All Chapters of Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati: Chapter 111 - Chapter 120

242 Chapters

Bab 111

Sekarang, entah apa yang salah dengan Kama. Selain tidak bertindak, Kama malah membantu Syakia menyiram tanaman? Hal ini benar-benar memalukan!“Kahar, jangan bertindak gegabah. Ayah juga ada di sini.” Abista menatap Kahar dengan penuh peringatan sebelum melepaskannya.Kahar pun menoleh ke arah Damar. Meskipun Damar tidak mengatakan apa-apa, Kahar tetap menutup mulutnya dengan patuh.“Syakia, kamu nyesal?”Pada saat ini, Damar tiba-tiba bersuara. Sejak masuk ke halaman ini, dia tidak berhenti mengamati semua yang ada di tempat ini dengan tampang sombong, termasuk putrinya yang berdiri di tengah ladang dan terlihat berbaur sempurna dengan tempat ini.Syakia balik bertanya, “Nyesal? Kenapa aku harus nyesal?”“Kamu jelas-jelas bisa menikmati hidup mewah dan terhormat sebagai putri sah Adipati Pelindung Kerajaan. Sekarang, kamu malah hidup seperti ini. Memangnya kamu nggak nyesal?”“Heh! Status tinggi putri sah Adipati Pelindung Kerajaan?” Syakia tidak dapat menahan tawa. Tawanya juga dipe
Read more

Bab 112

Ranjana memperingati Abista, “Kita bicarakan lagi semuanya nanti. Jangan lupa tujuan kedatangan kita hari ini.”Abista yang hendak bertanya jelas pada Damar tertegun sejenak. Benar juga, hari ini, mereka datang untuk merayakan ulang tahun Syakia. Sebaiknya, mereka tidak menunda-nunda waktu lagi.“Nggak perlu, aku nggak terburu-buru kok.” Syakia tersenyum dan melanjutkan, “Kalau ada yang perlu kalian katakan, katakan saja yang jelas sekarang juga.”Kebetulan, Syakia juga bisa menonton pertunjukan bagus.Di sisi lain, Ayu tidak ingin dirinya ditertawakan oleh Syakia. Jika tidak dicegah, Abista mungkin akan benar-benar akan terlepas dari cengkeramannya. Dia pun segera berkata sambil tersenyum “Apa pun itu, itu nggak sepenting hari ulang tahun Kak Syakia. Benar nggak, Kak Abista?”Abista mengangguk secara refleks. “Iya, yang dikatakan Ayu benar.”“Oke.” Berhubung tidak dapat menonton pertunjukan bagus, Syakia langsung merentangkan tangannya ke arah Damar dan yang lain sambil berkata, “Beri
Read more

Bab 113

“Ayu, yang dikatakan Kahar benar.” Abista juga tidak setuju Ayu mempersembahkan hadiah ulang tahunnya.“Tapi, ini hari ulang tahun Kak Syakia. Kalau nggak terima satu hadiah pun, dia pasti sedih banget!” Ayu mengucapkan kata-kata yang terkesan khawatir, tetapi malah diam-diam melirik Syakia dengan penuh tantangan.“Lagian, ini bukan yang pertama kalinya, apa yang perlu disedihkan? Waktu di upacara kedewasaan sebelumnya, bukannya dia nggak terima sekuntum bunga pun?” cibir Kahar. Dia melontarkan ucapan yang menyakitkan itu tanpa ragu.“Syakia, sebaiknya kamu patuh dikit. Selama kamu patuh, Ayah dan kami pasti akan belikan kamu hadiah ulang tahun,” tambah Kahar.Syakia menjawab dengan kesal, “Sudah kubilang, aku nggak su ....”“Ternyata waktu merayakan ulang tahun orang lain, anggota Keluarga Angkola datang dengan tangan kosong, juga mengancam orang lain dulu sebelum kasih hadiah?”Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara rendah seseorang yang familier dari luar.Damar dan yang lai
Read more

