Semua Bab Ketua Geng itu Suamiku : Bab 31 - Bab 40

68 Bab

Bab 31. Naik motor

"Wah, Ibu jadi pengen cepet-cepet punya cucu," celetuk Ibu tiba-tiba sambil cengengesan. Gue yang lagi minum langsung keselek. "Ohok! Ohok!" Gue buru-buru nyari tisu buat lap mulut. "Akh, Ibu mah apaan sih! Masih lama atuh, Bu. Ayu mau kuliah dulu, kerja dulu," protes gue sambil melotot kecil. Tapi Ibu sama Bin malah ketawa bareng, ngakak seolah mereka baru aja ngelempar lelucon terlucu di dunia. Gue cuma bisa melototin mereka, bingung. "Sejak kapan sih kalian kompak gini?" Gue nanya sambil berusaha tetap serius, tapi entah kenapa jadi ikut senyum kecil juga. Bin angkat bahu santai. "Ya, 'kan gue menantu idaman, wajar dong Ibu seneng." Dia nyengir lebar sambil nyolek pundak gue. "Aduh, udah-udah, nggak usah banyak omong! Makan aja deh, Bin, daripada makin besar kepala," kata gue sambil ngedorong piring nasi ke arahnya. Tapi dalam hati, gue ngerasa seneng. Di tengah segala kekacauan yang lagi t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

Bab 32. Pertanyaan

"Awas ya, Yu. Tungguin pembalasan dari gue," kata Bin sebelum akhirnya berhenti ngetuk pintu. Gue cuma geleng-geleng sambil nyengir di dalam kamar.Setelah suasana tenang, gue memutuskan buat balik ke meja belajar, mencoba fokus lagi ke tugas-tugas yang harus gue selesaikan. Waktu berjalan tanpa terasa. Dua jam sudah berlalu, dan kepala gue mulai berat. Perut gue juga mulai protes, minta diisi.Gue langsung inget ibu tadi bekalin makanan. Pasti Bin yang bawa masuk ke rumah. Gue keluar kamar dan menuju dapur, penasaran. Bener aja, Bin ada di sana, sibuk ngangetin makanan. Magicom udah nyala, tandanya nasi udah siap."Ih, tumben lo di dapur," kata gue sambil duduk dan ambil segelas air minum dari dispenser."Dih, lo nggak tau aja. Gue emang suka begini kalau di rumah ibu," jawab dia santai, tangannya cekatan mindahin lauk-lauk dari bekal ke piring. Makanannya udah dihangatin di microwave.Gue memutuskan buat bantu, ambil peralatan makan dan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Bab 33. Main PS

"Lo bener," gue akhirnya buka suara setelah hening yang terasa lama. "Awalnya gue nggak mau lama-lama terjebak dalam pernikahan ini ... tapi sekarang beda lagi, Bin."Bin masih natap gue dengan intens, nungguin kelanjutan jawaban gue. Ada sesuatu di matanya, kayak dia takut kehilangan jawaban yang dia harapkan."Gue ... gue mau pertahankan pernikahan ini," akhirnya gue bilang. Suara gue lirih, tapi cukup buat dia dengar.Senyum Bin langsung merekah. Matanya bersinar, dan tanpa banyak kata, dia berdiri. Refleks, gue ikut berdiri, meski bingung. Tapi sebelum gue sempat ngomong, dia narik gue ke dalam pelukannya.Pelukannya erat, hangat, bikin gue merasa aman. Gue nggak nyangka kalau keputusan buat tetap sama dia bakal berarti ini. Di dalam pelukannya, semua rasa ragu yang pernah gue rasain perlahan hilang.Iya, gue nggak nyangka kalau gue bakal bener-bener jalanin pernikahan ini sepenuh hati. Kadang, kita emang nggak tahu apa yang akan terj
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

