“Sudahlah. Adipati Damar, sudah cukup.” Setelah Kahar menahan lebih dari 30 tamparan, Adika akhirnya berujar sambil tersenyum, “Aku juga bukan orang yang berhati sempit, cuma mau kamu didik putramu. Kenapa kamu tega memukulnya begitu kuat? Lihat saja, wajah putramu sudah babak belur. Kasihan sekali.”Setelah mendengar kata-kata Adika yang sok perhatian, Damar akhirnya berhenti menampar Kahar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tahu betapa sulitnya menghadapi Adika. Jika dia tidak memuaskan Adika hari ini, masa depan Kahar seharusnya akan hancur. Jadi, Damar segera memberi isyarat mata kepada Kahar.Kahar yang wajahnya sudah babak belur berlutut di hadapan Adika, lalu berkata, “Aku sudah menyadari kesalahanku. Kelak, aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku harap Pangeran Adika bisa memaafkanku.”Jarang-jarang Kahar berakhir semenyedihkan ini. Syakia tentu saja menyaksikan semua ini dengan bersemangat. Namun, Adika tiba-tiba menoleh ke arahnya.Syakia pun tertegun, lalu bertanya denga
Apa ada lumpur yang mengotori matanya ketika dia menyiram tanaman tadi? Namun, kenapa Syakia sama sekali tidak merasakannya?Tepat ketika Syakia merasa kewalahan, Adika tiba-tiba berkata, “Sekarang sudah nggak ada. Tadi, waktu kamu lihat Kahar, matamu dipenuhi banyak emosi. Ada amarah, kebencian, kesedihan, penderitaan ....”Setiap Adika menyebutkan sebuah emosi, ekspresi di wajah Syakia perlahan-lahan sirna. Pada akhirnya, Adika bertanya dengan pelan, “Apa sebenarnya yang kamu alami di rumah itu?”Syakia tentu saja tidak mungkin menjawab pertanyaan itu. Setelah terdiam sejenak, dia baru menjawab, “Aku nggak nyangka Pangeran begitu peka.”“Bukan aku yang peka, tapi kamu nggak tahu seberapa kuat emosi yang terpancar dari matamu tadi.”Emosi yang terpancar dari mata Syakia tadi begitu kuat sampai tidak dapat diabaikan oleh orang lain. Selain itu, Adika juga tidak memberi tahu Syakia bahwa selain dirinya, masih ada seseorang yang sepertinya juga menyadarinya.Syakia mengepalkan tangannya,
“Sayang sekali.” Dalam kereta kuda yang melaju kembali ke ibu kota, Abista menghela napas sambil berkata, “Kalau Pangeran Adika nggak datang, mungkin saja kita bisa bicara yang baik dengan Syakia.”Kahar yang sedang mengoleskan obat ke lukanya menjawab dengan kesal, “Kak Abista, kamu masih belum ngerti sampai sekarang? Meski Pangeran Adika nggak datang hari ini, Syakia juga nggak mungkin bicara baik-baik sama kita.”“Yang Kak Kahar bilang benar. Kak Abista, sebaiknya kamu jangan ungkit hal ini lagi ke depannya.” Ranjana melanjutkan dengan nada acuh tak acuh, “Apalagi di hadapan Ayu.”Abista mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa kalau aku ngomong di hadapan Ayu? Dia baik, juga selalu menyukai Syakia. Meski ngomong tentang hal ini, dia juga nggak akan keberatan.”Begitu mendengar jawaban Abista, Kahar dan Ranjana langsung merasakan untuk yang pertama kalinya bahwa kakak sulung mereka itu benar-benar tidak peka.“Justru karena Ayu baik, Kak Abista baru nggak seharusnya ngomong tentang
“Paman, Ayu, akhirnya kalian kembali juga.”Begitu mendongak, Abista dan yang lain baru menyadari bahwa Panji sedang berada di rumah mereka untuk menunggu kepulangan mereka.Panji segera melangkah mendekat, lalu berdiri di samping Ayu dan bertanya dengan bingung, “Ke mana kalian hari ini? Kenapa kalian nggak ada di rumah sepanjang sore dan baru pulang sekarang?”Begitu mendengar pertanyaan itu, Abista dan yang lain tertegun sejenak. Sangat jelas bahwa selain mereka, bahkan Panji yang merupakan teman sejak kecil dan mantan tunangan Syakia juga melupakan ulang tahun Syakia. Kama merasa makin tidak berdaya.Hanya Ayu yang menjawabnya sambil tersenyum, “Hari ini, kami pergi ke Kuil Bulani untuk rayakan ulang tahun Kak Syakia.”Begitu mendengar ucapan Ayu, ekspresi Panji langsung menjadi muram. “Buat apa kalian pergi merayakan ulang tahunnya?”“Bukan cuma kami, bahkan Pangeran Adika juga pergi ke sana,” tambah Ayu dengan sengaja.Ekspresi Panji langsung berubah drastis. “Apa? Kenapa dia ada
