Share

Bab 140

Author: Emilia Sebastian
Dua hari penuh telah berlalu sejak Kahar pergi mencari Syakia di Kuil Bulani. Ranjana tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Apa mungkin Kahar ketahuan ingin membius Syakia? Namun, jika Kahar benar-benar ketahuan, kenapa sama sekali tidak ada pergerakan sampai sekarang?

Tepat ketika Ranjana mempertimbangkan apakah dirinya perlu pergi ke Kuil Bulani untuk mencari tahu situasinya, Kahar akhirnya pulang juga. Ketika Kahar kembali, langit sudah gelap dan Ranjana baru saja hendak tidur.

Pembantu Ranjana mendengar suara ketukan pintu dan bertanya, “Siapa?”

“Aku, Kahar.”

Begitu mendengar suara itu, Ranjana tidak jadi berbaring di tempat tidur dan menyuruh pembantunya membuka pintu.

“Tuan Kahar.”

Setelah masuk ke kamar, Kahar berkata pada pembantu itu, “Kamu keluar saja dulu. Ada yang mau kubicarakan dengan Ranjana.”

Pembantu itu tentu saja tidak langsung keluar, melainkan melirik majikannya. Setelah menerima isyarat mata Ranjana, dia baru berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan penge
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dennis Yoseph
lagi lagi lagi, terima kasih banyak Author
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 141

    Damar tidak membiarkan Ayu pergi memanggil Ranjana, melainkan menyuruh Kahar untuk melakukannya.Kahar pun bangkit dengan enggan. Namun, sebelum dia sempat meninggalkan meja, terdengar derap kaki seseorang yang berlari dengan terburu-buru di luar.“Gawat! Gawat!”Damar dan orang lainnya pun menoleh ke arah datangnya suara. Terlihat pembantu yang biasanya melayani Ranjana berlari mendekat dengan terburu-buru dan berseru panik, “Adipati, Tuan Abista, cepat pergi lihat Tuan Ranjana! Sudah terjadi sesuatu padanya!”Semua orang langsung berdiri.“Ada apa? Ranjana sakit lagi?”“Bukan sakit ....” Pembantu itu sudah hampir menangis ketika menjawab, “Tuan Ranjana ... tiba-tiba nggak bisa bicara!”“Apa?”...Lima belas menit kemudian, anggota Keluarga Angkola berkumpul di samping tempat tidur Ranjana dan menunggu hasil pemeriksaan tabib dengan gugup.Setelah memeriksa denyut nadi Ranjana, tabib tersebut menarik kembali tangannya dengan kening berkerut dan bertanya, “Apa Tuan Ranjana makan sesuat

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 142

    Ketika para bawahan menemukan ruang rahasia dalam kamar Ranjana, Damar tahu masalah ini seharusnya tidak sederhana. Jadi, dia tidak langsung menyuruh orang untuk memeriksa keadaan di dalam.Iwan yang sudah berpengalaman juga menganggap seperti tidak mendengar hal itu dan lanjut meneliti sebotol obat itu. Namun, setelah dua jam, Iwan berkata pada Damar dengan serius, “Adipati Damar, kali ini, aku benar-benar nggak mampu membantumu.”Damar tidak menyangka bahwa bahkan Iwan juga tidak mampu menawarkan racun ini.“Tabib Iwan, apa sebenarnya racun ini? Kenapa racun ini begitu hebat?”“Racun ini sulit ditawarkan karena bahan obat yang dipakai sangat rumit. Di dalamnya, bahkan tercampur semacam tanaman racun yang sangat langka, yaitu sisik ular merah. Karena tanaman racun ini, aku baru nggak berdaya. Soalnya, racun ini cuma bisa ditawarkan dengan pakai bunga ular hijau yang sama langkanya.”“Satu-satunya bunga ular hijau yang pernah ditemukan di ibu kota sudah digunakan setahun yang lalu. Sam