Bab 34. Belum Saatnya

"Ih, nggak mau!" gue spontan ngejawab sambil berdiri dari duduk dan dorong bahu dia. Tapi sebelum gue bisa kabur, tangan gue yang masih nempel di bahunya ditarik, bikin gue nggak seimbang dan jatoh tepat ke pangkuan dia. "Di rumah Ibu juga kita sekamar. Kenapa di sini nggak mau?" tanyanya dengan nada santai, tapi tangan dia malah ngunci gue di dekapannya. Pinggang gue dia peluk erat, dan sekarang gue duduk di paha dia. Gue mencoba balas dengan suara setenang mungkin, tapi malah kedengeran panik, "M-mm, ya ... Kalau di rumah Ibu 'kan ada Ibu ... Di sini nggak ada siapa-siapa. Nggak mau pokoknya!" Gue hampir teriak di akhir kalimat karena rasa gugup yang nggak ketulungan. Dia malah nyengir lebar, natap gue sambil sedikit mendekat. "Kenapa? Lo takut gue aneh-aneh ya?" tanyanya, matanya masih fokus di wajah gue. Ya ampun, muka gue udah pasti kayak tomat sekarang. Gue nggak berani balas natap dia. Gimana nggak? Gue masih sekola
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya

Bab 35. Masuk Sekolah

Pagi itu gue udah siap-siap berangkat sekolah, cuma bikin sarapan nasi goreng yang gampang. Bin keluar dari kamarnya dengan wajah masih setengah ngantuk, tapi senyum sumringah langsung nongol pas dia lihat gue."Pagi, istrinya Mbin," katanya sambil tepuk-tepuk kepala gue ringan.Gue jadi senyum-senyum sendiri. "Pagi juga, suaminya Ayu. Nih, sarapan dulu," balas gue sambil bawa dua porsi nasi goreng ke meja makan.Kita makan bareng, suasana pagi yang terasa hangat. Biasanya sebelum sekolah pasti ribut dulu soal hal-hal nggak penting, tapi sekarang beda. Nggak ada debat, cuma ada obrolan kecil sambil nikmatin sarapan.Setelah sarapan, Bin langsung siapin motor buat berangkat. Gue di bonceng sama dia. Refleks, gue meluk dia dari belakang, ngerasa aman dengan cara yang nggak pernah gue duga sebelumnya.Pas nyampe sekolah, Bin parkirin motornya di tempat biasa. Dia bantuin gue lepasin helm dengan gerakan yang lembut, bahkan sambil bercanda. "R
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya

Bab 36. Gawat

Pulang sekolah, gue sama Bin inget kalau harus belanja dulu sebelum pulang. Kita udah di parkiran, siap-siap naik motor. Tapi perhatian gue langsung ke anak-anak GGS yang lain.Gue ngelihatin Bang Jinu sama Bang M yang lagi sibuk sama temen-temen gue. Dan ya ampun, sumpah mereka so sweet banget.Bang Jinu lagi bantuin Siska pake helm, sementara Bang M dengan santainya nyodorin jaket ke Arum, terus maksa dia buat pake.Gue yang tadinya udah naik ke boncengan Bin, langsung berhenti dulu."Heh, Arum! Siska! Lo anjir kenapa bisa deket sama abang-abang gue?" Gue nyerocos ke mereka sambil berkacak pinggang.Arum nyengir jahil, sementara Siska udah duduk manis di belakang Bang Jinu."Nanti aja ceritanya, ya!" Arum malah ketawa sambil lambai-lambai tangan kayak artis dadah-dadah ke fans.Terus tanpa ba-bi-bu, motor mereka langsung melesat keluar gerbang sekolah.Gue cuma bisa melongo. "Hah?"Bin ketawa dikit, t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

Bab 37. Di Culik

Gue coba teriak, tapi baru aja suara gue keluar, tiba-tiba ... "Berisik!" Bentakan keras dari seorang laki-laki bikin gue kaget. Suaranya kasar, penuh amarah. Gue langsung panik, nangis tanpa bisa nahan. Kenapa gue bisa diculik? Kenapa gue? Dari suaranya, gue bisa nebak dia seumuran sama gue. Tapi siapa? Dan kenapa dia ngelakuin ini? Gue nggak tahu ada berapa orang di mobil ini. Yang jelas, di samping kanan-kiri gue ada yang duduk, dan mereka nahanin badan gue biar nggak bisa banyak gerak. Gue meronta, berusaha nepis tangan-tangan itu. Tapi gue malah makin ditekan ke sandaran jok. Tangan gue mulai diiket di belakang. Gue ngos-ngosan, tapi gue nggak mau berhenti. Gue terus nangis, terus tanya ke mereka dengan suara parau. "Siapa kalian?! Mau apa?! Kenapa culik gue segala?!" Meski suara gue nggak kedengeran jelas karena di bekap, tapi gue terus aja berusaha teriak. Tapi nggak ada jawaban. Sebagai
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

