Begitu berbicara, Ayu berhasil menarik perhatian semua orang dalam aula. Anehnya, tatapan semua orang yang ingin menonton pertunjukan jatuh pada Syakia. Bagaimanapun juga, orang yang diperbincangkan semua orang di ibu kota beberapa waktu lalu sedang berada tepat di hadapan mereka.Ayu memegang cawan anggurnya dan berjalan mendekat. “Kakak sudah tinggalkan rumah 2 bulan lebih dan pasti rindu sama kami, ‘kan?”Syakia menjawab dengan acuh tak acuh, “Sayangnya, sama sekali nggak.”Ayu langsung tertawa, lalu sengaja duduk di samping Syakia. Dia mengejek dengan suara rendah, “Kak, jangan begitu keras kepala. Lihat saja, nggak lama setelah kamu pergi, Keluarga Angkola sudah sepenuhnya jadi milikku. Sekarang, cuma aku satu-satunya putri Ayah dan adik para kakak.”“Dulu, aku sangat berharap kamu bisa cepat-cepat keluar dari Keluarga Angkola dan jangan menggangguku lagi. Sayangnya, kamu begitu nggak peka dulunya. Sampai 2 bulan lalu, kamu baru tiba-tiba jadi pintar.” Ayu tiba-tiba menunjukkan e
Terlebih lagi, setelah berbicara, Syakia juga mengangkat alisnya dengan penuh tantangan dan menatap Ayu dengan tatapan merendahkan. Dia seolah-olah sedang membalas tantangan Ayu saat Ayu bersulang dengannya tadi.“Syakia, cukup!”Baru saja anggota Keluarga Angkola hendak berbicara, ada orang yang bergerak jauh lebih cepat dari mereka. Sebagai pelindung pertama Ayu, Panji langsung memelototi Syakia dan berseru, “Jangan kira kamu boleh asal menghina Ayu mentang-mentang kamu sudah jadi putri suci! Selama ada aku, jangan harap kamu bisa menindasnya!”Namun, baru saja Panji selesai berbicara, orang yang duduk di belakangnya tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher Panji.Abdi berujar dengan tampang mengejek, “Panji, orang lagi ngobrol. Apa urusannya itu denganmu?” Sebelum pesta ini dimulai, Abdi tidak menemukan Panji. Dia pun berencana untuk menghadapi Panji setelah pesta berakhir. Tak disangka, sebelum pesta berakhir, seseorang sudah tidak sabar untuk membuat masalah.Abdi tentu saja mel
“Ya Tuhan, kenapa bisa begini?”“Sudah kubilang ada yang aneh di hari ulang tahun Syakia tahun ini. Ternyata itu memang bukan hari ulang tahunnya!”“Jadi, itu hari ulang tahun siapa?”“Adipati Damar cuma punya 2 putri. Memangnya siapa lagi kalau bukan putri yang satunya lagi?”“Hk! Aku merasa seperti sudah menyadari sebuah rahasia mengejutkan!”“Hehe, ternyata yang kakak bukan kakak, yang adik bukan adik. Pertunjukan dari Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan ini benar-benar menarik!”“Hah? Tunggu! Apa maksudnya? Kok aku nggak ngerti?”Ada orang yang masih belum mengerti dan buru-buru mencari tahu. Sementara itu, orang yang sudah memahami apa yang terjadi malah berpura-pura misterius dan tidak mengungkapkannya, tetapi tidak berhenti melirik Damar.Oleh karena itu, ekspresi Damar bertambah suram. Dia tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Kahar, lalu mencengkeram lengannya. Kahar pun terhuyung-huyung sejenak. Ketika Kahar menoleh, Damar tentu saja menyadari tatapannya yang kosong.“Hebat,
Meskipun begitu, Damar tetap terlihat tenang.“Buat apa kamu begitu panik? Duduk dulu.”Di bawah tekanan dari tatapan Damar, Ayu hanya bisa menekan rasa paniknya dan buru-buru duduk kembali.Setelahnya, Damar terlebih dahulu menyerahkan Kahar kepada Abista dan berkata, “Kahar kurang enak badan. Abista, kamu bawa saja dulu dia pulang. Jangan biarkan dia keluyuran di luar.”Meskipun merasa agak bingung, Abista tetap menuruti ucapan ayahnya. “Baik, Ayah.”Setelah Abista membawa Kahar pergi, Damar baru berkata pada Ayu dengan tenang, “Sebelum ada bukti nyata, semua itu hanya tebakan yang nggak berbobot. Tenangkan dirimu. Dengan begitu, kamu baru nggak akan terpengaruh orang lain.”Ayu seketika mengerti. Benar juga, memangnya kenapa meskipun Syakia mengungkapkan hari ulang tahunnya? Selama tidak ada bukti nyata, dia tetap adalah putri asuh Adipati Pelindung Kerajaan. Namun, mana mungkin Ayu rela hanya dengan menjadi putri asuh?Ayu menggertakkan gigi, lalu diam-diam memelototi Syakia. Ini s
