All Chapters of Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati: Chapter 151 - Chapter 160

242 Chapters

Bab 151

Terlebih lagi, setelah berbicara, Syakia juga mengangkat alisnya dengan penuh tantangan dan menatap Ayu dengan tatapan merendahkan. Dia seolah-olah sedang membalas tantangan Ayu saat Ayu bersulang dengannya tadi.“Syakia, cukup!”Baru saja anggota Keluarga Angkola hendak berbicara, ada orang yang bergerak jauh lebih cepat dari mereka. Sebagai pelindung pertama Ayu, Panji langsung memelototi Syakia dan berseru, “Jangan kira kamu boleh asal menghina Ayu mentang-mentang kamu sudah jadi putri suci! Selama ada aku, jangan harap kamu bisa menindasnya!”Namun, baru saja Panji selesai berbicara, orang yang duduk di belakangnya tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher Panji.Abdi berujar dengan tampang mengejek, “Panji, orang lagi ngobrol. Apa urusannya itu denganmu?” Sebelum pesta ini dimulai, Abdi tidak menemukan Panji. Dia pun berencana untuk menghadapi Panji setelah pesta berakhir. Tak disangka, sebelum pesta berakhir, seseorang sudah tidak sabar untuk membuat masalah.Abdi tentu saja mel
Read more

Bab 152

“Ya Tuhan, kenapa bisa begini?”“Sudah kubilang ada yang aneh di hari ulang tahun Syakia tahun ini. Ternyata itu memang bukan hari ulang tahunnya!”“Jadi, itu hari ulang tahun siapa?”“Adipati Damar cuma punya 2 putri. Memangnya siapa lagi kalau bukan putri yang satunya lagi?”“Hk! Aku merasa seperti sudah menyadari sebuah rahasia mengejutkan!”“Hehe, ternyata yang kakak bukan kakak, yang adik bukan adik. Pertunjukan dari Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan ini benar-benar menarik!”“Hah? Tunggu! Apa maksudnya? Kok aku nggak ngerti?”Ada orang yang masih belum mengerti dan buru-buru mencari tahu. Sementara itu, orang yang sudah memahami apa yang terjadi malah berpura-pura misterius dan tidak mengungkapkannya, tetapi tidak berhenti melirik Damar.Oleh karena itu, ekspresi Damar bertambah suram. Dia tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Kahar, lalu mencengkeram lengannya. Kahar pun terhuyung-huyung sejenak. Ketika Kahar menoleh, Damar tentu saja menyadari tatapannya yang kosong.“Hebat,
Read more

Bab 153

Meskipun begitu, Damar tetap terlihat tenang.“Buat apa kamu begitu panik? Duduk dulu.”Di bawah tekanan dari tatapan Damar, Ayu hanya bisa menekan rasa paniknya dan buru-buru duduk kembali.Setelahnya, Damar terlebih dahulu menyerahkan Kahar kepada Abista dan berkata, “Kahar kurang enak badan. Abista, kamu bawa saja dulu dia pulang. Jangan biarkan dia keluyuran di luar.”Meskipun merasa agak bingung, Abista tetap menuruti ucapan ayahnya. “Baik, Ayah.”Setelah Abista membawa Kahar pergi, Damar baru berkata pada Ayu dengan tenang, “Sebelum ada bukti nyata, semua itu hanya tebakan yang nggak berbobot. Tenangkan dirimu. Dengan begitu, kamu baru nggak akan terpengaruh orang lain.”Ayu seketika mengerti. Benar juga, memangnya kenapa meskipun Syakia mengungkapkan hari ulang tahunnya? Selama tidak ada bukti nyata, dia tetap adalah putri asuh Adipati Pelindung Kerajaan. Namun, mana mungkin Ayu rela hanya dengan menjadi putri asuh?Ayu menggertakkan gigi, lalu diam-diam memelototi Syakia. Ini s
Read more

