Semua Bab Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati: Bab 161 - Bab 170

239 Bab

Bab 161

Seusai berbicara, Adika merapikan ujung pakaiannya dan melangkah masuk ke Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan untuk menyusul putri sucinya.Damar yang tidak memahami maksud Adika pun mengernyit. Dia juga diam-diam merasa waswas. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Adika dengan mengikuti Syakia datang kemari?Namun, Damar akan segera mengetahui jawabannya.Syakia dan Adika berjalan masuk ke rumah. Setelah duduk, Syakia langsung bertanya, “Adipati Damar, sekarang aku dan Pangeran Adika sudah datang. Apa semua anggota keluargamu ada di rumah?”Damar mengernyit begitu mendengar pertanyaan Syakia itu. Namun, berhubung Adika juga berada di sini, dia tidak berkomentar.“Selain Abista dan Kama, semua orang ada di rumah.”Abista dan Kama sedang pergi meminta cuti. Bagaimanapun juga, yang satu bekerja di istana, sedangkan yang satu lagi masih harus menghadiri akademi. Semalam, Kahar tiba-tiba tidak sadarkan diri karena keracunan. Berhubung kedua adik laki-laki dalam keluarga sudah sakit, Abista
Baca selengkapnya

Bab 162

Menawarkan racun adalah masalah yang sangat sederhana. Tanpa perlu berpikir, Syakia tahu siapa yang meracuni Kahar sampai dia muntah darah dan pingsan.Di pesta ulang tahun kemarin, Kahar masih terlihat baik-baik saja. Dia seharusnya baru keracunan setelah pulang. Hanya dalam waktu semalam, orang yang meracuninya tidak mungkin berhasil menghapus semua jejaknya. Oleh karena itu, cara paling sederhana adalah langsung menggeledah.“Nggak mungkin!”Setelah Syakia mengajukan permintaan itu, Damar langsung menolak tanpa ragu. “Memangnya siapa saja boleh menggeledah kediamanku! Meski itu Pangeran Adika, dia juga nggak punya hak setinggi itu!”Adika pun tersenyum sinis. Baru saja dia hendak berbicara, Syakia tiba-tiba menarik ujung pakaiannya. Adika pun tertegun dan tidak jadi berbicara dan membiarkan Syakia menggantikannya berbicara.Syakia tersenyum dan berujar, “Pangeran Adika memang nggak punya hak seperti itu. Tapi, Adipati harus sadari keadaanmu sekarang. Bukan aku dan Pangeran Adika ya
Baca selengkapnya

Bab 163

Namun, setelah mendengar usul Adika, Syakia malah menggeleng dan menjawab, “Nggak usah. Aku tahu siapa yang melakukannya. Jadi, biar aku saja yang tangani masalah kali ini.”Syakia bukan hanya ingin menyelesaikan masalah ini, juga mau memberi pelajaran pada orang angkuh di balik hal ini. Orang itu tidak berhenti menantangnya. Apa orang itu masih meremehkannya? Jika tidak memberinya sedikit pelajaran, orang itu mungkin akan makin menjadi-jadi. Oleh karena itu, Syakia memutuskan untuk datang, sedangkan Adika yang mengkhawatirkannya juga ikut datang.“Tentu saja, Adipati juga boleh memilih untuk menolak permintaanku. Tapi, pikirkan dulu baik-baik. Keadaan putramu sepertinya lumayan serius. Memangnya dia bisa bertahan berapa lama?” tanya Syakia sambil tersenyum tipis.Saat ini, Syakia jelas-jelas mengenakan jubah biksuni. Namun, ucapannya terdengar sangat pedas dan kejam. Melihat Syakia yang seperti ini, hati Adika pun bergejolak dan tidak berhenti berdebar. Ketika Syakia membacakan sutr
Baca selengkapnya

