Lahat ng Kabanata ng Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati: Kabanata 141 - Kabanata 150

245 Kabanata

Bab 141

Damar tidak membiarkan Ayu pergi memanggil Ranjana, melainkan menyuruh Kahar untuk melakukannya.Kahar pun bangkit dengan enggan. Namun, sebelum dia sempat meninggalkan meja, terdengar derap kaki seseorang yang berlari dengan terburu-buru di luar.“Gawat! Gawat!”Damar dan orang lainnya pun menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat pembantu yang biasanya melayani Ranjana berlari mendekat dengan terburu-buru dan berseru panik, “Adipati, Tuan Abista, cepat pergi lihat Tuan Ranjana! Sudah terjadi sesuatu padanya!”Semua orang langsung berdiri.“Ada apa? Ranjana sakit lagi?”“Bukan sakit ....” Pembantu itu sudah hampir menangis ketika menjawab, “Tuan Ranjana ... tiba-tiba nggak bisa bicara!”“Apa?”...Lima belas menit kemudian, anggota Keluarga Angkola berkumpul di samping tempat tidur Ranjana dan menunggu hasil pemeriksaan tabib dengan gugup.Setelah memeriksa denyut nadi Ranjana, tabib tersebut menarik kembali tangannya dengan kening berkerut dan bertanya, “Apa Tuan Ranjana makan sesuat
Magbasa pa

Bab 142

Ketika para bawahan menemukan ruang rahasia dalam kamar Ranjana, Damar tahu masalah ini seharusnya tidak sederhana. Jadi, dia tidak langsung menyuruh orang untuk memeriksa keadaan di dalam.Iwan yang sudah berpengalaman juga menganggap seperti tidak mendengar hal itu dan lanjut meneliti sebotol obat itu. Namun, setelah dua jam, Iwan berkata pada Damar dengan serius, “Adipati Damar, kali ini, aku benar-benar nggak mampu membantumu.”Damar tidak menyangka bahwa bahkan Iwan juga tidak mampu menawarkan racun ini.“Tabib Iwan, apa sebenarnya racun ini? Kenapa racun ini begitu hebat?”“Racun ini sulit ditawarkan karena bahan obat yang dipakai sangat rumit. Di dalamnya, bahkan tercampur semacam tanaman racun yang sangat langka, yaitu sisik ular merah. Karena tanaman racun ini, aku baru nggak berdaya. Soalnya, racun ini cuma bisa ditawarkan dengan pakai bunga ular hijau yang sama langkanya.”“Satu-satunya bunga ular hijau yang pernah ditemukan di ibu kota sudah digunakan setahun yang lalu. Sam
Magbasa pa

Bab 143

“Kenapa kamu mengangguk, lalu menggeleng? Apa sebenarnya maksudmu?” tanya Abista dengan bingung.Namun, Abista tidak tahu bahwa orang yang benar-benar merasa frustasi adalah Ranjana. Obat patuh itu memang miliknya, tetapi juga bukan miliknya. Obat patuhnya tidak bisa membuat orang bisu atau sama sekali tidak bertenaga.Begitu teringat botol obat itu dibawa pulang oleh Kahar, Ranjana langsung menoleh ke arahnya dan berseru dalam hati, ‘Cepat katakan, ada apa ini sebenarnya? Apa ada orang yang melakukan sesuatu pada obat patuhnya? Ini ulah Syakia atau orang berpakaian hitam itu?’Saat ini, Ranjana tidak dapat berbicara dan hanya bisa menaruh harapan pada Kahar. Namun, dia tidak menyangka bahwa Kahar sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun setelah melihat tatapan permintaan tolongnya.Firasat buruk segera merayapi hati Ranjana. Apa Kahar sudah terlebih dahulu terjebak sebelum dirinya?Untungnya, ada orang bermata tajam lain yang menyadari tatapan Ranjana.“Kak Ranjana, kenapa kamu te
Magbasa pa

Bab 144

Tepat pada saat Kahar mengangguk, Kama langsung melayangkan tinjunya pada Kahar.“Duk!” Kahar langsung jatuh ke lantai. Pada detik berikutnya, Kama langsung menghajar Kahar dengan membabi-buta.“Kenapa kalian tega berbuat begitu terhadap Syakia! Seburuk apa pun Syakia, dia nggak pernah berbuat salah pada kalian! Atas dasar apa kalian memperlakukannya seperti itu! Atas dasar apa!”Kama tidak tahu bahwa obat itu telah dirombak. Dia hanya tahu bahwa kedua adik kandungnya bekerja sama untuk meracuni adik perempuan kandung mereka. Mereka semua jelas-jelas adalah saudara kandung dan sangat dekat dulunya. Kenapa mereka bisa berselisih sampai tahap seperti ini?“Cukup! Kamu mau habisi Kahar?” bentak Damar.Kali ini, Kahar yang berbaring di lantai sama sekali tidak membalas pukulan Kama. Dia hanya membiarkan Kama meninjunya.Namun, saat ini, Kama sama sekali tidak menuruti ucapan Damar. Dia malah menoleh dan berseru ke arah Damar, “Nggak cukup!”Kemudian, Kama lanjut berkata dengan nada yang pe
Magbasa pa

Bab 145

Namun, Ayu masih belum tahu bahwa yang keracunan bukan hanya Ranjana yang berbaring di tempat tidur.Setelah menyelimuti Ranjana, Abista menyuruhnya beristirahat dengan baik. Kemudian, dia dan Damar pergi ke ruang baca bersama.“Ayah, bagaimana ini? Apa aku perlu utus orang untuk pergi cari bahan obat yang bisa menawarkan racun Ranjana itu?”“Perlu. Tapi, masalah ini seharusnya nggak sesederhana yang mereka katakan,” ujar Damar dengan tenang setelah duduk.Abista terlihat bingung. Setelah menyeduh teh, dia juga duduk dan bertanya, “Apa maksud Ayah?”“Kalau itu benar-benar racun yang diracik Ranjana, dia tidak mungkin sama sekali tidak waspada.” Damar mengambil cangkir tehnya, lalu menyesapnya sebelum melanjutkan, “Sebelumnya, Panji juga pernah keracunan. Racun itu juga nggak bisa ditawarkan tabib biasa dan harus sampai Tabib Iwan yang turun tangan. Sebelum hal itu terjadi, ada 2 orang yang pernah pergi ke Kediaman Pangeran Darsuki.”Abista memikirkannya kembali, lalu segera tersadar.
Magbasa pa

Bab 146

“Bukannya itu Syakia Angkola, putri kelima Adipati Pelindung Kerajaan?”“Iya, itu dia. Tapi, dia sudah bukan putri kelima Adipati Pelindung Kerajaan lagi, melainkan putri suci yang dinobatkan Yang Mulia Kaisar secara pribadi.”“Putri suci apanya. Dia itu cuma seorang biksuni.”“Kecilkan suaramu. Meski cuma biksuni, dia juga biksuni yang nggak bisa kita singgung.”“Entah apa yang dipikirkan Yang Mulia Kaisar waktu nobatkan gadis sejahat itu jadi putri suci.”“Aku rasa nggak ada salahnya. Setidaknya, di upacara doa sebelumnya, dia melakukan segalanya dengan cukup bagus.”“Apanya yang cukup bagus? Cuma wajahnya saja yang cantik. Kalau mau ngomong soal baik hati, Syakia sama sekali nggak bisa dibandingkan sama adik perempuannya itu.”“Ckck, menobatkan orang sepertinya jadi Putri Suci Pembawa Berkah benar-benar sial. Benar nggak, Abdi?”Orang yang berbicara itu menjulurkan kepalanya dari dalam kereta kuda. Dia menatap ke arah kelompok Syakia dengan ekspresi mengejek. Namun, pada saat ini, s
Magbasa pa

Bab 147

“Siapa?” Abdi memutar otak sejenak, lalu membelalak dan berkata, “Jangan bilang itu ulah Panji?”“Benar! Itu memang ulahnya! Dengar-dengar, dia yang sudah mencuri, tapi nggak berani ngaku dan malah mengambinghitamkan Syakia!” Pemuda itu berdecak beberapa kali sebelum melanjutkan, “Awalnya, aku nggak percaya. Tapi, kalau dinilai dari situasi sekarang, sepertinya rumor itu benar.”Baru saja pemuda itu selesai berbicara, terdengar makian dari kereta kuda di sampingnya.“Panji benar-benar berengsek!”Dulu, Abdi sering bergaul dengan Panji dan mengira dirinya lumayan memahami Panji. Namun, setelah mendengar ucapan Panji di Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan waktu itu, dia pun memiliki pemahaman baru terhadap Panji.Meskipun begitu, Abdi tetap tidak menyangka bahwa Panji bahkan tega melakukan hal seperti mencelakai mantan tunangannya. Meskipun pernikahan mereka sudah dibatalkan, Panji dan Syakia tetap adalah teman semasa kecil yang tumbuh besar bersama. Selain menghina orang, dia juga ingin
Magbasa pa