Bab 114

Di dalam kotak itu, terdapat satu set hiasan rambut yang sangat mewah. Hiasan rambut itu terbuat dari emas murni yang dipadukan dengan giok, juga lebih mewah daripada hiasan rambut yang dipersiapkan kakak-kakak Syakia untuknya dulu. Jadi, bukan hanya Syakia, bahkan para anggota Keluarga Angkola juga tercengang begitu melihatnya. Terlebih lagi Ayu, dia langsung menggertakkan gigi dengan cemburu. Jika dia adalah Putri Suci, hadiah itu seharusnya adalah miliknya! Sekarang, hadiah itu malah didapatkan Syakia. Memangnya wanita jalang itu layak menerimanya?Namun, Ayu tidak menyangka bahwa hadiah berikutnya akan membuatnya lebih iri lagi.“Coba buka yang ini,” ucap Adika sambil menyodorkan kotak di tangannya kepada Syakia.Syakia dengan hati-hati meletakkan satu set hiasan rambut yang mewah itu ke samping, lalu membuka hadiah dari Adika. Begitu kotak itu terbuka, sebuah gaun sutra bersulam kupu-kupu yang indah dan mewah langsung terpampang di hadapan semua orang. Hal yang paling mengejutka
Read more

Bab 115

Syakia memandang bunga plum itu dan akhirnya mengerti maknanya. Matanya pun berkaca-kaca lagi dan dia berkata dengan suara rendah, “Terima kasih atas doa Pangeran.”“Tak disangka, Pangeran Adika begitu mengerti tentang bunga. Bunga plum memang cocok dengan Kak Syakia.”Tiba-tiba, suara seseorang yang mentel merusak suasana di antara Syakia dan Adika.Ayu berjalan ke hadapan Syakia, lalu berdiri di antara kedua orang itu dan berkata dengan berlagak polos, “Tapi, bunga plum yang mekar sebelum waktunya sangat langka. Ayu juga suka. Kak Syakia boleh perlihatkan pada Ayu?”“Nggak boleh,” tolak Syakia tanpa ragu. Ekspresinya juga langsung kembali dingin.“Ya sudah deh. Ternyata Kak Syakia masih sangat membenciku. Kak Syakia, jangan marah, ya. Kalau kamu keberatan, aku nggak akan melihatnya,” ujar Ayu dengan ekspresi sedih. Kemudian, Ayu berbalik untuk menghadap Adika dan melanjutkan dengan penuh harap, “Pangeran, apa Pangeran punya bunga plum lebih? Ayu nggak mau berebut sama Kak Syakia, ta
Read more

Bab 116

“Pangeran Adika mungkin nggak tahu.” Damar berkata dengan perlahan, “Ulang tahun Ayu sebenarnya bukanlah ulang tahunnya yang sebenarnya, melainkan hari peringatan kematian ibunya.”“Oh?” Adika mengangkat alisnya. Dia jelas tidak percaya. Kemudian, dia melanjutkan, “Kalau itu hari peringatan kematian, kenapa harus disamakan dengan hari ulang tahun?”“Biar Ayu nggak melupakan hari kematian ibunya. Makanya, hari ulang tahun Ayu diganti jadi 2 bulan lalu. Lagian, kalau dihitung menurut ulang tahun asli Ayu, dia memang sedikit lebih kecil dari Syakia dan seharusnya jadi adik Syakia.”“Hanya karena itu?”“Hanya karena itu,” jawab Damar dengan ekspresi datar.Ayu juga buru-buru mengangguk dan menambahkan, “Benar. Ayah mempertimbangkan hal ini demi Ayu. Tak disangka, Pangeran Adika jadi salah paham. Tapi, hari ulang tahun asliku masih beberapa saat lagi.”Setelah mendengar Ayu membenarkannya, Abista dan yang lain pun saling memandang. Hari ini, mereka baru tahu bahwa ada hal seperti ini di bal
Read more

Bab 117

Setelah memahami makna tersirat dari ucapan Adika, wajah Abista dan yang lainnya langsung memucat. Pada saat ini, mereka akhirnya menyadari bahwa yang ada di hadapan mereka adalah Pangeran Pemangku Kaisar yang hanya menunduk pada Kaisar seorang, juga seorang dewa perang yang selalu memenangkan pertempuran di medan perang.Orang yang berani menyinggung seseorang dengan status seperti Adika setara dengan mencari mati. Namun, Ayu dan Kahar malah berani menyela percakapan, juga melawan Adika? Apanya yang menggantikan Damar memberi pelajaran pada mereka, itu jelas-jelas adalah ancaman!Kahar yang juga telah menyadari hal ini hanya bisa mengepalkan tangannya dan berdiri diam di tempat.“Plak! Plak! Plak! Plak! Plak ....”Damar sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Dia tidak berhenti menampar putranya dengan ekspresi datar. Tidak lama kemudian, ada darah yang mengalir dari sudut mulut Kahar. Begitu melihat situasi ini, Ayu sontak terkejut dan melangkah mundur tanpa sadar. Sial! Kenapa
Read more