Bab 164

“Ainur, apa yang terjadi di luar? Kenapa bising sekali?” tanya Ayu dengan tidak senang. Dia sedang duduk di samping tempat tidur Ranjana.Ainur membungkukkan badannya dan menjawab, “Aku akan pergi memeriksanya.”Baru saja Ainur berjalan ke pintu kamar, dia sudah melihat ada banyak orang yang berada di halaman. Mereka semua mengenakan pakaian zirah hitam dengan pedang tergantung di bagian pinggang, juga memancarkan aura mengerikan. Ainur pun ketakutan dan wajahnya juga terlihat pucat.“Siapa kalian? Ini area tempat tinggal putra keempat Adipati Pelindung Kerajaan. Buat apa kalian menerjang masuk kemari?”“Kami datang untuk membawa Tuan Ranjana dan Nona Ayu pergi menemui Pangeran Adika dan Putri Suci.”Ayu yang mendengar keributan ini merasa ada yang tidak beres dan buru-buru bangkit, lalu keluar untuk memeriksa keadaannya. Dia kebetulan mendengar ucapan itu dan raut wajahnya langsung berubah. “Pangeran Adika?”Untuk apa pria itu datang lagi kemari?Ayu sudah tahu Damar pasti akan pergi
Baca selengkapnya

Bab 165

Syakia hanya tersenyum sinis, tetapi tidak peduli pada sikap Ayu. Lagi pula, ini hanyalah hukuman kecil untuk Ayu. Selanjutnya, dia akan memberi Ayu sebuah kejutan besar.“Berhubung semua orang sudah berkumpul, kita mulai saja,” ucap Syakia dengan acuh tak acuh.Dari awal sampai akhir, Syakia sama sekali tidak melirik Kahar dan Ranjana yang terbaring di lantai. Sikapnya itu mau tak mau membuat Kamar merasa sedih.Adika melirik ke arah Damar dan berkata, “Untuk mencegah timbulnya kesalahpahaman yang nggak diperlukan, aku mau nggak mau harus merepotkan Adipati untuk ikut menggeledah bersamaku.”Damar tidak berbicara.Hati Ayu pun berdegup kencang. Dia berpura-pura bodoh dan bertanya, “Ayah, buat apa orang sebanyak ini datang kemari?”Damar menjawab, “Pangeran Adika dan Putri Suci curiga orang yang meracuni Kahar ada di kediaman ini. Jadi, mereka datang untuk menggeledah.”Ekspresi Ayu langsung berubah. Orang yang meracuni Kahar ada di kediaman ini? Bukannya sudah jelas bahwa orangnya ada
Baca selengkapnya

Bab 166

Cermin yang sudah retak tidak akan bisa diperbaiki lagi ....Kama langsung terpaku di tempat. Ini bukan jawaban yang diinginkannya. Dia ingin mendengar jawaban bahwa cermin yang sudah retak tetap bisa diperbaiki. Jawaban ini pun membuat hatinya terasa sangat sakit dan dia nyaris terjatuh.Kama memberikan Syakia sebuah cermin yang berukiran burung phoenix dan manusia bersayap. Jangankan di seluruh ibu kota, cermin dengan motif seperti itu sangat langka di seluruh Dinasti Minggana.Kama tahu bahwa dirinya sudah bersalah pada Syakia dan Syakia teramat sangat marah padanya. Jadi, dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membeli cermin itu dari temannya supaya bisa memberikannya kepada Syakia.Awalnya, Kama merasa mungkin saja hadiah itu bisa menghibur Syakia. Jika Syakia memahami maksud yang ingin disampaikannya dengan memberikan hadiah itu, itu akan lebih baik lagi. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa Syakia memang memahami maksudnya, tetapi malah memberikan jawaban yang paling ditaku
Baca selengkapnya

Bab 167

Setelah mendengar jawaban komandan Pasukan Bendera Hitam, Abista dan Kahar juga tidak bisa menghentikan mereka. Kedua orang ini hanya bisa melihat sekelompok orang menggotong Kahar dan Ranjana pergi.Tidak lama kemudian, sekelompok orang ini tiba di tempat yang dimaksud.Awalnya, Ayu masih tidak menganggap serius hal ini. Namun, ketika mereka mulai mendekati sebuah tempat, ekspresinya mulai berubah. Terutama ketika melihat semua orang berkumpul di sekitar sumur kering yang terbengkalai di belakang gudang penyimpanan kayu. Sekujur tubuhnya langsung gemetar.Begitu Syakia dan yang lainnya tiba, Adika, Damar, dan orang lain yang berdiri di samping sumur juga menoleh.“Apa yang kalian temukan?” tanya Syakia sambil melangkah mendekati Adika.Kemudian, Syakia melihat bungkusan kertas minyak yang diambil dari dalam sumur. Isinya tidak lain adalah setengah ekor bebek goreng yang tersisa itu.“Aku sudah suruh orang memeriksanya. Racun yang terkandung dalam bebek goreng ini sama dengan racun yan
Baca selengkapnya

Bab 168

“Pemilik Rumah Makan Fesili?”“Benar. Supaya bisa bertanya dengan jelas, aku dan Putri Suci sudah mengutus orang untuk pergi menyuruh pemilik Rumah Makan Fesili datang kemari,” ujar Adika sambil berjalan ke sisi Syakia. Tubuh Adika yang tegap dan tinggi sedikit membungkuk dan menutupi tubuh Syakia yang kecil. Dia juga menatap semua anggota Keluarga Angkola dengan mata menyipit.“Kenapa kalian tahu bebek goreng itu pasti dibeli dari Rumah Makan Fesili?”Damar tidak dapat membayangkan seberapa menyedihkan akhir putrinya yang kasihan itu apabila faktanya terungkap. Jadi, meskipun masalahnya sudah mencapai tahap ini, dia masih tetap mencoba yang terbaik untuk membantu Ayu menyembunyikan hal ini.Namun, lawan Damar hari ini bukanlah orang yang bisa dikendalikan ataupun dipermainkannya dengan mudah, melainkan dua sosok yang luar biasa. Contohnya, Adika.Jika Damar hanyalah seekor rubah tua yang licik, Adika adalah seekor serigala yang ganas dan kejam. Dia bisa membuat seorang adipati yang m
Baca selengkapnya

Bab 169

Adika merasa dirinya sudah berubah. Sebagai Pangeran Pemangku Kaisar yang hanya harus menunduk pada Kaisar seorang, dia yang selama ini selalu memberi perintah kepada orang lain. Namun, entah kenapa, dia malah suka diberi perintah oleh gadis ini. Jadi, begitu mendengar ucapan Syakia, Adika langsung merasa bersemangat. Seolah-olah apabila Damar tidak bertindak, dia benar-benar akan langsung turun tangan sendiri. Namun, Damar mana mungkin membiarkan Adika bertindak?Ekspresi Damar terlihat sangat suram. Setelah ragu sejenak, dia baru menoleh ke arah orang di belakang Abista, lalu memanggil namanya di bawah tatapan tidak percaya para putranya.“Ayu, keluar.”Begitu mendengar dua patah kata itu, Ayu langsung memaki Syakia dalam hati. Dasar wanita jalang! Sialan! Kenapa dia tidak langsung meracuni Syakia sampai mati saja sebelumnya?Saat ini, Ayu sangat berharap dirinya bisa kembali ke 2 bulan lalu, lalu meracuni Syakia sebelum Syakia meninggalkan Kediaman Keluarga Angkola. Meskipun Damar
Baca selengkapnya

Bab 170

Ayu menggigit bibirnya, lalu berusaha memutar otak secepat mungkin dan teringat sesuatu. Dia lanjut menunjukkan tampang kasihan dan berkata, “Ayu juga nggak tahu. Ainur cuma bilang dia nggak enak badan dan mau cari tabib. Sisanya, Ayu benar-benar nggak tahu. Kalau Kak Kama curiga, lebih baik kita suruh Ainur keluar biar Kak Kama bisa menginterogasinya?”Ketika mengucapkan kata-kata itu, Ayu diam-diam memberi isyarat mata yang penuh ancaman kepada Ainur. Ainur langsung memahami maksud Ayu dan langsung merasa tegang. Ketika semua orang menatap Ainur, Ainur melihat dengan mata kepala sendiri majikannya itu melontarkan beberapa patah kata tanpa suara. ‘Ingat sama keluargamu.’Pada saat ini, hati Ainur langsung tenggelam.“Bruk!”Pada akhirnya, Ainur memilih untuk berserah pada nasib dan berlutut di lantai. Dia berkata sambil menangis, “Aku pelakunya. Ini semua nggak berkaitan sama Nona Ayu ....”“Aku yang beli bebek goreng itu pakai nama Nona Ayu, juga diam-diam menaruh racun ke bebek gor
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1516171819
...
24
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status