Bab 154

“Apanya yang berhubungan dekat! Panji, kamu jangan suka merusak reputasi orang! Kamu sendiri yang nggak bermoral, tapi malah nggak malu untuk mengatai orang lain!”Sebelum Syakia sempat merespons, Abdi sudah terlebih dahulu memaki Panji. Air ludahnya bahkan hampir menciprati wajah Panji.“Apa katamu? Kalau berani, coba katakan sekali lagi! Siapa yang kamu bilang nggak bermoral!”“Siapa lagi kalau bukan kamu!” Sekarang, Abdi sudah sepenuhnya tidak menyukai Panji. Dia menambahkan, “Kenapa? Kamu mau aku bongkar kedokmu dan kasih tahu semua orang gimana kamu melakukan hal tercela, lalu mengambinghitamkan orang lain?” “Diam kamu!” Begitu mendengar ucapan Abdi, Panji langsung tahu hal apa yang dimaksudnya. Dia sontak merasa marah dan diam-diam mengumpat orang yang berani menyebarkan rumor ini dalam hati. Jika dia menemukan siapa orang itu, dia pasti akan menghabisinya!Melihat Panji dan Abdi yang sepertinya akan berkelahi, Joko pun bangkit dan ingin melerai mereka. Alhasil, Purwa malah mena
Read more

Bab 155

Begitu mendengar nama Panji, Abdi segera membantah dengan marah, “Ayah, jangan pernah sebut nama bajingan itu lagi di hadapanku! Meski aku ini juga anak berandal, aku nggak sejahat dan begitu nggak bermoral sepertinya.”Selain mencuri, Panji juga mencelakai mantan tunangannya. Dia benar-benar tidak tahu malu! Abdi tidak memiliki teman yang begitu memalukan sepertinya.Perlu diketahui bahwa mencuri hanyalah masalah moral, tetapi mencelakai orang adalah masalah karakter. Hari ini, Abdi hanya memaki Panji di depan umum. Itu masih bukan apa-apa!“Iya, iya, aku nggak akan ungkit namanya lagi.” Purwa mengelus janggutnya, lalu berkata sambil tertawa, “Tapi, kamu juga jangan keterlaluan. Dia itu juga putra tunggal Joko, sedangkan pamannya adalah Adipati Pelindung Kerajaan. Berhubung Pangeran Adika sudah kasih hukuman ke mereka, sebaiknya kamu jangan ikut campur lagi.”“Duh, Ayah tenang saja. Aku juga malas meladeninya. Masih ada hal lain yang harus kutangani selanjutnya.” Abdi berkata dengan g
Read more

Bab 156

Ucapan Kahar langsung membuat Abista terdiam. Benar, dia sebenarnya sempat curiga. Sebelum ulang tahun Syakia hari itu, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada yang aneh dengan urutan ulang tahun kedua adik perempuan mereka.Sampai Adika mengungkapkannya hari itu, mereka baru menyadari bahwa Ayu memang seumuran dengan Syakia, tetapi ulang tahun lebih cepat 2 bulan. Yang seharusnya menjadi kakak malah menjadi adik, sedangkan yang seharusnya menjadi adik malah menjadi kakak. Mereka sama sekali tidak pernah menyadari detail ini.Abista yang merasa bersalah segera mengetahui alasannya. Mereka bahkan melupakan ulang tahun Syakia, mana mungkin mereka memperhatikan hal itu? Meskipun Damar sudah memberi penjelasan kepada mereka bahwa hari ulang tahun Ayu sudah diubah menjadi hari yang sama dengan hari peringatan ibunya, kenapa Damar tidak memberi tahu mereka dari awal? Apa karena Damar merasa itu tidak penting atau ... ada rahasia yang tersembunyi di baliknya?Setelah pulang ke rumah har
Read more

Bab 157

Kahar mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa kamu ngomongnya begitu terbata-bata? Apa yang kamu sembunyikan?”Ayu mengeluarkan benda itu dengan hati-hati. Begitu melihatnya, mata Kahar langsung berbinar.“Bukannya itu bebek goreng dari Rumah Makan Fesili? Ayu sengaja membelikannya untuk Kakak?”Ayu memaksakan seulas senyum dan menjawab, “Iya. Tadi, Kakak pulang lebih cepat. Ayu menebak Kakak pasti nggak kenyang. Jadi, Ayu sengaja pergi ke Rumah Makan Fesili dalam perjalanan pulang tadi, lalu membelikan bebek goreng kesukaan Kakak.”Kahar yang awalnya ingin pergi mencari Abista pun tidak terburu-buru keluar.“Memang Ayu yang paling perhatian. Kamu bahkan ingat apa makanan kesukaan Kakak.” Kahar tersenyum makin gembira dan melanjutkan, “Ayo masuk. Kebetulan, Kakak memang agak lapar. Kita makan bareng saja.”Setelah duduk, Kahar membuka kertas minyak yang membungkus bebek goreng itu dengan tidak sabar.Ayu buru-buru melambaikan tangan dan menjawab, “Nggak usah. Aku sudah makan kenyan
Read more

Bab 158

Sayangnya, orang yang keluar untuk menemui Damar bukanlah Syakia. Damar menatap orang itu dan bertanya dengan dingin, “Di mana Syakia? Suruh dia keluar untuk temui aku.”Shanti berdiri di atas tangga sambil memutar tasbih. Dia menunduk dan menatap Damar sambil berkata, “Setelah bertahun-tahun, ternyata kamu masih searogan ini.”Ucapan Shanti dipenuhi dengan ejekan. Orang yang berdiri di hadapannya jelas-jelas adalah Adipati Pelindung Kerajaan yang memiliki kekuasaan tinggi di istana, tetapi dia sepertinya sama sekali tidak takut. Tatapannya bahkan dipenuhi dengan peremehan.“Hari ini, aku bukan datang untuk bernostalgia denganmu. Serahkan Syakia! Kalau nggak, kamu seharusnya tahu apa yang akan kulakukan.”“Apa yang akan kamu lakukan?” Shanti bertanya dengan nada menghina, “Maksudmu, cara-cara nggak tahu malu dan tercela seperti yang kamu lakukan dulu?”Ekspresi Damar langsung menjadi muram. Dia menggenggam erat cambuk kuda di tangannya dan berseru, “Shanti, jangan lupa bahwa Kahar dan
Read more

Bab 159

“Kebetulan Pangeran Adika sudah datang. Kalau Adipati Damar butuh bantuan, cari saja Pangeran Adika. Kalau kamu bertanya padaku, jawabanku masih tetap sama.”Untuk masuk ke Kuil Bulani, Damar harus melakukannya sesuai aturan. Tanpa izin dari Kaisar, Shanti tidak akan membiarkan anggota Keluarga Angkola menginjak masuk ke Kuil Bulani.Damar sontak mengeratkan pegangannya pada cambuk kuda dengan marah. Dia sangat ingin langsung mencambuk Adika yang sangat mengganggu itu.“Nggak perlu. Berhubung kamu bersikeras mau menjalankan semuanya sesuai peraturan, aku akan pergi temui Yang Mulia Kaisar sekarang juga. Aku mau tahu apa seseorang yang berani meracuni kedua kakak kandungnya itu layak diangkat menjadi putri suci atau nggak!” ujar Damar dengan dingin. Kemudian, dia langsung berbalik dan hendak pergi.Pada saat ini, beberapa prajurit Pasukan Bendera Hitam tiba-tiba mengadang di depan kereta kuda Damar.“Adika, apa maksudmu ini?” seru Damar sambil menoleh dengan marah.“Nggak ada maksud apa
Read more

Bab 160

Sayangnya, tidak peduli seberapa buruk pun firasat Damar, semuanya sudah terlambat. Setelah Syakia naik ke kereta kuda Keluarga Angkola, Pasukan Bendera Hitam Adika langsung mengambil alih semuanya dari kusir sampai pengawal yang mengawal di sisi kereta kuda. Mereka jelas tidak ingin orang dari Keluarga Angkola mendekati kereta kuda itu.Begitu menyaksikan hal ini, ekspresi Damar sontak menjadi suram.“Itu kereta kudaku!”“Sekarang, itu sudah jadi kereta kuda Putri Suci.” Adika menjawab tanpa malu, “Tentu saja, kamu juga boleh mengusir Putri Suci turun. Tapi, aku nggak tahu apa Putri Suci akan setuju untuk pergi ke rumahmu lagi atau nggak.”Damar menatap Adika dengan tatapan yang sangat berbahaya. Namun, Adika hanya tersenyum tanpa merasa takut dan membiarkan Adika lanjut menatapnya.Pada saat ini, terdengar suara kesal Syakia dari dalam kereta kuda.“Masih mau tunggu berapa lama? Jangan buang-buang waktu lagi.”Adika pun tersenyum. “Pertanyaan itu ditujukan padamu, Adipati Damar. Suda
Read more
PREV
1
...
1415161718
...
25
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status