Bab 148

Syakia sudah dapat menebak bahwa Damar pasti akan mencarinya hari ini. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa ayahnya yang selalu tenang itu juga bisa secemas ini. Begitu tiba di istana, ayahnya sudah langsung mencarinya.Shanti langsung melirik Syakia dan bertanya, “Apa perlu Guru yang hadapi dia?”“Aku tahu apa tujuannya mencariku. Guru nggak usah repot-repot,” jawab Syakia sambil tersenyum.“Oke. Kamu cuma perlu ingat apa yang Guru katakan padamu sebelumnya.”Syakia mengangguk, lalu mengikuti dayang istana berjalan keluar.Damar sedang menunggu di sebuah sudut yang tidak jauh dari aula samping. Begitu melihat Syakia keluar, dia juga tidak bergerak dan hanya menunggu Syakia berjalan mendekat. Sayangnya, Syakia tidak berjalan menghampirinya. Setelah melirik lokasi Damar, Syakia pun berhenti di luar pintu aula samping dan bertanya dari kejauhan, “Kalau Adipati Damar mau menemuiku, kenapa nggak berjalan mendekat?”Setelah mendengar ucapan itu, Damar merasa agak terkejut. Dia tidak menya
Magbasa pa

Bab 149

Apa pun yang Syakia inginkan, dia dapat memintanya sendiri.Damar menatap sosok Syakia yang menghilang di balik pintu aula, lalu berdiri di tempat untuk sejenak sebelum meninggalkan tempat ini. Ketika tiba di sudut sebelumnya, pengawal rahasia yang bersembunyi itu akhirnya menunjukkan diri.“Tuan.”Damar mengangkat tangannya dan berkata, “Nggak usah awasi tempat ini lagi. Pergilah ke Kuil Bulani sekarang juga, lalu periksa tempat tinggal Syakia dan Shanti untuk cari obat penawarnya.”“Baik.”Setelah pengawal rahasia itu pergi, Damar terkekeh dan bergumam dengan suara rendah, “Anggreni, putrimu benar-benar kejam dan nggak berperasaan, sama sepertimu. Tapi, mau membuatku menunduk? Nggak segampang itu.”Terlebih lagi, Damar merasa Syakia tidak lebih dari seorang putri durhaka. Setelahnya, dia pun mengibaskan lengan jubahnya dan meninggalkan tempat ini.Begitu Damar pergi, Hala pun menyampaikan apa yang didengarnya kepada Syakia.Syakia mencibir, “Ternyata dia memang nggak berniat untuk ne
Magbasa pa

Bab 150

Begitu berbicara, Ayu berhasil menarik perhatian semua orang dalam aula. Anehnya, tatapan semua orang yang ingin menonton pertunjukan jatuh pada Syakia. Bagaimanapun juga, orang yang diperbincangkan semua orang di ibu kota beberapa waktu lalu sedang berada tepat di hadapan mereka.Ayu memegang cawan anggurnya dan berjalan mendekat. “Kakak sudah tinggalkan rumah 2 bulan lebih dan pasti rindu sama kami, ‘kan?”Syakia menjawab dengan acuh tak acuh, “Sayangnya, sama sekali nggak.”Ayu langsung tertawa, lalu sengaja duduk di samping Syakia. Dia mengejek dengan suara rendah, “Kak, jangan begitu keras kepala. Lihat saja, nggak lama setelah kamu pergi, Keluarga Angkola sudah sepenuhnya jadi milikku. Sekarang, cuma aku satu-satunya putri Ayah dan adik para kakak.”“Dulu, aku sangat berharap kamu bisa cepat-cepat keluar dari Keluarga Angkola dan jangan menggangguku lagi. Sayangnya, kamu begitu nggak peka dulunya. Sampai 2 bulan lalu, kamu baru tiba-tiba jadi pintar.” Ayu tiba-tiba menunjukkan e
Magbasa pa
PREV
1
...
1314151617
...
25
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status