Bab 38. Penyelamat

"Gue kasih lo kesempatan terakhir buat pasrah baik-baik." Dia jongkok di depan gue, jaraknya cuma sejengkal."Nggak usah banyak bacot, lo nggak bakal bisa ngelawan." Gue hela napas, otak gue muter nyari celah buat kabur.Gue tahu Bin pasti lagi nyari gue sekarang. Gue cuma harus bertahan sampai dia datang. Tapi sebelum gue bisa mikir lebih jauh, cowok itu maju, tangannya berusaha megang dagu gue.Gue refleks nyampingin kepala, nendangin kaki gue sekenceng mungkin buat ngusir dia. "Anj*ng lo!" Dia murka, langsung mencengkram bahu gue kuat-kuat. Gue kesakitan, tapi gue nggak mau nyerah.Tiba-tiba ... BRAK! Pintu gudang itu kebuka paksa. Suara hantaman keras bikin cowok bertindik itu langsung noleh.Gue juga ikut ngelihat, napas gue masih tersengal karena ketakutan."LO NGAPAIN BANGSAT?!"Suara itu, gue kenal. Gue langsung terbelalak pas liat sosoknya berdiri di ambang pintu. ROCKY!Mata dia penuh amarah, napasnya kasar kayak abis lari. Ada darah di sudut bibirnya, dan sedikit lebam
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Bab 39. Terkuak

Bin nggak kasih si cowok bertindik itu kesempatan buat bangkit. Dengan napas memburu, dia menghantam wajah lawannya berulang kali.BUG! BUG!Tinju Bin terus melayang, nggak ada jeda, nggak ada belas kasihan. Waktu seakan berjalan lebih lambat.Gue tertegun, jantung gue mencelos. Ini bukan Bin yang gue kenal. Ini bukan Bin. Sorot matanya gelap, dipenuhi amarah yang menggelegak. Rahangnya mengeras, gerakannya brutal, nggak ada lagi kontrol. "AARRGGHH!!" cowok bertindik itu merintih, tapi Bin nggak peduli. Dia terus menghajar, mencengkram kerah lawannya, mengangkatnya sedikit, lalu meninju lagi, lebih keras."BIN UDAH! CUKUP! JANGAN TERUSIN! PLEASE! KALAU LO BEGITU, LO SAMA AJA KAYAK MEREKA!"Suara gue pecah di udara. Gue nggak peduli seberapa takutnya gue barusan. Gue nggak peduli seberapa sakit yang udah gue rasain. Yang gue peduliin sekarang cuma Bin. Tangan Bin berhenti di udara. Napasnya masih berat, dadanya naik tur
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

Bab 40. Gue Tunggu Bin

Gue udah lari masuk sawah, napas gue tersengal-sengal, dada naik turun cepat. Tapi di sebelah gue, Rocky jauh lebih parah. "Sial ..." desis Rocky, suaranya lemah. Gue lihat betisnya masih tertancap belati kecil itu. Darah udah mulai merembes keluar lebih banyak. Gue panik. Cepat-cepat gue keluarin sapu tangan dari saku gue, lalu membalut betis Rocky biar belatinya nggak goyang-goyang waktu jalan. Hasan langsung ngebantu, mijitin bahu Rocky biar dia tetap sadar. "Tahan sebentar lagi, Ky. Kita hampir sampai," kata Hasan, berusaha tetap tenang meski gue tahu dia juga khawatir. Kami terus jalan. Tanah sawah becek, bikin langkah makin berat. Setiap Rocky kesandung sedikit, dia meringis, keringatnya udah bercucuran. Akhirnya, saung udah di depan mata. Ada Siska dan Arum di sana. Begitu mereka lihat kami, mereka langsung lari nyamperin. "Iky! Astaga!" Siska langsung kaget lihat belati yang masih nempel di betis
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status