“Apanya yang berhubungan dekat! Panji, kamu jangan suka merusak reputasi orang! Kamu sendiri yang nggak bermoral, tapi malah nggak malu untuk mengatai orang lain!”Sebelum Syakia sempat merespons, Abdi sudah terlebih dahulu memaki Panji. Air ludahnya bahkan hampir menciprati wajah Panji.“Apa katamu? Kalau berani, coba katakan sekali lagi! Siapa yang kamu bilang nggak bermoral!”“Siapa lagi kalau bukan kamu!” Sekarang, Abdi sudah sepenuhnya tidak menyukai Panji. Dia menambahkan, “Kenapa? Kamu mau aku bongkar kedokmu dan kasih tahu semua orang gimana kamu melakukan hal tercela, lalu mengambinghitamkan orang lain?” “Diam kamu!” Begitu mendengar ucapan Abdi, Panji langsung tahu hal apa yang dimaksudnya. Dia sontak merasa marah dan diam-diam mengumpat orang yang berani menyebarkan rumor ini dalam hati. Jika dia menemukan siapa orang itu, dia pasti akan menghabisinya!Melihat Panji dan Abdi yang sepertinya akan berkelahi, Joko pun bangkit dan ingin melerai mereka. Alhasil, Purwa malah mena
Begitu mendengar nama Panji, Abdi segera membantah dengan marah, “Ayah, jangan pernah sebut nama bajingan itu lagi di hadapanku! Meski aku ini juga anak berandal, aku nggak sejahat dan begitu nggak bermoral sepertinya.”Selain mencuri, Panji juga mencelakai mantan tunangannya. Dia benar-benar tidak tahu malu! Abdi tidak memiliki teman yang begitu memalukan sepertinya.Perlu diketahui bahwa mencuri hanyalah masalah moral, tetapi mencelakai orang adalah masalah karakter. Hari ini, Abdi hanya memaki Panji di depan umum. Itu masih bukan apa-apa!“Iya, iya, aku nggak akan ungkit namanya lagi.” Purwa mengelus janggutnya, lalu berkata sambil tertawa, “Tapi, kamu juga jangan keterlaluan. Dia itu juga putra tunggal Joko, sedangkan pamannya adalah Adipati Pelindung Kerajaan. Berhubung Pangeran Adika sudah kasih hukuman ke mereka, sebaiknya kamu jangan ikut campur lagi.”“Duh, Ayah tenang saja. Aku juga malas meladeninya. Masih ada hal lain yang harus kutangani selanjutnya.” Abdi berkata dengan g
Ucapan Kahar langsung membuat Abista terdiam. Benar, dia sebenarnya sempat curiga. Sebelum ulang tahun Syakia hari itu, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ada yang aneh dengan urutan ulang tahun kedua adik perempuan mereka.Sampai Adika mengungkapkannya hari itu, mereka baru menyadari bahwa Ayu memang seumuran dengan Syakia, tetapi ulang tahun lebih cepat 2 bulan. Yang seharusnya menjadi kakak malah menjadi adik, sedangkan yang seharusnya menjadi adik malah menjadi kakak. Mereka sama sekali tidak pernah menyadari detail ini.Abista yang merasa bersalah segera mengetahui alasannya. Mereka bahkan melupakan ulang tahun Syakia, mana mungkin mereka memperhatikan hal itu? Meskipun Damar sudah memberi penjelasan kepada mereka bahwa hari ulang tahun Ayu sudah diubah menjadi hari yang sama dengan hari peringatan ibunya, kenapa Damar tidak memberi tahu mereka dari awal? Apa karena Damar merasa itu tidak penting atau ... ada rahasia yang tersembunyi di baliknya?Setelah pulang ke rumah har