“Sembarangan!” Kama menunjukkan reaksi yang paling kuat. Dia memelototi Panji dan berseru, “Syakia itu juga mantan tunanganmu. Meski pernikahan kalian sudah dibatalkan, dia itu tetap adik sepupumu. Kenapa kamu malah asal mengarang cerita tentangnya!”“Buat apa kamu begitu marah? Aku kan cuma asal tebak, bukan bilang itu pasti.” Panji merasa ucapannya tidak salah. Namun, kali ini, bahkan ekspresi Abista juga mendingin.“Panji, ada beberapa hal yang nggak boleh asal kamu tebak. Apa kamu tahu ucapanmu tadi sangat mungkin bisa merusak reputasi Syakia!”“Benar, Kak Panji. Sebaiknya kamu jangan ngomong lagi. Lagian, mana mungkin tokoh sehebat Pangeran Adika jatuh cinta sama Kak Syakia?”Ayu menasihati Panji dengan ekspresi tegang, juga diam-diam memaki Panji dalam hati. Orang ini benar-benar idiot! Seorang biksuni seperti Syakia mana layak disukai Adika!Namun, ucapan Ayu malah membuat Kama mengernyit. Kenapa dia merasa ada yang aneh dari ucapan Ayu? Meskipun Adika memang adalah sosok yang
“Kamu .... Ugh! Kama .... Pfft! Aku ... aku akan habisi kamu!”Panji yang dihajar juga sudah kehilangan kesabaran. Setelah mendapat kesempatan untuk berdiri, dia segera meluncurkan serangan balik. Kedua pria itu pun mulai berkelahi di depan gerbang Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan.Abista dan orang lainnya hendak melerai Kama dan Panji, tetapi gagal. Pada akhirnya, Abista memanggil pengawal keluar. Setelah sekitar 8 pengawal turun tangan bersama, kedua orang itu baru berhasil dilerai. Meskipun begitu, kedua orang itu masih terlihat ingin menerkam satu sama lain.Abista memijat dahinya dengan tidak berdaya. Putra kedua Adipati Pelindung Kerajaan dan putra mahkota dari Kediaman Pangeran Darsuki yang berkelahi di tengah jalan sangatlah memalukan.“Pengawal, segera antar Panji pulang!” Sebelum pengawal menyeret Panji pergi, Abista berpesan, “Kalau Bibi dan Paman tanya kenapa mereka berkelahi, kalian jawab saja hal ini berkaitan dengan Pangeran Adika. Kalau mereka lanjut bertanya, suruh
Setelah malam itu, Kama tinggal di aula leluhur lebih dari 10 hari. Baik itu Ayu, Abista, atau bahkan Damar yang memanggilnya, dia tetap tidak bersedia keluar.Abista awalnya mengira hukumannya terlalu berlebihan dan melukai harga diri adiknya. Setelah bertanya, Kama hanya menjawab, “Kak Abista, ini bukan karena kamu. Aku cuma mau menenangkan diri di sini untuk sesaat.”Setelahnya, Abista dan orang lainnya tidak lagi pergi mengganggu Kama. Hanya saja, pada hari ketiga, Abista membawa kabar bagi Kama.Panji lagi-lagi dipukul orang. Selain itu, hal ini terjadi di Kediaman Pangeran Darsuki. Dia langsung dimasukkan ke karung dan diseret keluar sebelum dipukul. Ketika ditemukan, Panji sudah sekarat. Dia yang seluruh tubuhnya dipenuhi luka berbaring di sebuah gang kecil.Hal yang terasa paling lucu adalah, entah apakah orang itu sengaja atau tidak, dia menanggalkan beberapa gigi Panji lagi. Saat ini, ucapan Panji bahkan terdengar kurang jelas karenanya.Setelah mengetahui hal ini, Ike hampir
Ekspresi Joko langsung membeku. Dia buru-buru menjawab sambil tertawa canggung, “Ini bukan karena teknik menyeduh tehku. Beberapa hari lalu, aku baru dapatkan beberapa botol daun teh yang bagus. Kalau Pangeran Adika suka, aku akan suruh orang mengirimnya ke kediaman Pangeran.”Dengan kata lain, Joko berharap Adika tidak perlu datang lagi. Dia sama sekali tidak ingin berinteraksi dengan Adika. Pertama, Damar dan Adika tidak terlalu cocok. Kedua, dia merasa Adika selalu datang dengan niat tidak bersahabat.Setelah kejadian sebelumnya, firasat Joko berkata bahwa kali ini, Adika pasti juga berkunjung dengan niat yang kurang baik. Sesuai dugaan, tebakannya terbukti benar tidak lama kemudian.“Mana bisa begitu.” Adika menatap teh dalam cangkir tehnya, lalu berujar sambil tersenyum, “Kalau istrimu datang ke kediamanku dan menuduhku mencuri daun tehmu, salah pahamnya akan jadi besar.”Setelah menyadari makna tersirat dari ucapan Adika, sudut mata Joko langsung berkedut. Dia memaksakan seulas s
Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men
“Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise
Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “
Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya
Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau
“Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement