Setelah Ranjana setuju, Ayu tidak berhenti bertanya apa yang akan dilakukannya. Bagaimanapun juga, Ayu tidak benar-benar berharap Syakia kembali. Namun, Ranjana hanya tersenyum tanpa menjawab. Sangat jelas bahwa dia tidak ingin memberi tahu rencananya pada Ayu.Hanya saja, Ranjana sepertinya bisa menebak pemikiran Ayu. Dia hanya menjamin, “Ayu tenang saja, Kakak nggak akan biarkan dia mengancam posisimu.”Begitu mendengar ucapan itu, jantung Ayu seolah-olah berhenti berdetak untuk sejenak. Dia mengira Ranjana mengetahui segala triknya dan kedok aslinya telah terbongkar. Sampai Ranjana mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang, dia baru berhenti merasa gelisah dan tidak berani lanjut bertanya lagi.Tidak lama setelahnya, Ayu akhirnya mengetahui cara apa yang digunakan Ranjana.Dari awal Ayu meminta tolong padanya, Ranjana memang tidak berniat untuk turun tangan sendiri. Bagaimanapun juga, dia tidak mampu melakukan apa-apa dengan kesehatannya saat ini. Jadi, dia mencari Kahar, satu-sa
Tepat ketika Kahar hampir menyentuh pintu kamar Syakia, dia tiba-tiba merasa bulu kuduk di punggungnya berdiri. Dia segera menoleh dan langsung melayangkan tinju ke belakangnya.“Duk!”Ketika kedua serangan itu saling beradu, Kahar baru melihat jelas sosok orang di belakangnya. Namun, tidak tepat juga apabila menggunakan kata “melihat jelas”. Bagaimanapun juga, orang itu mengenakan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh selain matanya sehingga dia dapat menyatu dengan malam secara sempurna.“Siapa kamu!” seru Kahar.Hala menempelkan jari telunjuknya di depan mulut, lalu berbisik, “Kecilkan suaramu. Jangan bangunkan dia.”Seusai berbicara, Hala langsung menghunuskan pedangnya dan menyerang ke arah kepala Kahar. Kahar sontak merasa marah.“Kalau nggak mau ngomong, jangan salahkan aku lagi!”Kahar mengeluarkan belatinya dan segera mengayunkannya untuk menangkis serangan pedang Hala. Kedua orang itu mulai bertarung di halaman Syakia....Keesokan harinya, Syakia mengusap matanya dengan
“Kenapa? Di matamu, selama nggak membunuh orang, tindakan lainnya nggak termasuk keji?” Syakia menatap Kahar lekat-lekat dengan penuh amarah dan melanjutkan, “Kalau begitu, aku mau tanya. Apa sebenarnya maumu kalau bukan membunuhku? Ngomong!”“Kamu mau aku minum obat itu, lalu bawa aku kembali ke rumah? Atau kamu mau mengurungku biar Ayu-mu membunuh dan menyiksaku? Atau kamu mau membelah perutku sekali lagi?”Ketika mengucapkan kalimat terakhir, Syakia sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. Kebencian yang tersimpan begitu lama di hatinya langsung meledak pada saat ini. Setelah kalimat terakhirnya membuat 3 orang lain yang berada di halaman tercengang, dia baru tersadar dan memejamkan matanya.“Guru, aku mau pergi tenangkan diri dulu. Tolong bantu aku interogasi dia,” ujar Syakia dengan suara agak gemetar. Setelah itu, dia berlari masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.Syakia tidak tahu seberapa besar gejolak yang dipicu oleh ucapannya itu dalam hati Shanti, Hala, dan Kahar. Shanti
Shanti pun tertegun sejenak. Dia tidak menyangka ini adalah jawaban dari lubuk hati Kahar.“Krek ....” Shanti mendengar suara pintu terbuka dan menoleh secara refleks. Ternyata, Syakia memang berdiri di sana.“Sahana ....” Shanti hendak mengatakan sesuatu, tetapi Syakia memaksakan seulas senyum dan menyela, “Nggak apa-apa, Guru. Aku sudah tenang.” Hanya saja, Syakia tidak menyangka akan mendengar ucapan Kahar yang seperti itu begitu keluar. Dia berjalan ke hadapan Kahar, lalu bertanya dengan suara dingin, “Kamu bilang aku yang mencelakai Ibu?”“Benar! Itu gara-gara kamu!” Meskipun tatapan Kahar masih terlihat kosong, emosinya malah begitu bergejolak. “Kalau bukan karena melahirkanmu, Ibu nggak akan terkena penyakit serius dari persalinan yang sulit, lalu meninggal karenanya.”Kahar meneteskan air mata. Dalam tatapannya yang kosong, sepertinya terdapat kebencian terhadap seseorang. Syakia tahu siapa orang itu dan tidak bersembunyi.“Ibu jelas-jelas bilang akan menemani kami tumbuh besa