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 143

    “Kenapa kamu mengangguk, lalu menggeleng? Apa sebenarnya maksudmu?” tanya Abista dengan bingung.Namun, Abista tidak tahu bahwa orang yang benar-benar merasa frustasi adalah Ranjana. Obat patuh itu memang miliknya, tetapi juga bukan miliknya. Obat patuhnya tidak bisa membuat orang bisu atau sama sekali tidak bertenaga.Begitu teringat botol obat itu dibawa pulang oleh Kahar, Ranjana langsung menoleh ke arahnya dan berseru dalam hati, ‘Cepat katakan, ada apa ini sebenarnya? Apa ada orang yang melakukan sesuatu pada obat patuhnya? Ini ulah Syakia atau orang berpakaian hitam itu?’Saat ini, Ranjana tidak dapat berbicara dan hanya bisa menaruh harapan pada Kahar. Namun, dia tidak menyangka bahwa Kahar sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun setelah melihat tatapan permintaan tolongnya.Firasat buruk segera merayapi hati Ranjana. Apa Kahar sudah terlebih dahulu terjebak sebelum dirinya?Untungnya, ada orang bermata tajam lain yang menyadari tatapan Ranjana.“Kak Ranjana, kenapa kamu te

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 144

    Tepat pada saat Kahar mengangguk, Kama langsung melayangkan tinjunya pada Kahar.“Duk!” Kahar langsung jatuh ke lantai. Pada detik berikutnya, Kama langsung menghajar Kahar dengan membabi-buta.“Kenapa kalian tega berbuat begitu terhadap Syakia! Seburuk apa pun Syakia, dia nggak pernah berbuat salah pada kalian! Atas dasar apa kalian memperlakukannya seperti itu! Atas dasar apa!”Kama tidak tahu bahwa obat itu telah dirombak. Dia hanya tahu bahwa kedua adik kandungnya bekerja sama untuk meracuni adik perempuan kandung mereka. Mereka semua jelas-jelas adalah saudara kandung dan sangat dekat dulunya. Kenapa mereka bisa berselisih sampai tahap seperti ini?“Cukup! Kamu mau habisi Kahar?” bentak Damar.Kali ini, Kahar yang berbaring di lantai sama sekali tidak membalas pukulan Kama. Dia hanya membiarkan Kama meninjunya.Namun, saat ini, Kama sama sekali tidak menuruti ucapan Damar. Dia malah menoleh dan berseru ke arah Damar, “Nggak cukup!”Kemudian, Kama lanjut berkata dengan nada yang pe

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 145

    Namun, Ayu masih belum tahu bahwa yang keracunan bukan hanya Ranjana yang berbaring di tempat tidur.Setelah menyelimuti Ranjana, Abista menyuruhnya beristirahat dengan baik. Kemudian, dia dan Damar pergi ke ruang baca bersama.“Ayah, bagaimana ini? Apa aku perlu utus orang untuk pergi cari bahan obat yang bisa menawarkan racun Ranjana itu?”“Perlu. Tapi, masalah ini seharusnya nggak sesederhana yang mereka katakan,” ujar Damar dengan tenang setelah duduk.Abista terlihat bingung. Setelah menyeduh teh, dia juga duduk dan bertanya, “Apa maksud Ayah?”“Kalau itu benar-benar racun yang diracik Ranjana, dia tidak mungkin sama sekali tidak waspada.” Damar mengambil cangkir tehnya, lalu menyesapnya sebelum melanjutkan, “Sebelumnya, Panji juga pernah keracunan. Racun itu juga nggak bisa ditawarkan tabib biasa dan harus sampai Tabib Iwan yang turun tangan. Sebelum hal itu terjadi, ada 2 orang yang pernah pergi ke Kediaman Pangeran Darsuki.”Abista memikirkannya kembali, lalu segera tersadar.

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 146

    “Bukannya itu Syakia Angkola, putri kelima Adipati Pelindung Kerajaan?”“Iya, itu dia. Tapi, dia sudah bukan putri kelima Adipati Pelindung Kerajaan lagi, melainkan putri suci yang dinobatkan Yang Mulia Kaisar secara pribadi.”“Putri suci apanya. Dia itu cuma seorang biksuni.”“Kecilkan suaramu. Meski cuma biksuni, dia juga biksuni yang nggak bisa kita singgung.”“Entah apa yang dipikirkan Yang Mulia Kaisar waktu nobatkan gadis sejahat itu jadi putri suci.”“Aku rasa nggak ada salahnya. Setidaknya, di upacara doa sebelumnya, dia melakukan segalanya dengan cukup bagus.”“Apanya yang cukup bagus? Cuma wajahnya saja yang cantik. Kalau mau ngomong soal baik hati, Syakia sama sekali nggak bisa dibandingkan sama adik perempuannya itu.”“Ckck, menobatkan orang sepertinya jadi Putri Suci Pembawa Berkah benar-benar sial. Benar nggak, Abdi?”Orang yang berbicara itu menjulurkan kepalanya dari dalam kereta kuda. Dia menatap ke arah kelompok Syakia dengan ekspresi mengejek. Namun, pada saat ini, s

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 147

    “Siapa?” Abdi memutar otak sejenak, lalu membelalak dan berkata, “Jangan bilang itu ulah Panji?”“Benar! Itu memang ulahnya! Dengar-dengar, dia yang sudah mencuri, tapi nggak berani ngaku dan malah mengambinghitamkan Syakia!” Pemuda itu berdecak beberapa kali sebelum melanjutkan, “Awalnya, aku nggak percaya. Tapi, kalau dinilai dari situasi sekarang, sepertinya rumor itu benar.”Baru saja pemuda itu selesai berbicara, terdengar makian dari kereta kuda di sampingnya.“Panji benar-benar berengsek!”Dulu, Abdi sering bergaul dengan Panji dan mengira dirinya lumayan memahami Panji. Namun, setelah mendengar ucapan Panji di Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan waktu itu, dia pun memiliki pemahaman baru terhadap Panji.Meskipun begitu, Abdi tetap tidak menyangka bahwa Panji bahkan tega melakukan hal seperti mencelakai mantan tunangannya. Meskipun pernikahan mereka sudah dibatalkan, Panji dan Syakia tetap adalah teman semasa kecil yang tumbuh besar bersama. Selain menghina orang, dia juga ingin

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 148

    Syakia sudah dapat menebak bahwa Damar pasti akan mencarinya hari ini. Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa ayahnya yang selalu tenang itu juga bisa secemas ini. Begitu tiba di istana, ayahnya sudah langsung mencarinya.Shanti langsung melirik Syakia dan bertanya, “Apa perlu Guru yang hadapi dia?”“Aku tahu apa tujuannya mencariku. Guru nggak usah repot-repot,” jawab Syakia sambil tersenyum.“Oke. Kamu cuma perlu ingat apa yang Guru katakan padamu sebelumnya.”Syakia mengangguk, lalu mengikuti dayang istana berjalan keluar.Damar sedang menunggu di sebuah sudut yang tidak jauh dari aula samping. Begitu melihat Syakia keluar, dia juga tidak bergerak dan hanya menunggu Syakia berjalan mendekat. Sayangnya, Syakia tidak berjalan menghampirinya. Setelah melirik lokasi Damar, Syakia pun berhenti di luar pintu aula samping dan bertanya dari kejauhan, “Kalau Adipati Damar mau menemuiku, kenapa nggak berjalan mendekat?”Setelah mendengar ucapan itu, Damar merasa agak terkejut. Dia tidak menya

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 245

    Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 244

    “Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 243

    Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 242

    “Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 241

    Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 240

    “Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 239

    Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 238

    Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 237

    “Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status