Bab 118

“Sudahlah. Adipati Damar, sudah cukup.” Setelah Kahar menahan lebih dari 30 tamparan, Adika akhirnya berujar sambil tersenyum, “Aku juga bukan orang yang berhati sempit, cuma mau kamu didik putramu. Kenapa kamu tega memukulnya begitu kuat? Lihat saja, wajah putramu sudah babak belur. Kasihan sekali.”Setelah mendengar kata-kata Adika yang sok perhatian, Damar akhirnya berhenti menampar Kahar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tahu betapa sulitnya menghadapi Adika. Jika dia tidak memuaskan Adika hari ini, masa depan Kahar seharusnya akan hancur. Jadi, Damar segera memberi isyarat mata kepada Kahar.Kahar yang wajahnya sudah babak belur berlutut di hadapan Adika, lalu berkata, “Aku sudah menyadari kesalahanku. Kelak, aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku harap Pangeran Adika bisa memaafkanku.”Jarang-jarang Kahar berakhir semenyedihkan ini. Syakia tentu saja menyaksikan semua ini dengan bersemangat. Namun, Adika tiba-tiba menoleh ke arahnya.Syakia pun tertegun, lalu bertanya denga
Read more

Bab 119

Apa ada lumpur yang mengotori matanya ketika dia menyiram tanaman tadi? Namun, kenapa Syakia sama sekali tidak merasakannya?Tepat ketika Syakia merasa kewalahan, Adika tiba-tiba berkata, “Sekarang sudah nggak ada. Tadi, waktu kamu lihat Kahar, matamu dipenuhi banyak emosi. Ada amarah, kebencian, kesedihan, penderitaan ....”Setiap Adika menyebutkan sebuah emosi, ekspresi di wajah Syakia perlahan-lahan sirna. Pada akhirnya, Adika bertanya dengan pelan, “Apa sebenarnya yang kamu alami di rumah itu?”Syakia tentu saja tidak mungkin menjawab pertanyaan itu. Setelah terdiam sejenak, dia baru menjawab, “Aku nggak nyangka Pangeran begitu peka.”“Bukan aku yang peka, tapi kamu nggak tahu seberapa kuat emosi yang terpancar dari matamu tadi.”Emosi yang terpancar dari mata Syakia tadi begitu kuat sampai tidak dapat diabaikan oleh orang lain. Selain itu, Adika juga tidak memberi tahu Syakia bahwa selain dirinya, masih ada seseorang yang sepertinya juga menyadarinya.Syakia mengepalkan tangannya,
Read more

Bab 120

“Sayang sekali.” Dalam kereta kuda yang melaju kembali ke ibu kota, Abista menghela napas sambil berkata, “Kalau Pangeran Adika nggak datang, mungkin saja kita bisa bicara yang baik dengan Syakia.”Kahar yang sedang mengoleskan obat ke lukanya menjawab dengan kesal, “Kak Abista, kamu masih belum ngerti sampai sekarang? Meski Pangeran Adika nggak datang hari ini, Syakia juga nggak mungkin bicara baik-baik sama kita.”“Yang Kak Kahar bilang benar. Kak Abista, sebaiknya kamu jangan ungkit hal ini lagi ke depannya.” Ranjana melanjutkan dengan nada acuh tak acuh, “Apalagi di hadapan Ayu.”Abista mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa kalau aku ngomong di hadapan Ayu? Dia baik, juga selalu menyukai Syakia. Meski ngomong tentang hal ini, dia juga nggak akan keberatan.”Begitu mendengar jawaban Abista, Kahar dan Ranjana langsung merasakan untuk yang pertama kalinya bahwa kakak sulung mereka itu benar-benar tidak peka.“Justru karena Ayu baik, Kak Abista baru nggak seharusnya ngomong tentang
Read more
PREV
1
...
1011121314
...
25
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status