Shanti melangkah maju dan memeluk Syakia sambil berkata, “Nak, jangan khawatir. Anggreni itu orang paling lembut di dunia ini. Dia pasti memahami keputusanmu.” Namun, Shanti tidak memberi tahu Syakia bahwa Anggreni pasti akan sangat sedih apabila mengetahui penderitaan yang dialami Syakia dan kesedihan yang tersimpan dalam hatinya. Shanti memejamkan matanya dan berujar dalam hati, ‘Maaf, Anggreni. Aku yang lalai dalam menjaga anak-anakmu. Untungnya, putrimu ini setegar kamu. Dia nggak dikalahkan. Hanya saja, anak yang tegar akan banyak menderita.’Shanti mengusap kepala Syakia dengan sedih dan menunggunya selesai menangis dalam diam. Setelah menangis sejenak, Syakia akhirnya menenangkan diri lagi. Dia merasa agak malu saat melihat air matanya membasahi pakaian di bahu gurunya.“Maaf, Guru. Aku sepertinya terlalu cengeng.”Syakia sebenarnya tidak termasuk tegar. Sejak kecil, dia adalah anak yang sudah terbiasa dimanjakan. Oleh karena itu, Ayu baru bisa menginjak-injaknya dengan mudah
Dua hari penuh telah berlalu sejak Kahar pergi mencari Syakia di Kuil Bulani. Ranjana tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Apa mungkin Kahar ketahuan ingin membius Syakia? Namun, jika Kahar benar-benar ketahuan, kenapa sama sekali tidak ada pergerakan sampai sekarang?Tepat ketika Ranjana mempertimbangkan apakah dirinya perlu pergi ke Kuil Bulani untuk mencari tahu situasinya, Kahar akhirnya pulang juga. Ketika Kahar kembali, langit sudah gelap dan Ranjana baru saja hendak tidur.Pembantu Ranjana mendengar suara ketukan pintu dan bertanya, “Siapa?”“Aku, Kahar.”Begitu mendengar suara itu, Ranjana tidak jadi berbaring di tempat tidur dan menyuruh pembantunya membuka pintu.“Tuan Kahar.” Setelah masuk ke kamar, Kahar berkata pada pembantu itu, “Kamu keluar saja dulu. Ada yang mau kubicarakan dengan Ranjana.”Pembantu itu tentu saja tidak langsung keluar, melainkan melirik majikannya. Setelah menerima isyarat mata Ranjana, dia baru berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan penge
Damar tidak membiarkan Ayu pergi memanggil Ranjana, melainkan menyuruh Kahar untuk melakukannya.Kahar pun bangkit dengan enggan. Namun, sebelum dia sempat meninggalkan meja, terdengar derap kaki seseorang yang berlari dengan terburu-buru di luar.“Gawat! Gawat!”Damar dan orang lainnya pun menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat pembantu yang biasanya melayani Ranjana berlari mendekat dengan terburu-buru dan berseru panik, “Adipati, Tuan Abista, cepat pergi lihat Tuan Ranjana! Sudah terjadi sesuatu padanya!”Semua orang langsung berdiri.“Ada apa? Ranjana sakit lagi?”“Bukan sakit ....” Pembantu itu sudah hampir menangis ketika menjawab, “Tuan Ranjana ... tiba-tiba nggak bisa bicara!”“Apa?”...Lima belas menit kemudian, anggota Keluarga Angkola berkumpul di samping tempat tidur Ranjana dan menunggu hasil pemeriksaan tabib dengan gugup.Setelah memeriksa denyut nadi Ranjana, tabib tersebut menarik kembali tangannya dengan kening berkerut dan bertanya, “Apa Tuan Ranjana makan sesuat
Ketika para bawahan menemukan ruang rahasia dalam kamar Ranjana, Damar tahu masalah ini seharusnya tidak sederhana. Jadi, dia tidak langsung menyuruh orang untuk memeriksa keadaan di dalam.Iwan yang sudah berpengalaman juga menganggap seperti tidak mendengar hal itu dan lanjut meneliti sebotol obat itu. Namun, setelah dua jam, Iwan berkata pada Damar dengan serius, “Adipati Damar, kali ini, aku benar-benar nggak mampu membantumu.”Damar tidak menyangka bahwa bahkan Iwan juga tidak mampu menawarkan racun ini.“Tabib Iwan, apa sebenarnya racun ini? Kenapa racun ini begitu hebat?”“Racun ini sulit ditawarkan karena bahan obat yang dipakai sangat rumit. Di dalamnya, bahkan tercampur semacam tanaman racun yang sangat langka, yaitu sisik ular merah. Karena tanaman racun ini, aku baru nggak berdaya. Soalnya, racun ini cuma bisa ditawarkan dengan pakai bunga ular hijau yang sama langkanya.”“Satu-satunya bunga ular hijau yang pernah ditemukan di ibu kota sudah digunakan setahun yang lalu. Sam
Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men
“Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise
Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “
Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya
Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau
“Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement