All Chapters of Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati: Chapter 131 - Chapter 140

245 Chapters

Bab 131

Setelah mendengar kabar ini, Syakia merasa terkejut. “Apa lagi maunya?”Syakia tahu jelas Ike itu orang seperti apa. Pada kedatangannya ke Kuil Bulani sebelumnya, Ike tidak mencapai tujuannya. Dia sudah cukup bersyukur Ike tidak lanjut datang mencari masalah. Mana mungkin Ike ingin meminta maaf?Setelah berpikir sejenak, Syakia bertanya, “Kak, apa masih ada orang lain yang datang bersamanya?”“Ada, ada seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian menteri, juga seorang pemuda tampan.”Orang yang mengenakan pakaian menteri dan bersedia menemani Ike datang ke tempat ini. Itu seharusnya adalah Damar atau Joko. Sebelumnya, Damar pernah datang ke tempat ini, juga dipermalukan. Dia seharusnya tidak akan datang lagi dalam waktu dekat. Jadi, satu-satunya orang yang mungkin datang adalah Joko.Sementara itu, pemuda yang dimaksud kakak seperguruan Syakia pasti adalah Panji. Untuk apa mereka sekeluarga datang kemari?Syakia mengernyit, lalu meletakkan buku sutra di tangannya dan berkata, “Aku a
Read more

Bab 132

Seusai memukul Panji, Joko menatap Syakia. Saat melihat ekspresi Syakia yang dingin, perasaannya sangat kacau.“Syakia, maaf atas masalah pembatalan pernikahan, krim pelembap Yui, dan juga masalah lainnya selama ini. Kamu diperlakukan seperti itu karena kelalaianku,” ujar Joko sambil menangkupkan tangan dan menunjukkan ekspresi bersalah.Syakia pun tertegun. Dengan kemunculan Joko hari ini, dia bisa menduga bahwa Ike memang datang untuk meminta maaf padanya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Joko sendiri yang akan terlebih dahulu meminta maaf padanya.Hanya saja, meskipun begitu, hati Syakia sudah sepenuhnya hancur. Setelah merasa terharu sejenak, dia kembali terlihat dingin.“Aku nggak terima permintaan maaf Tuan Joko.”“Apa? Syakia, jangan keterlaluan kamu! Ayahku sudah ....”Panji tidak menyangka Syakia akan bersikap begitu angkuh. Orang yang meminta maaf adalah ayahnya, seorang menteri yang berkuasa di kerajaan ini. Apa Syakia merasa itu masih belum cukup?“Diam!” Joko memelototi pu
Read more

Bab 133

Ucapan Ike membuat Syakia kebingungan. Bagaimanapun juga, dia tidak menduga Ike akan benar-benar datang meminta maaf padanya. Setelah berpikir sejenak, dia baru terpikirkan sesuatu. Dia melirik ketiga orang di hadapannya dan bertanya, “Gimana kalau aku nggak bersedia maafkan kalian?”Syakia merasa sangat penasaran.Ekspresi Ike sontak berubah. Dia berseru marah, “Aku sudah minta maaf, sedangkan putraku juga berlutut di hadapanmu. Apa lagi maumu?”Syakia memicingkan matanya. Setelah melihat tampang panik Ike, dia tahu bahwa tebakannya benar. Ternyata ada yang mengancam mereka. Pantas saja orang yang selalu merendahkannya bisa tiba-tiba datang meminta maaf padanya.Mengenai siapa yang mengancam mereka .... Sejujurnya, Syakia juga tahu itu siapa tanpa perlu menebaknya. Bagaimanapun juga, di seluruh Dinasti Minggana, yang bisa membuat orang dari Kediaman Pangeran Darsuki menunduk hanya beberapa orang.Syakia langsung mencibir, “Aku juga sudah bilang, aku nggak terima permintaan maaf Tuan J
Read more

Bab 134

“Kak Ranjana, kamu juga sudah menyadarinya, ‘kan?”Ayu pergi ke kamar Ranjana dan sedang mencurahkan isi hatinya dengan tatapan penuh kegelisahan.“Sejak Kak Syakia jadi biksuni, Kak Abista dan Kak Kama makin berubah. Ayu juga nggak tahu ada apa ini sebenarnya. Hanya saja, Ayu khawatir banget sama mereka yang begini.”Setelah pulang dari merayakan ulang tahun Syakia di Kuil Bulani sebelumnya, Kama bukan hanya menghajar Panji. Ketika dihukum Abista dengan dikurung di aula leluhur, dia bahkan menolak keluar untuk sesaat.Sampai Abista bertanya apakah Kama masih mau mempersiapkan hadiah untuk Syakia atau tidak, Kama baru segera keluar dari aula leluhur. Setelah itu, Abista dan Kama pun sering keluar rumah. Ada beberapa kali Ayu bermanja-manja dan meminta dibawa keluar bersama mereka, tetapi kedua orang itu tetap tidak setuju. Hal ini membuat Ayu merasa makin terancam.Ayu yang sangat gelisah segera datang mencari Ranjana. Di antara 4 saudara ini, orang yang paling cerdas itu sebenarnya bu
Read more

Bab 135

Setelah Ranjana setuju, Ayu tidak berhenti bertanya apa yang akan dilakukannya. Bagaimanapun juga, Ayu tidak benar-benar berharap Syakia kembali. Namun, Ranjana hanya tersenyum tanpa menjawab. Sangat jelas bahwa dia tidak ingin memberi tahu rencananya pada Ayu.Hanya saja, Ranjana sepertinya bisa menebak pemikiran Ayu. Dia hanya menjamin, “Ayu tenang saja, Kakak nggak akan biarkan dia mengancam posisimu.”Begitu mendengar ucapan itu, jantung Ayu seolah-olah berhenti berdetak untuk sejenak. Dia mengira Ranjana mengetahui segala triknya dan kedok aslinya telah terbongkar. Sampai Ranjana mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang, dia baru berhenti merasa gelisah dan tidak berani lanjut bertanya lagi.Tidak lama setelahnya, Ayu akhirnya mengetahui cara apa yang digunakan Ranjana.Dari awal Ayu meminta tolong padanya, Ranjana memang tidak berniat untuk turun tangan sendiri. Bagaimanapun juga, dia tidak mampu melakukan apa-apa dengan kesehatannya saat ini. Jadi, dia mencari Kahar, satu-sa
Read more

Bab 136

Tepat ketika Kahar hampir menyentuh pintu kamar Syakia, dia tiba-tiba merasa bulu kuduk di punggungnya berdiri. Dia segera menoleh dan langsung melayangkan tinju ke belakangnya.“Duk!”Ketika kedua serangan itu saling beradu, Kahar baru melihat jelas sosok orang di belakangnya. Namun, tidak tepat juga apabila menggunakan kata “melihat jelas”. Bagaimanapun juga, orang itu mengenakan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh selain matanya sehingga dia dapat menyatu dengan malam secara sempurna.“Siapa kamu!” seru Kahar.Hala menempelkan jari telunjuknya di depan mulut, lalu berbisik, “Kecilkan suaramu. Jangan bangunkan dia.”Seusai berbicara, Hala langsung menghunuskan pedangnya dan menyerang ke arah kepala Kahar. Kahar sontak merasa marah.“Kalau nggak mau ngomong, jangan salahkan aku lagi!”Kahar mengeluarkan belatinya dan segera mengayunkannya untuk menangkis serangan pedang Hala. Kedua orang itu mulai bertarung di halaman Syakia....Keesokan harinya, Syakia mengusap matanya dengan
Read more

Bab 137

“Kenapa? Di matamu, selama nggak membunuh orang, tindakan lainnya nggak termasuk keji?” Syakia menatap Kahar lekat-lekat dengan penuh amarah dan melanjutkan, “Kalau begitu, aku mau tanya. Apa sebenarnya maumu kalau bukan membunuhku? Ngomong!”“Kamu mau aku minum obat itu, lalu bawa aku kembali ke rumah? Atau kamu mau mengurungku biar Ayu-mu membunuh dan menyiksaku? Atau kamu mau membelah perutku sekali lagi?”Ketika mengucapkan kalimat terakhir, Syakia sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. Kebencian yang tersimpan begitu lama di hatinya langsung meledak pada saat ini. Setelah kalimat terakhirnya membuat 3 orang lain yang berada di halaman tercengang, dia baru tersadar dan memejamkan matanya.“Guru, aku mau pergi tenangkan diri dulu. Tolong bantu aku interogasi dia,” ujar Syakia dengan suara agak gemetar. Setelah itu, dia berlari masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.Syakia tidak tahu seberapa besar gejolak yang dipicu oleh ucapannya itu dalam hati Shanti, Hala, dan Kahar. Shanti
Read more

Bab 138

Shanti pun tertegun sejenak. Dia tidak menyangka ini adalah jawaban dari lubuk hati Kahar.“Krek ....” Shanti mendengar suara pintu terbuka dan menoleh secara refleks. Ternyata, Syakia memang berdiri di sana.“Sahana ....” Shanti hendak mengatakan sesuatu, tetapi Syakia memaksakan seulas senyum dan menyela, “Nggak apa-apa, Guru. Aku sudah tenang.” Hanya saja, Syakia tidak menyangka akan mendengar ucapan Kahar yang seperti itu begitu keluar. Dia berjalan ke hadapan Kahar, lalu bertanya dengan suara dingin, “Kamu bilang aku yang mencelakai Ibu?”“Benar! Itu gara-gara kamu!” Meskipun tatapan Kahar masih terlihat kosong, emosinya malah begitu bergejolak. “Kalau bukan karena melahirkanmu, Ibu nggak akan terkena penyakit serius dari persalinan yang sulit, lalu meninggal karenanya.”Kahar meneteskan air mata. Dalam tatapannya yang kosong, sepertinya terdapat kebencian terhadap seseorang. Syakia tahu siapa orang itu dan tidak bersembunyi.“Ibu jelas-jelas bilang akan menemani kami tumbuh besa
Read more

Bab 139

Shanti melangkah maju dan memeluk Syakia sambil berkata, “Nak, jangan khawatir. Anggreni itu orang paling lembut di dunia ini. Dia pasti memahami keputusanmu.” Namun, Shanti tidak memberi tahu Syakia bahwa Anggreni pasti akan sangat sedih apabila mengetahui penderitaan yang dialami Syakia dan kesedihan yang tersimpan dalam hatinya. Shanti memejamkan matanya dan berujar dalam hati, ‘Maaf, Anggreni. Aku yang lalai dalam menjaga anak-anakmu. Untungnya, putrimu ini setegar kamu. Dia nggak dikalahkan. Hanya saja, anak yang tegar akan banyak menderita.’Shanti mengusap kepala Syakia dengan sedih dan menunggunya selesai menangis dalam diam. Setelah menangis sejenak, Syakia akhirnya menenangkan diri lagi. Dia merasa agak malu saat melihat air matanya membasahi pakaian di bahu gurunya.“Maaf, Guru. Aku sepertinya terlalu cengeng.”Syakia sebenarnya tidak termasuk tegar. Sejak kecil, dia adalah anak yang sudah terbiasa dimanjakan. Oleh karena itu, Ayu baru bisa menginjak-injaknya dengan mudah
Read more

Bab 140

Dua hari penuh telah berlalu sejak Kahar pergi mencari Syakia di Kuil Bulani. Ranjana tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Apa mungkin Kahar ketahuan ingin membius Syakia? Namun, jika Kahar benar-benar ketahuan, kenapa sama sekali tidak ada pergerakan sampai sekarang?Tepat ketika Ranjana mempertimbangkan apakah dirinya perlu pergi ke Kuil Bulani untuk mencari tahu situasinya, Kahar akhirnya pulang juga. Ketika Kahar kembali, langit sudah gelap dan Ranjana baru saja hendak tidur.Pembantu Ranjana mendengar suara ketukan pintu dan bertanya, “Siapa?”“Aku, Kahar.”Begitu mendengar suara itu, Ranjana tidak jadi berbaring di tempat tidur dan menyuruh pembantunya membuka pintu.“Tuan Kahar.” Setelah masuk ke kamar, Kahar berkata pada pembantu itu, “Kamu keluar saja dulu. Ada yang mau kubicarakan dengan Ranjana.”Pembantu itu tentu saja tidak langsung keluar, melainkan melirik majikannya. Setelah menerima isyarat mata Ranjana, dia baru berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan penge
Read more
PREV
1
...
1213141516
...
25
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status