiaan keluargaku, tapi aku ingin tahu satu hal lebih dulu." Johan mengangguk, menunggu pertanyaan yang akan diajukan. Tristan menatap matanya dalam-dalam. "Apa yang akan kau lakukan jika aku menolak tunduk padamu? Jika aku memutuskan bahwa Keluarga Rangga tetap berdiri sendiri, tidak berpihak pada siapa pun?" Johan tersenyum kecil. "Aku tidak meminta kalian tunduk. Aku hanya meminta kalian memilih. Apakah kalian tetap berpegang pada tugas kalian untuk melindungi negara, ataukah kalian akan menjadi bagian dari mereka yang melupakan kewajibannya?" Rendra, yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kami bukan pengkhianat, Joha

  • Bangkitnya Johan   Part 103

    BOOM! Pukulan super cepat Rendra melesat ke arah dada Johan. Namun… SWOOSH! Johan bergeser sedikit ke samping, menghindari serangan itu hanya dengan pergerakan minimal! Mata Rendra melebar. "Apa?!" Johan langsung menyerang balik! BAM! Satu pukulan telak menghantam bahu Rendra, membuat tubuhnya terdorong ke belakang beberapa langkah. Namun, sebelum Johan bisa melanjutkan serangan— Rendra menghilang lagi. TAP TAP TAP! Langkah kaki Rendra terdengar dari berbagai arah, membuat Johan tetap waspada. Darius bergumam dengan kagum. "Cepat sekali… Ini seperti ilusi." Evelyn mengernyit. "Bukan ilusi. Itu adalah ‘Langkah Serigala’—teknik khas Keluarga Rangga." Teknik ini memungkinkan penggunanya bergerak dalam pola acak dengan kecepatan tinggi

  • Bangkitnya Johan   Part 102

    Angin dingin berhembus di dataran luas di depan gerbang Drakenfeld. Puluhan prajurit Keluarga Rangga berdiri dalam formasi ketat, menunggu perintah. Namun, semua perhatian tertuju pada dua pria yang berdiri di tengah—Johan dan Rendra Rangga. "Aku tak punya waktu untuk duel tak berguna," kata Johan dengan nada datar. "Aku di sini untuk bicara dengan Tristan Rangga." Rendra menyeringai, lalu mengangkat kedua tangannya, meregangkan bahunya seolah-olah sedang melakukan pemanasan. "Omong kosong. Kau sudah mengalahkan beberapa keluarga, tapi itu tidak berarti aku akan membiarkanmu melewati wilayah kami begitu saja." Evelyn mendesah sambil berbisik pada Darius. "Ini sudah diprediksi. Para petarung seperti Rendra tidak akan pernah mengizinkan seseorang seperti Johan masuk tanpa bertarung." Darius mengangguk. "Tapi Rendra bukan lawan biasa. Dia pernah mengalahkan sepuluh petarung terbaik Drakenfeld sekaligus dalam waktu kurang d

  • Bangkitnya Johan   Part 101

    Setelah memastikan bahwa Leon Albrecht telah diamankan di fasilitas tahanan rahasia yang dikelola oleh Arthura Trade & Co, Johan dan timnya mulai merencanakan langkah berikutnya. Di dalam ruang taktis mereka, Evelyn membentangkan peta Astvaria, menunjuk ke wilayah berikutnya yang menjadi target mereka. "Kota Drakenfeld, markas Keluarga Rangga." Keluarga Rangga adalah salah satu dari 12 Keluarga Teratas, dikenal sebagai penguasa pasukan bayangan dan pengawal elit. Mereka memiliki sistem militer swasta yang bahkan bisa disewa oleh keluarga lain untuk perlindungan atau operasi khusus. • Kekuasaan: Pasukan bayangan dan pengawal elit. • Keunggulan: Memiliki pasukan petarung terbaik yang bisa disewa oleh keluarga lain. • Tuan Muda: Rendra Rangga – Seorang ahli bela diri dengan kekuatan luar biasa. Darius menatap peta dengan serius. "Ini akan sulit. Keluarga Rangga punya jaringan

  • Bangkitnya Johan   Part 100

    BZZT! BZZT! Puluhan drone tempur mulai bergerak, mengelilingi Johan dengan formasi sempurna. Senjata otomatis yang terpasang di bawah mereka menyala merah, bersiap menembakkan peluru berkecepatan tinggi. Leon Albrecht berdiri dengan percaya diri, senyumnya penuh kemenangan. "Kau mungkin kuat dalam pertarungan tangan kosong, Johan. Tapi coba lihat, bahkan kau tidak bisa menangkis hujan peluru dari semua arah." Johan hanya menghela napas, menatap Leon dengan tatapan dingin. "Aku sudah menumbangkan Wilhelm yang jauh lebih unggul dalam teknologi dibandingkan kau, Leon. Apa kau benar-benar berpikir ini cukup untuk menjatuhkanku?" Leon tertawa kecil, mengetuk layar di arlojinya. "Kita lihat saja." "TEMBAK!" BRRRTTTTTTT! Dalam sekejap, hujan peluru melesat ke arah Johan dari berbagai sudut. Namun, Johan tidak bergerak sedikit pun. S

  • Bangkitnya Johan   Part 99

    Malam yang kelam menyelimuti kota Eisenwald. Di kejauhan, Menara Aeternum berdiri megah seperti monumen kekuasaan keluarga Albrecht. Namun, malam ini menara itu bukan hanya sekadar lambang kejayaan—ia akan menjadi medan perang. Johan turun dari mobil bersama Evelyn dan Darius. Di belakang mereka, puluhan anggota pasukan elit Arthura Trade & Co telah bersiap dengan senjata lengkap. Darius menyeringai saat melihat menara yang penuh dengan penjaga. "Leon benar-benar tidak main-main. Aku menghitung setidaknya 50 penjaga hanya di bagian luar." Evelyn menghela napas dan memeriksa peluru di pistolnya. "Kita masuk dengan paksa atau menyelinap?" Johan melangkah maju, mengenakan sarung tangannya dengan tenang. "Kita masuk seperti badai." ________________________________________ Di dalam Menara Aeternum… Leon Albrecht duduk di ruangannya, menyesap anggur merah dengan

  • Bangkitnya Johan   Part 98

    Di jantung Eisenwald, pertempuran tak kasat mata mulai berkecamuk. Leon Albrecht tidak membuang waktu. Begitu ia menyadari serangan Johan telah menghancurkan sebagian besar operasional rahasia keluarganya, ia langsung mengaktifkan Sentinel Malam—kelompok pembunuh bayangan yang selama ini menjadi kekuatan tersembunyi keluarga Albrecht. Mereka bukan sekadar algojo. Mereka adalah hantu yang bergerak tanpa suara, spesialis dalam eliminasi cepat dan bersih. Dan target pertama mereka malam ini: Johan. ________________________________________ Di markas Arthura Trade & Co, Johan sedang membaca laporan terbaru. Darius masuk dengan ekspresi tegang. "Ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa titik pengawasan kita di distrik finansial tiba-tiba terputus komunikasi." Evelyn, yang sedang duduk di meja sambil mengasah pisaunya, menegakkan tubuhnya. "Itu tidak mungkin kebetulan."

  • Bangkitnya Johan   Part 97

    Di jantung kota Eisenwald, Johan berjalan santai di sepanjang koridor markas Arthura Trade & Co. Tangannya bersedekap di belakang punggung, ekspresinya tenang, tetapi matanya tajam seperti seekor elang yang mengamati mangsanya. "Sudah ada pergerakan dari pihak Albrecht?" tanyanya tanpa menoleh. Darius, yang berdiri di sampingnya, mengangguk sambil menyerahkan sebuah laporan. "Mereka mulai menyerang gudang-gudang kita. Beberapa agen kita di pasar saham juga menerima ancaman. Tapi ini belum serangan penuh." Evelyn, yang duduk di meja dengan satu kaki bersilang, tertawa kecil. "Leon terlalu pintar untuk bertindak gegabah. Dia pasti ingin mengujimu lebih dulu sebelum mengerahkan semua kekuatannya." Johan tersenyum tipis. "Biarkan dia mencoba. Saat dia sadar bahwa dia telah bermain di dalam permainanku, itu sudah terlambat baginya." ________________________________________ Di sisi lain kota, s

  • Bangkitnya Johan   Part 96

    Hari itu, Eisenwald menjadi pusat perhatian seluruh Astvaria. Bursa saham yang biasanya stabil kini bergejolak liar. Para investor panik setelah membaca berita tentang kemungkinan krisis finansial yang mengancam perusahaan-perusahaan di bawah kendali Keluarga Albrecht. Di dalam gedung megah Albrecht Financial Group, Leon Albrecht berdiri di depan jendela kantornya yang luas. Matanya menatap ke kejauhan, namun pikirannya penuh dengan kemarahan. "Siapa yang berani mengguncang pasarku seperti ini?" suaranya terdengar dingin. Asisten pribadinya, Friedrich Hahn, melangkah masuk dengan wajah serius. "Tuan Muda, kami telah melacak sumber pergerakan saham yang tidak biasa ini. Tampaknya beberapa investor besar mulai menarik dana mereka secara tiba-tiba." Leon berbalik, matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan. "Investor mana saja?" Friedrich membuka tablet di tangannya dan membacakan lapora

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status