Kahar mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa kamu ngomongnya begitu terbata-bata? Apa yang kamu sembunyikan?”Ayu mengeluarkan benda itu dengan hati-hati. Begitu melihatnya, mata Kahar langsung berbinar.“Bukannya itu bebek goreng dari Rumah Makan Fesili? Ayu sengaja membelikannya untuk Kakak?”Ayu memaksakan seulas senyum dan menjawab, “Iya. Tadi, Kakak pulang lebih cepat. Ayu menebak Kakak pasti nggak kenyang. Jadi, Ayu sengaja pergi ke Rumah Makan Fesili dalam perjalanan pulang tadi, lalu membelikan bebek goreng kesukaan Kakak.”Kahar yang awalnya ingin pergi mencari Abista pun tidak terburu-buru keluar.“Memang Ayu yang paling perhatian. Kamu bahkan ingat apa makanan kesukaan Kakak.” Kahar tersenyum makin gembira dan melanjutkan, “Ayo masuk. Kebetulan, Kakak memang agak lapar. Kita makan bareng saja.”Setelah duduk, Kahar membuka kertas minyak yang membungkus bebek goreng itu dengan tidak sabar.Ayu buru-buru melambaikan tangan dan menjawab, “Nggak usah. Aku sudah makan kenyan
Ayu memiliki resep obat, tetapi tidak memiliki bahannya. Meskipun ingin meracik obat penawar itu, dia juga tidak akan berhasil.Namun, Syakia berbeda. Setelah menemukan resep obat penawar itu, dia mungkin bisa meracik obat penawarnya. Sebab, dia memiliki safron yang merupakan bahan terpenting. Jika kelompok Kingston lanjut menunggu Ayu menghasilkan obat penawar ini, mereka mungkin tidak akan pernah mendapatkannya sampai mati. Hanya saja, meskipun Syakia dapat meraciknya, dia juga tidak akan memberikannya kepada kelompok Kingston dengan semudah itu. Bagaimanapun juga, orang yang membutuhkan obat herbal ini bukan hanya mereka.Syakia pun menghela napas. Sepertinya, dia harus memindahkan obat herbal dalam ruang giok ini ke luar secepat mungkin. Terutama safron. Setelah mempelajari resep obat penawar secara garis besar, dia pun menyimpan kertas itu.Keesokan harinya, Syakia berencana untuk turun gunung. Setelah membereskan barang-barangnya dan menutup pintu kamar, Syakia menyadari bahwa
Setelah mendengar Syakia menginginkan serangga takdirnya, Kingston pun memaksakan seulas senyum dan berujar, “Ka ... kamu kan nggak butuh Pojun. Buat apa kamu menyimpannya?”“Siapa bilang aku nggak butuh?” Syakia tersenyum tipis dan menjawab, “Aku mau pelajari racun di tubuhnya.”“Baiklah,” jawab Kingston dengan tidak berdaya. Pada saat ini, dia mau tak mau harus menunduk. Dia lanjut bertanya, “Sekarang, kamu sudah bisa lepaskan aku, ‘kan?”Syakia mengangkat alisnya, lalu berbalik membelakangi Kingston dan menaruh kelabang beracun kembali ke ruang gioknya. Setelah itu, dia baru mengangguk pada Hala.Hala pun melangkah maju dan menghunuskan pedangnya untuk menebas tali yang mengikat Kingston. Kingston yang akhirnya mendapatkan kembali kebebasannya meregangkan tangan dan kakinya sambil bertanya pada Syakia, “Kamu mau serangga beracun apa? Aku memang punya beberapa jenis. Ada laba-laba, kalajengking, semut api, dan sebagainya. Kalau ada yang kamu mau, aku akan bawakan saat aku datang kem
Jawaban itu membuat Syakia tertegun sejenak. Kemudian, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan bertanya dengan mata membelalak, “Jangan-jangan, kalian sudah lama nggak minum obat penawarnya?”Kingston sontak menggertakkan gigi. “Benar, sudah sangat lama.”Kelompok Kingston sudah tidak minum obat penawar selama 3 tahun. Jadi, mereka harus merasakan penderitaan yang ditimbulkan racun itu tanpa obat penawar sebanyak 3 kali. Dalam 3 tahun terakhir, mereka yang awalnya berjumlah lebih dari 300 orang hanya tersisa tidak sampai 200 orang.Setelahnya, demi membunuh Syakia dalam perjalanan ke Kalika, sejumlah besar anggota mereka gugur lagi. Sekarang, jumlah kelompok Kingston yang tersisa hanya puluhan orang. Jika situasinya berlanjut seperti ini, mereka semua mungkin akan tewas tidak lama lagi.“Jadi, kenapa kalian nggak langsung bunuh dia?” tanya Syakia dengan penasaran.Kingston melirik Syakia dan menjawab, “Kamu itu putri suci, juga seorang biksuni. Kenapa kata-kata yang keluar dari mulutmu itu
Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men
“Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise
Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “